Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 14. Rasuki Aku, Kita Akan Bergabung


__ADS_3

Nian bersama dengan Yubing akhirnya sampai di sebuah rerumpunan pohon bambu, yang terletak lumayan jauh dari tornado Inti Giok Bambu, setelah mereka berlari kencang sebanyak ratusan langkah.


Nian ragu untuk masuk ke dalam tornado, setelah dia melihat satu demi satu para Beruang Bambu menerjang masuk ke pusaran tornado,


"Senior kamu yakin ingin masuk? Sekarang ada banyak Beruang Bambu di dalam sana"


Nian juga melihat banyak batang bambu, dan benda-benda terdekat, terhisap masuk ke dalam putaran angin, untungnya jarak mereka masih lumayan jauh dari tornado itu, sehingga mereka tidak terhisap ke dalam putaran angin.


"Tentu aku yakin, selama perjalanan kita menuju kemari, bahkan anak Beruang Bambu tidak mempedulikan kita, aku rasa di dalam sana juga akan sama"


Kata Yubing tegas, dia sudah mantap dengan keinginannya untuk menyelamatkan Gofan.


"Tapi Senior...."


Nian masih ragu untuk menerjang masuk ke dalam tornado,


"Aku tidak akan memaksamu, kamu tunggu saja di sini, jika aku tidak berhasil menyelamatkan Gofan. Setidaknya kamu bisa memberi kabar kepada kelompok Yanse... Aku pergi!! "


Selesai berpesan pada Nian, Yubing langsung menghunuskan pedangnya dan melompat menerjang masuk ke arah tornado.


'Aku tidak mengerti kenapa senior sangat peduli dengan orang-orang biasa ini'


Nian menggeleng-gelengkan kepala dan bergerak mundur sedikit menjauh.


Sementara Nian menjauh, Yubing baru saja menerobos masuk ke dalam tornado. Saat Yubing berhasil masuk ke dalam pusaran angin tornado, Yubing langsung disambut dengan kekacauan.


Yubing terombang-ambing di dalam pusaran, berkali-kali dia berbenturan dengan puing-puing dan para Beruang Bambu, sehingga pedang di tangannya terlepas sebelum dia bisa menggunakannya.


Bukannya menyelamatkan Gofan, Yubing justru sibuk bertahan hidup di dalam arus pusaran angin tornado.


Setelah terombang-ambing selama lebih dari puluhan napas.


'Apa yang harus aku lakukan? Tenaga dalamku sudah mulai habis untuk bertahan...'


Yubing menggunakan segenap tenaga dalamnya untuk bertahan dari serangan energi mental para Beruang Bambu yang berbenturan dengannya.


Beruang Bambu menyerangnya hanya untuk mnghindari dia yang tengah terombang-ambing, sama seperti mereka menyerang puing-puing yang mendekati mereka.


Yubing tidak pernah mengira di dalam tornado akan ada energi mental sepekat itu, baru sekarang dia mengetahui dengan jelas alasan para Beruang Bambu masuk ke pusaran angin tornado.


Andai Yubing memiliki cara untuk mengolah energi mentalnya, tentu hal ini akan sangat baik, sayangnya saat ini Yubing belum memilikinya.


Semakin lama Yubing berputar-putar di dalam arus tornado semakin banyak luka dan memar di tubuhnya. Anehnya meski darah menghiasi tubuhnya, jubah merah muda yang dia kenakan hanya sedikit rusak, itu masih nampak utuh menutupi tubuhnya.


Terseret dalam puluhan kali putaran arus angin, tenaga dalam Yubing benar- benar terkuras, tanpa tenaga dalamnya kini dia mulai merasakan pusing.


'Penglihatanku, kenapa in...'


Yubing pingsan, saat dia menyadari penglihatannya mulai buram dan akhirnya dia kehilangan kesadaran.


Kini Yubing seperti layang-layang yang putus, berkali-kali tubuhnya terbentur di sana sini, hingga topeng yang dia kenakan telah terlepas tanpa dia sadari.


