Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 88. Tujuh Hari Sebelumnya bg. 1


__ADS_3

' Aku tidak menyangka Pendekar Muda Benua Meghalaya itu akan sangat licik. Mereka ternyata tidak sedungu penampilan mereka ' Batin Lixiayo mengingat kejadian tujuh hari sebelumnya.


Tujuh hari sebelumnya, pada saat malam hari penukaran Meiling dengan setengah Batu Mahkota tiba. Kelompok Burka berhasil mengecoh dan memperdaya Lixiayo beserta anak buahnya, sehingga dia gagal mendapatkan setengah dari Batu Mahkota.


Malam itu di sekitaran Paviliun Lumbung Parta sudah berjaga 15 Pendekar Berpedang dari Benua Meghalaya yang menyamarkan diri sebagai penduduk setempat. Mereka menyamar atas instruksi dari Rohshan untuk mengamankan lokasi penukaran Meiling.


Mereka yang menyamar sebagai penduduk, berpencar dan berada di berbagai tempat. Sementara Burka, Shingha, Rajhu dan Shadev sedang berdiri di depan Paviliun Lumbung Parta menunggu pertukaran terjadi.


" Hei... Burka. Ini sudah hampir tengah malam, kenapa belum ada yang muncul? Apa Bocah ubanan dan kelompoknya itu berubah pikiran? " Tanya Shingha yang saat ini berada di depan Paviliun Lumbung Parta bersama dengan tiga rekan lainnya.


Shingha, Shadev, Burka, dan Rajhu sudah dari semenjak petang berjaga di depan Paviliun Lumbung Parta, di tempat penukaran yang telah dijanjikan.


" Tunggu saja. Saat mereka tiba, kita akan segera memblokir langkah pelarian mereka " Sahut Burka.


Burka masih belum mengerti apa yang direncanakan Rohshan. Ketika Burka dan ketiga rekannya datang melapor kepada Rohshan tentang penculikan Meiling untuk kedua kalinya dan penukaran setengah Batu Mahkota, Rohshan langsung memberinya perintah untuk mengamankan area pertukaran.


" Burka. Kamu bawa 15 orang Pendekar kita yang lain, samarkan identitas mereka dan siapkan pengepungan " Ucap Rohshan saat itu.


Rohshan sama sekali tidak membicarakan mengenai setengah Batu Mahkota yang diminta sebagai imbalan pertukaran Meiling.


Bahkan ketika Burka menanyakan mengenai batu tersebut, Rohshan hanya memberikannya sebuah batu berwarna perak dan mengatakan untuk menganggap batu tersebut sebagai Batu Mahkota.


Rohshan juga mengatakan bahwa dia akan menyusul ke lokasi penukaran. Tetapi hingga waktu hampir mencapai tengah malam, tidak hanya Rohshan yang belum muncul bahkan si Penculik Meiling pun belum juga terlihat batang hidungnya.


Baru saja Shingha mengeluh tentang keterlambatan kedatangan kelompok penculik Meiling. Seorang pria tua yang terlihat seperti penduduk setempat, melintas di depan Shingha dan tiga rekannya.


Pria tua itu menoleh ke arah Shingha dan tersenyum tanpa berkata apa-apa dan terus melanjutkan perjalanannya. Pria tua itu menjatuhkan sesuatu usai dia tersenyum kepada Shingha.


" Hei Kakek. Tunggu. Kamu menjatuhkan Kantong uangmu ! " Shingha menunduk memungut benda yang dijatuhkan oleh si Pria tua.


Ketika Shingha menoleh kembali ke tempat si Pria tua berada sebelumnya, Pria tua itu telah menghilang.


" Aneh. Kemana perginya kakek itu? Apa dia tidak mendengar panggilanku tadi? " Gumam Shingha.


Shingha menelusuri jalan yang dia rasa mungkin dilalui oleh si Pria tua tersebut. Tetapi setelah berkeliling selama beberapa puluh hela napas, Shingha tidak juga berhasil menemukan keberadaan si Pria tua tersebut.


" Shingha. Dari mana saja kamu? Kantong apa itu? " Tanya Rajhu, ketika melihat Shingha yang baru saja kembali dari mencari si Pria tua.


" Apa yang kamu tanyakan? Bukankah kamu sendiri melihat dan mendengarku memanggil si Kakek itu, dia menjatuhkan Kantong uangnya ini " Sahut Shingha menunjukkan kantong itu kepada Rajhu.


