
“Pukulan Bumi Membatu”
Lengjing mengepalkan kedua tangannya ketika segumpal tanah melayang dan menyelimuti kedua kepalan tangannya itu. Kini kedua tangannya memakai sebuah sarung tangan yang terbuat dari lapisan tanah yang membatu.
*Zyuut*
Gumulryong menghindari setiap gerakan serangan Lengjing. Seakan-akan dia bisa membaca setiap serangan yang akan dilancarkan Lengjing.
“Elemen Tanah ya? Aku rasa... Ajalmu memang hari ini.” Ucap Gumulryong.
“Tutup mulutmu!” Teriak Lengjing saat satu kepalan tangannya berhasil dihindari Gumulryong.
“Kamu tidak akan bisa mengenaiku... Seberapa keras pun, kamu memukul, aku akan selalu bisa menghindarinya.” Senyum merekah di wajah Gumulryong.
“Tubuh Bumi Membatu”
Lengjing mengganti jurus. Kali ini, hampir seluruh kedua tangan dan kedua kakinya dilapisi tanah yang membatu.
*Zyuut*
Bukannya terkena pukulan atau pun tendangan. Gumulryong justru semakin mudah menghindari serangan Lengjing.
“Lengjing... Tidakkah kamu memperhatikan dari awal. Kecepatan serangan seperti ini, hanya mainan untuk Langkah Lembut Angin milikku.”
Setelah mendengar ucapan Gumulryong yang sesumbar. Lengjing tersenyum tipis.
*Duagh*
“Ukh....” Gumulryong terkena pukulan dan terjatuh.
“Ini!? Bagaimana mungkin?” Ucap Gumulryong yang gagal memperkirakan serangan Lengjing.
Meski terjatuh dari atas gerbang tersebut, Gumulryong tidak terluka parah. Pukulan Lengjing hanya membuatnya mengalami luka luar ringan.
Dari atas gerbang Lengjing tersenyum lebar, “Benar katamu... Aku ini pengolah Energi Elemen Tanah... Lihat..” Tanah membatu yang tadi memukul jatuh Gumulryong terlihat melayang di sekitar tangan dan kaki Lengjing.
Ketika melihat hal itu, mata Gumulryong menjadi terbelalak. Pengendalian tanah milik Lengjing tidak bisa diremehkan.
Tadinya Gumulryong memperkirakan tanah membatu yang melapisi tangan dan kaki Lengjing, akan terus menempel dan memperlambat gerakannya. Namun siapa sangka. Tanah membatu itu dapat terlepas dan melayang di sekitar tangan dan kaki Lengjing, saat dia menambah kecepatan serangannya.
“Baik. Sesuatu yang keras harus dicairkan.... Aku akan menggunakan ini untuk menghadapimu.. ”
*Zyuut* Gumulryong melompat.
“Air Terjun Indah Dibawah Sinar Rembulan”
Air dari dalam tanah merambat keluar ke permukaan tanah dan terbang melayang mengikuti arah lompatan Gumulryong.
*Tep* Gumulryong berdiri di atas air yang memancar dari dalam tanah tersebut.
Lengjing terperangah, “Mustahil... Bukankah kamu adalah pengolah Elemen Udara? Ini?.. Air?”
Kucuran air yang kini dipijak oleh Gumulryong mebasahi tanah dan gerbang tersebut.
“Mustahil? Bagimu mungkin mustahil... Tapi, bagiku tidak.” Gumulryong melambaikan tangan kanannya.
Melihat gerakan tangan itu, Gubang dan Anggota Trah Gu lainnya maju dan mencoba mendobrak Gerbang tersebut.
__ADS_1
“Kamu!?” Melihat tindakan Gumulryong dan Trah Gu, Lengjing menoleh ke bawah, ke arah dalam gerbang, “Lengxiong... Pertahankan gerbang. aktifkan Formasi pelindung-!” Teriaknya, memberi perintah kepada Lengxiong, Penatua Pertama Partai Gunung Angkasa.
“Ini belum berakhir... Kenapa kamu justru mengalihkan perhatianmu.” Bisik bayangan tubuh Gumulryong yang tiba-tiba muncul di sebelah kiri Lengjing.
Lengjing mundur beberapa langkah, ‘Tubuh Angin? Dia benar-benar menguasai dua jenis Energi.’ Batin Lengjing saat melihat tubuh asli Gumulryong masih berdiri di atas air yang memancar dari dalam tanah.
“Tidak perlu heran begitu. Sudah kubilang, hari ini, adalah hari kematianmu.” Ucap bayangan tubuh Gumulryong yang tebuat dari putaran angin kecil.
*Zyaash* Hawa dingin merambat di kaki Lengjing.
*Cruat*
Lengjing tidak bisa mengelak. Kakinya terjerat dalam bongkahan es. Air yang membeku, mengurung langkahnya, saat tubuh angin Gumulryong memotong tangan kanannya hingga jatuh ke bagian dalam gerbang, “Argghh....” Teriaknya kesakitan.
“Katakan. Dimana Gada Penghancur Bumi?.”
“Ukh... Hahaha... Bunuh saja aku. Bukankah dari awal kamu memang berniat untuk itu. Sudah berulang kali ku katakan, aku tidak tahu dimana Gada itu.” Sahut Lengjing sembari mencoba tertawa menahan sakit.
“Baik. Teruslah berkilah. Diam dan lihatlah kematian semua orang di dalam Partaimu ini.” Tubuh angin Gumulryong berputar turun ke dalam gerbang.
Ketika lengan kanan Lengjing jatuh ke tanah. Tubuh angin Gumulryong turun dan menyerang Lengxiong.
