
Tidak lama setelah Gubang dan dua anggota lainnya mengejar Qingyue. Mereka berhasil mengejar lari kencang kuda Qingyue.
Hanya saja, ketika mereka menyusulnya, mereka mendapati Qingyue telah terkulai lemah di tanah. Ada begitu banyak darah membanjiri kedua kaki Qingyue.
“Sepertinya dia mengalami pendarahan.” Ucap Gutian yang baru saja menyusul ketiga lainnya.
“Dia hamil?....” Tatap seorang Trah Gu lain ke arah darah di kaki Qingyue.
“Kak. Bagaimana ini? Sepertinya dia sudah tidak sadarkan diri.” Ucap seorang anggota Trah Gu lainnya.
“Angkat. Bawa dia. Kita kembali.” Sahut Gubang.
Gubang, Gutian, dan dua lainnya segera kembali ke Partai Gunung Angkasa sembari membawa Qingyue yang baru saja kehilangan calon anak barunya.
***
[Penginapan Bintang Timur]
Setelah berhasil mengalahkan Qimouzha. Xionghuo dan Dongkho membawa Lengyue ke Penginapan Bintang Timur, untuk bertemu dengan Kongchu dan Ziyishi.
Di salah satu kamar, Kongchu, Ziyishi, Xionghuo dan Dongkho terlihat tengah menunggu kedatangan seseorang. Mereka tengah menunggu kedatangan perwakilan dari Kultus Abu-Abu.
“Apa orang itu benar akan datang?.” Tanya Dongkho tidak sabaran.
“Tentu. Dia tidak pernah ingkar janji.” Sahut Xionghuo.
*Kerieett*
Beberapa hela napas setelah Dongkho bertanya, dua orang masuk ke dalam kamar tersebut.
Satunya perempuan cantik dengan pakaian sedikit terbuka, sementara satunya lagi adalah seorang pria tua yang bungkuk. Mereka berdua adalah Tungdie dan Guxiu yang beberapa saat sebelumnya sedang ditunggu keempatnya.
“Salam Ketua.” Ucap Xionghuo, Dongkho, Kongchu, dan Ziyishi.
“Cukup basa-basinya. Dimana gadis itu?.” Tanya Tungdie, si Ketua Kecil Kultus Abu-Abu itu.
“Dia berada di kamar sebelah. Kami sudah melumpuhkannya dan mengikat tubuhnya dengan baik.” Sahut Ziyishi.
“Bagus. Sisanya serahkan pada kami.” Ucap Tungdie sebelum menoleh ke arah Guxiu, “Ketua Guxiu. Pergilah dan kendalikan dia. Buat dia menjadi sepatuh mungkin.”
“Hmm....” Guxiu, si Punuk Tua Beracun, mengangguk dan dengan diantar Ziyishi, dia pergi ke kamar sebelah.
**
“Ketua. Bagaimana kondisi Kakak tertua kami?” Tanya Kongchu.
“Tenang saja. Jika kamu melaksanakan perintah dengan baik. Dia mungkin akan pulih dalam satu atau dua tahun lagi.” Sahut Tungdie ketus.
“Terima kasih Ketua. Jika boleh tahu... Aku hanya penasaran, apa sebenarnya yang direncanakan oleh Pemimpin Tertinggi dengan melakukan semua ini?.” Tanya Kongchu lagi.
“Bukan urusanmu. Lakukan saja apa yang diperintahkan. Bukankah hidup para Bandit sudah lebih baik setelah mengikuti Pemimpin Tertinggi?.” Sahut Tungdie.
Kongchu sedikit kecewa. Tidak mendapat jawaban, dia hanya bisa menghela napas panjang.
__ADS_1
Tungdie duduk dan menoleh ke arah Xionghuo, “Pemimpin Tertinggi sangat senang dengan hasil kerja kalian. Setrlah ini, kalian berdua ikut aku, kita akan pergi ke Tanah Halimun. Kalian akan menerima imbalan atas apa yang telah kalian lakukan.”
“Baik. Terima kasih Ketua.” Sahut Xionghuo dan Dongkho.
“Kongchu.. Pemimpin Tertinggi menanyakan tentang kejadian di Markas bawah tanahmu. Apa yang terjadi di sana?.” Tanya Tungdie.
Kongchu melirik ke kanan dan ke kiri, dia sudah mendapat pesan dari Ximenbao tentang perihal yang sama. Kongchu tidak menyangka jika Tungdie akan tahu juga tentang masalah yang terjadi di markasnya itu dan juga menanyakan perihal yang sama dengan yang ditanyakan Ximenbao.
