
Mouhuli mengangguk menjawab pertanyaan Xionan yang menyatakan bahwa Dewa Perang, Tianyuan, Raja Siluman Kera, memang benar ada dan bukan dongeng.
Kemudian Mouhuli melanjutkan kembali ceritanya,
"Saat itu pendekar tongkat itu terdesak dan kalah bertarung melawanku, dia terpental cukup jauh ke dalam hutan setelah terkena pukulanku, dua orang lainnya, satu membawa kipas, dan satu lagi memakai golok, menyerangku, mereka juga kalah, tetapi hempasan kipas dari pendekar kipas itu membuatku terbang cukup jauh hingga ke kedalaman Hutan Tanpa Malam."
"Apa yang terjadi dengan orang yang memakai golok itu ?"
Tanya Xionan dengan nada khawatir, dia sekali lagi menyela cerita Mouhuli.
"Aku tahu, orang yang memakai golok itu hanyalah orang biasa, jadi aku hanya menghempaskannya dan dia terpental cukup jauh ke dalam hutan, aku yakin dia pasti masih hidup saat itu... Kenapa? Diakah kakakmu? Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya pada kakakmu itu"
Mouhuli menjawab sembari melihat Xionan mengangguk, sambil terus memperhatikan belati yang masih saja menempel di leher Gofan.
"Pendekar tongkat dan pendekar kipas menyerangku bersama-sama, tapi jelas mereka bukan tandinganku, meski demikian, ternyata mereka adalah dua orang keturunan tidak langsung dari para Dewa, itu sedikit membuatku kewalahan...."
"Ini... Lihatlah ini... Ini adalah bekas luka yang diakibatkan oleh hembusan kipas itu, ternyata kipas itu adalah senjata dewa milik Dewi Kipas."
Mouhuli menurunkan sedikit gaun yang menutupi bagian atas bahu kanannya dan memperlihatkan bekas luka, yang terlihat cukup mengerikan.
-Luka dari senjata dewa? Seberapa parah lukanya dulu?, Itu pasti sangat menyakitkan-
Xionan melihat bekas luka yang ditunjukkan Mouhuli, dia bisa menebak bahwa dari serangan yang dialami Mouhuli, pasti telah menyebabkan sebagian daging di bahu kanannya robek, hingga memberinya bekas luka yang semengerikan itu.
"Setelah dia memberiku luka ini, aku berhasil melukai mata kanan pendekar kipas itu, yang membuatnya tidak mampu menyerangku kembali..."
"Sementara si Pendekar tongkat yang berhasil menghindari seranganku, tiba-tiba mengoleskan darahnya ke tongkat yang dia gunakan, tongkat itu berubah bentuk, dari tongkat besi biasa menjadi tongkat emas dengan motif naga melingkar melilit di kedua ujung tongkat."
Usai berkata demikian, Mouhuli diam sejenak sebelum mengibaskan lengannya ke udara.
*Zyuut*
Sebuah gambar tongkat muncul di udara, melayang di hadapan Mouhuli dan Xionan yang masih merasuki Gofan.
"Itu!?, Bukankah itu gambar Tongkat Emas Naga Kembar milik Tianyuan ?"
Kata Xionan saat dia melihat gambaran tongkat yang diperlihatkan Mouhuli.
Cerita tentang Dewa Perang bernama Tianyuan sudah sangat terkenal di Benua Penda, bahkan ada banyak versi buku bergambar tentang sosok Raja Siluman Kera itu, salah satunya adalah gambaran tongkat yang selalu digunakannya dalam bertarung, sebuah tongkat emas dengan motif naga melingkar melilit di kedua ujung tongkat. Tongkat itu disebut sebagai Tongkat Emas Naga Kembar.
"Benar, itu Tongkat Emas Naga Kembar milik Dewa Perang, Tianyuan, Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, tongkat itu nyata adanya"
Dengan tegas Mouhuli menjawab pertanyaan Xionan.
