
Ketiganya masuk ke dalam Menara Enam Pilar Binatang, tapi sebelum pintu baja hitam tertutup kembali... Wuuusss... Sebuah burung boneka pembawa pesan melesat masuk menghampiri Gofan.
“Kakak Fan. Sepertinya seseorang mengirimimu pesan? Dari siapa itu?.” Len Ruye bertanya ketika burung boneka berada di telapak tangan Gofan.
Gofan menyalurkan energi miliknya dan menerima pesan yang tersimpan dari burung boneka, seketika burung boneka itu berubah menjadi abu, “Ini dari teman-teman kelompokku. Ruye, apa kamu memiliki burung boneka pembawa pesan? token suara tidak berguna karena pelindung di Dimensi ini.”
“Kami tidak memiliki benda semacam itu, bagaimanapun kami sudah habis dirampok sebelumnya... Tapi Kakak punya Mili.” Len Ruye melirik ke arah Kakaknya, Len Hui.
“Mili?...”
“Oh... Ini yang dimaksud Ruye... Tikus Kunang-kunang ini adalah Mili.” Len Hui mengeluarkan seekor Tikus bersayap dan memancarkan cahaya mirip Kunang-kunang dari gelang miliknya.
Di Alam Langit, para Penduduk Langit menggunakan semacam gelang untuk menampung makhluk hidup, itu lebih praktis daripada Sangkar Gaib yang dimiliki Gofan. Disebut dengan nama Gelang Penangkar.
“Pesan apa yang ingin kamu sampaikan... Bisikkan saja pada Mili, saat dia bertemu dengan teman-temanmu, secara langsung pesan itu akan disampaikan melalui cahaya di ekornya.” Len Hui menyerahkan Tikus kecil bersayap itu kepada Gofan.
Cit Cit... Cit Cit... Tikus Kunang-kunang itu mendengarkan pesan yang disampaikan Gofan. Setelah mencium jejak dari abu Boneka Burung pembawa pesan, dia melesat pergi keluar.
“Baik. Mari kita lanjutkan perjalanan, tapi kalian ambil dan makanlah ini....” Gofan memberikan kedua Len bersaudara masing-masing sebuah Pil berwarna hijau.
“Pil racun?!.” tanya Len Ruye.
“Benar. Ini Pil racun, tapi tidak akan membahayakan kalian. Lihatlah di bawah kaki kita...” Sekumpulan asap mulai menjalar mengisi ruangan saat pintu baja hitam tertutup kembali. Kabut putih kehijauan mulai mengisi lantai pertama dari Menara Enam Pilar Langit.
“Ini kabut beracun, saat ini racun yang masuk ke dalam tubuh kalian hanya dalam skala kecil, tapi semakin kita masuk ke dalam, kabutnya akan semakin tebal. Akumulasi racun akan membunuh kalian. Dengan Pil itu kalian akan baik-baik saja.” imbuh Gofan.
“Melawan racun dengan racun?.” ucap Len Hui.
“Benar.”
Setelah kedua bersaudara Len menelan Pil racun pemberian Gofan, ketiganya melanjutkan perjalanan mereka.
Dari luar, tugu batu itu tidak terlalu besar. Paling tidak itu hanya seluas sebuah Paviliun kecil, tapi ketika berada di dalam ketiganya harus menelusuri ruangan gelap berkabut yang tidak ada ujungnya.
Hanya setelah setengah batang dupa perjalanan, Gofan menemukan area berdinding yang menghalangi jalannya. Dinding itu diukir dengan ukiran Formasi Sembilan Kutukan Langit, “Apakah karena ini gambar di tanganku bersinar?.”
“Setelah kita melangkah melalui pembatas dinding ini, kita tidak akan bisa keluar. Apapun yang ada di dalam mungkin bukan hal biasa. Apa kalian siap untuk melanjutkan?.” Gofan mengingat kembali kejadian yang menimpanya saat Formasi Sembilan Kutukan Langit aktif dan mengurungnya bersama dengan para Mayat Hidup, karena itu dia memperingatkan kedua Len bersaudara.
Triung... Kedua Kakak beradik itu mengangguk dan menghunuskan pedang mereka.
