Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 60. Menghancurkan Segel Kutukan bg. 7


__ADS_3

Wajah Lenchan mendadak berubah warna menjadi kemerahan, setelah dipaksa oleh Tianfuzi untuk meminum seluruh cairan beracun dari botol kaca bening yang dipegangnya.


Mendadak, Lenchan jatuh ke lantai dan menggeliat kesakitan,


"Aarrgghh....."


".....Aarrgghh"


Tubuh Lenchan juga ikut berubah warna, kulitnya terlihat semakin merah, seperti warna daging yang terbakar. Gofan panik, melihat pamannya kesakitan seperti demikian. Gofan memutuskan untuk tidak tinggal diam saja, dia tidak tahan melihat kesakitan yang dialami pamannya.


Baru saja Gofan hendak bergegas bertindak menolong Lenchan, tiba-tiba Tungdie membentak Tianfuzi. Gofan pun mengurungkan niatnya dan memutuskan untuk mengamati lebih jauh lagi.


Mata Tungdie terlihat seperti berkaca-kaca, meski sudah membenci Lenchan, namun jauh di dalam hatinya, Tungdie masih mencintai Tabib Ajaib itu.


"Tianfuzi!! Kamu bilang dia hanya akan sedikit kesakitan. Tapi apa ini!?, Cepat... Berikan penawarnya...! kamu sudah berjanji kan?"


Tungdie membentak Tianfuzi setelah melihat darah merembes keluar dari pori-pori kulit Lenchan yang terlihat seperti daging yang terbakar.


Tianfuzi tertawa, dia menatap ke arah Tungdie dan menjawab,


"Ketua Tung, Nona Tungdie.... Kamu ini naif sekali. Kalau ingin mendapatkan informasi, kamu harus bersikap kejam. Lagi pula racun darah tidak akan membunuhnya. Tenanglah sedikit..."


"Kita tunggu saja, dia hanya akan kesakitan sebentar. Mungkin, hanya 50 hela napas lagi, jangan khawatir"


Imbuh Tianfuzi sembari duduk kembali dan menunggu hingga Lenchan berhenti kesakitan.


Tungdie mengepalkan tangannya, dia tidak bisa membantah kata-kata Tianfuzi karena memang seperti itulah reaksi dari racun darah yang telah diminum Lenchan.


Tungdie duduk di sebelah Tianfuzi, kembali ke tempatnya semula, dia menggertakkan giginya dan berkata dengan cukup keras,


"Baik... Setelah ini, kamu harus memberinya penawar, aku tidak ingin dia terus seperti ini!!"


"Hahaha... Ketua tenang saja, aku pasti akan memberinya penawar. Tapi setelah dia mengatakan dimana tablet itu berada... Hahaha"


Sahut Tianfuzi yang masih duduk memperhatikan keadaan Lenchan.


Tianfuzi menikmati adegan yang terjadi di depan matanya, dia sangat senang melihat Lenchan berulang kali menggeliat kesakitan. Tianfuzi tidak henti-hentinya tersenyum dan tertawa, di matanya, Lenchan terlihat seperti seekor cacing yang kesakitan karena ditaburi garam.


-Lenchan, kamu bodoh! Seharusnya kamu katakan dimana tablet itu, jadi kamu tidak perlu merasakan sakit seperti ini-


Pikir Tungdie, berharap Lenchan tidak perlu diperlakukan seperti itu.


Tungdie hanya menginginkan informasi, bukan membunuh atau menyiksa Lenchan. Meskipun dia sempat menyarangkan pedangnya di leher Lenchan, itu hanya untuk menggertaknya saja.


"Huangkong, apa itu racun darah?"


Bisik Quila kepada Huangkong.


Quila penasaran dengan apa yang digumamkan Huangkong sebelumnya. Setelah melihat apa yang terjadi pada Lenchan, Quila ingin tahu mengenai racun darah tersebut.


Huangkong menjawab, racun darah adalah racun yang dibuat menggunakan sisa darah dari Dewa Naga yang berceceran ketika bertempur melawan Dewa Cahaya dan Dewa Gelap.

