
' Berjuanglah... Kalahkan Siluman itu, dan hancurkan Formasi ini ' Batin Vasudev saat memandang tubuh Gofan yang terjatuh dan tertidur di sebelah kakinya.
Sementara itu, sebuah cahaya memancar keluar dari Payung Tangisan Surga dan melesat masuk ke dalam kening Gofan. Haiwa masuk ke dalam alam bawah sadar Gofan.
" Hei.. Bocah. Bangun! " Seru Haiwa sembari menampar pelan wajah Gofan yang terbaring di atas lantai.
Gofan terbangun dan melihat Haiwa, roh senjata Payung Tangisan Surga berada di sampingnya.
" Haiwa? Dimana ini? Apa aku di dalam Payung Tangisan Surga? "
" Tidak. Kita sedang berada di Dunia Mimpi " Sahut Haiwa.
[Di dalam Dunia Mimpi]
Gofan melihat ke sekeliling dan menyadari bahwa dirinya masih berada di depan ruang penyekapan di lantai tiga Paviliun Bunga Indah, tetapi tidak ada siapa pun selain dia dan Haiwa di lantai itu.
" Inikah Dunia Mimpi? Kenapa kita seperti masih berada di Paviliun Bunga Indah? " Tanya Gofan sembari berdiri.
" Benar. Ini Dunia Mimpi. Semua yang kamu lihat ini hanya mimpi, hanya ilusi.. Mengerti? "
" Iya.. Aku mengerti " Sahut Gofan saat tiba-tiba suara riuh ramai terdengar di telinganya.
' Darimana datangnya suara-suara ini?' Gofan mendekat ke arah tangga dan melihat ke bawah. Gofan melihat ke arah lantai dasar Paviliun Bunga Indah.
" Mayat hidup? Haiwa. Apa semua mayat hidup itu juga ilusi? " Gofan melihat riuh ramai kegaduhan di lantai dasar itu, ternyata disebabkan oleh teriakan pengunjung Paviliun Bunga Indah yang tengah diserang oleh puluhan mayat hidup.
" Semua ilusi. Kecuali tiga orang itu, itu mereka... " Tunjuk Haiwa ke arah Yubing, Nian, dan Pangeran Ketiga Meghalaya.
Yubing, Nian, dan Pangeran Ketiga Meghalaya tengah bertarung menghindari serangan para mayat hidup.
" Kenapa kamu yakin mereka bukan ilusi juga? " Tanya Gofan. Menurutnya jika dunia itu ilusi maka bisa saja ketiga orang tersebut juga adalah ilusi.
" Kami para roh senjata bisa merasakan jiwa yang masih hidup, kami bisa merasakan bahwa jiwa-jiwa itu masih memiliki kaitan dengan Dunia Nyata. Kami akan melihat rantai tipis yang mengikat mereka dengan Dunia Nyata... "
" Ingat Gofan. Jika jiwamu mati di Dunia Mimpi ini, maka tubuhmu juga ikut mati. Meski mereka ilusi, jangan biarkan mereka membunuhmu " Tutur Haiwa menjawab pertanyaan Gofan.
" Rantai? Rantai apa maksudmu? "
" Ini... Rantai yang mengikat jiwa dengan tubuh kasarnya. Rantai ini disebut dengan Rantai Jiwa. Kamu tidak akan bisa melihatnya, kecuali dengan Mata Ilahi " Sahut Haiwa sembari memegang pergelangan tangan kiri Gofan.
Haiwa melihat sebuah bayangan rantai cahaya setebal jari kelingking berwarna kuning terang yang terlihat seperti terikat dan tidak memiliki ujung pangkal di tangan kiri Gofan.
__ADS_1
Gofan bingung dengan penjelasan Haiwa. Gofan tidak bisa melihat rantai apapun di tubuhnya atau pun di tubuh Yubing, Nian, dan Pangeran Ketiga Meghalaya.
