
“Berhati-hatilah dan ingat jangan menggunakan kekuatan Mata Iblismu di sini.” Ucap Vasudev saat mereka berjalan menyusuri sebuah jalan setapak menuju ke arah rawa.
“Baik Guru. Tapi Guru, Ada apa di rawa ini? Kenapa Para Siluman tidak bisa pergi kemari?.” Tanya Gofan.
“Aku hanya mendengar bahwa ada sesuatu di Rawa ini yang membuat para siluman dan Makhluk buas, akan kesakitan hingga mati.” Sahut Vasudev saat dia melihat ke sekeliling.
Gofan tidak lanjut bertanya, dia hanya memikirkan benda apa yang membuat Para Siluman sampai takut datang ke rawa tersebut.
Saat ini kedua guru dan murid itu sedang berjalan di sebuah jalan setapak menuju ke arah Rawa Bairawa. Rawa yang disekitarnya selalu diselimuti dengan kabut dingin dan bau busuk yang menyengat. Bau busuk itu berasal dari air rawa yang sudah terlihat mirip lendir berwarna hijau kebiruan.
Tidak banyak yang mendatangi rawa itu, sehingga jalan setapak yang dilalui Gofan dan Vasudev tampak tidak terawat. Banyak semak belukar dan ilalang yang tumbuh di tengah jalan tersebut, membuat jalan itu terlihat menyempit dan seakan terputus.
“Gofan. Jalannya berakhir di sini. Kamu masuklah ke dalam rawa ini. Guru akan menunggumu di sini.” Tunjuk Vasudev ke arah rawa yang tepat ada di hadapan keduanya.
Gofan menelan ludah, “Guru tidak ikut?.”
“Hanya satu orang yang bisa memiliki Mata Ilahi, apa kamu mau bertarung denganku demi Mata Ilahi?.” Sahut Vasudev yang sesungguhnya hanya tidak ingin masuk ke dalam air rawa yang bau tersebut.
“Tidak. Tidak Guru. Murid tidak berani.”
“Kalau begitu masuklah. Kata Lengyue akan ada yang menyambutmu di dasar rawa.” Vasudev tersenyum dan pergi mencari tempat untuk duduk menunggu Gofan kembali.
Gofan mengaktifkan Mata Surga dan melapisi seluruh tubuhnya dengan cahaya ungu. Gofan melangkah masuk ke dalam rawa.
‘Kenapa pula Mata Ilahi ada di tempat sebau ini.’ Batin Gofan ketika dia menyelam ke dasar rawa.
Rawa itu hanya sedalam 18 kaki, tidak perlu waktu lama bagi Gofan untuk mencapai dasarnya.
‘Hm.. Apa itu?’ Pikir Gofan saat dia melihat ke sekeliling untuk mencari orang yang dimaksud Vasudev akan menyambutnya.
Di depan Gofan terlihat sesuatu yang mirip dengan kepala manusia, namun ukurannya lebih bersar berkali-kali lipat.
‘Apa ini kepala sebuah patung? Besar sekali..’ Gofan mencoba meraba kepala tersebut.
*Grudug* Kepala tersebut sedikit bergetar saat kedua matanya terbuka dan melirik ke arah Gofan.
‘Ini!? Ini kepala raksasa!? dan dia masih hidup?’ Gofan berenang menjauh beberapa langkah.
“Manusia kecil. Siapa kamu? Untuk apa kamu mengganggu tidurku?.” Ucap Kepala Raksasa tersebut.
__ADS_1
‘Benar... Ini kepalanya.. Sepertinya tubuhnya tertanam jauh di bawah dasar rawa ini.’
“Maaf Tuan Raksasa. Namaku Gofan dari dataran Penda. Aku datang untuk mendapatkan Mata Ilahi.” Sahut Gofan.
“Benarkah? Bagaimana kamu bisa tahu, Mata Ilahi ada di sini?.”
“Aku mengetahuinya dari seseorang.”
“Siapa? Apa gadis cenayang itu yang memberitahumu?” Tanya si Raksasa tersebut.
‘Dia mengenal Lengyue?...’
“Benar Tuan. Dialah yang membari tahu tentang keberadaan Mata Ilahi.”
“Gadis itu sungguh menepati kata-katanya... Sebelumnya dia datang kemari untuk memastikan kebenaran keberadaan Mata Ilahi, tapi dia pergi setelah mengatakan akan ada orang yang datang untuk mengambilnya...”
“Apa kamu sungguh siap untuk mengambilnya?” Tanya si Raksasa.
“Maksud Tuan?”
“Untuk mengambil Mata Ilahi kamu harus melewati tiga tahap ujian dan itu semua tergantung pada kemampuanmu. Dapat tidaknya kamu mengambil Mata Ilahi itu, semua tergantung dari lulus tidaknya kamu dari ketiga ujian.”
