
Pertarungan terus terjadi, ratusan pukulan telah dilayangkan Gofan ke tubuh keras Kelabang Seratus Mata. Hingga pada akhirnya, makhluk bermata banyak itu meronta kesakitan.
ROOOAAARRRR!!!
Tidak terima dengan hantaman bertubi-tubi dari pukulan tubuh emas Gofan, Kelabang Seratus Mata meraung keras. Tubuhnya bergetar saat beberapa bayangan perlahan terbentuk di sekitarnya.
Dari bayangan itu, akhirnya muncul dirinya yang lain. Kelabang Seratus Mata menggandakan dirinya. Satu... Dua... Tiga ... Hingga akhirnya sepuluh Kelabang Seratus Mata mengelilingi Gofan.
“Satu dirimu saja, tidak bisa menghadapiku?! Apa kamu berpikir dengan menambah jumlah dirimu, akan membawa perubahan? Ayo... Majulah kalian semua!!”
Gofan membentuk segel tangan, “HYAAAAAAA!!!!” kepalanya menengadah ke belakang saat kedua tangannya yang mengepal terlentang... Duaaarr!! Duaaarr!! Duuaarr!! Gelombang ledakan energi memancar keluar dari seluruh tubuh Gofan.
Dua Jiwa Bintang miliknya muncul dan berputar-putar mengelilingi tubuh emasnya. Api biru memancar dari salah satu Jiwa Bintang itu, dan Asap hijau beracun memancar dari Jiwa Bintang lainnya. Tidak berhenti di sana, “Jiwa Iblis Gajah Naga!” teriaknya lantang saat Jiwa Binatang miliknya juga ikut muncul. Jiwa Binatang itu lebih besar daripada dua Jiwa Bintang sebelumnya.
Jiwa Binatang tidak hanya berbentuk bulatan bola cahaya seperti bentuk dua Jiwa Bintang. Jiwa Binatang, Jiwa Iblis Gajah Naga milik Gofan terlihat seperti makhluk hidup. Makhluk dengan bentuk perpaduan Gajah dan Naga. Meski saat ini belum begitu solid, garis besar tubuh Jiwa Iblis Gajah Naga milik Gofan sudah bisa dilihat dengan jelas.
ROOOOAAAARRRR!!! Raung Jiwa Iblis Gajah Naga.
Kini kekuatan Gofan meningkat empat kali lipat daripada sebelumnya.... Bang!! Bang!! Bang!! “Tinju Sembilan Kutukan Langit!!” bertubi-tubi Gofan menghantam kesepuluh Kelabang Seratus Mata.
Satu pukulan akan membakar hingga berubah menjadi abu, pukulan lainnya akan meracuni hingga tubuh Kelabang Seratus Mata hancur tidak berbentuk. Dengan dorongan dari kekuatan Jiwa Iblis Gajah Naga, setiap pukulan langsung merobek kulit keras kesepuluh Kelabang Seratus Mata.
Gofan mengamuk dan mengerahkan semua kekuatan miliknya, karena dia sadar bahwa dia tidak bisa berada lama dalam mode Tubuh Emas Gajah Naga. Semakin lama dia mengulur waktu pertarungan, dia hanya akan kehabisan energi dan akhirnya tidak bisa menumbangkan kesadaran Kelabang Seratus Mata.
“MATI!!!!” Ini persoalan keinginan siapa yang lebih kuat. Gofan benar-benar tidak ingin kalah dari Kelabang Seratus Mata.
BOOOMM!! Kesepuluh Kelabang Seratus Mata mati!.
Gofan akhirnya membunuh kesadaran Kelabang Seratus Mata, dia melayang bersila di atas Samudra Kesadaran milik Kelabang Seratus Mata yang mulai memudar.
Butiran-butiran pecahan kesadaran milik Kelabang Seratus Mata terserap ke dalam tubuh Gofan... Blazh!!! beberapa hela napas setelah semuanya terserap, Samudra Kesadaran itu pun menghilang dan kesadaran Gofan kembali ke dalam tubuh miliknya.
Trang!! Trang!! dentangan bilah pedang terdengar saat Gofan mulai membuka kedua matanya.
Di hadapannya dua Len bersaudara telah keluar dari dalam kepompong kulit Kelabang Seratus Mata dan tengah mengahadapi seekor Ular bersayap dengan tubuh yang tidak kalah besar jika dibandingkan dengan tubuh Kelabang Seratus Mata.
Ular Naga Pertapa, itu adalah nama yang dikenakan untuk menyebut Ular besar tersebut. Konon, jika Ular Naga Pertapa berhasil menembus ranah Immortal, dia akan berubah menjadi seekor Naga sejati dan menjadi Dewa.
“Makhluk yang lebih rendah dari Leluhurku ingin menghalangi jalanku.” ucap Gofan sembari membelah kepompong kulit.
Sepertinya, dua Len bersaudara belum sempat mengeluarkan seluruh tubuh Gofan dari dalam Kepompong kulit.