“Aku baru akan mengirimkan balasan.. Ini laporannya.” Kongchu menyerahkan sebuah boneka burung pembawa pesan kepada Tungdie.
Tungdie menerima dan segera memeriksa isi di dalamnya, “Hmm... Iblis Putih dan Vasudev? Apa ini? Apakah murid barunya telah mati di dalam Formasi Sembilan Kutukan Langit?.”
“Benar Ketua. Iblis Putih yang sebelumnya membuat perkara dengan para Pangeran telah menjadi murid baru Vasudev, si Penyihir Ruang dan Waktu... Dia mati di dalam Formasi itu. Aku khawatir, saat Vasudev tahu, dia akan menuntut balas kepada kami.” Sahut Kongchu.
“Benarkah dia sudah mati? Kamu sudah memastikan mayatnya?.”
“Mmm....” Kongchu sedikit ragu, “Jadi begini....” Kongchu menceritakan semua kejadian yang sebenarnya terjadi, tiga hari sebelumnya itu.
“Bodoh-! Kenapa tidak kalian pastikan? Sudah tiga hari berlalu dan Vasudev tidak melakukan apa-apa, itu berarti ada yang salah dengan kematian muridnya... Kemungkinan bocah itu masih hidup.” Tungdie diam sesaat.
“Ayo. Antar aku ke ruang bawah tanahmu.. Aku ingin melihat langsung lokasinya.” Ucap Tungdie sembari bergegas pergi dengan iringan Kongchu dan diikuti oleh dua lainnya.
**
[Markas Bawah Tanah Divisi II Bandit Serigala Biru]
“Ini!?....” Kongchu terkejut.
“Ini pasti ulah Vasudev... Dimana tempat muridnya mati?.” Tungdie tidak begitu peduli tentang kerugian yang dialami Kongchu. Lagi pula, itu kelalaiannya sendiri, karena tidak mengamankan harta bendanya setelah markasnya diketemukan oleh orang luar.
“Di balik pintu batu ini.” Tunjuk Kongchu.
Aroma amis dan busuk masih tercium keluar dari dalam ruangan berpintu batu tersebut.
*Grooogg* Tungdie membuka pintu batu tersebut.
“Apa ini!?.”
“Mereka semua hancur!?.”
Keempatnya terkejut melihat apa yang terjadi di dalam ruangan tersebut. Mereka tidak menemukan jejak mayat Gofan. Mereka hanya menemukan potongan-potongan tubuh dan organ dalam membusuk dari tubuh para Mayat Hidup.
“Ketua. Sepertinya Iblis Putih itu masih hidup.” Ucap Xionghuo, “Lihatlah bekas bayangan ini.” Tunjuk Xionghuo pada bekas setengah bayangan tubuh yang tercetak di dinding pintu batu.
Hampir seluruh bagian dinding di ruangan itu telah digenangi oleh cipratan darah. Hanya sebagian yang ditunjuk Xionghuo, yang tidak digenangi oleh darah.
“Ketua. Formasi Sembilan Kutukan Langitnya juga menghilang.” Ucap Kongchu ketika dirinya tidak menemukan ukiran apa pun di dinding yang sebelumnya dipenuhi oleh Formasi Dewa tersebut.
“Apa yang sebenarnya dilakukan bocah itu?.” Guman Tungdie, “Kongchu. Keluarkan Kompas Langit, dan coba aktifkan Formasinya.”
“Baik Ketua.” Kongchu mengeluarkan Kompas Langit dan menyalurkan tenaga dalamnya.
Tidak ada yang terjadi.
__ADS_1
“Sepertinya.. Selain mengambil kedua kunci itu, Bocah itu juga menghapus Formasi Dewa ini... Tapi bagaimana bisa?.” Tungdie kebingungan melihat semua yang terjadi di ruangan itu.
Bagaimana bisa, seseorang yang kehilangan kemampuan bertarungnya dan hanya seperti manusia biasa dapat mengalahkan semua Mayat Hidup dan menghapus sebuah Formasi Dewa, itulah yang ada di pikiran Tungdie dan ketiga lainnya.
“Ini kesalahanmu! Sepertinya kamu harus bersiap untuk menerima hukuman dari Pemimpin Tertinggi.” Tungdie mendengus kesal dengan semua kehilangan tersebut, “Seharusnya kamu tidak meremehkan bocah itu dan memeriksa kembali mayatnya sebelum pergi-! Bodoh-!.”
