
Setibanya di tempat Quila dan Huangkong. Gofan memperhatikan wajah Quila dan memastikan sekali lagi dari dekat, bahwa Quila yang dilihatnya sekarang, memanglah Quila yang bersama dirinya, menjadi tahanan Bandit Serigala Biru,
-Ini memang Quila, berarti dugaanku benar, Cangu yang dimaksud adalah Cangu yang juga pernah ditahan para bandit itu-
-Tapi, mengapa duo Kultus Abu-Abu ini juga ikut menyerang perguruanku? Sepertinya kata-kata Xionan memang benar tentang kedua orang ini-
Gofan mengingat kembali kata-kata Xionan, yang mengatakan bahwa Quila dan Cangu yang merupakan orang-orang dari Kultus Abu-Abu, bukanlah orang-orang baik.
"Kita terlambat. Pria itu sudah meledakkan perpustakaannya"
Huangkong menyadari bahwa suara ledakan yang baru saja didengarnya itu berasal dari balai perpustakaan Perguruan Tanah Terlarang.
"Kalian berdua kejar dan tangkap pria itu, aku akan mencoba memanggil bantuan untuk memadamkan apinya...! Ku harap masih akan ada kitab yang bisa kita selamatkan... Aku pergi..!"
*Zyuut*
Imbuh Huangkong.
Huangkong melesat pergi setelah melihat api yang sangat besar sedang melalap habis balai perpustakaan tersebut.
Setelah Huangkong melesat pergi. Gofan dan Quila kini berdiri di sebuah jalan setapak di dekat balai perpustakaan Perguruan Tanah Terlarang yang sedang dilalap oleh api, imbas dari ledakan.
"Quila, entah kenapa tiba-tiba aku lupa, apa yang kita lakukan di sini? dan siapa pria yang dibicarakan Huangkong ?"
Tanya Gofan.
Gofan jelas tidak mengetahui hal apa yang tengah terjadi, dia baru saja dikirim kembali dan masuk ke dalam tubuh Cangu, karena itu dia mengarang alasan bahwa dirinya lupa, agar bisa mengetahui apa yang terjadi dari Quila.
"Kamu ini... Itu saja bisa lupa..."
"Kita harus mengejar pria bernama Lenchan itu. Ini adalah perintah langsung dari Ketua Tungdie... Xingmou juga bilang, kalau yang tahu dimana Tablet Dewa Naga kemungkinan hanya tinggal dia saja... Ayo... Kita kejar dia!"
Sahut Quila saat langsung melesat pergi menyusul ke arah yang dilalui Lenchan.
Huangkong, Quila, dan Cangu yang gagal menemukan keberadaan Lenfan, diperintahkan oleh Tungdie untuk mengejar dan menangkap Lenchan.
Lenchan diketahui membawa beberapa bahan peledak dari gudang senjata perguruan untuk membakar habis kitab-kitab yang ada di dalam balai perpustakaan Perguruan Tanah Terlarang.
Perpustakaan itu sengaja diledakkan oleh Lenchan dengan harapan bahwa semua kitab dan berbagai hal yang terkait dengan trah Len akan terbakar habis tanpa sisa.
Mereka bertiga juga disarankan oleh Xingmou untuk menangkap Lenchan hidup-hidup, sebab kemungkinan besar sekarang hanya tinggal dia yang tahu tentang keberadaan Tablet Dewa Naga.
-Apa maksudnya ini? Kedua orang itu bukannya sudah mati. Bukankah karena kematian mereka, aku jadi gagal dua kali dalam taruhan ini -
"Quila, sepertinya aku masih melupakan sesuatu. Aku tidak bisa mengingat, apa yang terjadi kepada Raja Gelap dan istrinya?"
"Dan, apa yang Kultus Abu-Abu lakukan di sini? Kenapa kita bekerja sama dengan trah darah murni?"
Sembari berlari beriringan dengan Quila, Gofan menyempatkan diri untuk bertanya, dia memaksakan diri sekuat tenaga untuk berlari menyamai kecepatan lari Quila.
"Kenapa kamu jadi pelupa begini? Sepertinya setelah semua ini, kamu perlu memeriksakan diri ke Tabib Zuena"
Sahut Quila sebelum diam sesaat dan melanjutkan kembali perkataannya kepada Cangu yang dirasuki jiwa Gofan.
__ADS_1
"Sepertinya kamu penasaran sekali? Kamu benar-benar lupa?"
Quila merasa ada yang aneh dengan sikap Cangu, tetapi dia tidak bisa memastikan hal apa yang sudah menimpa Cangu, sehingga membuat Cangu menjadi pelupa begitu.
Gofan mengangguk, mengiyakan pertanyaan dari Quila. Tidak lama setelah Quila melihat Cangu mengangguk, dia berhenti berlari.
*Triung*
"Siapa kamu? Mengapa kamu menyamar sebagai Cangu?"
Quila menghunuskan pedangnya dan melayangkan pedangnya ke arah Gofan.
-Hampir saja. Jika aku terkena ayunan pedangnya tadi, mungkin aku akan mati. Dia mencurigaiku, bagaimana ini?-
" Quila. Apa maksudmu? Ini aku... Ini benar-benar aku, Cangu"
Gofan hampir saja terkena ayunan pedang yang dilayangkan Quila ke arahnya. Untung saja Gofan bergerak lambat karena berat badan Cangu, itu membuatnya terhindar dari kematian.
"Puih...!! Jelas-jelas kamu bukan Cangu, cepat katakan siapa kamu? dan dimana Cangu yang asli? Katakan!!"
Bentak Quila, saat dia bertanya kepada Gofan.
