Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 193. Jiang Buyi


__ADS_3

Kemunculan Gadis bersisik itu membuat semua orang di kerumunan terperangah, mereka mengenali siapa sosok Gadis itu.


Setelah melempar sekantong Kristal Semesta, Gadis bersisik hijau itu melesat ke tengah pertempuran Hongtian dan dua Naga ilusi.


“Jiang Buyi...” Serempak kerumunan menyerukan namanya. Pastinya Gadis bersisik ini adalah tokoh terkenal di Tanah Surgawi Kecil.


“Apa ini sudah 100 tahun masa pengekangan?.”


“Sepertinya begitu...”


“Sial. Ini pasti akan menjadi ajang balas dendamnya, apalagi sekarang tiga Song bersaudara juga sedang menyerang seekor Styx lain.”


“Siapa Jiang Buyi ini?” Meski demikian akan ada beberapa yang tidak terjamah berita dan bertanya di tengah kerumunan.


“100 tahun yang lalu, dia adalah seekor Styx tingkat menengah, wujudnya masih setengah binatang langit, saat itu, tiga Song bersaudara memburunya untuk mendapatkan Empedu Styx. Konon itu obat mujarab untuk penyakit tertentu... Jiang Buyi hampir mati saat itu, tapi berkat pertolongan seseorang, dia selamat dan melakukan pertapaan ala Styx, yang dikenal sebagai 100 tahun masa pengekangan... Dan lihat.. Sekarang dia seorang Dewa Kecil, hanya sedikit jejak Styx melingkar di lehernya.”


**


“Salam Kakak Song!.” Ucap si Gadis bersisik itu terkekeh pelan tidak jauh dari tempat pertarungan Hongtian. Dia terbang melayang menghalangi pandangan Hongtian ke arah Kapal Langit.


BOOOMM! Ledakan terjadi, tepat saat Song Hongtian berhasil menghancurkan kedua Naga ilusi. Kedua Naga ilusi berubah menjadi butiran-butiran cahaya emas yang kemudian terbang kembali ke Tongkat Emas Naga Kembar.


Mata Song Hongtian berkedip, terkejut melihat kemunculan Jiang Buyi, “Klan Jiang... ENYAH!!.” Song Hongtian mengibaskan lengan dan membuat riak angin menghantam si Gadis bersisik bernama Jiang Buyi itu.


“Sepertinya Kakak Song sedang terburu-buru, bagaimana kalau aku bantu? Apa Kakak Song keberatan?.”


Jiang Buyi berdiri menghalangi langkah Song Hongtian. Kibasan lengannya tidak berpengaruh apa-apa terhadap Jiang Buyi.


“ENYAH!! Berhenti menghalangi jalanku!.” Raung Song Hongtian sekali lagi.


“Kakak Song. Kenapa begitu tidak sabaran? Kita sudah lama tidak bertemu... Apa kamu sudah melupakanku?.”


Bang! Bang! Bang! Ledakan terdengar dari arah Kapal Langit berada. Wajah Hongtian semakin merah dan dia memekik marah sekali lagi, “JIANG BUYI...Enyah atau hari ini aku akan benar-benar membunuhmu!” ancamnya. Dari tempatnya berada, dia dapat melihat kedua saudaranya dipukuli Tongkat Emas dan Kapal Langit bahkan diambil oleh Styx yang menunggangi tongkat itu.

__ADS_1


Jiang Buyi tertawa malu-malu, “Ternyata Kakak masih mengingatku...” kemudian ekspresi malu-malunya berubah menjadi tatapan dingin yang membuat niat membunuh terpancar jelas dari dirinya, “Hari ini bukan kamu yang akan membunuhku tapi sebaliknya, AKU PASTI MEMBUNUHMU!!.”


*Zyuut* Jiang Buyi melesat, sebuah bayangan ular raksasa bertanduk muncul di belakangnya. Itu pudar dan tidak terlalu jelas, namun masih bisa terlihat.


“Jiwa Iblis? Dia berhasil mencapai tahap ini? Sial!!.” Melihat bayangan ular raksasa yang melesat menyerang bersama Jiang Buyi, rasa krisis membuat detak jantung Hongtian semakin cepat, dia mengeluarkan sebuah giok dan memecahkannya.


“Memanggil bantuan? Sudah terlambat.” Jiang Buyi membentuk segel tangan dan bayangan ular raksasa bertanduk itu memancarkan cahaya kebiruan lalu meraung keras ke arah Hongtian.


