Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 167. Racun Sangat Mematikan!!


__ADS_3

###


Urutan Ranah Budidaya.


Masing-masing ranah melalui tiga tahap, yaitu tahap awal, tahap pertengahan, dan tahap akhir.


Ranah Budidaya Alam Kecil (Benua Penda dan Benua Lainnya)--> Body Binding--> Holy Body--> Big Master--> Great Master--> Grand Master--> Saint Master--> Holy Saint--> Human God.


Ranah Budidaya Alam Besar (Alam Langit Pertama)--> Saint God--> ????--> ????.


*Budidaya di Alam Besar, sejauh ini hanya diceritakan sampai di ranah Saint God.


*Saat ini, Gofan berada di ranah Grand Master tahap akhir.


 


WARNING!


 


Jika menyukai Novel ini, silahkan dukung Penulis asli untuk terus berkarya dengan Like, Vote, Favorite dan Comment.


Saat seorang Penulis mendapat tanggapan baik atas karyanya, maka dia akan fokus untuk menulis.


Selamat Membaca dan Semoga Terhibur.


___________________+++____________________


Kembali ke Terowongan bawah tanah, di tempat Gofan...


“Semua yang sudah aku peragakan disebut sebagai Seni Tiga Api Aneh... Pada dasarnya, hanya ada tiga tahapan dalam mempelajari Budidaya Energi Element Api ini. Pertama, Api Kuning. Kedua, Api Merah, dan yang terakhir adalah Api Biru.” Ucap Long Ergou mengakhiri peragaan dari Kitab Seni Tiga Api Aneh miliknya.


“Terima kasih Senior.” Gofan menangkupkan kedua tangannya. Memberi hormat penuh terima kasih kepada Long Ergou.


Gofan duduk bersila mengatur napas dan mulai memejamkan matanya. Tangannya bergerak membentuk sebuah pola tertentu.


“Apa dia benar-benar mampu memahaminya? Aku hanya memperagakannya sekali, dan menerangkan garis besarnya saja... Apa dia akan mengerti?.” Batin Long Ergou. Dia menatap ragu ke arah Gofan yang telah duduk bersila membentuk segel tangan, lebih dari puluhan hela napas.


Puluhan hela napas berikutnya... Ratusan hela napas selanjutnya...Gofan masih duduk diam.


“Ergou... Jika dia memang bisa mempelajari Seni Tiga Api Anehmu hanya dengan sekali simak seperti tadi, aku juga ingin memberinya Seni Racun Darah milikku.” Bisik Long Erwang.


“Kita tunggu saja.... Oh ya, Apa mungkin seorang Pendekar biasa tanpa budidaya di jalur racun bisa mempelajari Kitab budidaya ciptaanmu itu?.” Sahut Long Ergou masih berbisik.


“Seharusnya bisa, jika dia memenuhi beberapa persyaratan. Aku belum pernah mengajari siapa pun budidaya racun ini... Jika aku tidak mengajarinya, mungkin budidaya ciptaanku ini harus hilang bersama dengan kepergianku.” Long Erwang mendesah pelan. Dia menggeleng, mengingat dirinya yang begitu pelit untuk membagi ilmunya semasih hidup. Kini setelah mati, dia menyayangkannya.


“Ilmu adalah satu-satunya yang bisa kita bagi dengan mudah, tapi persaingan di dunia bela diri membuat kita menjadi kikir membagikan ilmu-ilmu ini, jika ada yang bisa mengungguli kita dengan ilmu yang kita ketahui... haih.” Imbuhnya, tidak menyelesaikan apa yang dia ucapkan.


Long Ergou mengangguk, namun dalam hatinya, dia tidak merasa dirinya sama seperti Erwang, si Tua kikir. Selama hidup, Ergou memiliki belasan murid, meski muridnya bodoh-bodoh, tapi dia bersyukur sudah ada yang meneruskan jejak budidayanya.


Belasan hela napas kemudian...


Tubuh Gofan terlihat berubah warna menjadi semakin merah, seperti tengah kepanasan. Udara disekitarnya pun berubah menjadi semakin panas, semakin kering.


“Dia berhasil!?.” Ucap Long Ergou dengan nada senang.