“Mo Fan sepertinya aku mengingat sebuah cerita tentang lantai pertama Menara ini, jika itu berkaitan dengan kabut beracun ini, kemungkinan yang menjaga lantai ini adalah makhluk paling beracun di Alam Langit.” Sepanjang jalan Len Hui berusaha mengingat sesuatu yang dia rasa berkaitan dengan ruangan di lantai pertama Menara Enam Pilar Binatang.
__ADS_1
“Kakak apa maksudmu itu Kelabang Seratus Mata?.”
“Benar. Tapi aku rasa bukan hanya Kelabang itu yang menjaga tempat ini. Bagaimanapun setiap lantai akan dijaga dua Binatang Langit, kemungkin makhluk lainnya juga sangat beracun.” sahut Len Hui.
Gofan hanya tersenyum menanggapi kepanikan di mata Len bersaudara, baginya racun adalah bahan utama untuk meningkatkan Tubuh Racun Sempurna miliknya. Sepanjang jalan Gofan terus memutar basis budidaya dari Seni Racun Darah miliknya. Dia memurnikan semua racun yang masuk ke dalam tubuhnya untuk memperkuat Tubuh Racun Sempurna miliknya. Hingga kini, dia sudah hampir
“Tenang saja, jika itu makhluk paling beracun, itu akan menjadi hal mudah bagiku.” Gofan tidak segan menyombongkan dirinya dihadapan kedua Len bersaudara, bagaimanapun juga dia memang kebal terhadap berbagai jenis racun. Selama makhluk itu menyerang dengan racun, itu akan menjadi keuntungan bagi Gofan.
Beberapa puluh hela napas berlalu... Mereka tiba di dekat sebuah Pilar besar berwarna kemerahan Ada gambar Kelabang dan Ular besar di Pilar tersebut.
Ssshhhh.... Mata di gambar Kelabang dan Ular besar tersebut bercahaya saat ketiganya semakin mendekat.
Gruduuk... Gruduuk... Getaran pelan terjadi sebelum Kelabang setinggi enam kali tubuh Gofan muncul di hadapan ketiganya. Seperti Kelabang besar itu keluar dari dalam gambar yang ada di Pilar. Panjang tubuh Kelabang itu bahkan dua kali lipat dari enam kali tubuh Gofan.
RROOOAAARRR!!!!
“Binatang Langit tingkat tinggi dengan seratus mata... Inikah Kelabang Seratus Mata?.” Gofan mengeluarkan Tongkat Emas Naga Kembar.
“Be.. Benar..” sahut gugup Len Hui.
“Kita akan serang bersama. Tidak perlu takut dengan racunnya, awasi saja ekor dan kaki-kakinya yang tajam!” Gofan melompat dan mengayunkan tongkat emas miliknya.
Puluhan angin bilah pedang keduanya luncurkan untuk menyerang Kelabang Seratus Mata. Tapi, kulit makhluk beracun itu cukup tebal, keduanya perlu waktu dan energi yang banyak untuk melukai beberapa bagian tubuh Kelabang Seratus Mata.
Mata Kelabang Seratus Mata begitu tajam, dia bisa menghindari serangan jarak jauh dengan cukup mudah, tetapi karena dihadang dan diserang terus oleh Tongkat Emas Naga Kembar, Kelabang itu sedikit kewalahan.
Pada akhirnya saat dia mengalami luka cukup serius dari serangan angin bilah pedang dan ditambah oleh pukulan Tongkat Emas Naga Kembar, dia meraung murka...
ROOOAAAARRRRR!!
Kilatan-kilatan biru cerah menyala-nyala dari seratus mata miliknya. Kilatan-kilatan itu membentuk untaian cincin-cincin lingkaran kilat biru yang kemudian mendistorsi ruangan Lantai Pertama dari Menara Enam Pilar Binatang.
Wung... Wung... Wung... Energi Mental dalam jumlah besar seperti menusuk ke dalam pikiran Gofan dan dua lainnya.
Saat ketiganya melihat cincin-cincin kilat biru dari mata Kelabang Seratus Mata, ketiganya merasa seperti Jiwa mereka ditarik keluar dari tubuh mereka, seperti mata dari Kelabang itu menelan mereka hidup-hidup.
“Aaarrgghhh!!” Ketiganya meraung kesakitan. Sebuah ilusi Mata Raksasa menyala-nyala di hadapan ketiganya.