Mouhuli masih ingat betul keagungan tongkat yang membuat nyalinya mendadak menjadi ciut pada saat itu, namun dia tidak menyerah pada rasa takutnya dan melanjutkan pertarungan.
"Sesuai namanya, tongkat itu benar-benar sakti... "
"Ini... Lihatlah ini... Ini adalah luka yang disebabkan oleh tongkat itu, aku sudah berusaha keras menyembuhkan total luka ini, tapi tetap saja masih ada"
Sekali lagi Mouhuli memperlihatkan luka di tubuhnya, namun luka yang diperlihatkan Mouhuli kali ini belum benar-benar sembuh dia memperlihatkan bagian betis kirinya. Sebuah luka bakar terlihat di betis itu.
Xionan terpaksa membungkuk untuk bisa melihat bekas luka itu. Xionan hanya melihat dan tidak berkomentar apa-apa. Bagi Xionan, seharusnya Mouhuli bersyukur kaki kirinya masih utuh setelah menerima serangan itu, serangan yang bahkan setelah 700an tahun berlalu masih belum bisa dia sembuhkan.
"kami bertarung dua hari dua malam, sampai akhirnya dia mulai kehabisan tenaga dalam. Saat itu, aku pikir dia sudah pasrah dan akan menyerah tetapi ternyata dia menipuku"
"Saat aku bergerak mendekat untuk menyerangnya, pendekar tongkat itu menancapkan tongkat saktinya ke tanah dan melakukan teknik sihir tingkat tinggi, itu adalah teknik sihir milik Tianyuan. Pendekar tongkat itu mengorbankan jiwa dan raganya untuk menyegelku di dalam Hutan Tanpa Malam"
"Tongkat sakti itu berubah bentuk menjadi sebatang bambu dan sebuah gua muncul dari tanah dan mengurungku di dalamnya. Teknik sihirnya begitu kuat sehingga tidak hanya menyegel diriku tetapi semua makhluk yang hidup di dalam Hutan Tanpa Malam, merubah mereka menjadi Beruang Bambu, dan merubah seluruh hutan menjadi Hutan Bambu Kemarau. Itulah yang terjadi."
Kata Mouhuli saat dia mengakhiri cerita panjangnya sambil sedikit menghela napas.
"Maksudmu? Hutan Bambu Kemarau ini adalah Hutan Tanpa Malam !?"
Tanya Xionan dengan nada sedikit terkejut, dia baru mengetahui alasan menghilangnya Hutan Tanpa Malam 700an tahun silam.
__ADS_1
"Benar, bahkan semua binatang dan makhluk buas yang ada di hutan ini berubah menjadi Beruang Bambu, aku melihat perubahan yang mereka alami saat itu"
Jawab Mouhuli dengan nada yakin.
"Jika Kakakku waktu itu masih berada di hutan ini, Bukankah dia akan berubah juga menjadi Beruang Bambu ?"
Kata Xionan menebak keadaan yang mungkin dialami oleh kakaknya.
"Aku tidak tahu, aku tidak berani memastikan hal itu. Sebab aku tidak melihatnya, aku sudah bertarung terlalu lama, dua hari dua malam, mungkin saja kakakmu sudah pergi keluar hutan pada saat itu"
Mouhuli menjawab pertanyaan Xionan, dia bangkit dari tempatnya duduk dan melangkah maju ke depan pintu kamar gubuk.
"Aku akan menunggu di luar, kamu segera kembalikan anak itu, aku ingin dia segera membuat sup lagi"
Imbuh Mouhuli saat dia melangkah keluar gubuk.
*Klentang*
Belati kecil itu jatuh dari tangan Gofan yang masih dirasuki Xionan, kemudian dia duduk di kursi, dia hanya duduk diam terpaku, sampai akhirnya sebuah suara terdengar di dalam kepalanya.
-Nannan, bukankah itu kabar gembira? kenapa kamu justru termenung seperti ini?-
Suara jiwa Gofan terdengar di dalam alam pikirannya.
-Fanfan!?, kamu sudah bangun?-
Tanya Xionan yang masih menguasai kendali tubuh Gofan.
