Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 152. Kamu Telah Mencuri, Apa Yang Seharusnya Dimiliki Oleh Orang Lain


__ADS_3

Saat malam tiba, Gofan dan Vasudev memutuskan untuk pergi menemui Suddha, Mahaguru Perguruan Tujuh Jalan Kebajikan, untuk mendapatkan kunci yang ketiga. Di samping itu, Gofan juga berencana menanyakan perihal setengah Tablet Dewa Naga.


Sementara kelompok Mouhuli memutuskan untuk mengabari berita tentang niat jahat Tianfuzi kepada Kekaisaran Siluman, terutama kepada Kerajaan Siluman Harimau Putih dan berjanji akan bertemu kembali di Pulau Api.


Sebelum pergi, Gofan menitipkan Urore kepada Mouhuli, dan meminta Gurunya itu agar membiarkan Urore hidup di Tanah Halimun Kekaisaran Siluman. Untuk saat ini, di sana adalah tempat terbaik bagi Urore mengembangkan Budi dayanya. Gofan berjanji akan menemui Urore kembali, saat dia berkunjung ke Tenah Halimun Kekaisaran Siluman.


***


[Perguruan Tujuh Jalan Kebajikan-Halaman Latihan]


Melalui celah ruang dimensi, Vasudev tiba dengan cepat di Perguruan Tujuh Jalan Kebajikan.


Suddha saat itu sedang duduk di halaman latihan Perguruan tersebut. Dia duduk atas sebuah batu besar seukuran empat kali tubuh manusia dengan tinggi tidak lebih dari tujuh kaki.


“Tidak perlu bertanya lagi. Kunci ketiga tidak akan bisa diketemukan.” Ucap Suddha usai Vasudev mengucap salam dan menyatakan tujuannya kembali ke Perguruan.


Vasudev dan Gofan tidak menyangka, jika ternyata Kunci ketiga dari Gerbang Dewi Ruyi tidak akan bisa mereka temukan.


“Maaf Mahaguru. Kami sudah sejauh ini berusaha mengumpulkan seluruh kunci, jika bukan karena Guruku mengatakan, Mahaguru mengetahui tentang keberadaan Kunci Emas, kami tidak akan pernah memulai hal ini. Ja...”


Suddha tertawa, tawanya membuat Gofan berhenti berucap.


“Jadi, kamu ingin mengatakan bahwa semua yang sudah kalian lakukan menjadi sia-sia karena aku?.” Ucap Suddha yang berbicara dengan kedua mata masih tertutup.


“Tidak... Tidak.. Tidak Mahaguru. Aku tidak bermaksud demikian. Aku yakin Mahaguru pasti tahu sesuatu tentang Kunci yang ketiga, sehingga mengatakan mengetahui letak keberadaan kunci itu.” Sahut Gofan dengan sedikit gemetaran. Dia baru saja membuat seorang Tetua Sihir nomor satu menaikkan nada bicaranya.


Vasudev menepuk pundak Gofan, seolah mengatakan itu hanyalah hal biasa.


Suddha membuka matanya, “Usiamu?.” Tatapnya ke arah Gofan.


Vasudev sudah mengenalkan Gofan kepada Suddha sebagai Putali barunya, namun hanya mengenalkannya sebatas nama.


“13 Tahun...” Sahut Gofan pelan.

__ADS_1


“Usiamu masih sangat muda. Masih banyak kesempatan untuk menemukan kunci itu... Benar seperti yang kamu katakan. Aku memang tahu tentang kunci yang ketiga. Dari awal tidak pernah ada kunci yang ketiga, karena itu, tidak ada yang pernah menemukannya.”


“Tidak pernah ada? Jadi, Gerbang Dewi Ruyi memang tidak akan pernah bisa dibuka? Lalu, Kenapa Dewi Ruyi mengatakan gerbang itu bisa dibuka dengan tiga kunci?.” Gumam Vasudev pelan tetapi suaranya bisa didengar jelas oleh Suddha dan Gofan.


“Karena kunci yang ketiga terletak pada orang yang akan membuka gerbang itu. Orang yang membuka gerbang itu haruslah orang yang telah mencapai ranah di atas ranah Human God tahap akhir, dengan kata lain, orang tersebut harus menjadi Dewa....” Suddha memejamkan kedua matanya lagi.


“Usiamu masih sangat muda... Berlatihlah dulu, jika kelak kamu bisa melampaui ranah Human God tahap akhir. Bukalah gerbang itu.” Imbuh Suddha.


“Jadi, selama ini, Dewi Ruyi hanya mempermainkan manusia. Sekalipun mereka berhasil mengumpulkan kedua kunci, tetap hanya Dewa yang bisa membuka gerbang ke alam para Dewa tersebut.” Ucap Gofan menyimpulkan.


