
###
Urutan Ranah Budidaya.
Masing-masing ranah melalui tiga tahap, yaitu tahap awal, tahap pertengahan, dan tahap akhir.
Ranah Budidaya Alam Kecil (Benua Penda dan Benua Lainnya)--> Body Binding--> Holy Body--> Big Master--> Great Master--> Grand Master--> Saint Master--> Holy Saint--> Human God.
Ranah Budidaya Alam Besar (Alam Langit Pertama)--> Saint God--> ????--> ????.
*Budidaya di Alam Besar, sejauh ini hanya diceritakan sampai di ranah Saint God.
*Saat ini, Gofan berada di ranah Grand Master tahap akhir.
WARNING!
Jika menyukai Novel ini, silahkan dukung Penulis asli untuk terus berkarya dengan Like, Vote, Favorite dan Comment.
Saat seorang Penulis mendapat tanggapan baik atas karyanya, maka dia akan fokus untuk menulis.
Selamat Membaca dan Semoga Terhibur.
___________________+++____________________
“Apa Fanjia akan baik-baik saja?” Batin Xionan. Hatinya cemas. Mencemaskan identitas Fanjia yang mungkin saja bisa diketahui saat pertarungan berlangsung. Apa pun mungkin terjadi.
Tapi dia berusaha untuk tidak menunjukkan sedikitpun kecemasan di wajahnya. Dia tersenyum memberikan dukungan kepada Fanjia, Boneka manusia tanah ciptaan Gofan itu.
Di atas Ring Tarung, Fanjia, membungkuk memberikan hormat kepada lawannya, sebelum suara Gong terdengar menggema lagi, tanda pertarungan dimulai.
“Bukankah dia yang berambut keputihan itu yang disebut Tuan Muda Warisan itu?”
“Eh... Tuan Muda Warisan?! Dia itu Pewaris Baru. Seenaknya saja mengganti julukan orang... Haih.” Menghela napas.
“Oh iya... Itu maksudku. Siapa lawannya itu? Siapa pemuda Nomor 06 itu?” Terkekeh pelan.
“Ini pertama kalinya kah bagimu untuk menonton Turnamen Pulau?”
Dua orang Pendekar, satu masih muda, sekitar 16an tahun dan satu lagi sudah lumayan berumur. Mereka berdua, di area penonton, tengah berbincang tentang Fanjia dan lawannya yang sebentar lagi akan memulai pertarungan mereka.
“Iya... Ini pertama kalinya aku menonton Turnamen ini.” Sahut yang lebih muda, sedikit mengangguk.
“Haih... Pantas saja...” Pendekar yang lebih tua menggeleng kepalanya pelan, “Itu Tianxian, Juara pertama Turnamen sebelumnya.” Imbuhnya.
Setelah memberi hormat, Tianxian melirik ke arah Tianfuzi dan memberi isyarat bahwa sekarang dia akan melakukan hal yang diperintahkan olehnya.
Kemudian pandangan mata Tianxian menatap tajam ke arah Fanjia yang dikiranya sebagai Gofan. Sudut bibirnya sedikit melebar miring, seperti mencemooh pertandingan kali ini. Setelah memindai tingkat budidaya Fanjia, dia merasa pasti menang.
“Tuan Muda Pewaris bukan?” Ucapnya ke arah Fanjia, “Maaf jika hari ini adalah hari terakhirmu menyandang gelar itu. Matilah-!”
__ADS_1
*Triung* Suara bilah pedang keluar dari sarungnya.
Segera setelah Gong tanda pertarungan dimulai, Tianxian mengambil langkah pertama, menyerang Fanjia secepat mungkin.
Di mata Tianxian, Fanjia sama lemahnya seperti peserta lain yang sudah dia kalahkan. Dia, Tianxian, satu-satunya Saint Master di antara semua peserta. Itu membuatnya begitu percaya diri.
Fanjia tidak menjawab, di tangannya muncul sebuah tongkat emas dengan ukiran dua ekor Naga melilit di setiap ujungnya, Tongkat Emas Naga Kembar. Tentu bukan yang asli, itu juga tercipta dengan Energi Elemen Tanah, tapi memiliki ketahanan yang lumayan kuat.