ROOOOAAARRRRR!!


BANG! Riak angin besar menghantam Hongtian di udara. Dia terdorong mundur tiga langkah dan memuntahkan seteguk darah. Sinyal bantuan dari batu giok yang dia pecahkan sebelumnya langsung hilang terhantam riak angin besar tersebut.


Di sisi lain...


“Sial.. Kenapa Ular itu muncul di saat seperti ini?” Keluh Song Wuya sembari menahan serangan Haiwa.


“Sepertinya dia sudah menyelesaikan pertapaannya... Sekarang dia sudah memiliki Jiwa Iblis, itu setara Star Pioneer dengan tiga Jiwa Bintang, Tetua tidak akan bisa menang darinya.” Sahut Song Tengfei sembari menangkis pukulan Haiwa.


Wajah keduanya pucat, mereka tidak menyangka kemunculan Jiang Buyi akan membuat rencana mereka berantakan.


“Haiwa apa itu Jiwa Iblis?.” Tanyanya dari atas Kapal Langit.


Hanya Haiwa yang bisa mendengar pertanyaan itu, kedua Song bersaudara atau pun orang lain yang memperhatikan mereka, hanya akan mendengar Gofan mengucapkan kata aneh yang terdengar seperti, 'Styx Styx Styx?.'


Gofan sudah lama menyadari hal itu, dari situ dia akhirnya tahu kenapa Kaum Styx disebut dengan nama Styx... ya.. karena itu.. karena setiap kali mereka bicara hanya akan terdengar kata 'Styx'. Semacam bahasa yang hanya bisa dimengerti sesama kaumnya, seperti bahasa Makhluk buas di Benua Penda.


Sementara untuk Haiwa, dia adalah senjata Gofan dan telah mengalami penyatuan kesadaran dengan Gofan, dia secara langsung dapat mengerti apa yang diucapkan Gofan, meskipun bukan Kaum Styx.


Sembari bertarung, Haiwa menjawab melalui pikirannya, “Kaum Styx memiliki cara budidaya mereka sendiri. Mereka tidak membentuk Jiwa Bintang tapi Jiwa asli binatang langit yang mereka miliki semenjak lahir, itu disebut Jiwa Iblis.”


“Tuan. Aku tidak mengerti kenapa Tuan akhirnya lebih menyerupai Styx setelah melewati Gerbang Dewi Ruyi.. Mungkin sebenarnya Tuan juga memiliki Jiwa asli binatang langit.. Jadi Tuan mungkin bisa berlatih budidaya seperti Styx. Tapi itu hanya dugaanku semata.” Imbuh Haiwa mengakhiri ucapannya sebelum membanting kuat ke arah kedua Song bersaudara.


Bang! Bang! Dua Song bersaudara terpelanting mundur berputar-putar di udara dan memuntahkan beberapa suap darah sebelum berhenti dengan wajah yang semakin pucat. Luka mereka sekarang bahkan lebih parah daripada luka pertempuran sebelumnya.

__ADS_1


“Apa yang harus kita lakukan?.” Tanya Song Tengfei, kakinya gemetaran ketika melihat Tetua Song dibantai habis-habisan oleh Jiang Buyi.


Song Wuya menelan ludah, dia bisa merasakan betapa sakitnya serangan ular raksasa itu, kemudian matanya yang panik kembali menatap ke arah Haiwa yang bersiap menghantam lagi, “Kabur!! Kita harus kabur.. Ukh...” Song Wuya menepuk dadanya kuat-kuat dan batuk seteguk darah sebelum merapal mantra teleportasi.


Darahnya membentuk lorong hisap seperti portal darah, dalam sekejap itu melebar hingga menelannya dan menghilang. Song Tengfei melakukan hal yang sama dan menghilang di dalam portal teleportasi darah miliknya. Semua itu terjadi begitu cepat tapi perlu waktu untuk menggambarkannya.


Haiwa berdiri diam sesaat, sebelum kembali dan langsung masuk ke telinga Gofan, “Tuan.. Terimalah ini, tadi aku telah mengambil kantong ruang milik si gemuk, di dalamnya ada beberapa Kristal Semesta untuk mengendalikan Kapal ini dan juga tanda pengenal untuk melewati Gerbang masuk.” Nada suara Haiwa semakin lama semakin melemah, jelas, pertarungan tadi telah menghabiskan banyak Energi Kehidupannya, terutama ketika Song Hongtian menghancurkan dua Naga ilusinya, Gofan merasakan, cahaya kehidupan Haiwa meredup sesaat.