***


[Di dalam tornado Inti Giok Bambu]


Beberapa saat sebelum Yubing menerobos masuk ke dalam tornado Inti Giok Bambu. Gofan dan Xionan sedang terombang-ambing di dalam pusaran tornado inti giok bambu

__ADS_1


'Baiklah... Fanfan ayo selaraskan energi mental kita, untuk dapat mengimbangi energi langit dan bumi ini'


Xionan mengirimkan kata-kata ke pikiran Gofan.


Gofan mengangguk, setelah itu cahaya merah keemasan memancar dari tubuhnya, begitu juga dengan Xionan yang terus memancarkan cahaya putih.


Cahaya putih Xionan bertemu dengan cahaya merah keemasan milik Gofan mereka berputar melawan arus putaran cahaya hijau milik inti giok bambu sambil terus menyerap energi inti giok bambu.


Meskipun sudah menyelaraskan energi mental keduannya, itu juga masih belum cukup untuk menyerap habis energi dari batu giok itu.


"Aarrgghh...."


Teriak Gofan dan Xionan, mengerang menahan sakit, saat energi mental dari tubuh keduanya bocor dan menyebar di sekitar putaran tornado.


Energi mental yang mereka serap sudah melebihi kapasitas tubuh mereka saat ini, sehingga meskipun mereka terus menyerap, energi itu terus menerus bocor.


Ketika energi mental yang bocor itu menyebar, itu menarik para Beruang Bambu untuk mendatangi tornado dan ikut menyerap energi mental tersebut.


Satu demi satu para Beruang Bambu datang dan memasuki putaran tornado, semakin banyak yang masuk, semakin besar tornado itu, tornado itu terus menerus membesar.


Anak-anak Beruang Bambu yang sebelumnya gagal mengincar Jangbi, Yanse dan kelompoknya, juga ikut masuk ke dalam putaran.


*Wuuzz... Zyuut*


*Wuuzz... Zyuut*


Rumpun batang bambu terkoyak dan ikut terseret ke dalam tornado, daun-daun bambu kering, batu-batu, dan pasir kering ikut terseret ke dalam tornado yang makin besar.


Keadaan makin kacau, kini di dalam tornado ada banyak Beruang Bambu berbagai ukuran, potongan-potongan batang bambu, daun-daun bambu, batu-batu, pasir, dan banyak puing-puing lain di dalam tornado.


'Celaka..!! Kenapa justru begini? Kalau terus begini, semua akan sia-sia, aku harus memikirkan sesuatu'


Para Beruang Bambu itu bagai ikan yang berenang-renang di kolam, mereka terombang-ambing sambil terus menerus menyerap energi mental inti giok bambu.


Setelah lima hela napas,


'Benar, itu caranya... '


Gofan menemukan sebuah cara, dia menoleh ke arah Xionan.


'Nannan, kamu dengar aku? Aku punya sebuah rencana' Kata Gofan melalui pikirannya.


Xionan mengangguk sambil sedikit merasa pusing di dalam putaran itu, tapi dia berusaha yang terbaik untuk bertahan.


'Apa yang kamu rencanakan?' Tanya Xionan.


'Rasuki aku, Kita akan bergabung!' Kata Gofan pada Xionan.


Mendengar rencana itu, Xionan mengangguk dan langsung berubah menjadi cahaya putih merasuki tubuh Gofan, sekarang aura roh dan manusia tampak muncul di sekitar tubuh Gofan, aura itu  memancarkan cahaya hitam putih di sekitar tubuh Gofan, membuatnya tidak lagi terombang-ambing oleh kekuatan pusaran angin.


Kemudian, Gofan yang sudah dirasuki Xionan, menerobos kekacauan menuju ke sisi pinggiran tornado, untuk menangkap batu Inti Giok Bambu yang terus berputar. Gofan bergerak menghindari puing-puing di dalam kekacauan pusaran angin tornado, Gofan juga berusaha menghindari berbenturan dengan para Beruang Bambu.


Tetapi tetap saja tubuh Gofan akhirnya dipenuhi dengan luka, karena bergesekan dengan angin dan beberapa kali terkena hantaman puing-puing.


