
[Perguruan Tunjung Putih - Kamar Gofan]
Duan Tianlang akhirnya sampai di kamar Gofan. Dia hendak bertanya kepada Vasudev tentang baik tidaknya mempercayakan kesembuhan Gofan pada pil yang diberikan Lixiayo.
" Dimana Vasudev? " Tanya Duan Tianlang kepada Mouhuli.
Ketika Duan Tianlang tiba di kamar tersebut, dia hanya menemukan Mouhuli yang sedang duduk mendampingi Gofan.
" Dia pergi mencari Xionan bersama temanku " Sahut Mouhuli.
" Xionan? Siapa itu? "
" Itu gadis hantu teman Gofan "
" Oh.. Jadi dia sudah pergi mencarinya. Mm... Nyonya, kamu guru Gofan bukan? " Tanya Duan Tianlang.
Mouhuli mengangguk membenarkan pertanyaan Duan Tianlang.
" Begini. Aku mendapat pil ini dari Jendral Pasukan Taizongbudui, katanya pil ini akan membantu Gofan pulih sepenuhnya " Ucap Duan Tianlang usai melihat Mouhuli mengangguk.
" Bagaimana menurutmu? " Imbuh Duan Tianlang bertanya.
Mouhuli meraih botol obat yang ada di tangan Duan Tianlang dan memeriksa botol tersebut.
" Jangan. Jangan dibuka tutup botolnya. Jika kamu membukanya, pil itu harus segera diminum Gofan atau khasiatnya akan hilang " Ucap Duan Tianlang ketika melihat Mouhuli hampir saja membuka tutup botol Pil Pemurnian Energi.
" Pil apa ini? Apa kamu yakin ini akan berhasil? Aku khawatir Jendral itu punya niat tersembunyi dengan melakukan ini " Tanya Mouhuli.
" Itu disebut Pil Pemurnian Energi. Ini Pil langka, aku yakin Gofan akan sembuh setelah meminum ini... "
" Jendral itu memang punya niatan tertentu. Dia ingin menemui Gofan dan bicara dengannya " Sahut Duan Tianlang.
" Yakin hanya untuk bertemu saja? Jangan-jangan itu hanya siasatnya untuk menangkap Gofan "
Mouhuli masih meragukan alasan di balik pemberian Pil Pemurnian Energi oleh Lixiayo tersebut.
" Itu dipikirkan nanti saja. Bagaimana menurutmu? Apa kita akan memberikan Pil ini kepada Gofan atau tidak? " Tanya Duan Tianlang.
" Tuan Tianlang. Aku tidak mengerti dengan sikapmu. Bukankah kamu tahu bahwa karena diriku.. murid yang bernama Wukong itu mati saat menyegelku di Hutan Tanpa Malam. Mengapa kamu tidak membahas itu sedikit pun selama delapan hari ini? "
Bukannya membantu mengambil keputusan untuk memberi Gofan Pil itu atau tidak, Mouhuli justru menanyakan sikap Duan Tianlang kepada dirinya.
Selama delapan hari berada di Perguruan Tunjung Putih, tidak ada seorang pun yang menyalahkan dia atas kematian Wukong, si Pewaris tidak langsung dari Dewa Perang.
" Sudahlah Nyonya. Itu semua takdir. Lagi pula kejadian itu sudah berlalu ratusan tahun. Tidak ada yang mengingat kejadian itu kecuali kami, para pejabat di perguruan ini " Sahut Duan Tianlang.
Sesungguhnya, semalam sebelum perubahan besar-besaran terjadi di Hutan Bambu Kemarau. Duan Tianlang mendapat mimpi didatangi oleh Tianyuan, si Dewa Perang. Dalam mimpinya, Tianyuan berpesan agar Duan Tianlang beserta Pasukan Cakar Kuning untuk mengikuti dan melindungi Gofan.
Mouhuli menggeleng-gelengkan kepala dan menghela napas pelan setelah mendengar jawaban Duan Tianlang. Dalam benaknya, semua kejadian yang menimpanya sungguh rumit.
__ADS_1
Dulu Mouhuli bertarung dengan Wukong dan Zuena, juga dengan Xionan. Tetapi sekarang, karena Gofan, dia justru terhubung kembali dengan orang-orang tersebut. Bukan sebagai musuh tetapi sebagai orang yang berjalan bersama Gofan.
Mouhuli memandang ke arah Gofan dan menunjukkan botol obat itu kepada Gofan.