Mungkin Ergou merasakan keberhasilan, melihat Gofan yang dengan mudahnya mempelajari Seni Tiga Api Aneh miliknya. Dia merasa begitu senang. Dulu, meski memiliki belasan murid, dia harus mati-matian mengajari mereka, sebelum akhirnya bisa melakukan seperti yang dilakukan Gofan sekarang. Setidaknya butuh satu minggu paling cepat untuk menguasai dasarnya. Tapi Gofan, bahkan kurang dari satu hari.


“Bagus. Aku juga akan memiliki pewaris. Kitab Budidaya racun milikku akan memiliki penerus... Haha.” Tawa Erwang, begitu senang melihat betapa hebatnya Gofan meresapi Seni Tiga Api Aneh.


*Bluur* Api-api kecil muncul di beberapa titik di tubuh Gofan. Muncul secara acak.


Meski api-api kecil itu muncul, tapi tidak membakar Gofan. Mereka hanya keluar begitu saja dan mulai menyelubungi tubuh Gofan.


“Tahap pertama. Api Kuning!?.” Senyum merekah di wajah bercahaya Long Ergou.


Setidaknya butuh sebulan sampai dua bulanan bagi murid lamanya untuk sampai di tahap seperti Gofan. Sekarang, Ergou begitu senang, seakan dia sendiri yang sedang mempelajari Seni Tiga Api Aneh itu.


“Keturunan dari Dua Dewa, memiliki tubuh dan tulang Abadi... Apa otaknya juga menjadi lebih pintar karena itu?... Garis keturunan memang tidak bisa diremehkan.” Gumam Erwang, sembari tersenyum-senyum membayangkan Gofan akan menyebarluaskan Kitab Seni Racun Darah miliknya.


“Bukankah kita juga keturunan Dewa Kecil?. Seharusnya, kita juga pintar... Aku rasa bukan karena itu.” Long Ergou menimpali gumaman Long Erwang.

__ADS_1


Erwang tersenyum kecut, dia merasa perkataan Ergou itu, seperti menyatakan bahwa mereka beruda adalah orang bodoh, meskipun keturunan Dewa.


“Kamu saja yang bodoh. Hanya menyalin Ilmu dari generasi sebelumnya... Tidak sepertiku, aku menciptakan ilmuku sendiri.” Batin Long Erwang. Bangga dengan budidaya racun yang dia ciptakan sendiri.


Berawal dari hobinya mengumpulkan tanaman obat, akhirnya Erwang tertarik untuk mengobati racun dengan racun. Hingga akhirnya dia mendapat pencerahan mendalam tenntang racun. Di masanya, belum ada yang tertarik tentang racun, hanya dia, Long Erwang, yang dijuluki Naga Beracun dari Utara, satu-satunya yang mengembangkan budidaya racun.


Setidaknya, tanpa sepengetahuan Long Erwang. Setelah namanya terkenal sebagai Naga Beracun dari Utara. Banyak pendekar lain yang mulai tertarik dengan racun, dan kini, di masa Gofan berada, ada Guxiu yang sama sepertinya, berbudidaya dengan mempelajari racun. Hanya saja, Guxiu tidak semampu Long Erwang, yang berhasil menciptakan Kitab Budidayanya sendiri.


*Blazh* Api kuning menyelimuti seluruh tubuh Gofan.


“Tahap kedua... Api Merah.” Gumam Long Ergou. Sekarang, dia jelas melihat ada jilatan-jilatan api merah mulai muncul di atas api-api kuning yang menyelimuti tubuh Gofan. Perlahan-lahan Api merah itu seperti menelan Api kuning.


“Apa dia sudah selesai?.” Tanya Long Erwang tidak sabar.


“Seharusnya dia sudah berhasil. Sampai di tahap ini saja, seharusnya sudah cukup.” Sahut Long Ergou.


Setahun... Jika itu murid Long Ergou, mereka paling tidak akan memerlukan waktu setahun untuk menguasai tahap kedua dari Seni Tiga Api Aneh.