Shingha tidak mengerti bagaiamana bisa Rajhu yang tadinya berada tepat di sebelahnya ketika si Pria tua melewati mereka, tidak menyadari bahwa Shingha pergi untuk mengembalikan kantong uang Pria tua tersebut.


" Kakek siapa? Dari tadi tidak ada siapa pun selain kita berempat " Sahut Rajhu yang terlihat bingung mendengar jawaban Shingha.

__ADS_1


" Burka. Shadev. Apa kalian juga tidak melihat si Kakek tua yang tadi menjatuhkan kantong ini? " Tanya Shingha kepada Burka dan Shadev dalam bahasa Meghalaya.


" Kakek? Apa maksudmu? Dari tadi hanya ada kita berempat di sini.. Kamu tidak salah lihat? " Sahut Shadev sembari kembali memastikan.


" Aku benar-benar melihat Kakek itu. Dia juga tersenyum kepadaku sesaat sebelum dia menjatuhkan kantong ini " Ucap Shingha yang tampak kebingungan.


" Shingha. Coba ku lihat Kantong uang itu ! " Pinta Burka.


" Pergilah ke belakang dan basuh wajahmu, mungkin saja kamu baru terkena jurus ilusi " Imbuh Burka setelah menerima kantong tersebut dari Shingha.


Shingha mengangguk setelah sempat terkejut mendengar ucapan Burka. Dia pun bergegas pergi ke belakang Paviliun Lumbung Parta untuk membasuh wajahnya.


" Benarkah itu? Benarkah Shingha baru saja terkena jurus ilusi? " Tanya Rajhu.


" Seharusnya begitu. Sedari tadi kita tidak melihat siapa pun, sementara Shingha mengatakan dia melihat seorang Kakek, dia bahkan pergi dan kembali lagi dengan kantong ini. Aku rasa itu ilusi " Sahut Burka membeberkan perkiraan yang mungkin di alami Shingha.


" Coba buka. Mungkin saja kantong ini ada kaitannya dengan penukaran Meiling " Ucap Rajhu.


Sebenarnya tanpa disuruh pun, Burka sudah berencana untuk memeriksa isi dari Kantong uang tersebut. Namun Burka tidak bisa tidak waspada, dia berpikir mungkin saja di dalam kantong tersebut terdapat sesuatu yang bisa membahayakan dia dan rekan-rekannya.


" Menjauhlah sedikit. Aku khawatir di dalamnya akan ada perangkap atau semacamnya " Ucap Burka.


" Oh.. Iya... " Rajhu bergerak menjauh beberapa langkah dari Burka.


" Hei Shadev. Apa kamu tuli? Sini... " Ucap Rajhu dalam bahasa Meghalaya dengan nada kesal ketika melihat Shadev masih berada di dekat Burka.


Ketiga rekannya sering kali berucap dengan menggunakan bahasa Penda dan terkadang bergantian mencampurkan kedua bahasa. Itu membuat Shadev lebih banyak diam, ketika mereka berbicara.


" Haih... Sepertinya lain kali kamu sebaiknya tidak ikut ke Benua ini " Gumam Rajhu ketika Shadev menghampirinya.


" Kamu bicara apa? " Tanya Shadev setelah mendengar gumaman Rajhu dalam bahasa Penda.


Rajhu tidak menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya sembari menunjuk ke arah Burka.


Burka baru saja membuka Kantong uang tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah kertas bergulung. Burka membuka gulungan kertas tersebut dan menemukan sebuah teka-teki kata-kata di dalam gulungan kertas tersebut.


" Melangkahlah mundur hingga kamu mencapai lokasi tempatmu semula berada. Gadis yang kamu cari tidak kemana-mana. Tetapi jika kamu meletakkan batu berharga itu di tempatmu berdiri " Ucap Burka ketika membaca kata-kata di dalam gulungan kertas tersebut.


' Apa-apaan ini? Main teka-teki segala? Apa mereka kumpulan orang-orang gila... Dari kemarin terus saja mempermainkan kami ' Pikir Burka.


Burka meremas kertas tersebut dengan perasaan yang benar-benar campur aduk. Burka kesal sekaligus merasa ingin tertawa, kejadian ini adalah kejadian terkonyol yang pernah dia alami. Bagaimana tidak, dia dan rekan-rekannya sudah siap bertarung tapi musuhnya justru bermain teka-teki.


" Burka. Apa maksud isi kertas itu? " Setelah beberapa saat mendengar Burka membaca isi kertas itu, Rajhu mendekat dan menanyakan arti dari kata-kata tersebut.