Quila melihat sorot mata Cangu, berbeda daripada sorot mata yang biasa diperlihatkan Cangu, karena itu Quila yakin bahwa Cangu yang ada di hadapannya adalah Cangu yang palsu, dia tidak berpikir bahwa Cangu sedang dirasuki oleh Gofan.
-Apa yang harus aku lakukan?... Oh iya... benar, Aku bisa menggunakan cara itu-
Gofan memutuskan untuk berpura-pura tidak sadarkan diri, dia berpura-pura kejang-kejang dan menjatuhkan dirinya ke tanah.
"Hei... Ada apa denganmu!? Bangun!! Jangan berpura-pura begitu!?"
"Hihihi... Aku sudah mencuri ingatan temanmu Hihihi... Semua ingatannya sudah habis ku curi...Hihihi"
Suara tanpa sumber tiba-tiba terdengar menggema setelah Cangu yang masih dirasuki Gofan terkapar pingsan di bawah kaki Quila.
"Si-siapa kamu? Keluar!!"
Quila melihat sekeliling namun tidak menemukan keberadaan siapa pun.
"Hihihi... Aku ini Buiyan Hihihi... Aku akan mengambil ingatanmu juga Hihihi"
Sahut suara tanpa sumber itu.
"Ka-ka-kamu han-hantu Buiyan?"
Quila mendadak berubah ekspresinya dan terlihat seperti ketakutan setelah mendengar jawaban dari suara tanpa sumber itu, ternyata suara itu adalah suara dari hantu Buiyan.
Buiyan adalah sosok hantu legendaris yang pernah menghantui kehidupan penduduk Benua Penda. Hantu ini sering menculik orang-orang dan mencuri ingatan mereka, membuat mereka menjadi linglung dan bahkan gila.
Hal yang paling menakutkan adalah seorang Mahaguru dari perguruan tingkat darah murni pernah dibuat gila oleh hantu Buiyan ini, Mahaguru itu mengamuk dan membunuh banyak sekali murid dan penatua perguruan. Berita inilah yang membuat para pendekar menjadi takut ketika mendengar nama hantu Buiyan.
"Hihihi... Kamu tahu siapa aku Hihihi.... Sekarang waktunya aku mengambil ingatanmu..."
*Blazh*
__ADS_1
Sebuah serangan energi mental melesat ke arah Quila, ketika dia sedang berdiri memunggungi Gofan. Gofan yang terkapar di tanah menembakkan serangan energi mental ke arah Quila.
"Aarrggh...!!"
*Gedebug*
Quila sempat menggeram kesakitan sebelum akhirnya jatuh pingsan tepat di sebelah Gofan.
"Hah... Akhirnya selesai juga, untung saja Uroro mengajariku Jurus Suara Mental"
Gofan memanfaatkan jurus Suara Mental dan menggunakannya untuk menyamar sebagai hantu Buiyan saat dia berpura-pura jatuh pingsan.
"Ckck... Sama hantu Buiyan saja kamu takut Hehehe..."
Gofan berdiri dan memandangi tubuh Quila yang terkapar tidak sadarkan diri di bawah kakinya.
Beberapa puluh hela napas kemudian, Quila tersadar dan melihat Gofan duduk bersila menunggui dirinya yang terkapar tidak sadarkan diri.
"Ca-Cangu...! Dimana hantu itu? Kamu baik-baik saja kan?"
Mata Quila melirik ke kanan dan ke kiri dia memeriksa keadaan sekitarnya, dia takut hantu Buiyan itu masih ada di sekitarnya.
"Cangu? Aku Cangu?... Siapa kamu? Hantu apa?"
Ucap Gofan berpura-pura kehilangan ingatan.
-Hantu itu benar-benar sudah mencuri ingatannya. Tapi kenapa hantu itu tidak mencuri ingatanku?-
"Haih... Kasian sekali nasibmu, kenapa kamu harus bertemu hantu pencuri ingatan itu"
Quila menggelengkan kepalanya ketika melihat tingkah Cangu seperti orang linglung.
Melihat keadaan Cangu seperti itu, akhirnya Quila merasa iba, dan menceritakan semua hal tentang Cangu dan sejarah hidupnya, termasuk hubungan Kultus Abu-Abu dan perguruan trah darah murni.
"Loh... Kenapa kamu menangis?"
Quila berhenti bercerita saat melihat Cangu yang dirasuki Gofan menangis.
Tentu Gofan akan menangis, baru saja dia mendengar bahwa kedua orang tuanya telah meninggal. Kejadian yang diceritakan Quila, tentang kematian kedua orang tuanya benar-benar berkebalikan dari apa yang dia alami sebelumnya.
Ayahnya tewas di tangan Tungdie setelah seorang Ketua kecil Kultus Abu-Abu lainnya, ikut membantu Tungdie menyerang Lenhao, sementara Ibunya, tewas dibunuh oleh Xingmou.
"Bukan.. Bukan apa-apa. Ternyata hidupku seperti ini... Terima kasih sudah menceritakan semuanya"
Ucap Gofan sembari menyeka air mata di wajah Cangu.
"Sudahlah, Kamu itu saudaraku.. Ayo, kita susul Lenchan, kalau Huangkong tahu kita belum menangkap orang itu, kita akan habis di omelinya... Ayo..!"
Quila menepuk pundak Gofan, kemudian bersiap untuk pergi menyusul Lenchan.
*Gedebug*
Tubuh seseorang dilempar jatuh ke bawah kaki Quila dan Cangu ketika mereka akan melangkah pergi.
__ADS_1
Quila dan Cangu terkejut, sehingga membatalkan langkah mereka pergi.
Bersambung...