Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 228. Menghadapi Kelabang Seratus Mata bg. 1


__ADS_3

Di dalam Menara Enam Pilar Binatang...


Tubuh Gofan dan dua Len bersaudara yang tidak sadarkan diri diseret oleh Kelabang Seratus Mata dan digantung di dalam sebuah kepompong yang terbuat dari bagian kulitnya. Kepompong itu digantungnya di sekitar Pilar.


Sementara itu, kesadaran Gofan dan dua Len bersaudara telah jatuh ke dalam perangkap ilusi dari cincin mata Kelabang Seratus Mata.


Gofan menunduk, dia bersimpuh, kini kesadarannya berada di sebuah hamparan laut biru yang luas.


“Nak. Aku tahu kamu sudah lama sadar. Kenpa kamu masih diam dan menunduk?” Sebuah suara bergema di lautan tersebut. Suara itu terdengar tidak asing di telinga Gofan.


Perlahan Gofan mengangkat kepalanya dan mencoba mencari sumber suara, “Senior. Apakah kamu adalah perwujudan kesadaran dari Kelabang Seratus Mata?.” tanya Gofan sedikit ragu.


Semenjak masuk ke dalam perangkap ilusi dan muncul di lautan biru yang luas, Gofan sudah bisa menebak dengan pasti bahwa dia kini beradi dalam Samudra Kesadaran.


Dalam pengetahuan Gofan, Samudra Kesadaran adalah tahap lebih tinggi dari Lautan Kesadaran. Jika Gofan memiliki banyak keberuntungan untuk meningkatakan Energi Mentalnya, mungkin tidak lama lagi Lautan Kesadaran miliknya akan berkembang menjadi Samudra Kesadaran seperti tempat yang kini dia masuki.


Bedanya tentu saja, di dalam Lautan Kesadaran Gofan ada Pohon Jiwa yang berakar dari Mata Ilahi. Jadi, jika kelak Lautan Kesadarannya berkembang menjadi Samudra Kesadaran, maka kemungkinan Pohon Jiwa juga akan bertumbuh semakin besar. Tidak seperti di tempat Gofan berada sekarang. Di dalam Samudra Kesadaran milik Kelabang Seratus Mata hanya ada hamparan lautan yang luas, itu kosong... bahkan air lautnya diam tidak beriak, tidak berombak.


Suara itu tertawa lantang, saat itu sedikit ombak menggulung di lautan biru karena gelombang tawa itu, “Belum lama kamu menginjakkan kaki di Alam Langit dan kamu sudah melupakan aku? Apakah suaraku tidak bisa mengingatkanmu kepadaku?”


“Suaranya memang tidak asing, tapi aku tidak bisa mengingat siapa dia.”


Hahaha... “Bagaimana dengan Mata Ilahi, Teratai Racun Pelangi dan Gading milikku? Apa kamu masih mengingatnya?”


“Dewa Pelindung... Tapi bagaimana bisa Dewa muncul di Samudra Kesadaran milik Kelabang Seratus Mata ini?”


“Nak. Aku di sini karena Mata Ilahi... Mata Ilahi membuat Kelabang ini tidak bisa menemukan jejak keberadaan kesadaranmu di sini. Seharusnya ilusi semacam ini tidak bisa mengalahkanmu, hanya saja dulu Kelabang ini mendapatkan sedikit keberuntungan dari pemahaman kekuatan Mata Ilahi, itu membuatnya mampu meingkatkan Kekuatan Mentalnya...”


“Jadi selama ini sisa Jiwa Tian Baixiang ada di dalam Mata Ilahi? Apa Kelabang ini ada kaitannya dengan Mata Ilahi?”


“Benar. Dia pernah menjadi peliharaanku saat aku mempelajari racun. Dia menyaksikan bagaimana aku melatih Mata Ilahi. Saat itu, dia terpapar banyak pencerahan ketika aku meningkatkan kekuatan Mata Ilahi. Kesadarannya berkembang dan dia menjadi buas, dia serakah dan menginginkan Mata Ilahi milikku. Aku melumpuhkan budidayanya hingga dia menjadi kembali ke bentuk Binatang... Aku melepaskannya dan membiarkannya hidup, tidak ku sangka, kini dia hidup di dalam Menara Enam Pilar ini. Menjadi penjaga Menara ini.”


Gofan sedikit tersentak, dia terkejut mendengar ucapan Dewa Pelindung, bagaimana tidak, dia belum mengajukan pertanyaan tapi Dewa itu sudah membenarkan pendapatnya.


“Nak. Ini pesan terakhirku. Kalahkan Kesadaran Kelabang ini, itu akan berguna bagi perkembangan Mata Ilahimu. Dan juga, sebaiknya kamu bergegas, dua temanmu mungkin tidak akan bisa bertahan lebih lama dari serangan Kelabang ini.... Aku pergi Hahaha..”

__ADS_1


“Terima Kasih Dewa.” Gofan mengatupkan kedua tangan memberi hormat ke udara kosong di hadapannya.


Tatapan mata Gofan memandang jauh ke arah barat laut, dia bisa merasakan ada pertarung yang tengah terjadi di arah itu. Dengan satu hentakan kaki, Gofan melompat dan meluncur di udara, dia terbang melintasi hamparan laut biru.


**


“Ruye!! Mundur, aku akan menahannya! Cepatlah pergi dari sini.” Len Hui mengayunkan pedangnya ke arah Kelabang Seratus Mata.


Tanpa Gofan di sekitar, mereka berdua tidak bisa lagi melancarkan serangan bilah pedang angin. Kini mereka harus menghadapi langsung serangan Kelabang Seratus Mata.