__ADS_1


Jika orang yang mengkonsumsi darah itu merupakan keturunan Dewa Naga, dia akan mengalami reaksi seperti yang dialami Lenchan.


"Bukankah seharusnya, dia akan baik-baik saja jika mengkonsumsi darah Dewa Naga?, dia kan keturunan campuran"


Tanya Quila kembali, dia merasa penjelasan Huangkong tidak masuk akal.


"Benar... Seharusnya begitu,... Tapi, dari yang ku dengar, racun ini juga berisi darah dari mayat hidup. Darah dari Dewa Naga akan memperkuat khasiat dari darah mayat hidup. Setelah ini, Lenchan akan menjadi boneka Tianfuzi, menjadi salah satu koleksi manusia boneka Tianfuzi..."


"Jika kita, yang bukan keturunan Dewa Naga sampai meminum racun itu, kita akan langsung mati di tempat dan menjadi mayat hidup untuk selamanya. Tapi kalau Lenchan ini, dia masih hidup, hanya saja, dia akan menjadi manusia boneka. Kesadarannya akan hilang dan bertindak seperti mayat hidup yang masih bernapas"


Huangkong berkata pelan menjelaskan tentang racun darah.


Suara Huangkong tidak didengar oleh Tianfuzi dan yang lain, hanya Gofan dan Quila yang berada di dekatnya yang mendengar penjelasan itu.


Memang seperti yang dikatakan oleh Huangkong, 50 hela napas kemudian, reaksi racun darah berhenti dan tiba-tiba tubuh Lenchan terlihat menjadi kaku seperti mayat, warna putih di kedua bola mata Lenchan berganti warna menjadi berwarna merah. Lenchan berubah menjadi manusia boneka.


Lenchan seketika berdiri tegak tanpa bantuan siapa pun, meskipun tubuhnya sudah terlihat terluka parah, dia berdiri mematung dan menghadap ke arah Tianfuzi. Tali yang mengikat tubuh Lenchan sudah lama terlepas, ketika dia menggeliat kesakitan.


-Benar! Paman menjadi seperti mayat hidup... Gawat!, Bagaimana jika paman tahu tentang keberadaan tablet itu?...-


Gofan melihat tubuh Lenchan yang kaku, berdiri dengan mata merah menyala, seperti mayat namun masih bernapas.


*Bruaak*


Tianfuzi memukul meja yang ada di dekatnya, dia tampak marah melihat tali di tubuh Lenchan dengan mudahnya terlepas.


"Katakan!... Siapa orang bodoh yang mengikatnya!?, Kenapa ikatannya bisa lepas semudah itu?... Cepat... Ikat lagi...!!!"


Bentak Tianfuzi, senyum dan tawanya berhenti setelah melihat Lenchan berdiri tanpa terikat.


Sebab, jika lalai meminumkan racun itu, si manusia boneka akan mengamuk dan bertindak di luar kendali. Manusia boneka ini hanya akan berhenti mengamuk jika mati atau mendapat obat penawar dari racun darah tersebut.


Terlebih lagi setelah ini, Tianfuzi harus menyerahkan obat penawar racun darah kepada Tungdie. Tianfuzi tidak ingin, Lenchan akan melawan dan melarikan diri setelah sembuh dari racun darah. Oleh karena itu, Tianfuzi ingin agar Lenchan tetap terikat.


"Saya. Maafkan saya tuan. Saya akan mengikatnya lagi"


Sahut Cangu alias Gofan tanpa terbata-bata, dia hanya sedikit menurunkan nada suaranya, agar Tianfuzi tidak mencurigai dirinya.


Setelah melihat Tianfuzi diam memandang marah ke arahnya, Gofan berjalan mendekat ke arah Lenchan berdiri.


Gofan mendekat bukan untuk mengikat Lenchan kembali, tapi untuk membunuhnya,


-Paman Chan, maafkan aku....-


*Jleb*


Gofan menikam jantung Lenchan dengan sebilah belati kecil yang dia ambil dari kantong ruang Cangu.