“Dia mau melanjutkan sampai ke tahap akhir... Hanya sehari... tidak... tidak... Kurang dari sehari... Luar biasa!?.” Batin Ergou terkagum-kagum dengan sedikit perasaan sakit. Dia merasa agak iri dengan bakat pemahaman Gofan. Dia sendiri, memerlukan waktu hampir setengah tahun untuk mencapai tahap kedua dan setengah bulannya lagi, untuk menyelesaikan semuanya.


“Dia sudah mulai ke tahap ketiga bukan?.” Tanya Erwang lagi.


Ergou mengangguk.


“Ini bukan lagi jenius... Ini tidak masuk akal!!.” Celetuk Long Erwang dengan senyum yang benar-benar lebar. Dia semakin tidak sabar, menantikan hari dimana Kitab Budidaya ciptaannya akan menyebar luas ke seluruh Alam Kecil.


“Aku harap dia tidak akan pelit membagi ilmunya... Agar kitabku menjadi semakin terkenal Haha...” Pikir Long Erwang.


Jika Ergou mendengar ucapan tawa batin Erwang tersebut, mungkin dia juga akan tertawa. Dia akan tertawa, karena Erwang menyamakan Gofan seperti dirinya, si Tua Kikir, yang pelit membagi ilmunya karena takut disaingi.


*Blazh* Api Merah benar-benar telah melahap seluruh Api Kuning. Hanya sesekali, akan terlihat kilauan Api kuning di dasar Api merah tersebut.


“Dia sudah berhasil. Sempurna! Ini... Api Biru.” Ucap kagum Long Ergou saat melihat jilatan-jilatan Api Biru mulai muncul di atas Api Merah yang menyelubungi tubuh Gofan.


*Sessshh* Udara semakin memanas. Kini bahkan tanah di lantai terowongan terlihat seperti batu membara.


*Blazh* Kilauan Api Biru memancar memenuhi tubuh Gofan. Menyelubunginya dan membakar semua yang ada di sekitanya.


“Dia selesai.” Long Erwang begitu senang, saat melihat Gofan membuka matanya dan beranjak bangun. Seketika Api di tubuhnya mengilang begitu saja.


“Hebat... Hebat.. Gofan. Kamu memang pantas menjadi keturunan dua Dewa Agung, Haha.” Puji Long Ergou dan Long Erwang.


“Terima kasih Senior.” Sahut Gofan saat dia menenangkan detak jantungnya. Mempelajari Seni Tiga Api Aneh, mengharuskannya memacu detak jantungnya sekencang mungkin untuk memanaskan tubuhnya dan mendidihkan Saripati Energi di dalam Kubus Titik Pusat Jiwanya.


“Gofan. Maukah kamu mempelajari Ilmu dariku juga? Tidak perlu harus sekarang juga, kamu cukup mengingatnya dan kemudian... setelah kamu menguasainya, kamu bisa mengajari orang lain yang juga kompeten seperti dirimu... Bagaimana?.” Long Erwang maju dan mendekati Gofan.


“Tentu Senior. Aku tidak akan menolak tawaran sebaik ini.” Sahut Gofan dengan tegas.


Setelah mempelajari Seni Tiga Api Aneh, emtah kenapa, semangat Gofan untuk bertarung dan berlatih bela diri semakin bertambah. Seperti mulai kecanduan bela diri. Dia sangat senang mendengar tawaran Erwang.


“Perhatikan baik-baik ya... Ini disebut Seni Racun Darah. Pertama-tama kamu harus meracuni dirimu, makanlah racun dari bunga seribu duri, getah beracun ungu, tahi kadal asap hijau, kuku dari serigala racun, ujung ekor lebah....”


“Tunggu.. Jadi ini persyaratannya? Maksudmu, dia harus mati keracunan dulu sebelum mempelajari budidayamu ini?.” Tanya Long Ergou menyela penjelasan Long Erwang.


“Benar. Ini adalah Seni Racun melawan Racun. Jika dia tidak keracunan, bagaimana dia akan menjadi ahli racun nomor satu?.” Sahut Erwang seakan hal itu sangat mudah dilakukan.


Mendengar jawaban itu, alis mata Ergou mengernyit. Sekalipun kamu tidak pelit dan menawarkan Ilmu Kitab ini, tidak akan ada yang mau mempelajarinya... Itulah yang terbersit di batin Long Ergou.