-Iya sudah... Aku sudah tersadar saat Leluhur mengeluarkan energi mentalnya, sepertinya dia sengaja membangunkanku-
Sahut jiwa Gofan
Tepat pada saat Mouhuli mengacungkan bola merah energi mentalnya, Mouhuli telah mengirimkan seberkas kecil percikan bola energi itu ke dalam tubuh Gofan, hingga tidak disadari oleh Xionan.
-Baguslah, dengan begitu kamu juga tahu apa yang sebenarnya terjadi... Aku akan keluar sekarang-
Xionan berubah menjadi seberkas cahaya putih dan keluar dari tubuh Gofan.
"Fanfan, sepertinya siluman tua ini juga tidak terlalu jahat, dia membantuku keluar dengan mudah dari tubuhmu, jika tidak, mungkin akan susah bagiku untuk keluar"
Kata Xionan setelah dia keluar dari tubuh Gofan.
Xionan menyadari bola energi mental yang sebelumnya digunakan Mouhuli untuk menyadarkan Gofan, telah membantunya keluar dengan mudah.
"Nannan, jahat dan baik itu pilihan, tidak selamanya orang akan jahat dan tidak selamanya orang akan baik. Leluhur bahkan sudah mengikhlaskan kepergian mendiang suami dan kedua putranya, Bukankah kamu juga seharusnya demikian ?"
Gofan bangkit dari tempat duduk dan mengambil belati kecil yang sebelumnya terjatuh lalu memasukkannya kembali ke dalam kantong ruang.
"Ada kemungkinan, Kakakmu adalah salah satu di antara para Beruang Bambu di dalam hutan ini"
Imbuh Gofan saat melangkah menuju ke pintu kamar gubuk.
"Tunggu... Fanfan, ku mohon, segeralah atasi kutukan hutan ini, agar aku segera bisa bertemu kakakku lagi"
Pinta Xionan dengan nada sedikit agak lirih.
Gofan tersenyum tipis dan berkata,
"Tentu, aku akan berusaha sekuat tenaga, aku tidak akan mengecewakanmu"
Gofan melangkah keluar kamar, menuju ke arah dapur hendak menemui Mouhuli.
Mouhuli saat itu sedang berdiri di luar dapur dengan kedua tangannya dilipat ke belakang punggungnya. Dia berdiri memunggungi Gofan, saat Gofan menghampirinya.
"Salam Leluhur... Maaf, kejadian sebelumnya bukan salah Xionan, dia hanya berniat untuk membantu saya"
__ADS_1
Kata Gofan dengan sopan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Jadi namanya Xionan... Ternyata kamu lagi-lagi membohongiku, aku ingat kamu menyebut namanya 'Nannan' waktu kita pertama kali bertemu"
Mouhuli membalikkan badannya dan memasang wajah yang sedikit cemberut saat memandang Gofan.
"Maaf leluhur, saya tidak bermaksud demikian, hanya saja setahu saya selama ini, hanya saya saja yang bisa melihat dan berkomunikasi dengan Xionan, jadi akan percuma saja jika saya memberitahukannya kepada leluhur"
Sahut Gofan.
"Sudahlah, aku memang tidak bisa melihatnya... Segeralah membuat sup, ku harap hari ini rasanya akan lebih enak daripada yang kemarin. Jika tidak, aku akan menghukummu"
Mouhuli kemudian duduk di sebuah balok kayu yang cukup besar di sisi luar dapur.
"Leluhur, saya akan membuatkan sup yang berkali lipat lebih enak, tapi bisakah leluhur memberi saya sedikit petunjuk, ada yang ingin saya tanyakan"
Gofan berjalan mendekat ke arah Mouhuli, dia duduk di sebelahnya, di sebuah balok kayu yang berukuran sedikit lebih kecil.