“Taruhannya nyawa. Meskipun belum ada selain kamu yang mencoba mengambil Mata Ilahi, tapi resikonya adalah kematian. Jika kamu bersedia, silahkan masuk ke dalam lubang itu.” Lirik si Raksasa ke arah sebuah celah dimensi yang muncul di sisi kiri kepalanya.
“Baik Tuan. Terima kasih, aku akan mencobanya.” Gofan masuk ke dalam celah dimensi.
‘Haih.. Apa ini adalah hal yang benar? Dewa itu mengatakan aku harus menunggu yang diramalkan untuk datang dan mengambil Mata Ilahi...’
‘Ini semua karena gadis cenayang itu, dia bilang yang akan datang dan mengambil mata ilahi adalah orang yang jahat, jadi dia membantuku mencari orang yang benar. Apa manusia kecil ini adalah yang dia maksud?’ Batin si Raksasa ketika mengingat pertemuannya dengan Lengyue.
***
[Di Dalam Celah Dimensi Rawa Bairawa]
Usai memasuki celah dimensi, Gofan mendarat di sebuah lereng gunung berapi. Udara panas dan asap mengepul memenuhi sekitarnya.
‘Manusia kecil. Ujian pertamamu adalah mengalahkan semua Makhluk itu. Bunuh sampai tidak tersisa satu pun juga. Ini ujian kekuatan.’ Suara si Raksasa muncul di benak Gofan.
Setelah mendengar itu, dua orang Makhluk bersenjata pedang yang terlihat mirip manusia batu berkepala naga muncul di hadapan Gofan.
__ADS_1
‘Kesatria Naga Batu?!.’ Pikir Gofan saat Tongkat Emas Naga Kembar muncul di genggaman tangannya.
"Langkah Kilat"
"Pukulan Api Penakluk Iblis"
Gofan dengan mudah mengalahkan kedua makhluk itu. Namun baru saja keduanya tumbang, empat Kesatria Naga Batu muncul dan menyerang Gofan.
Setelah empat Kesatria Naga Batu berhasil ditumbangkan Gofan, delapan lainnya muncul dan menyerang ke arah Gofan.
‘Bagaimana ini?! Setiap aku mengalahkan mereka, jumlah mereka akan bertambah dua kali lipatnya, jika terus begini aku yang akan kalah duluan.’ Batin Gofan saat dia menyerang 64 Kesatria Naga Batu.
*Trang*
*Trang* Tongkat dan pedang terus beradu.
Setelah hampir ribuan gerakan, kini Gofan dihadang oleh 256 Kesatria Naga Batu. Selain jumlahnya yang banyak, yang paling menyusahkan adalah tubuh dari makhluk itu yang sekeras batu. Gofan memerlukan banyak tenaga untuk mengalahkan masing-masing dari mereka.
Selain itu, udara panas dari gunung berapi itu membuat Gofan harus mengerahkan lebih banyak tenaga dalam saat menghadapi Para Kesatria Naga Batu.
‘Apa yang harus aku lakukan?.’ Sembari mengalahkan masing-masing dari ke-256 Kesatria Naga Batu tersebut, Gofan memikirkan cara untuk mengalahkan mereka secara mutlak.
***
[Perguruan Tunjung Putih]
Ketika akhirnya aliran ruang dan waktu sudah kembali normal. Semua yang hadir di Upacara Pewaris Dewa Perang mengalami kebingungan. Secara tiba-tiba Gofan, Shiyuxin, Shijie, dan Vasudev menghilang dari sekitar mereka.
“Sialan Vasudev! Pergi seenak jidatnya... Aku sudah meluangkan waktu berhargaku, datang untuk memberi selamat pada Fanfan, tapi dia membawanya pergi begitu saja.” Keluh Xunialiang ketika menyadari kejadian menghilangnya keempat orang itu adalah karena ulah Vasudev.
“Kamu. Namamu Mouhuli bukan? Aku hanya bisa memperingatkanmu satu hal, asal kamu tidak melakukan kesalahan, kami Tujuh Pendekar Keajaiban pasti tidak akan menangkap dan membunuhmu. Ini semua berkat Fanfan, jadi ingat hal itu... Permisi.” Imbuh Xunialiang kepada Mouhuli saat dia pergi meninggalkan Perguruan Tunjung Putih.
Mouhuli hanya memandang ke arah Xunialiang, dia tidak mengiyakan juga tidak menolak.
“Ratu. Aku rasa Gofan dan Vasudev sudah pergi untuk mencari Mata Ilahi. Kita tidak mungkin ke rawa itu, apa yang harus kita lakukan?” Tanya Bianselong.
“Kita juga sebaiknya pergi. Kita akan menunggu mereka di luar Rawa Bairawa. Saat mereka mendapatkan Mata Ilahi, kita pasti akan bertemu dengan mereka.” Sahut Mouhuli yang dibalas anggukan persetujuan oleh Bianselong.
Sejenak kemudian, Mouhuli dan Bianselong menghampiri Duan Tianlang. Mereka mengucapkan terima kasih dan berpamitan.
__ADS_1
Bersambung...