Kini, pandangannya kepad Long Erwang menjadi semakin aneh. Baginya, Long Erwang adalah orang Gila nomor satu di Alam Kecil. Maniak Racun!!


Long Ergou mendekati Gofan, dia berbisik, “Gofan. Sebaiknya kamu hanya mengingatnya saja, jangan mempelajarinya, biarkan orang lain saja yang mempelajari budidaya gila itu.”


Dari awal Gofan tidak terkejut, jika Ergou akan berbisik demikian. Memang benar, tidak mungkin orang biasa, pendekar yang waras, yang tidak benar-benar memahami racun mau meracuni dirinya sendiri demi menjadi Naga Beracun dai Utara generasi selanjutnya. Itu sama saja dengan tindakan bunuh diri.


“Tenang saja Senior. Aku ini sudah memiliki racun di dalam tubuhku, jadi aku cukup layak untuk mempelajari Budidaya racun ini.” Sahut Gofan secara gamblang. Dia menuturkan apa adanya tanpa berbisik.


Saat Ergou terkejut, Long Erwang justru tersenyum bahagia, “Benarkah? Seberapa mematikan racun di tubuhmu? Semakin sulit menawar racun di tubuhmu semakin baik hasil budidayamu kelak.” Ucapnya.


“Entah. Aku tidak tahu Senior... Selama ini aku baik-baik saja, meski darahku dipenuhi racun ini.” Sahut Gofan jujur.


Wajah Long Erwang tampak meremehkan, racun yang tidak menimbulkan efek mematikan, itulah yang dia pikirkan usai mendengar ucapan Gofan.

__ADS_1


“Itu pasti racun kelas teri.” Batin Long Erwang


“Apa nama racunmu itu? Disebut apakah racun di dalam tubuhmu?.” Tanya Long Erwang sesaat kemudian.


“Ra... Ra.. .” Seperti biasa, setiap kali Gofan ingin mengatakan tentang Tian Baixiang dan Pil Teratai Racun Pelangi, mulutnya tertutup rapat. Dia tidak bisa mengatakannya. Entah kenapa, alasan yang belum bisa diketahui oleh Gofan.


“Ra..? Ra apa?.” Long Erwang menggertakkan giginya, tidak sabaran ingin mengetahui nama racun di tubuh Gofan.


Gofan menghela napas pendek, “Ra.. Racun Sangat Mematikan.” Sahutnya, mencari nama lain untuk racun dari Teratai Racun Pelangi yang ada di dalam darahnya. Jika tidak bisa menyebut nama yang benar, kenapa tidak mengarang sendiri nama yang lain, itulah yang dipikirkan Gofan.


Alis Long Erwang menekuk, keriput di dahinya menjadi semakin terlihat, meski dia kini hanya gumpalan cahaya, tapi tetap saja, keriput di dahinya terlihat jelas. Menyatakan, nama racun aneh macam apa itu.


Tidak hanya Erwang. Long Ergou pun mengernyit sebelum akhirnya hampir tertawa mendengar nama racun yang disebutkan Gofan.


Racun Sangat Mematikan!! Racun apa yang tidak mematikan? Semua racun pasti mematikan, cepat dan lambatnya tergantung pada dosis racun tersebut.


Mendengus kesal, melihat wajah Ergou yang hampir tertawa, Erwang mendekat, lebih dekat ke arah Gofan.


“Coba. Keluarkan setetes darah segarmu.” Pinta Long Erwang. Dia penasaran dengan kadar mematikan dari 'Racun Sangat Mematikan' yang ada di tubuh Gofan.


Gofan mengangguk, dia menggigit sedikit ujung lidahnya dan meludahkan setetes darah dari ujung lidahnya, ke telapak tangan kanannya.


“Ini Senior.” Gofan mengangkat telapak tangannya dan mendekatkannya ke Lentera Jiwa Long Erwang.


*Zyuut* Sebuah tarikan angin kecil muncul dan membawa tetesan darah Gofan melayang masuk ke dalam Lentera Jiwa.


*Snif Snif* Tidak berbau.


“Tidak ada bau.” Gumam Long Erwang usai mengendus aroma darah Gofan, “Inikah 'Racun Sangat Mematikan' itu?.” Tanyanya kepada Gofan dengan menekankan pada nama racun yang disebutkan Gofan, 'Racun Sangat Mematikan'.