Gofan bisa menebak bahwa saat keduanya hendak mengeluarkan Gofan dari Kepompong kulit, mereka pasti diserang oleh Ular Naga Pertapa.
“Kalian mundurlah. Biar aku beri cacing kecil ini pelajaran!” seru Gofan ketika dia muncul dengan tubuh emas dan dua Jiwa Bintang serta satu Jiwa Binatang. Dia muncul dan segera menghadang serangan Ular Naga Pertapa.
__ADS_1
“Mo Fan!”
“Kakak Fan!”
Dua Len bersaudara jelas terkejut, ini pertama kalinya bagi mereka melihat kekuatan penuh milik Gofan. “Dua Jiwa Bintang itu hal wajar, tapi Jiwa Bintang yang menyatu dengan budidaya yang dilatih bukanlah hal wajar...” batin Len Hui ketika dia mengangguk pelan dan melompat mundur.
“Jiwa Binatang dengan bentuk yang aneh?!” gumam Len Ruye.
Len Ruye tidak habis pikir, bagaimana seorang Pembudidaya yang bukan merupakan keturunam Binatang Langit memiliki Jiwa Binatang?... “Apakah sebenarnya Kakak Fan adalah Styx? Tapi bagaimana pula Styx bisa memiliki Jiwa Bintang?”
Untuk saat ini, apa yang dilihat dua Len bersaudara bisa dibilang kekuatan penuh Gofan, tapi itu belum termasuk darah keturunan Iblis dari Gu Bai dan Mata Ilahi yang saat ini masih belum bisa diaktifkan Gofan. Jika saja semua itu digunakan Gofan entah akan seterkejut apa kedua Len bersaudara itu.
Keduanya berdiri mematung memperhatikan pertarungan Gofan melawan Ular Naga Pertapa.
“Ular itu bahkan tidak bisa menahan satu pukulan dari Tinju Totem Formasi milik Mo Fan.” gumam Lem Hui.
Selama perjalan ketiganya, Len Hui telah banyak melihat bagaimana Gofan memanfaatkan tato Totem Formasi di kedua tangannya, “Tinju itu bahkan belum memanfaatkan mekanisme sebenarnya dari Totem Formasi... Bagaimana jika dia bisa mempelajari sepenuhnya tentang Totem Formasi itu?...”
“Bukan hanya itu Kak... Jiwa Binatang milik Kakak Fan sepertinya memancarkan aura intimidasi. Aura itu menekan kekuatan Ular Naga Pertapa, seolah Jiwa Binatangnya adalah Raja dari segala Raja Binatang!” imbuh Len Ruye.
Keduanya terlihat seperti pengamat yang saling membalas komentar saat memperhatikan pertarungan Gofan melawan Ular Naga Pertapa.
“Apakah Jiwa Bintang milik kita juga bisa digabungkan dengan budidaya milik kita? Selama ini belum ada yang pernah melakukan hal semacam itu... Dua Jiwa Bintang miliknya seolah memiliki kesadaran mereka sendiri.”
“Mungkinkah ini yang disebut dengan Omuni Star? Bukankah ada legenda yang mengatakan bahwa setiap Jiwa Bintang milik pembudidaya Alam Langit berasal dari enam Bintang Asal Mula, Omuni Star. Jika setiap Jiwa Bintang itu mampu menarik kekuatan dari Omuni Star, dikatakan bahwa setiap Jiwa akan memiliki kesadarannya masing-masing.” tutur Len Ruye.
“Kak. Haruskah kita memberi tahunya tentang hal itu?” tanya Len Ruye.
Pertarungan Gofan sendiri telah berlangsung puluhan pukulan, sebenarnya itu sangat miris untuk ditonton, terutama untuk Ular Naga Pertapa. Ular itu bahkan tidak memiliki satu pun kesempatan untuk menarik napas, beristirahat sejenak, sebelum dihujani lagi dan lagi oleh Tinju Totem Formasi milik Gofan.
Len Hui menggeleng pelan, seraya berkata, “Kita lihat saja nanti. Kita belum jelas apa sebenarnya Mo Fan ini? Dia manusia atau Styx?” tatapannya terlihat iba melihat keadaan Ular Naga Pertapa yang terus dihujani pukulan.
ROOOOAAARR!! Raung Ular Naga Pertapa. Itu bukan raungan marah, tapi raungan kesakitan. Dia ingin menyerah, tapi Gofan tidak juga berhenti melayangkan tinju miliknya.
Kedua sayapnya sudah dirobek Gofan, tanduk kecil miliknya dipatahkan oleh pukulan Gofan. Ekornya diremas hingga menyusut. Tubuh dan wajahnya penuh retakan dan lubang bekas hantaman tinju Gofan.
BOOOMMM!! akhirnya Ular Naga Pertapa tumbang. Tubuhnya terjatuh dan mati. Kedua matanya menunjukkan tatapan putus asa.