Saat ini, Haiwa dengan jelas melihat ada sembilan Rantai Jiwa mengikat jiwa Gofan dengan tubuh kasarnya. Satu buah rantai di ubun-ubun, dua buah rantai di kedua telinga, dua buah rantai di kedua siku tangan, dua buah rantai di kedua lutut kaki, satu buah rantai di kelamin, serta satu rantai lainnya terletak di antara kantung empedu dan pusar.
" Hanya mereka yang mati yang tidak memiliki rantai ini " Imbuh Haiwa ketika Gofan mengeluarkan sebuah kain dan menutupi wajahnya dengan kain tersebut.
Di dalam Dunia Mimpi itu, Gofan adalah sebuah jiwa, tentu wujudnya akan kembali sebagai Lenfan. Jadi Gofan sengaja menutupi wajahnya dengan sebuah kain hitam dari dalam Cincin Dimensinya agar Yubing dan Nian tidak terkejut ketika melihatnya muncul.
Gofan tidak menggunakan jurus sihir perubahan wujudnya sebab jurus sihirnya itu hanya berguna pada tubuh kasar, pada tubuh jasmaninya, tidak berguna untuk merubah jiwa. Jiwa akan selalu sama tidak bisa berubah.
Meski masih bingung dengan penjelasan Haiwa, Gofan mengangguk menanggapi perkataan Haiwa. Gofan hanya berharap, suatu saat nanti, ketika dia memiliki Mata Ilahi, semua kebingungan itu dapat terjawab.
Usai menutupi wajahnya, Gofan melompat turun ke lantai dasar.
' Energi Mental? Dia menggunakan energi mental untuk meringankan tubuhnya.. Lumayan.. Vasudev, kamu memilih murid yang berbakat ' Batin Haiwa ketika melihat Gofan melompat turun dengan mudah.
Haiwa juga melayang turun ke lantai dasar menyusul Gofan.
*Tap* Gofan mendarat tepat di depan kerumunan Mayat hidup.
" Aa... Aa... Ooo... Aa.. Ooo " Suara kerumunan Mayat hidup tersebut.
Mayat hidup itu hanyalah makhluk buas yang tidak berotak, mereka akan menyerang setiap makhluk lain yang masih bernapas. Suara detak jantung sangat menggiurkan bagi mereka. Mereka akan menerjang dan mengoyak tubuh makhluk lain yang masih bernapas dan memakan jantungnya.
Sebuah pedang muncul dari dalam Cincin Dimensi Gofan. Gofan memilih untuk menggunakan Pedang Qianlong untuk menghadapi kawanan Mayat hidup tersebut. Gofan mengiris tipis ibu jari tangan kirinya dan mengoleskan darah di ibu jarinya itu ke Pedang Qianlong.
Pedang Qianlong bergetar pelan dan memancarkan cahaya keemasan sebelum Gofan menebaskannya ke arah salah satu Mayat hidup.
*Cruaat* Darah hitam keluar dari tubuh Mayat hidup yang berhasil ditumbangkan Gofan
" Argghh!! " Jerit Mayat hidup itu kesakitan sebelum akhirnya benar-benar tidak bergerak lagi.
" Hei Bocah! Bukannya kamu pengguna tongkat? Kenapa tidak kamu gunakan tongkatmu? " Tanya Haiwa yang hanya menonton Gofan bertarung sembari menghindari serangan para Mayat hidup.
" Aku penasaran dengan Harta Rahasia ini " Sahut Gofan sembari menebas Mayat hidup lainnya.
' Dulu saat aku diserang gadis pemburu siluman itu, entah kenapa Mata Iblisku mendadak melemah.. Aku yakin, pedang ini pasti memiliki kemampuan melemahkan ilmu sesat ' Batin Gofan.
Kejadian saat Huangmei menyerangnya dengan Pedang Qianlong, selalu membekas dalam ingatan Gofan. Dari kelima Harta Rahasia yang dia peroleh dari Empat Penakluk Siluman generasi baru, Gofan selalu penasaran dengan kekuatan serang Pedang Qianlong.