*Trang* Fanjia mengayunkan tongkatnya dan menangkis serangan pedang Tianxian.
Mereka sama-sama mundur tiga langkah ke belakang.
Tianxian mengambil ancang-ancang, kaki kirinya menekuk sedikit sebelum membuat lompatan yang tinggi ke atas, “Kali ini, cobalah menangkis tebasan pedangku ini-!” Ucapnya.
Kejadiannya sangat cepat, kurang dari satu helaan napas. Fanjia, memutar tongkatnya ke arah atas, bersiap menghadang serangan Tianxian. Dia tidak menanggapi kata-katanya.
Tianxian mengerahkan tenaga dalam yang telah berisi kekuatan mentalnya, bagi mereka yang berada di ranah Saint Master, tenaga dalam semacam itu dinamai Mental Saint.
“Tebasan Membelah Awan!”
*Zyuut* Kabut putih tebal, tiba-tiba muncul menghalangi pandangan Fanjia.
Ekspresi Fanjia masih datar, meskipun matanya terlihat panik, mencari dari sisi mana tebasan Tianxian itu akan datang.
*Trang*
*Cruuaat* Darah menyembur.
Tebasan Tianxian tepat mengenai dada Fanjia, tiba-tiba saja dia muncul dan menyerang dari depan, bukan dari atas. Lompatan itu seperti hanya tipu muslihat serangan.
“Ukh...” Fanjia mundur enam langkah, tangan kirinya memegang dada yang terluka, darah terlihat mengalir pelan dari luka di dadanya itu. Tapi anehnya, ekspresinya masih saja datar.
“Ini belum berakhir-!” Ucap Tianxian, menyatakan bahwa dia belum menyelesaikan semua jurus Tebasan Membelah Awan miliknya.
Meski terdengar lambat, tapi semua kejadian itu, terjadi kurang dari dua helaan napas. Setelah mengucapkan kata-kata itu, sekali lagi kabut putih tebal muncul dan menghalangi pandangan mata Fanjia.
*Cruat*
*Cruat*
*Cruat*
Tidak sekali, tapi tiga tebasan lain muncul dari sisi samping dan belakang Fanjia. Setiap Tianxian akan menyerang, dia selalu terlihat bersembunyi dengan bantuan Kabut putih yang tiba-tiba saja muncul. Itulah kemampuan utama jurusnya, jurus Tebasan Membelah Awan.
*Tes*
*Tes* Darah menetes.
Di sisi lain, Shiyuxin yang juga mengetahui identitas Fanjia, mengerutkan keningnya. Sebelumnya, di babak pertama, dia sempat melihat Fanjia terluka ringan, terlihat nyata. Dia berpikir itu hanya ilusi, tapi kini, melihat darah yang berceceran dari tubuh Fanjia, dia sadar, itu bukan ilusi.
“Bagaimana bisa? Dia... Dia hanya boneka tanah...Bagaimana cara Fanfan menciptakannya?” Batin Shiyuxin.
Senada dengan Shiyuxin, di sisi lainnya, Xionan juga tidak menyangka, bahwa Fanjia akan serealistis itu, benar-benar hidup, benar-benar manusia. Bukan boneka manusia.
__ADS_1
“Gofan memang menakjubkan... Dia bahkan bisa menciptakan Fanjia, yang terlihat begitu hidup...” Pikir Xionan saat dia menatap kagum ke arah Fanjia. Meski Fanjia terluka, Xionan tidak terlalu mengkhawatirkan itu, dia terlalu fokus pada identitas asli Fanjia.
Bagaimana Gofan menciptakannya? Itulah yang menjadi pertanyaan di benak kedua Gadis tersebut.
Kembali ke Ring Tarung... Saat ini, lebih dari sembilan luka tebasan menganga di tubuh Fanjia. Dia terlihat menyedihkan. Tapi, entah bagaimana, wajahnya masih saja datar, seolah luka-luka itu tidak menyakitkan.
“Baik. Mari kita lihat sampai kapan kamu akan mempertahankan ekspresi datar itu.” Pikir Tianxian.