"Baik. Tanyakan saja ! Tetapi sup yang kamu buat harus sesuai dengan yang kamu janjikan dan berhentilah berkata terlalu sopan, kita sudah cukup lama mengenal, tidak perlu menggunakan kata 'Saya' lagi, bicara yang biasa saja"
Sudah hampir sebulan di dalam dunia dimensi, dan Gofan masih berkata sopan kepada Mouhuli, dia merasa mereka akhirnya akan menjadi tidak terlalu akrab jika diteruskan seperti itu.
"Baiklah Leluhur, begini, saat ini di dalam tubuhku ada tiga jenis energi, Energi Surga, Energi Mental, dan Tenaga Dalam. Kenapa tubuhku tidak meledak atau Kenapa aku masih baik-baik saja ?"
Gofan tidak berbelit-belit, dia menanyakan langsung apa yang ingin dia tanyakan kepada Mouhuli.
"Itu karena kamu memiliki Energi Surga. Energi Surga akan melebur semua energi yang masuk ke tubuhmu menjadi satu. Kamu bahkan bisa mempelajari semua kitab pengolahan energi, energi apapun, mental, sihir, api, air, tanah, logam, kayu, semuanya. Kamu bisa mempelajari semuanya, jika kamu mampu... Ini ambil !"
Mouhuli mengibaskan lengannya dan batu mental keluar melayang menuju ke arah Gofan.
*Tep*
Gofan menangkap batu mental itu.
"Leluhur, bukankah kamu akan memberiku batu ini setelah aku selesai membantumu ?"
Tanya Gofan heran, sambil memandangi salah satu dari sembilan batu bertuah yang kini ada di tangannya.
"Kamu sudah mendengar ceritaku bukan? yang harus kamu hadapi untuk menghancurkan segel terkutuk ini adalah Tongkat Emas Naga Kembar milik Dewa Perang. Aku harap dengan batu mental ini, Energi Surga di dalam tubuhmu akan semakin kuat, sehingga kamu bisa menghadapi tongkat sakti itu"
Kata Mouhuli menjelaskan maksudnya memberikan batu mental lebih cepat dari yang sebelumnya mereka sepakati. Gofan membalas kata-kata Mouhuli dengan anggukan.
"Ada lagi yang ingin kau tanyakan? Jika kamu ingin belajar mengolah energi sihir, kalahkan dulu Tongkat Emas Naga Kembar milik Dewa Perang itu, maka kamu akan memiliki ilmu sihir 72 Perubahan Abadi milik Tianyuan"
Imbuh Mouhuli, ternyata budidaya sihir setara dewa yang dikatakan Mouhuli sebelumnya adalah budidaya sihir 72 Perubahan Abadi. Dulu Tianyuan, Raja Siluman Kera berhasil menembus langit ke sembilan dengan mempelajari budidaya sihir itu.
-Ilmu sihir 72 Perubahan Abadi?-
Gofan sedikit terkejut mendengar ini, hal itu karena jika Gofan berhasil mempelajari budidaya sihir 72 Perubahan Abadi, itu berarti dia akan menjadi keturunan tidak langsung dari Dewa Perang.
"Tidak ada Leluhur... Itu saja yang ingin ku tanyankan, kalau begitu, aku akan membuat supnya dulu, permisi"
"Tunggu.. ! Aku penasaran, apa yang membuat sup buatanmu awet sepanjang hari, bahkan saat kamu memakannya di malam hari, sup itu masih baik-baik saja?"
Mouhuli tiba-tiba mengajukan pertanyaan saat Gofan bangkit dari tempatnya duduk dan hendak pergi ke dalam dapur.
Gofan tertawa kecil mendengar pertanyaan itu, dia lalu menjawab,
"Itu karena herbal jamur batu, herbal itu mengawetkan segala jenis olahan makanan, termasuk juga pil, meski makanan itu dihangatkan ulang ataupun tidak, rasa makanan itu akan tetap sama, tetapi ini hanya bertahan selama enam hari, setelah itu makanan itu akan mulai membusuk"
" Oh, Jadi begitu... Ya sudah, sana!... Cepat buat makanannya!"
Mouhuli mengangguk-angguk mendengar penjelasan Gofan sambil tersenyum tipis.
Bersambung...
__ADS_1