" Gofan. Aku tahu kamu pasti mendengar apa yang telah kami bicarakan. Jika kamu setuju mengkonsumsi obat ini berkediplah dua kali, jika tidak maka berkediplah satu kali " Ucap Mouhuli.
' Benar juga, kenapa aku tidak kepikiran untuk bertanya langsung kepadanya ' Batin Duan Tianlang.
' Obat ini dari Jendral Pasukan Taizongbudui? Haruskah aku mempercayainya? Pil Pemurnian Energi memang sangat langka... Haruskah? ' Pikir Gofan.
Dari Kitab 100 Kehidupan, Gofan mengetahui untuk membuat satu butir Pil Pemurnian Energi akan memerlukan 999 orang pendekar di ranah Human God paling tidak pada tahap awal. Sehingga Gofan tidak pernah membayangkan bahwa kemungkinan Pil itu ada dan bisa diketemukan.
Karena penasaran akan kebenaran Pil tersebut, Gofan mengabaikan kemungkinan ada motif tersembunyi yang direncanakan Lixiayo.
Gofan mengedipkan kelopak matanya sebanyak dua kali kepada Mouhuli.
" Bagus. Dia setuju. Nyonya, cepat buka dan berikan padanya " Ucap Duan Tianlang tidak sabar melihat kesembuhan Gofan.
" Sabarlah. Tuan Tianlang, bisa kamu ambilkan gelas berisi air di meja itu " Tunjuk Mouhuli ke arah sebuah gelas di meja dekat jendela kamar Gofan.
" Ini.. " Duan Tianlang mengambil gelas itu dan memberikannya kepada Mouhuli
" Gofan minumlah " Mouhuli segera memasukkan Pil Pemurnian Energi ke dalam mulut Gofan setelah dia mengeluarkannnya dari dalam botol obat.
Mereka kemudian menunggu Gofan membaik. Tapi setelah belasan hela napas kemudian, Gofan justru tertidur pulas. Suara dengkurannya terdengar jelas di telinga Mouhuli dan Duan Tianlang yang telah menunggu hasil dari Pil Pemurnian Energi.
" Apa ini? Kenapa dia justru tertidur begini? " Tanya Duan Tianlang.
Tetapi belum sempat Duan Tianlang pergi ke Aula Tamu perguruannya, tubuh Gofan yang tadinya terlihat seperti sedang tertidur tiba-tiba kejang-kejang.
" Ini!? Kenapa sekarang justru begini? " Teriak Duan Tianlang panik.
" Tenang ! Dia sepertinya hanya sedang menerobos ke ranah selanjutnya ! " Ucap Mouhuli setelah melihat cairan hitam lengket seperti ingus mengalir keluar dari pori-pori kulit Gofan.
' Bocah ini, entah beruntung atau bagaimana. Usianya bahkan belum 13 tahun tapi dalam beberapa hari saja dia sudah menerobos hingga ke ranah Big Master tahap akhir ' Batin Mouhuli.
" Benar. Dia naik tingkat lagi... Bagaimana ini mungkin? Delapan hari yang lalu dia baru saja menerobos ke ranah Big Master tahap awal ketika bertarung denganmu.. "
" Sekarang hanya dengan menelan sebutir Pil Pemurnian Energi, dia menerobos ke tahap akhir " Ucap Duan Tianlang ketika dia melihat kotoran tubuh Gofan.
" Tidak. Ini belum berakhir. Dia masih terus menerobos... Lihat ! " Tunjuk Mouhuli ke arah cairan hitam lengket yang terus menerus keluar dari pori-pori kulit Gofan.
" Sial. Baunya semakin busuk saja... " Duan Tianlang menutup hidungnya dengan jempol dan jari telunjuk tangan kanannya.
" Kita keluar saja dulu. Aku rasa ini akan memakan waktu yang lama. Dia masih terus menerobos... "
" Jika kita terus di sini, mungkin kita akan mati karena bau ini " Ucap Mouhuli.
Mereka berdua akhirnya memutuskan keluar dari dalam kamar Gofan dan menutup pintu kamar tersebut dari luar. Duan Tianlang dan Mouhuli berdiri di depan pintu berdampingan dengan dua murid yang telah berjaga di depan kamar Gofan sebelumnya.
__ADS_1
" Wutuyan. Wusiyi. Kalian pergilah. Biar kami yang berjaga di sini " Ucap Duan Tianlang kepada dua murid tersebut.