***


[Benua Penda - Tambang Batu Darah]

__ADS_1


Tiga orang kapten Bandit Serigala Biru berjanji pada pengelola tambang, akan datang dengan membawa budak tambang, minimal sepuluh orang budak per kapten bandit.


Kini yang datang hanya dua orang kapten bandit, satu orang kapten badit lainnya, tak kunjung datang.


Sudah dua hari berlalu dari tenggat waktu yang dijanjikan, pihak pengelola tambang kehabisan kesabaran.


Kedua kapten bandit ini harus menerima keputusan untuk pulang dengan tangan kosong, karena jumlah budak yang dijanjikan kurang.


Ini perjanjian antara kelompok bandit dan pihak pengelola tambang, jika satu orang saja kurang dari jumlah yang dijanjikan maka para bandit tidak akan mendapat bayaran, tapi ketika jumlah budak yang mereka bawa melebihi yang dijanjikan, kelebihannya akan dihitung per orang.


Di dalam raung tamu sebuah pondok, di dekat Tambang Batu Darah, dua orang kapten Bandit Serigala Biru sedang duduk menunggu hasil laporan, mengenai salah satu kapten bandit yang tidak datang sesuai janji,


Salah seorang diantara dua kapten bandit itu mengumpat, kesal..


"Kurang ajar !!!, Kemana Bulga? Gara-gara dia, aku rugi banyak"


Kapten bandit yang kesal itu bernama Zawugi, pria 40an tahun, wajahnya lonjong dengan kepala botak dan janggut putih yang lebat, dia adalah kapten ke-10 dari 13 kapten Bandit Serigala Biru.


Sementara di sebelahnya duduk seorang pria bertubuh pendek dan gempal, dengan pipi yang mendosol, serta tampak lebih muda beberapa tahun dari Zawugi,


"Sudahlah Kak... Kita tunggu saja laporan dari anak buahku, seharusnya sebentar lagi akan ada hasilnya"


Pria pendek itu adalah kapten bandit ke-11, namanya Mukene, dia sudah mengutus anak buahnya untuk mencari jejak keberadaan Bulga dan kelompoknya.


"Heh... Anak buahmu juga sama!! Sudah lebih dari satu hari, masak belum juga mendapatkan kabar ?!"


Zawugi benar-benar kesal, setelah susah payah mengumpulkan belasan budak, dia berharap akan mendapat untung yang lebih banyak, tetapi sekarang malah tidak mendapatkan apa-apa,


Mukene hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, tanpa tahu harus berkata apa, dia juga sama merugi seperti Zawugi, tapi dia bersikap lebih tenang,


'Yang sudah biarlah sudah, dipaksakan pun tidak akan ada yang berubah'


Pikir Mukene, saat melihat Zawugi yang masih saja kesal.


Tidak lama kemudian anak buah Mukene datang dan memberikan laporan, dalam laporan itu diketahui Bulga dan kelompoknya telah tewas dalam perjalanan melewati Gurun Kalajengking Hitam.


".....dari salah satu budak yang berhasil kami tangkap kembali, kami juga mendapat laporan, bahwa ini perbuatan Pendekar Bunga Kamboja."


Lapor anak buah Mukene, dalam posisi menghormat padanya dan Zawugi.


Mata Zawugi terbelalak, dia kaget, dia tidak menyangka Bulga tewas. Ekspresi yang sama juga nampak di wajah Mukene.


"Apa kalian membawa mayat mereka?"


Tanya Mukene.


"Iya kapten, sekarang mayat mendiang Kapten ke-13 dan yang lain ada di luar dan siap untuk dimakamkan"


Kata anak buah itu.


"Tunggu...! Aku ingin melihat mayatnya dulu, Ayo... !"


Mukene curiga Bulga tewas secara tidak wajar, baginya tidak mungkin Bulga bisa tewas di tangan seorang pendekar bunga kamboja.


Mukene keluar bersama dengan anak buahnya, sementara Zawugi yang masih kaget, duduk terdiam.


Setelah beberapa hela napas raut wajah Zawugi berubah marah dan dia keluar menyusul Mukene.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2