Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 23. Pendekar Pahit Lidah dan Punuk Tua Beracun


__ADS_3

Enam orang yang berpakaian serba hitam itu adalah Jingwu dan lima orang anggotanya, dari kelompok Bandit Serigala Biru.


Setelah mendapat perintah dari Zawugi, Jingwu segera melakukan perjalanan bersama lima orang anggotanya menuju ke Hutan Bambu Kemarau. Mereka tiba di Hutan Bambu Kemarau tepat pada saat tornado terjadi. Meski demikian, mereka mengabaikan tornado, Jingwu fokus pada tujuannya untuk membunuh Yubing.


" Hutan ini benar-benar aneh, sebelumnya, di luar hujan lebat tapi ketika memasuki hutan ini tidak ada hujan sama sekali, seluruh air di tubuhku langsung menguap... bahkan jauh di sana ada tornado... Lihat !! " Ucap Ligong.


Ligong adalah salah satu anggota kelompok Jingwu. Kelompok Jingwu baru saja memasuki wilayah Hutan Bambu Kemarau. Ligong menunjuk ke arah tornado yang terlihat terjadi jauh dari tempat mereka berada.


" Benar... memang ada yang aneh dengan hutan ini, aku pernah dengar, dulunya hutan ini adalah hutan biasa, ada beragam binatang dan makhluk buas, ada beragam pohon dan tumbuhan, tapi 700an tahun yang lalu, hutan ini tiba-tiba berubah menjadi seperti sekarang " Imbuh Putuo, orang yang paling gemuk di antara empat orang di dalam kelompok Jingwu.


" Daksa, segera lacak dimana mereka ! " Jingwu memberi perintah pada salah satu anggotanya yang memiliki keahlian melacak jejak.


Mendengar kata-kata Jingwu, membuat Putuo dan Ligong, dua orang yang sebelumnya berbicara mendadak diam, tidak melanjutkan kembali keheranan mereka pada Hutan Bambu Kemarau.


" Baik Ketua " Sahut Daksa.


Daksa kemudian bekeliling, menelusuri jalanan menuju ke dalam hutan. Daksa melompat ke kanan dan ke kiri, terkadang dia berjongkok dan mengendus aroma tanah yang dia ambil dengan tangannya.


Puluhan hela napas kemudian, Daksa bergumam sendiri menggunakan bahasa yang tidak bisa dimengerti Jingwu dan empat orang anggota lainnya, setelah itu, dia berbalik untuk menghadap Jingwu dan berkata, " Sebelah sana... ! "


Jingwu mengerti jawaban singkat Daksa, setelah melihat Daksa menunjuk ke arah barat.


" Ayo berangkat... ! Daksa, pimpin jalan ! " Seru Jingwu pada empat orang anggota lainnya dan meminta Daksa untuk memimpin jalan.


Daksa mengangguk dan segera bergerak cepat ke arah barat diikuti Jingwu dan empat orang anggota lainnya.


Begitulah akhirnya, kelompok Jingwu bertemu dengan kelompok Yanse. Setelah berlari beberapa ribu langkah, kelompok Jingwu berhasil menyusul dan menghadang jalan kelompok Yanse.


" Siapa kalian? Mengapa menghalangi jalan kami ? " Tanya Moyo geram ketika melihat enam orang berpakaian serba hitam dengan menggunakan caping hitam, melesat maju dan menghalangi jalannya dan rekan-rekannya.


" Katakan, Dimana, Bunga Kamboja ! " Kata Daksa terbata-bata.


Daksa masih belum terbiasa dengan bahasa dari Benua Penda. Daksa benar-benar ingin membunuh pelaku pembunuh Bulga, dia sudah menganggap Bulga adalah kakak dan gurunya.


" Maksud rekanku, Katakan dimana Pendekar Bunga Kamboja ? " Imbuh Putuo membantu memperjelas maksud dari perkataan Daksa.


Daksa sebenarnya adalah penduduk Benua Meghalaya, salah satu dari enam benua lain. Dia baru bergabung dengan kelompok Bandit Serigala Biru, enam bulan lalu. Setelah direkrut oleh Bulga, ketika Bulga pulang ke kampung halamannya.


Bulga juga merupakan seorang penduduk Benua Meghalaya yang sudah sejak muda berkelana ke Benua Penda dan menetap di kelompok Bandit Serigala Biru.


Meski sudah enam bulan berada di kelompok bandit itu, Daksa masih belum lancar berbahasa Penda, bahasa di Benua Penda, tetapi untungnya dia mengerti apa yang orang katakan padanya melalui bahasa Penda.