Selama delapan hari para murid akan bergantian berjaga di depan kamar Gofan. Pada hari kedelapan ini adalah tugas Wutuyan dan Wusiyi untuk berjaga. Keduanya adalah saudara kakak beradik yang telah sejak kecil menimba ilmu di Perguruan Tunjung Putih.
" Baik Mahaguru. Kami undur diri " Sahut keduanya sembari bergegas pergi menuju ke halaman latihan perguruan.
" Itu mereka, keturunan trah keluarga Wu. Jika Nyonya ingin meminta maaf, seharusnya kepada mereka. Tapi tentu saja mereka tidak akan tahu menahu tentang Wukong... "
" Waktu telah membuat trah Wu lupa bahwa mereka pernah menjadi pewaris tidak langsung dari Dewa Perang " Duan Tianlang menunjuk ke arah dua murid yang telah pergi tersebut sembari menggelengkan kepalanya.
" Bisa Tuan ceritakan apa yang terjadi kepada trah Wu sehingga mereka lupa bahwa mereka adalah pewaris tidak langsung? " Tanya Mouhuli.
" Entah darimana aku harus memulai. Saat itu... " Duan Tianlang bercerita panjang lebar mengenai perjalanan Wukong dan trah Wu sebagai pemilik Tongkat Emas Naga Kembar sebelumnya.
Hampir ratusan hela napas berlalu ketika Duan Tianlang bercertia. Saat itu pula cairan hitam lengket mengalir keluar dari celah bagian bawah pintu kamar Gofan.
" Apa-apaan ini? Banjir kotoran tubuh!? " Duan Tianlang berhenti bercerita saat dia terkejut mendapati kotoran tubuh Gofan merembes keluar dari dalam kamar.
" Ini masih terus mengalir. Kotoran ini masih terus mengalir keluar... "
" Aku belum pernah melihat hal semacam ini terjadi. Apa ini hal yang wajar? atau ada yang salah dengan Pil itu? " Tanya Mouhuli.
" Entah. Sebaiknya kita tanyakan hal ini kepada Jendral Lixiayo " Sahut Duan Tianlang.
Setelah mereka tiba di Aula Tamu, Duan Tianlang menceritakan semua keanehan yang terjadi kepada Gofan setelah menelan Pil Pemulihan Energi dan menanyakan keanehan yang terjadi tersebut kepada Lixiayo, namun Lixiayo justru bingung.
" Apa!? Banjir kotoran tubuh?... "
" Tabib Zuena hanya mengatakan dia akan pulih dan bukan menerobos, apalagi sampai menerobos beberapa ranah sekaligus " Ucap Lixiayo.
' Sial. Kenapa jadi begini?, bukankah seharusnya dia akan segera pulih. Kenapa dia justru menerobos? Lalu bagaimana dengan rencanaku? ' Batin Lixiayo.
Semua orang yang berada di Aula Tamu juga terkejut mendengar hal itu. Mereka tidak menyangka Pil Pemurnian Energi bisa membantu terobosan peningkatan budidaya seseorang.
Tentu saja mereka tidak menyangka hal tersebut, sebab Pil itu baru muncul kembali setelah amat sangat lama tidak diketemukan di Benua Penda.
" Sungguh beruntung. Hanya dengan meminum sebutir Pil itu, dia terus menerus menerobos " Ucap Xiongmeng.
" Tapi, apa itu mungkin? Bagaimana jika kita lihat dulu, mungkin rembesan kotoran tubuhnya sudah berakhir " Suezilu merasa mustahil bagi seseorang untuk terus menerus menerobos dalam sekali jalan.
Suezilu lebih tidak meyakini lagi jika rembesan kotoran tubuh Gofan itu sampai menggenang dan membajiri kamarnya. Dia berpikir Mouhuli dan Duan Tianlang hanya terlalu membesar-besarkan hal yang sedang terjadi.
" Benar. Ayo kita lihat ke sana! " Seru Lengjing yang begitu penasaran ingin melihat secara langsung kejadian yang diceritakan Duan Tianlang.
' Banjir kotoran tubuh? Apa itu mungkin? Jika seseorang terlalu banyak mengeluarkan kotoran tubuh, bukannya tubuhnya akan menjadi benar-benar kering ' Pikir Qingyue.
Pada akhirnya, mereka semua bergegas pergi menuju ke arah kamar Gofan.
Tetapi, baru beberapa langkah kaki mereka keluar dari Aula Tamu, aroma busuk yang amat sangat menusuk hidung mereka masing-masing.
__ADS_1
Bersambung...