Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 68. Tidak Mungkin... Xionan!!


__ADS_3

-Apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa aku tidak bisa menemukan Xionan?-


Pikir Xioming ketika dia terus mencari-cari keberadaan Xionan.


Xioming tentu tidak dapat melihat Xionan, meskipun dia sudah melihat ke seluruh penjuru mata angin.


"Hei... Apa yang kamu lakukan?"


Tanya Zuena ketika melihat Xioming yang mondar-mandir, berputar-putar, terus mencari keberadaan Xionan.


"Sa-Saya sedang mencari adik saya Pendekar"


Sahut Xioming yang masih menoleh ke sekelilingnya.


-Benar juga. Kemana nona itu dan juga Wukong?... Seharusnya mereka masih ada di sekitar sini-


Pikir Zuena setelah mendengar kata-kata Xioming.


Bailaohu tertawa mendengar kata-kata Xioming,


"Cari saja terus adikmu yang sudah menjadi roh itu...Hahaha"


"Apa yang kamu bilang?, Adik ku sudah menjadi roh?"


Xioming terkejut mendengar perkataan Bailaohu. Xioming berpikir, jika perkataan Bailaohu itu benar berarti saat ini Xionan sudah meninggal.


"Mana mungkin adik ku sudah meninggal. Beberapa saat lalu, dia masih berada di sekitar hutan ini..."


Dalam ingatan Xioming, semua yang terjadi saat itu adalah kejadian 700an tahun yang lalu.


Bailaohu kembali tertawa, kemudian dia bergerak ke arah Urore dan merangkul Beruang Bambu muda itu.


"Sepertinya kalian masih berpikir ini adalah 700 tahun yang lalu, saat kalian belum dikutuk menjadi seperti beruang ini!"


Tunjuk Bailaohu ke arah wajah Urore.


"Dengarkan aku wahai dua manusia bodoh!... Kalian itu baru saja terbebas dari kutukan yang diciptakan oleh teman kalian sendiri!"


Bailaohu meraih sebuah botol dari kantong ruang.


"Terima ini! Teteskan dimata kalian, dan kalian akan langsung melihat keberadaan Xionan"


*Zyuut*


Bailaohu melemparkan botol itu ke arah Zuena.


-Ii-itu kan air kencing ku.. Dia masih menyimpannya!?-


Pikir Urore yang tiba-tiba merinding mengingat kejadian saat dia dipaksa Bailaohu untuk memberikan air kencingnya.


*Tep*


*Sniff Sniff*


Zuena yang baru saja menangkap botol itu, langsung membuka tutup botol dan mencium bau pesing keluar dari botol.


"Air apa ini?, Kenapa baunya pesing begini?"

__ADS_1


Tanya Zuena. Dari bau pesing botol itu Zuena tahu bahwa botol itu bukanlah racun, namun dia sedikit enggan meneteskan air di botol itu ke kedua matanya.


"Itu air kencing beruang ini, teteskan saja, dan kamu akan melihat roh Xionan!"


Sahut Bailaohu.


"Kamu cobalah dulu, jika dia benar, maka kamu pasti akan melihat keberadaan adikmu"


Zuena menyerahkan botol air kencing Urore itu kepada Xioming.


-Nannan, sepertinya waktu mu sudah banyak berkurang, kamu menjadi semakin transparan... Sudah berapa lama kalian bertarung?-


Tanya Gofan ketika melihat Xionan yang melemah karena kehabisan jangka waktu hidupnya. Xionan menjadi semakin transparan dan seakan-akan hendak menghilang.


Xionan hanya diam melayang, dia sudah tidak punya cukup tenaga untuk membalas ucapan suara pikiran Gofan.


"Xiashe, Bolehkah aku meminta beberapa Mutiara Jiwa yang ada di harta berhargamu?"


Tanya Gofan kepada Julala.


Gofan sadar keadaan Xionan sudah sangat lemah dan pasti sangat memerlukan Mutiara Jiwa untuk memulihkan kondisinya.


"Ssh.. Tentu saja boleh. Kamu juga termasuk keturunan trah Len, jadi harta itu juga adalah warisan milikmu"


Julala merayap ke tubuh Gofan dan melingkarkan ekornya di leher Gofan saat menjawab pertanyaan itu.


Xiaobai bermain-main dengan ekor Julala yang menjuntai dari leher Gofan.


"Baik. Terima kasih"


Gofan meraih kantong ruang warisan Tabib Ajaib dan mengambil lima buah Mutiara Jiwa yang berwarna kuning.


Gofan meletakkan lima Mutiara Jiwa berwarna kuning itu di tanah di dekat Xionan.


Xionan yang terlihat sangat buram, mengangguk pelan dan secara perlahan-lahan mulai menyerap energi dari Mutiara Jiwa.


Kira-kira sepuluh hela napas kemudian, Xionan terlihat kembali pulih, tubuhnya kembali terlihat jelas.


-Fanfan, Terima kasih. Sudah hampir semalaman penuh kami bertarung-


Sahut Xionan setelah pulih kepada Gofan. Xionan kemudian memandang ke arah Xioming.