Baru saja Erwang hendak mengembalikan tetesan darah itu kepada Gofan, sebuah asap hitam bergambar tengkorak muncul sekilas dari tetesan darah tersebut.


*Deg* Long Erwang tertegun. Jika dia masih memiliki jantung, mungkin dia akan mati sekali lagi.


Long Erwang menyimpan kembali tetesan darah Gofan dan kembali memandanginya lebih dekat.


Karena dia sangat dekat dengan tetesan darah itu, hanya dia, Long Erwang, yang melihat kilasan tengkorak itu. Gofan dan Long Ergou tidak melihat apa pun.


“Senior?.” Setelah mengangguk, mengiyakan jika itu adalah Racun Sangat Mematikan, Gofan memperhatikan Long Erwang justru semakin fokus pada tetesan darahnya.


“Apa dia memperhatikan jawabanku tadi?.” Batin Gofan.


“Erwang! Dia memanggilmu.” Long Ergou membantu Gofan, tapi Long Erwang masih saja fokus pada tetesan darah Gofan. Dia tidak menggubris panggilan Gofan dan Ergou.


Gofan dan Ergou saling melirik, secara bersamaan mereka menghela napas pendek. Mereka menyadari, sekarang, Long Erwang seperti sedang berada dalam tahap meditasi, meski matanya terbuka, tapi fokusnya entah kemana. Mereka menyerah untuk memanggilnya, dan menunggu dalam diam.


36 hela napas kemudian... Long Erwang menghela napas pelan. Meski dia hanya seorang roh, sebuah jiwa, tapi helaan napasnya masih dapat didengar, seolah dia memang masih hidup dan benapas. Itu mungkin keajaiban dari Lentera Jiwa.


Kedua Senior mantan Jendral Naga itu, sudah mati lebih dari beribu-ribu tahun sebelumnya. Meski cahaya jiwanya meredup, mereka masih hidup. Jika saja, Bunga Api Ribuan Roh masih ada, mereka bisa kembali hidup lagi. Tapi sayang, Bunga itu hanya ada satu dan sudah dicerna habis oleh Xionan.


Gofan dan Ergou menoleh ke arah Erwang.


“Ini.. Benar-benar Racun yang sangat mematikan.” Ucap Long Erwang, kali ini dia menekankan kata 'sangat mematikan' sebelum mengembalikan tetesan darah itu kepada Gofan.


“Sebaiknya kamu simpan tetesan darahmu itu, jika kamu kebetulan berniat meracuni musuhmu, setetes darah itu, lebih dari cukup untuk membunuh selusin Pendekar di bawah ranah Grand Master.” Imbuhnya.


Meski terkejut dengan hasil analisa Long Erwang, Gofan enggan menyimpan darahnya. Itu hanya setetes, aku masih punya banyak di dalam tubuhku, itu pikirnya. Tapi, demi menghormati Long Erwang, Gofan menyimpan tetesan darahnya ke dalam sebuah botol obat yang kosong.


Setelahnya, Erwang melanjutkan langsung ke inti cara membudidayakan Budidaya Seni Racun Darah. Dia tidak lagi meminta Gofan menelan racun apa pun, sudah tidak perlu lagi. Di atas racun masih ada racun, tapi di atas 'Racun Sangat Mematikan' hanya ada kematian, tidak ada lagi yang lain.


Ratusan hela napas lagi berlalu... Saat Long Erwang selesai memperagakan dan menjelaskan inti cara Budidaya Seni Racun Darah. Gofan segera mengambil posisi duduk bersila dan melakukan segel tangan menurut petunjuk Long Erwang. Gofan mulai membudidayakan Seni Racun Darah.


**


Di permukaan, di Turnamen Pulau...


Beberapa saat sebelum Gofan menyebut nama 'Racun Sangat Mematikan', Fanjia maju ,bersiap bertarung menghadapi seorang pemuda dari Perguruan Trah Darah Murni, Perguruan Awan Langit.


“Nomor 06 dan Nomor 13, maju-!.”


Fanjia naik ke Ring Tarung, di tangannya tergenggam token nomor bertuliskan angka 13.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2