“Haih... Kasihan sekali...” kedua Len bersaudara menghela napas ketika melihat, air mata menetes keluar dari kedua mata mayat Ular Naga Pertapa.
Dikatakan jika mayat menangis, itu menunjukkan kesakitan yang begitu putus asa menjelang kematiannya. Bahkan Jiwanya yang tersisa tidak akan berani memendam dendam. Jiwa Ular itu hanya akan pasrah dihadapan Gofan.
*Cruuatttss* Gofan merobek kepala mayat Ular Naga Pertapa dan mengambil Inti Jiwa miliknya.
“Kalian ambillah ini!” Gofan melemparkan Inti Jiwa itu kepada Len Hui.
__ADS_1
“Tapi Saudara Fan... Kamulah yang membunuh ular itu..”
“Terima saja. Kalian ambil apa pun yang berguna dari ular ini... Aku tidak membutuhkannya. Aku hanya akan mengambil mayat Kelabang ini. Tunggu aku memurnikan Inti Jiwa dan mayat Kelabang ini... Kita akan melanjutkan ke lantai kedua.” Gofan merobek dada mayat Kelabang Seratus Mata dan mengeluarkan Inti Jiwa milik Kelabang itu.
“Baiklah. Terima kasih.”
“Terima kasih Kakak Fan.”
Len Hui akhirnya menyerap sisa-sisa Jiwa milik Ular Naga Pertapa, sementara Len Ruye menyerap Inti Jiwa milik ular tersebut.
Gofan sendiri menyerap Inti Jiwa milik Kelabang Seratus Mata, senyuman tersemat di wajahnya saat satu demi satu mata di mayat Kelabang Seratus Mata mulai berubah menjadi abu karena dimurnikan oleh Gofan.
“Benar saja. Kelabang ini memiliki pencerahan tingkat lanjut dari pemahaman Mata Ilahi... Hahaha... Ini benar-benar keberuntungan untukku. Setelah aku meningkatkan budidaya tubuhku, aku akan bisa menggunakan Mata Ilahi ke tahap yang lebih tinggi!”
**
Di Lantai Kedua...
“Semenjak kita melangkah ke lantai kedua ini, kita sudah melewati area dengan kobaran api dan sekarang kita harus melewati area badai salju ini... Aku rasa, ini adalah lantai lima elemen.” ucap Len Hui.
Saat ini ketiganya tengah berjalan melewati jalanan yang dipenuhi oleh lapisan salju yang tebal. Badai salju terus menerus terjadi di area tersebut.
Angin dingin tiada hentinya menerpa ketiganya... Tetapi berkat Api biru milik Gofan, ketiganya tidak memiliki masalah untuk melewati salju tersebut. Meskipun laju langkah mereka tertahan akibat terpaan angin dingin yang kencang.
“Kakak Fan. Apa kamu baik-baik saja? Kamu sudah menggunakan kekuatan Api milikmu semenjak kita memasuki area api... dan sepertinya perjalanan melewati area salju ini pun tidak akan berlangsung cepat...” ucap Len Ruye, dia berlindung di belakang punggung Gofan bersama dengan Len Hui.
“Tenang saja... Aku masih bisa mengatasi ini.” sahut Gofan.
Tentu saja, ini juga latihan bagi Gofan. Jika bagi kedua Len bersaudara, itu adalah siksaan, bagi Gofan itu adalah berkah latihan.
Dengan memasuki area Kobaran Api, Gofan berlatih mengatur derajat kepanasan milik Api birunya, sehingga api birunya itu tidak membakar kedua Len bersaudara ketika dia melindungi mereka dari kobaran api di area Kobaran Api tersebut. Dan kini, saat memasuki area Badai Salju yang begitu dingin, Gofan berlatih menahan nyala kobaran Api biru miliknya agar tidak padam dalam terpaan kencangnya angin dingin dari badai salju di sekitarnya.
“Jika ini lantai lima elemen. Apakah itu berarti, kita akan melewati area gurun, setelah melewati area salju ini?” tanya Gofan.
“Benar. Dalam lima elemen dasar, ada Api, Angin, Tanah, Air, dan Logam. Jadi setelah melewati area Kobaran Api, kita harus melewati area Badai Salju ini... Kemudian yang selanjutnya adalah melewati Gurun Tandus, lalu Hujan Abadi, dan Daratan Logam Berduri.” sahut Len Hui.
Bersambung...
“Sepertinya Saudara Mo Fan telah berhasil melewati lantai pertama tugu batu ini.” ucap Chen Feng.
Saat itu hari sudah gelap, namun cahaya terang memancar dari lantai kedua Menara Enam Pilar Binatang. Membuat Chen Feng dan semua yang lain memperhatikan tugu batu tersebut.
Tapi, tiba-tiba suara langkah kaki berlari terdengar mendekat ke arah mereka.
“Waspada!” kata Chen Feng sembari menghunuskan pedang miliknya.
__ADS_1
“Apa Gadis gila itu akhirnya menemukan kita?!”