-Kakak, ini aku Xionan. Kata- katanya benar, aku memang sudah meninggal... Sekarang ini waktu sudah berlalu 700an tahun. Teteskan air itu dan kamu akan bisa melihatku-


Xionan melayang mendekat ke arah Xioming.


-Ii-ni...ini suara Nannan!-


Xioming bingung, ketika suara Xionan muncul di benaknya. Baru pertama kali bagi Xioming untuk mengalami hal semacam itu.


-Iya Kak. Ini aku Xionan. Pakailah dulu tetes mata itu dan aku akan menjelaskan semua yang telah terjadi-


Ucap Xionan kembali melalui suara pikirannya.


Xioming terdiam sesaat, dia memandang sekali lagi ke seluruh arah dan berusaha menemukan Xionan. Xioming yang tetap tidak bisa menemukan keberadaan Xionan akhirnya meneteskan air kencing Urore ke kedua matanya.


"Nannan....!? A-ada apa dengan tubuhmu?"

__ADS_1


Xioming melihat Xionan tepat berada di hadapannya usai menggunakan tetes mata itu.


Xioming melihat tubuh adiknya itu tertembus cahaya matahari. Dia berusaha memeluk tubuh Xionan, namun selalu saja tidak berhasil. Xioming menyadari dirinya bagaikan sedang memeluk udara, tidak terasa, namun ada.


"Tubuhku begini, karena aku ini roh. Aku memang roh Kak. Aku sudah meninggal 700 tahun yang lalu"


Ucap Xionan lirih dengan ekspresi wajah yang amat sedih.


Berkali-kali kakaknya berusaha memeluknya namun tidak berhasil.


"Tidak!! Tidak Mungkin..!!"


Tubuh Xioming mendadak lemas, dia meneteskan air mata dan jatuh bersimpuh. Kepala Xioming jatuh tertunduk. Adik kesayangannya, tiba-tiba saja muncul kembali sebagai roh.


"Hei... Xioming! Kamu kenapa?"


-Sepertinya air kencing ini memang benar memiliki efek untuk melihat roh-


Zuena menghampiri Xioming dan menariknya bediri kembali.


Zuena mencoba menenangkan Xioming dengan mengalirkan tenaga dalamnya. Setelah delapan hela napas berlalu, aliran tenaga dalam Zuena berhasil menenangkan Xioming.


Zuena meraih botol tetes mata dari tangan Xioming dan meneteskannya di kedua matanya.


-Benar... Ini... Dia... Ini gadis yang meminta pertolongan kami saat itu, tapi dia terlihat sedikit lebih tua-


"Nona. Bisakah kamu ceritakan, apa yang sebenarnya telah terjadi?"


Zuena yang masih memapah Xioming bertanya ketika dia telah melihat roh Xionan.


Xionan mengangguk dan menceritakan semua yang terjadi kepada Zuena dan Xioming yang kini telah membaik. Xioming akhirnya tenang kembali, namun kini dia hanya diam dan terus menatap tubuh maya Xionan.


"Gofan. Apa yang terjadi? Dengan siapa kedua pria itu bicara? Benarkah ada roh di sekitar sini?"


Tanya Julala yang masih melingkar mirip kalung di leher Gofan.


Julala tidak bisa melihat Xionan, tentu dia tidak mengerti, apa yang sedang terjadi.


"Iya. Benar, memang ada. Mereka sedang berbicara dengan roh itu. Roh itu temanku, namanya Xionan"


Sahut Gofan saat ikut menguping mendengarkan penjelasan cerita Xionan.


Beberapa bagian cerita yang diceritakan Xionan sama persis seperti yang diceritakan oleh Mouhuli. Beberapa lagi merupakan kisah Xionan yang berguru di sebuah perguruan bela diri.


-Tidak mungkin... Xionan!!-


Gofan cukup terkejut ketika mengetahui bahwa dulunya Xionan adalah murid inti di Perguruan Awan Langit, salah satu anggota inti dari Pasukan Phoenix.


-Pasukan Phoenix!? Bukankah mereka salah satu dari kelompok yang menyerang Perguruanku?-


Pikir Gofan dengan ekspresi sedikit tegang.


Gofan mengingat hal yang dikatakan oleh Huangkong, saat Gofan melalui Lorong Masa Haiwa dan memutar waktu.


Saat itu Huangkong mengatakan bahwa Pasukan Phoenix dari Perguruan Awan Langit adalah salah satu kelompok yang menyerang Perguruan Tanah Terlarang.


Perguruan Awan Langit adalah salah satu dari perguruan tingkat darah murni, perguruan yang didirikan oleh Suku Langit Cahaya ketururan Dewa Cahaya yang menghancurkan seluruh trah Len dan membumi hanguskan Perguruan Tanah Terlarang sepuluh tahun lalu.

__ADS_1


Gofan menyadari Xionan tidak terlibat dalam pembantaian keluarganya, namun akan menjadi masalah jika kelak Xionan mengetahui bahwa Gofan memiliki kewajiban untuk memberantas kejahatan, untuk memberantas Perguruan Awan Langit.


Bersambung...


__ADS_2