__ADS_1


" Sepertinya mereka meminta kita kembali ke Penginapan Bintang Selatan. Kemungkinan Meiling akan ada di sana " Ucap Burka.


" Tapi sebelum itu, aku harus meletakkan setengah Batu Mahkota yang mereka minta di sini, di tempatku berdiri " Imbuh burka sembari menggelang-gelengkan kepala.


" Jadi? Kita akan menuruti mau mereka? " Tanya Rajhu.


Burka tidak menjawab, dia diam sesaat. Tiga hela napas setelah itu, Burka mengeluarkan sesuatu dari Kantong ruang miliknya.


' Apa ini akan berhasil? ' Pikir Burka setelah dia mengeluarkan sebuah batu berwarna perak dari Kantong ruangnya itu.


Burka meletakkan batu berwarna perak itu tepat di kakinya. Dia kemudian memberitahu kepada Rajhu dan Shadev untuk ikut bersamanya kembali ke Penginapan Bintang Selatan.


" Hei... Kalian mau kemana? Tunggu aku ! " Seru Shingha dari belakang Rajhu, Shadev dan Burka ketika mereka baru berlari beberapa langkah menuju ke selatan.


" Oh iya. Kami hampir saja melupakanmu. Ayo... Kita harus kembali ke Penginapan Bintang Selatan ! " Ucap Burka ketika dia menoleh ke belakang dan melihat Shingha mengejar mereka.


' Hampir lupa apanya? Jelas-jelas mereka melupakanku ' Batin Shingha.


Setelah berhasil menyusul rekan-rekannya, Shingha menanyakan perihal pertukaran Meiling dan penyebab mereka kembali ke Penginapan Bintang Selatan.


Rajhu memberitahu Shingha mengenai isi Kantong uang yang ditemukannya itu serta penyebab mereka kembali ke penginapan. Shingha mengangguk mendengar penjelasan Rajhu selama perjalanan menuju ke arah selatan.


Shingha yang sebelumnya terlihat bingung karena pengaruh ilusi kini terlihat lebih baik setelah dia membasuh wajahnya.


" Bagaimana rasanya terkena ilusi itu? Apakah benar-benar terasa nyata? " Tanya Rajhu penasaran.


Shingha mengangguk dan menceritakan apa yang sebenarnya dia lihat saat itu kepada Rajhu dan yang lain sembari terus berlari ke arah selatan.


Setelah mencuci wajahnya, ingatan Shingha yang melihat sosok Kakek itu berubah menjadi ingatan bahwa dia melihat sebuah kerangka manusia berwarna putih berjalan melewatinya. Kerangka putih itu menjatuhkan sebuah kantong lalu berjalan pergi dan menghilang menjadi serpihan abu putih.


" Ternyata Kakek yang ku lihat itu adalah sebuah kerangka manusia. Itu sungguh menakutkan... Coba kalian bayangkan, betapa mengerikannya tengkorak yang bisa berjalan " Kata Shingha.


" Buat apa aku membayangkannya, jika itu menakutkan... Untung saja bukan aku yang bertemu dengan tengkorak berjalan itu Hahaha " Tawa Rajhu meledek kemalangan Shingha.


" Apa sebenarnya tengkorak itu? " Gumam Shingha pelan.


" Tidak perlu dipikirkan. Itu kemungkinan Siluman Tengkorak Putih... Untung saja kita tidak perlu bertarung menghadapinya, sebab itu akan sangat menyusahkan " Ucap Burka setelah mendengar Shingha menggumam.


Burka pernah membaca di sebuah kitab, bahwa Siluman Tengkorak Putih yang telah lama menghilang kemungkinan besar masih hidup berdampingan di tengah-tengah manusia.


Para Siluman Tengkorak Putih adalah siluman yang paling ahli menyamarkan diri mereka sebagai manusia. Selain itu, teknik ilusi mereka sangat mumpuni, sehingga keberadaan mereka sulit untuk dilacak dan diketemukan.


' Siapa Bocah ubanan itu? Sebelumnya dia dikabarkan bersama dengan Siluman Serigala Mata Biru, sekarang Siluman Tengkorak Putih, belum lagi Siluman Kodok Punguk... Apa bocah ini anak Kaisar Siluman? ' Batin Burka.

__ADS_1


Sementara Burka dan tiga rekannya itu berlari menuju selatan. Debu-debu putih berterbangan di depan Paviliun Lumbung Parta. Seakan-akan di tengah malam tersebut sedang turun salju tipis-tipis.


Bersambung...


__ADS_2