Seketika Lenchan mengerang kesakitan, warna matanya kembali normal, pertanda bahwa Lenchan sudah kembali sadar dari pengaruh racun darah, hanya saja, dia sadar di saat dia harus menghembuskan napas terakhirnya. Lenchan tersenyum dan menutup kedua matanya ketika dia akhirnya meninggal.


Bersamaan dengan kematian Lenchan, jiwa Gofan ditarik keluar dari tubuh Cangu, dia dibawa kembali ke dimensi tempat Haiwa berada. Jiwa Gofan sampai di atas hamparan awan putih, dia sampai di dimensi awan dan bertemu kembali dengan Haiwa.

__ADS_1


"Selamat... Kamu berhasil..."


Seru Haiwa saat dia menyambut kedatangan Gofan kembali ke dimensi awan miliknya.


"Terima kasih, untuk pencerahannya, sekarang aku sudah memahami maksud dari belenggu hati"


Sahut Gofan sembari membungkuk memberi hormat.


Gofan terlihat sangat hormat dan segan terhadap Haiwa, sangat berbeda dengan sikap yang dia tunjukkan kepada Haiwa sebelumnya.


Sebelumnya, Gofan bahkan sempat mengumpat dan menantang Haiwa bertarung. Kini dia menjadi segan dan hormat kepada Haiwa, setelah memahami maksud dari taruhan yang diberikan oleh Haiwa.


"Begitukah? Katakan, apa yang kamu pahami"


Kata seorang pria berjubah merah dengan rambut kuning keemasan yang muncul dari kekosongan, tingginya tidak lebih tinggi dari Gofan, tidak lebih tinggi dari tubuh Goli.


-Siapa pria ini?-


Gofan tidak menjawab, dia hanya diam memandangi kemunculan tiba-tiba pria berjubah merah itu.


"Gofan, jawablah,... Beliau adalah percikan jiwa dari Dewa Perang, Tianyuan,... Tuanku, Raja Siluman Kera"


"Aku adalah roh senjata dari Tongkat Emas Naga Kembar"


Ucap Haiwa memberikan penjelasan, ketika Gofan tengah bertanya-tanya tentang identitas pria berjubah merah.


-Aku kira Haiwa adalah si Dewa Perang, ternyata dia adalah roh senjata. Seberapa tua tongkat emas ini sampai bisa memiliki roh?-


Gofan akhirnya mengetahui identitas pria berjubah merah, dan identitas Haiwa.


Dalam Kitab Kompilasi Bela diri, ada sedikit penjelasan mengenai roh senjata. Dikatakan bahwa, senjata yang terus menerus terpapar energi surga dalam kurun waktu yang amat sangat lama, lambat laun akan menumbuhkan kehidupan di dalamnya, menumbuhkan roh senjata.


-Dia Dewa Perang? Aku tidak menyangka, seorang Dewa Perang akan bertubuh kecil dan pendek seperti dia, dia bahkan tidak lebih tinggi dari Goli...-


Pikir Gofan yang masih belum menjawab pertanyaan Tianyuan.


-Benar... Aku memang Dewa Perang, meskipun aku tidak bertubuh besar dan kekar, seperti yang banyak digambarkan selama ini, aku memang benar pernah menjadi Dewa Perang -


Suara pikiran Tianyuan muncul dalam pikiran Gofan, saat dia sedang berpikir tentang si Dewa Perang itu.


"Ma-maafkan kelancangan saya Dewa"


Gofan membalas suara pikiran Tianyuan dengan ucapan langsung, dia terkejut mendapati Tianyuan bisa membaca isi pikirannya.


"Tidak masalah. Bukan apa-apa. Sekarang katakanlah, Apa yang sudah kamu pahami?"


Ucap Tianyuan sembari duduk.


"Baik Dewa..."


"Adapun yang sudah saya pahami..."

__ADS_1


Gofan terdiam sebentar, dia terpaku seperti mengingat berbagai hal yang sebelumnya telah dia alami.


Bersambung...


__ADS_2