' Siapa mereka, apa yang mau mereka lakukan dengan pendekar Yubing?... Sial, aku tidak bisa melihat tingkat budidaya orang-orang ini ' Pikir Yanse, sembari memeriksa tingkat budidaya bela diri kelompok berpakaian hitam di depannya, namun ada penghalang yang melindungi mereka dari kekuatan intuisi Yanse saat melakukan pemeriksaan budidaya bela diri mereka.


Budidaya bela diri adalah tingkatan kedalaman seorang pendekar dalam mempelajari ilmu bela diri, di Benua Penda terdiri dari delapan tingkatan dan masing-masing tingkatan dibagi menjadi tiga tahap lagi, tahap awal, tahap pertengahan, dan tahap akhir.


Delapan tingkatan budidaya bela diri itu, meliputi; tingkat pertama adalah ranah Body Binding; tingkat kedua disebut ranah Holy Body; tingkat ketiga disebut ranah Big Master; tingkat keempat adalah ranah Great Master; tingkat kelima disebut ranah Grand Master; tingkat keenam adalah ranah Saint Master; tingkat ketujuh disebut ranah Holy Saint, dan yang terakhir disebut sebagai ranah Human God.


Budidaya bela diri Yanse, saat ini, berada pada tingkat keempat, yaitu ranah Great Master tahap pertengahan, ini sama dengan tingkat budidaya bela diri Ligong dan Putuo. Sementara budidaya bela diri Jingwu sama dengan budidaya bela diri Yubing, yang artinya dia lebih kuat daripada Yanse, tapi Yanse tidak mengetahui itu.

__ADS_1


" Siapa kalian? Untuk apa kalian mencari mereka? " Yanse bertanya, saat tangan kanannya menyentuh gagang pedang miliknya, dia sudah dalam keadaan waspada.


" Benar, untuk apa kalian mencari mereka ? Apapun alasan yang kalian miliki untuk mencari mereka, itu pastilah salah " Imbuh Lingzi membela Yubing dan Nian.


" Hahaha, kami salah?... Tahukah kamu nona, kalian yang menyukai Pendekar Bunga Kamboja itu tentu akan membelanya, tidak peduli benar atau salah... Tapi karena kami tidak menyukainya, sekalipun pendekar itu benar, dia akan selalu salah di mata kami Hahaha "


*Triuung*


Jingwu tertawa lantang dan langsung menghunuskan pedangnya.


" Serang !!! " Perintah Jingwu, sesaat setelah dia berhenti tertawa.


*Trang*


*Zyuut*


*Trang*


Suara-suara bilah pedang menggema.


Pertempuran pun terjadi, setelah puluhan gerakan, tiga orang di kelompok Yanse tumbang, mereka adalah dua orang junior Moyo dan seorang pemuda yang datang bersama Yanse.


" Katakan, dimana Pendekar Bunga Kamboja itu? Jika kalian tidak ingin mati seperti mereka ! " Tunjuk salah satu pria bercaping hitam pada mayat tiga orang dari kelompok Yanse.


Saat ini kelompok Yanse hanya terdiri dari dia, Moyo, Hanbo, Canglini, dan Lingzi, tetapi keadaan mereka juga tidak cukup baik.


Tanpa memikirkan jawaban dari Yanse dan yang lainnya, Jingwu langsung membentuk segel tangan dan berkata dengan lantang,


*Zyuut*


Gelombang energi mental merambat dari kata-kata itu dan merasuki tubuh Yanse serta kelompoknya, sekarang mereka mematung, tidak bisa bergerak.


' Ii-ini teknik ini? Ini Pendekar Pahit Lidah ' Batin Lingzi.


Lingzi yang tiba-tiba mematung, menyadari bahwa orang yang menyerang dengan energi mental melalui suara itu pastilah Pendekar Pahit Lidah.


' Bagaimana ini?...'


Kelima orang dari kelompok Yanse masih berusaha keras melawan, namun semua sia-sia, sebab tidak ada seorang pun di antara mereka yang mempelajari cara mengolah energi mental.


' Sial, coba saja aku sudah di ranah Saint Master, aku pasti bisa melepaskan energi mental ini ' Pikir Yanse.


Yanse berharap dirinya telah mencapai ranah Saint Master, sebab hanya di ranah itu seorang pendekar bela diri akan memiliki kekuatan mentalnya sendiri.


Tetapi tetap saja kekuatan itu tidak akan sekuat seseorang yang memang mempelajari ilmu mengolah energi mental seperti Jingwu dan Gofan.