Tebakan Gofan sangat tepat, setiap serangan dari Pedang Qianlong akan membuat Mayat hidup itu merasakan kesakitan bukan main, sebelum akhirnya mati.
__ADS_1
Pedang Qianlong memang dapat melemahkan dan menghancurkan makhluk yang diciptakan dari ilmu sesat. Asap hitam dan darah hitam berbau busuk selalu keluar dari setiap luka sayatan Pedang Qianlong ketika Mayat hidup itu mati.
' Lumayan. Meski Bocah ini hanya menggunakan jurus dasar berpedang, dia bisa dengan mudah menumbangkan Mayat hidup ini... Pedang Qianlong ini sepertinya memang diciptakan untuk menghancurkan ilmu sesat ' Batin Haiwa.
Para Mayat hidup diciptakan melalui sebuah ajaran ilmu sesat, termasuk ke dalam tiga golongan ilmu yang menentang Surga selain pengendalian roh dan ilmu pengekangan darah. Banyak Kitab Jurus yang mengajarkan penggunaan ilmu sesat itu disebut sebagai Kitab Hitam, yaitu kitab-kitab yang membuat seorang pendekar memiliki jurus untuk mengendalikan mayat, mengendalikan roh, dan mengekang darah.
Sementara Gofan terus menyerang dan menumbangakan para Mayat hidup. Yubing, Nian, dan Pangeran Ketiga Meghalaya keheranan melihat kemunculan Gofan yang dengan mudahnya menumbangkan para Mayat hidup itu.
" Senior. Sepertinya Ahli ini datang untuk menolong kita! " Seru Nian sembari menebas Mayat hidup di hadapannya.
Yubing mengangguk dan tersenyum tipis ketika melihat sosok seorang pemuda dengan kain hitam menutupi wajahnya bertarung melawan para Mayat hidup.
" Kalian mengenalnya? Bagaimana dia bisa menumbangkan Mayat hidup itu hanya dengan beberapa kali tebas? " Tanya Pengeran Ketiga Meghalaya kepada Nian dan Yubing.
" Tidak Pangeran. Kami tidak mengenalnya, tapi tampaknya dia adalah seorang Ahli " Sahut Yubing.
Yubing, Nian, dan Pangeran Ketiga Meghalaya itu telah bertarung mati-matian melawan para Mayat hidup, tapi tidak satu pun di antara 43 Mayat hidup itu yang berhasil mereka bunuh. Setiap kali mereka menebas Mayat hidup itu, Mayat hidup itu akan tumbang sesaat sebelum bangkit lagi dan menyerang mereka kembali.
" Pendekar Ahli... Tolong kami! " Seru Pangeran Ketiga Meghalaya kepada Gofan ketika dia, Yubing, dan Nian terpojok oleh beberapa Mayat hidup.
" Langkah Kilat "
Gofan mempercepat langkahnya dan menerobos kerumunan Mayat hidup. Setiap Mayat hidup yang dia lewati akan tumbang ketika terkena tebasan Pedang Qianlong.
' Hanya menggunakan dasar-dasar jurus pedang, Pendekar ini bisa dengan mudah menumbangkan mereka ' Batin Nian.
Gofan memang belum mempelajari jurus pedang apa pun, dia hanya pernah diajari dasar-dasar menggunakan pedang oleh Ayahnya. Gofan hanya tahu sebatas menyayat, memotong, membelah dan menusuk.
*Cruat*
*Cruat*
Satu demi satu ke-43 Mayat hidup itu tumbang, darah hitam dan asap hitam berbau busuk memenuhi lantai dasar Paviliun Bunga Indah.
Ketika Gofan membunuh Mayat hidup yang terakhir, seseorang muncul dengan jatuh dari Atap Paviliun Bunga Indah.
*Duaarr*
Lantai dasar Paviliun itu hancur ketika seorang Mayat hidup dengan tubuh berwarna merah darah mendarat di lantai dasar tersebut.
" Mayat Merah!? " Ucap Haiwa ketika melihat Mayat hidup tersebut.
__ADS_1
Bersambung...