“Apa ini!?... Dia bahkan belum menggunakan racunnya? Tapi ini.. Serangan ilusi ini...” Gofan berpikir bahwa Kelabang yang dia hadapi akan melawannya dengan serangan racun, tapi siapa sangka, dia justru jatuh dalam serangan Energi Mental.
Belum selesai Gofan menyimpulkan cara untuk menangani serangan Ilusi Mata dari Kelabang itu, dua Len bersaudara jatuh pingsan.
__ADS_1
Tidak berselang lama, Gofan juga kehilangan kesadarannya. Ketiganya kini jatuh, tidak sadarkan diri.
**
Di sisi lain Pulau...
“Apa dia masih mengejar?!!” tanya Chen Feng dengan napas terengah-engah.
Chen Feng kini berada beberapa ratus langkah dari Menara Enam Pilar Binatang. Dia tampak kelelahan karena berlari terus menerus tanpa henti.
“Tidak. Aku menggunakan tipuan untuk mengecohnya. Apa kalian semua baik-baik saja?” Jiang Mulan baru saja tiba menghampiri kelompok Chen Feng, terlihat beberapa bekas luka di badannya, dia baru saja menyelesaikan sebuah pertarungan.
“Terima kasih Saudari Mulan. Jika kami tidak bertemu denganmu kami tidak akan bisa lolos dari kejaran Ning Rui.” Chen Feng mengatupkan kedua tangan memberi hormat terima kasih kepada Jiang Mulan. Dua anggotanya yang lain juga mengikuti.
“Terima kasih Saudari. Jika bukan karena kamu, mungkin tidak ada yang akan tersisa di antara kelompok kami. Wanita itu menggila semenjak dia menemukan kami, dia terus mengatakan untuk menyebutkan dimana keberadaan Mo Fan, sepertinya dia sudah menggila!” imbuh Liu Ling dengan tatapan penuh kesal.
“Jadi kalian benar-benar tahu dimana Mo Fan sekarang?.” tanya Jiang Mulan.
Chen Feng menunjuk ke arah tugu batu beberapa ratus langkah dari tempat mereka berada, “Dari pesan yang dia sampaikan melalui Binatang kecil ini, dia sekarang berada di dalam tugu batu tersebut.”
Bersambung...
Di tempat lain, di Pulau yang sama...
“Yo... Nona cantik, kita bertemu lagi! Kamu hebat juga ya bisa lolos hidup-hidup dari dua Ular Phyton itu.” Seorang Pria gemuk berjongkok di atas ranting Pohon besar.
“Gendut kurang ajar! Turun kamu! Jika bukan karena ulahmu, Bocah busuk itu tidak akan lolos hidup-hidup!” Ning Rui naik pitam melihat tingkah Pria gemuk tersebut. Pria itu adalah Pria yang membawa Ular Phyton Sisik Besi ke arahnya.
Pria gemuk itu menyeringai penuh harap kepada Ning Rui, “Nona cantik, semua itu tidak sengaja... Aku tidak bermaksud mencelakaimu. Bagaimana kalau aku menebusnya? Aku akan membantumu menangkap bocah busuk yang kamu cari?”
Ning Rui mendengus dengan tatapan marah, tangannya mengepal erat memandang Pria gemuk tersebut.
“Yo... Yo... Yo... Jangan marah terus Nona Cantik, itu tidak baik untuk kulit indahmu. Aku Mo Zhi, putra penatua kedua Klan Suci Mo. Aku pasti bisa membantumu menangkap bocah itu. Memang siapa dia? Dia tidak akan bisa apa-apa dihadapan Tuan Muda ini... Hahaha.”
Pandangan mata Ning Rui mulai berubah, dia tampak memasang senyum terpaksa, “Baik. Bantu aku menemukan bocah itu. Aku akan memaafkan kesalahanmu sebelumnya.”
Mo Zhi tertawa dan melompat turun dari ranting Pohon, “Nona cantik... Kamu pasti tidak akan menyesal bekerja sama dengan Mo Zhi ini... Hahaha.” tangannya bergerak untuk merangkul bahu Ning Rui.
*Blash*... Api dingin mulai menyala-nyala di pundak Ning Rui, “Singkirkan tanganmu! Atau selamanya jangan berharap memilikinya lagi!!”
“Yo... Yo... Yo... Aku hanya bercanda. Aku hanya bercanda... Hahaha.” Hampir saja tangan Mo Zhi terbakar menjadi serpihan abu dingin.
__ADS_1