*Cruat*
Penatua pertama Partai Gunung Angkasa itu tewas dalam serangan hawa dingin dari serangan es dan angin tajam Gumulryong.
*Cruat*
*Cruat*
Satu demi satu murid yang bersiap mengaktifkan Formasi pelindung juga tewas dengan cara yang serupa. Diawali dengan hawa dingin dan diakhiri dengan kepala yang terpenggal.
Lengjing masih diam. Dia tidak menjawab pertanyaan Gumulryong.
Setelah berhasil mendobrak masuk ke dalam Partai Gunung Angkasa, Gumulryong segera memerintahkan Gubang dan anggota lainnya untuk mencari keberadaan Qingyue dan mengangkapnya hidup-hidup.
**
Di sisi lain, di dalam sebuah kereta kuda yang berlari kencang ke arah Selatan.
“Lengman. Cepatlah, kita harus segera tiba di Lembah Bunga Kamboja!.” Ucap Qingyue dari dalam sebuah kereta kuda.
“Nyonya. Tenanglah, mereka tidak akan mengetahui jalur rahasia ini. Kita pasti akan tiba dengan selamat di Lembah Bunga Kamboja.” Sahut seorang pria sembari mengendalikan kereta kuda tersebut.
Nama pria itu, Lengman. Penatua kedua dari Partai Gunung Angkasa. Dia pergi melalui jalur belakang, sesaat sebelum Lengjing bertarung melawan Gumulryong.
Lengjing memintanya membawa pergi Qingyue dan meminta bala bantuan ke Lembah Bunga Kamboja.
“Kita harus cepat... Cepatlah.” Ucap Qingyue cemas.
Belum lama dia berbaikan dengan suaminya, kini bencana tiba menghampiri mereka.
**
Sementara itu, setelah mencari di setiap sudut bangunan Partai Gunung Angkasa. Gubang dan anggotanya gagal menemukan keberadaan Qingyue.
“Kak. Sepertinya dia sudah melarikan diri.” Ucap Gubang kepada Gumulryong.
__ADS_1
Kini mereka berada di dalam Aula Utama Partai Gunung Angkasa.
Lengjing, beberapa Penatua, dan sebagian murid yang masih hidup, diikat dan berlutut di dalam Aula Utama tersebut. Sebilah pedang angin melingkar di leher mereka masing-masing.
Mendengar ucapan Gubang, Gumulryong berjongkok di hadapan Lengjing.
“Jadi, istrimu sudah kabur duluan. Pantas saja kamu masih bisa tenang di saat seperti ini... Tapi, kamu tahu Serigala Mata Biru? Tungganganku itu memiliki indra penciuman terbaik yang pernah ada di dataran Penda...” Gumulryong menoleh ke arah Gubang,
“Gubang. Temukan jejak istrinya, tangkap dan bawa kemari.”
“Baik Kak.” Sahut Gubang sebelum pergi bersama beberpa anggota Trah Gu beserta serigala tunggangan mereka.
Serigala Mata Biru, Makhluk buas yang dikatakan telah punah dan tidak diketahui keberadaannya selama ini. Biasanya merupakan makhluk yang hanya aktif di malam hari, namun entah bagaimana cara Gumulryong. Berkat dia, para serigala itu dapat dengan lincah dan bebas bergerak di saat siang hari masih berlangsung seperti sekarang.
Meski bibirnya tertutup rapat dan wajahnya memucat, mata Lengjing tidak pernah tenang. Dia khawatir, jejak istrinya akan tercium oleh para serigala itu.
*Plak* Gumulryong yang masih berjongkok, menampar pelan pipi kanan Lengjing.
“Katakanlah... Atau aku benar-benar akan membunuh istrimu itu.” Ancam Gumulryong lagi.
**
Gubang dan tiga orang dari Trah Gu pergi ke arah Selatan. Serigala Mata Biru yang mereka tunggangi berhasil mencium jejak Qingyue.
“Kak. Lihat jejak kereta ini, sepertinya jejak kereta ini adalah milik Qingyue.” Ucap seorang pemuda dari Trah Gu bernama Gutian.
“Kejar-!.” Perintah Gubang.
Setelah beberapa ratus hela napas, keempat penunggang serigala itu berhasil mengejar kereta kuda yang ditumpangi Qingyue.
“Berhenti-!.” Teriak Gubang.
Dari dalam kereta kuda, Qingyue membuka gorden di bagian belakang kerta dan melihat empat penunggang serigala mendekat ke arahnya.
“Lengman. Cepatlah... Mereka berhasil mengejar kita.” Teriak Qingyue cemas.
“Sial. Bagaimana mereka bisa menemukan kita secepat ini.” Gumam Lengman sebelum menoleh ke belakang, “Nyonya. Pergilah lebih dahulu. Aku akan menahan mereka.”
Lengman menarik Qingyue keluar dan melepaskan kuda dari keretanya.
Qingyue berlari kencang menunggangu kuda yang telah dilwpaskan Lengman.
Saat kereta itu berhenti. Lengman melompat dan menyerang ke arah Gutian.
“Bunuh-!.” Ucap Gutian, mengarahkan Serigala Mata Biru tunggangannya untuk membunuh Lengman yang mengalangi jalan mereka.
*Grooaahh*
Serigala itu menerjang ke arah Lengman.
“Perisai Dinding Tanah.”
Lengman mengerahkan Energi Elemen Tanahnya dan membentuk sebuah dinding tanah setinggi hampir delapan kaki.
*Grooahh*
*Duaarr*
__ADS_1
Sayangnya, Serangan dari Serigala Mata Biru jauh lebih kuat daripada dinding tanah Lengman. Lengman tewas terkoyak saat Gubang dan dua orang lainnya berlari menyusul Qingyue.
Bersambung...