Meski sudah merasa menang karena melukai Fanjia di berbagai tempat, tapi bukannya senang, Tianxian justru kesal. Melihat ekspresi datar yang ditunjukkan Fanjia, membuat Tianxian merasa diremehkan. Dia menganggap Fanjia sedang berkata, “Hanya inikah kemampuanmu?.”
“Tarian Feniks Petir.”
Tianxian melesat maju. Dia mengerahkan budidaya Energi Elemen Petirnya untuk menyerang Fanjia.
Kilatan-kilatan petir terlihat muncul membentuk dua buah sayap di punggung Tianxian. Kilatan petir itu juga mengalir sepanjang tangan kanannya yang menggenggam bilah pedang. Aliran petir itu menyelimuti seluruh pedang Tianxian, semakin ke ujung, semakin tebal kilatan petir yang menyelimuti pedang itu.
*Zyuut* Tianxian terbang. Tubuhnya seolah terlempar tinggi akibat dorongan dari kilatan-kilatan sayap petir di punggungnya.
Dia berputar dan menukik, semakin dekat dengan Fanjia, semakin banyak kilatan petir yang berkumpul di ujung bilah pedangnya.
“Langkah Kilat.”
*Zyuut* Fanjia menghindar, dia melesat menuju tempat Tongkat Emas Naga Kembar palsu terjatuh.
“Percuma...” Batin Tianxian, saat tubuhnya terdistorsi, seperti memburam dalam udara. Sehela napas berikutnya, tubuhnya berpindah, masih mengejar, menukik ke arah Fanjia.
“Jejak Kaki Menyapu Angin.”
Fanjia meningkatkan kecepatannya dan sekali lagi menghindar. Semua ini terjadi sangat cepat.
Tianxian tersenyum meremehkan, sekali lagi, tubuhnya memburam dan berpindah tempat. Muncul kembali, masih menukik, semakin dekat ke arah Fanjia.
*Duaaarrrr*
*Cruuuaaattt*
Ledakan yang mengandung kilatan petir terjadi. Debu ledakan berhamburan memenuhi Ring Tarung, menutupi hasil dari serangan Tianxian.
Tianxian tertawa, dia memutar badan dan bersiap untuk menghampiri mayat Fanjia. Merasa sudah mengalahkan Fanjia.
*Deg* Tapi langkahnya terhenti.
Saat hamburan debu menghilang. Tianxian terlihat kaget melihat Fanjia berlutut satu kaki dengan ekspresi wajah yang sama, ekspresi wajah datar.
“I-Ini!?...” Tidak mungkin, itulah yang dipikirkan Tianxian.
Fanjia berdiri. Jelas terlihat di sekitarnya, kilatan-kilatan petir masih menyelubungi tubuh Fanjia. Tapi Fanjia, baik-baik saja. Bahkan setiap kilatan petir itu mengenai tubuh Fanjia, kilatan petir itu seperti terhisap masuk ke dalam tubuhnya.
Terlihat, sebuah paku kecil tertancap di bahu kiri Fanjia dan sebuah luka tusukan tepat menganga di tempat jantungnya, di dada kirinya. Darah keluar cukup banyak dari sana, tapi dia masih hidup. Itu mustahil! jika Fanjia memang benar hidup.
Tapi kenyataannya Fanjia bukanlah makhluk hidup, dia terbuat dari tanah. Tanah adalah musuh alami petir. Seberapa banyak pun petir menyambar, tanah tidak akan terluka. Karena itulah, Fanjia baik-baik saja meski diserang banyak kilatan petir. Luka tusukan, menusuk tepat di arah jantungnya, dia tidak punya jantung, bagaimana mungkin dia mati.
“Ka-kamu!?” Mata Tianxian memerah, merasa semua yang dilihatnya tidak benar. Dia frustasi. Marah besar.
__ADS_1
Baru saja Tianxian hendak mengambil kembali Paku Lautan Kenangan yang dia lemparkan ke tubuh Fanjia sesaat sebelum menusuk jantungnya. Tapi ternyata, Fanjia masih hidup. Bahkan sekarang, Fanjia berdiri dengan ekspresi wajah datar di hadapannya. Ekspresi wajah yang seakan mengatakan, “Hanya inikah kemampuanmu?.”
Bersambung...