*Zyuut*


Sekelebat sosok berpakaian hitam tiba-tiba muncul setelah Jingwu membuat Yanse dan kelompoknya mematung. Sosok berpakaian hitam itu adalah Guxiu, yang sebelumnya menawarkan diri untuk membawa kepala Yubing ke hadapan Zawugi.

__ADS_1


" Hehe... Bagus-bagus. Dari sini biar aku saja yang menangani mayat-mayat ini, Hehehe " Ucap Guxiu.


Di mata Guxiu, Yanse dan kelompoknya sudah tewas, meskipun dia belum membunuh mereka.


Guxiu adalah seorang pria tua, mungkin usianya hampir 100 tahun, orang tua ini memiliki kumis panjang di kedua sisi bibirnya, tampak seperti seekor ikan berkumis.


Guxiu juga memiliki punuk di belakang punggungnya, sehingga dia selalu berjalan bungkuk sambil membawa sebuah tongkat, walaupun begitu, gerakannya sangat cepat.


Jingwu mengangguk, dia tahu Guxiu datang untuk membantu. Hanya saja, Guxiu senang sekali muncul dan menghilang seenak dirinya, ini membuat Jingwu agak kesal. Tadinya dia terkejut, melihat Guxiu yang datang tanpa kabar apa-apa sebelumnya.


Guxiu mengabaikan Jingwu dan kelompoknya, memandangi lima orang yang mematung di hadapannya.


" Hehehe... Kalian, Gadis-gadis telan pil-pil ini Hehehe " Guxiu mengeluarkan sebuah pil dari kantong ruang miliknya, pil-pil itu berwarna cokelat, itu pil yang bisa membuat seseorang tidak sadarkan diri, disebut sebagai pil tidur.


" Hehehe... Ayo telan... Aaa... Buka mulutmu Nona manis Hehehe... " Tatapan Guxiu sungguh penuh nafsu seperti ingin menelan Lingzi., saat dia memaksa Lingzi menelan pil tidur.


' Ukh... Kenapa Punuk Tua Beracun bisa muncul bersama mereka? ' Lingzi tahu tentang identitas Guxiu, bagaimanapun dia adalah murid Perguruan Mata Langit.


Lingzi yang berusaha melawan, pada akhirnya tetap menelan pil itu.


*Gedebug*


"Hmm... Cepat juga Hehehe..." Kata Guxiu amat senang melihat Lingzi jatuh pingsan dengan cepat.


" Hehehe... yang ini untukmu Nona... Ayo telan, kamu pasti akan senang nanti Hehehe... " Kali ini Guxiu memberikan sebutir pil yang sama kepada Canglini.


"Hei Kamu...! Gendut, sini... !!" Panggil Guxiu pada Putuo.


Setelah Canglini juga jatuh pingsan. Putuo menghampiri Guxiu sambil membungkuk memberi hormat.


*Flash*


"Ini... Ambil tali ini, ikat kedua gadis itu, Hehehe... Ikat yang lembut, jangan kasar-kasar, Hehehe " Guxiu mengeluarkan seutas tali dari kantong ruangnya dan memberikan tali itu pada Putuo.


*Tap*


" Baik Senior " Sahut Putuo singkat, setelah menerima tali yang di lempar pelan ke arahnya.


' Dasar orang tua cabul ckckck, tapi gadis-gadis ini boleh juga hehe' Pikir Putuo, sambil terus mengikat kedua gadis itu, mengikat Lingzi dan Canglini.


" Hmm... Untuk kalian berdua, mati saja ya?... karena kalian memang sudah mati Hehehe... ini... Telan Hehehe " Ucap Guxiu.


Guxiu memberikan dua buah pil berwarna hijau pekat dengan aroma busuk, masing-masing kepada Yanse dan Moyo.


Semua pil yang digunakan oleh Guxiu adalah olahannya sendiri, dia adalah seorang ahli racun, pil yang dia berikan pada Yanse dan Moyo disebutnya sebagai pil tiba-tiba mati.


Tapi para pendekar yang pernah melihat dia menggunakan pil itu, menyebut pil itu dengan sebutan racun jantung, sebab orang yang meminum pil itu, jantungnya akan meledak dan mati di tempat dengan mengenaskan.


'Bagaimana ini? Inikah akhir riwayatku?' Pikir Yanse dan Moyo bersamaan, saat Guxiu memaksa mereka berdua untuk menelan pil tiba-tiba mati miliknya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2