Suddha menganggukkan kepalanya menjawab ucapan Gofan.


Vasudev tersenyum tipis namun kedua matanya masih menunjukkan keraguan, “Guru. Apakah ada kemungkinan orang yang belum mencapai ranah itu, bisa membuka gerbang dan pergi ke Alam Besar?” Tanya Vasudev yang dibalas dengan gelengan kepala oleh Suddha.


“Bagaimana jika, orang tersebut memiliki Tulang dan Tubuh yang setara dengan Dewa?.” Tanya Vasudev lagi sembari tersenyum tipis.


Suddha diam sesaat.


“Guru?....” Tanya Vasudev.


Suddha turun dari atas batu dan langsung berdiri di hadapan keduanya.


Setelah memindai tubuh Gofan, Suddha tersenyum tipis, dan menoleh ke arah Vasudev, “Pantas saja kamu bertanya seperti itu, ternyata kamu memiliki murid yang cukup beruntung... Bahkan, tulangnya setara tulang seorang Dewa.”


Senyum tipis di wajah Vasudev semakin merekah, keraguan di matanya perlahan menghilang, “Guru.. Dia bukan cukup beruntung, tapi memang sangat beruntung. Dia memiliki Keberuntungan Surga bersamanya.” Bisik Vasudev.


Mendengar itu, Suddha mendekat ke arah Gofan, “Nak. Batu Bertuah apa yang kamu miliki?.”


Gofan melirik ke arah Vasudev dan melihat Gurunya itu mengangguk pelan, “Batu Mental... dan sebuah pecahan Batu Surga milik Dewa Perang.” Sahutnya.


Gofan tetap merahasiakan mengenai Batu Reinkarnasi. Dia tidak ingin ada yang mengetahui tentang identitas lamanya.


Suddha terkejut, dia awalnya tidak terlalu tertarik dengan Gofan, namun setelah mendengar semuanya, dia mulai tertarik dan menanyakan semua hal tentang Gofan.

__ADS_1


**


“Ternyata, seperti ini, wujud dari tongkat yang dulu dikatakan menopang langit agar tidak runtuh.” Ucap Suddha sembari mengelus-elus Tongkat Emas Naga Kembar.


Gofan sudah menceritakan semua tentang dirinya, tidak termasuk masa lalunya sebagai Lenfan dan juga tentang Tian Baixiang.


“Tenang saja, aku sudah meminta Lanshushu untuk memeriksa gambar Formasi di tanganmu... Jika dia mengetahuinya, dia akan memberitahu kita, tentang itu.” Imbuh Suddha.


Setelah mengetahui semua tentang Gofan, Suddha begitu menyukainya. Dia terus memuji Gofan dan benar-benar berharap dapat melihat Gofan menembus Alam Besar.


“Guru. Apakah ini berarti Gofan sudah bisa membuka Gerbang Dewi Ruyi?.” Tanya Vasudev.


Suddha menggeleng, “Tubuhnya masih tubuh manusia, dia akan mengalami kesakitan luar biasa, sekalipun bisa memasuki gerbang itu.”


Vasudev tersenyum kembali usai mendengar ucapan Suddha, “Jika dia memiliki darah Dewa Naga, apakah muridku ini, bisa memasukinya?.”


Suddha diam sesaat.


“Guru?....” Tanya Vasudev.


Suddha mendekat ke arah Gofan, “Nak. Apakah yang dikatakan Gurumu itu benar? Kamu memiliki darah Dewa Naga?.” Tanyanya.


Gofan mengangguk, “Aku cukup beruntung menemukan setengah bagian Tablet Dewa Naga dan mempelajari setengah bagian dari Ilmu Tubuh Naga Sejati.” Sahutnya.


“Salah! Kamu telah berbuat salah! Tablet itu seharusnya jatuh ke tangan keturunan Trah Len. Kamu telah mencuri, apa yang seharusnya dimiliki oleh orang lain.” Ucap Suddha sedikit kecewa.


Selama lebih dari sepuluh tahun, Suddha menjaga amanat dari Raja Gelap untuk menjaga sebagian lain Tablet Dewa Naga dan menunggu keturunan Raja Gelap datang untuk memintanya, namun, sekarang justru cucu muridnya yang telah merampas hak milik anak dari Raja Gelap, itulah yang dipikirkan Suddha.


Vasudev tidak mengerti apa yang dimaksudkan Suddha. Dalam pandangannya, wajar saja, jika Gofan mendapatkan sebagian Tablet Dewa Naga, karena dia memang beruntung bisa menemukannya lebih dahulu daripada orang lain. Siapa cepat dia dapat, begitulah pikirnya.


“Guru... Muridku secara beruntung bisa menemukan setengah bagian tablet itu, kenapa Guru mengatakan dia mencuri milik orang lain?”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2