Gofan menerima Kantong Ruang, dia menggenggamnya dengan tatapan kesal. Dia kesal pada dirinya, masih begitu lemah, sehingga hanya bisa menonton Haiwa melindunginya, bahkan seorang Gadis tidak dikenal juga datang untuk membantunya mengatasi tiga Song bersaudara.


Tekad terpancar dari kedua mata Gofan, “Aku harus lebih dan lebih kuat lagi.. Membalas Dewa Gelap dan semua yang telah menindasku!.”


Semenjak kekalahan melawan Dewa Gelap, Gofan lebih menyadari kenyataan dunia ini, bahwa di semua Alam Surga hanya ada dua tipe kehidupan. Satu kehidupan sebagai PENINDAS dan kehidupan lainnya sebagai yang DITINDAS. Bagi yang tidak mau ditindas, kekuatan adalah jawabannya. Hanya yang kuat yang bisa MENINDAS.


Gofan menghela napas pelan, “Terima Kasih Haiwa.” Ucapnya setelah mengeluarkan tanda pengenal untuk memasuki Gerbang Langit Pertama.


Kapal Langit itu harus ditenagai dengan Kristal Semesta untuk bisa meluncur. Setelah menempatkan beberapa buah Kristal Semesta, Gofan mengarahkan kemudi Kapal, melesat ke arah Gerbang Langit Pertama.


Beberapa hela napas setelah melewati pertarungan antara Song Hongtian dan Jiang Buyi, ledakan besar terdengar dari belakang Kapal.


BOOOOMMMM!! Ledakan berisi jeritan tangis kematian terdengar, meskipun suara jeritan itu teredam oleh kerasnya suara ledakan.


Kapal Langit bergoyang di tempat, Gofan berbalik dan menoleh ke belakang, saat pandangan matanya bertemu dengan tatapan Gadis bersisik hijau, Gadis itu tersenyum ke arahnya.


“Kamu berhutang satu nyawa padaku. Aku Jiang Buyi.. ingat untuk membayar hutangmu ini!” Teriak Jiang Buyi sembari mengibaskan lengan, meniup abu tubuh Song Hongtian. Song Hongtian mati dalam tubuh dan jiwa, hanya menyisakan abu putih yang melayang di atas Laut Sembilan Bintang.


Gofan mengatupkan kedua tangan dan membungkuk sedikit, senyuman juga muncul di wajahnya. “Jiang Buyi. Aku akan mengingatmu... Terima kasih.” ucapnya dalam hati.


Saat berbalik dan melewati Gerbang Langit Pertama, kilasan wajah Yubing terlintas di benak Gofan. Cara Jiang Buyi menolongnya, mengingatkan pertemuan pertamanya dengan Yubing... “Yubing... Maafkan aku, aku tidak bisa menyelamatkan Meiling dan Nian.” Air mata menetes tanpa sadar, menumpuk amarah di dalam hati Gofan.


Dia melihat ke dalam Cincin Dimensi dan menghela napas. Di dalam Cincin, Xionan dan beberapa orang lain yang berhasil dia selamatkan telah menghilang, dipindahkan oleh Dewa Perang Tianyuan dan tidak ikut terbawa ke Alam Besar, bagaimana pun mereka tidak akan dapat bertahan hidup di Alam Besar tanpa mencapai ranah Saint God. Tapi untuk Gofan, itu tentu saja sebuah pengecualian.


Dalam hatinya Gofan bertanya-tanya, Apa yang terjadi pada Xionan, Yubing dan Kedua Gurunya? Apakah pada akhirnya Dewa Gelap berhasil mencapai Saint God dan muncul di Alam Besar?

__ADS_1


Di saat yang sama, saat Gofan melewati Gerbang Langit Pertama, di Alam Langit Kedua, jauh di dalam sebuah Gunung. Seorang Wanita tua tidur di dalam sebuah peti mati putih, tubuhnya terlihat seperti diawetkan, itu mayat, tapi hidup. Kedua mata Wanita tua itu terbuka dan sebuah kalimat terdengar meski mulutnya tidak mengucapkan sepatah kata pun, “Aliansi Pendalaman Musim... Bersiaplah... Yang pergi telah kembali.” Suaranya menggelegar dari dalam Gunung.


Bersambung...


__ADS_2