Kongchu hanya bisa menunduk. Dia kehilangan kunci berharga yang seharusnya masih aman di dalam ruangan tersebut. Siapa yang menyangka, jika ternyata darah yang sebelumnya dia lihat merembes keluar dari bawah pintu batu itu adalah darah dari para Mayat Hidup, bukan darah Gofan.
“Maafkan kami Ketua. Aku akan segera mencari Bocah itu.. Aku akan mendapatkan kembali kedua kunci itu.” Kongchu bersujud gemetaran.
“Tidak perlu. Aku tahu kemana Bocah itu akan pergi....” Tungdie melangkah keluar dari ruangan tersebut, “Lanjutkan saja semua rencana di awal. Segeralah pergi dan bergabung dengan yang lainnya di Pulau Api. Tianfuzi sudah mempersiapkan semuanya di sana.”
Usai mengatakan itu, mereka kembali ke Penginapan Bintang Timur untuk memastikan hasil kerja Guxiu.
“Ketua Guxiu. Apakah kamu sudah berhasil?.” Tanya Tungdie.
“Aku sudah melakukan semua yang aku bisa... Tapi ini agak aneh, gadis itu sepertinya masih tertidur pulas, efek obat tidur itu seharusnya telah lama hilang.” Guxiu menoleh ke arah Xionghuo, “Xionghuo.. Apa kamu melakukan apa yang diperintahkan dengan benar?.”
Xionghuo menoleh ke arah Dongkho, “Seharusnya sudah benar. Bukan begitu, Dongkho?.”
“Benar. Ketua Guxiu. Aku memasukkan dosis yang sama dengan yang Ketua sarankan.” Sahut Dongkho. Dia mendapatkan obat tidur itu dari Guxiu dan menaburkannya pada makanan dan minuman Lengyue dan semua yang ada di Kapal sesuai dengan dosis yang dianjurkan Guxiu.
Guxiu mengelus dagunya, “Tidak benar. Seharusnya dia sudah sadar....” Guxiu berpikir sejenak, “Ziyishi, bagaimana caramu mengelabui pengelihatan masa depan Gadis ini?.”
“Seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku menyewa seseorang ahli mimpi bernama Yuwenhuai. Dia mengelabui Gadis itu dengan ilusi mimpi miliknya dan merubah sebagian besar penglihatan masa depan Gadis itu.”
“Yuwenhuai?.. Ketua Tungdie. Bukankah nama ini agak sedikit tidak asing?.” Tanya Guxiu.
“Benar.. Aku sepertinya pernah mendengarnya juga, tapi entah kenapa aku tidak bisa mengingatnya.. Ahli mimpi?.” Tungdie berpikir keras, namun dia tidak bisa mengingat siapa Yuwenhuai.
“Ziyishi.. Deskripsikan kepada kami bagaimana penapilan Yuwenhuai ini.” Ucap Guxiu.
“Tubuhnya seperti anak kecil, mungkin kira-kira usianya tidak lebih dari sepuluh tahunan. Dia selalu membawa permen bertangkai, setiap kali aku menemuinya.” Sahut Ziyishi.
“Dimana pertama kali kamu bertemu dengannya.” Guxiu bertanya lagi.
“Itu.. It...Itu...” Bagaimanapun Ziyishi berusah mengingat, dia tidak bisa mengingatnya.
“Percuma. Sepertinya dia juga sudah membuatmu lupa.” Sela Tungdie.
“Ketua. Apa maksudnya ini?.” Tanya Kongchu penasaran.
“Dia seorang Ahli mimpi, tentu dia bisa mengubah ingatan kita sesuai keinginannya di dalam dunia Mimpi... Aku khawatir, setelah kita tidur nanti, kita akan lupa tentang semua ini.”
“Apa!?.” Semuanya terkejut.
“Kita tidak boleh tidur sebelum membawa gadis ini ke Pemimpin Tertinggi. Jika tidak, semua usaha ini akan sia-sia....” Imbuh Tungdie.
Dengan analisa dari Tungdie. Kongchu dan Ziyishi pun akhirnya bergegas berangkat ke Pulau Api dan berusaha untuk tidak tertidur.
Sementara Tungdie dan Guxiu, kembali ke Tanah Halimun bersama Dongkho dan Xionghuo sembari membawa Lengyue yang masih tertidur, tidak sadarkan diri. Mereka akan mencari cara mengatasi Yuwenhuai setelah tiba di Tanah Halimun.
Bersambung...
__ADS_1