Len Ruye menyadari bahwa pertarungan ini memiliki keganjilan. Mereka sudah bertarung ratusan pukulan tapi tampaknya Kelabang Seratus Mata justru semakin menguat, sedangkan mereka berdua semakin kelelahan. Meski demikian Len Ruye tidak bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi, dia juga bingung ketika mendapati dirinya berada di hamparan lautan biru yang luas.


Kedua Len bersaudar ini tidak menyadari bahwa kini kesadaran mereka sudah terperangkap ke dalam Samudra Kesadaran milik Kelabang Seratus Mata. Semakin lemah mereka semakin cepat Jiwa mereka dilahap oleh Kelabang Seratus Mata. Itu semua ilusi, tapi mereka terlalu lemah untuk bisa menyadari semua itu.


“Tidak Kak!.” sahut Len Ruye, “Apapun yang terjadi, aku akan tetap bersamamu!.” tangannya gemetar ketika pedang miliknya terpantul karena kulit keras Kelabang Seratus Mata.


Entah bagaimana mereka bisa berpindah dari dalam Menara Enam Pilar Binatang ke lautan biru yang luas, itulah yang ada di dalam pikiran keduanya. Lalu dimana Mo Fan?!


“HYAAAAAA!!!!” sebuah serangan Tongkat emas raksasa memenuhi udara dan menimpa tubuh Kelabang Seratus Mata.... BOOOMMMM!


“Kalian baik-baik saja?” Gofan tersenyum di hadapan dua Len bersaudara. Kini ketiganya berdiri melayang di atas sebuah Tongkat Emas raksasa.


Air mata menggenang di mata Len Ruye, meskipun itu tersamarkan oleh air laut yang membasahi wajahnya, “Kakak Fan!.” dia melompat dan berlari, memeluk Gofan. Hiks! Hiks! suara isak tangis jelas terdengar, “Te-terima kasih.”


“Ru-ye... Ini sedikit sesak..” sangat hangat dipeluk seorang gadis secantik Ruye, tapi dia memeluk Gofan terlalu kecang. Tubuhnya bahkan sedikit bergetar seperti ketakutan, “Semua sudah baik-baik saja..”


“Eh.. Ma-Maaf!” wajah Ruye terlihat memerah, pipinya menggembung dan dia menundukkan wajahnya. Dia melepas pelukannya dan bergerak mundir ke belakang Len Hui.


“Hehehe... Ada apa dengan wajah itu? Apa dia malu padaku?”


“Mo Fan terima kasih.” Len Hui tersenyum melihat tingkah adiknya, dengan tangkupan tangan dia memberi hormat kepada Gofan.


“Tidak masalah Saudara Hui.” Gofan merasa beruntung keduanya masih sempat dia selamatkan, jika sampai kesadaran mereka melemah, maka Jiwa mereka akan benar-benar dilahap Kelabang Seratus Mata. Semua hanya masalah waktu.


BYUUR!! riak-riak ombak muncul dari laut biru di bawah ketiganya!. Tempat yang tadinya begitu tenang, kini tiba-tiba bergejolak, seperti lautan akan meletus dan langit akan runtuh!.

__ADS_1


Melihat itu Gofan segera membentuk sebuah segel tangan, dua jarinya dia arahkan tepat ke dahi dimana Mata Ilahi berada, “Kalian mendekatlah, aku akan mengeluarkan kalian berdua dari Samudra Kesadaran ini! Tutup mata kalian!.”


Len Hui dan Len Ruye tidak mengerti apa yang dimaksud Gofan, tapi melihat perubahan yang terjadi di lautan biru di bawah mereka, keduanya tidak bisa tidak panik. Meski mereka tidak mengerti apa itu Samudra Kesadaran, mereka mengikuti kata-kata Gofan. Keduanya memejamkan mata dan berdiri mendekat ke arah Gofan.


Meski saat ini Gofan tidak bisa membuka Mata Ilahi secara penuh, dia masih bisa membuka sedikit celah dan memancarkan cahaya kekuatannya untuk membantu kedua Len bersaudara keluar dari Samudra Kesadaran Kelabang tersebut.


*Blazh* bersamaan dengan menghilangnya cahaya emas yang terang, kedua Len bersaudara menghilang. Kesadaran mereka telah kembali ke tubuh mereka masing-masing.


Semua terjadi begitu cepat, saat itu pula, raungan mengamuk muncul dari dalam lautan biru... ROOOAAAARRRRRR!!


Duuuaaarrr!! Duuuaaaaarr!! Duuuaaaaarrr!! kolom-kolom air raksasa menjulang tinggi, meledak dari bawah ke atas!!!


Gofan menghindar dari ledakan-ledakan itu, tapi sebuah kepala raksasa menghantamnya tepat ketika dia berbalik untuk menghindar... Duuaagghhh!!


Gofan terpelanting mundur di udara, beruntung tubuhnya cukup kuat untuk menahan serangan itu. Kini dia melayang seperti sebuah patung emas di udara.


“Dia bisa sesuka hati mengubah ukuran tubuhnya...” gumam Gofan. Kini Kelabang Seratus Mata berpuluh-puluh kali lebih besar daripada ukurannya yang pernah dilihat Gofan sebelumnya.


Itu adalah dunia milik Kelabang Seratus Mata, dia bisa sesuka hati mewujudkan penampilan dirinya.


“Aku sudah lama tidak menggunakan ini... Mari kita coba! Bersiaplah monster busuk!.”


Gofan membentuk sebuah segel tangan, “72 Sihir Perubahan Abadi: Berubahlah.”


BLAZH** BYUUR** tubuh Gofan membesar, berkali-kali lipat. Sekarang dia tidak kalah besarnya daripada Kelabang Seratus Mata itu.


Kini pertarungan nampak adil, Manusia bertubuh emas raksasa menghadapi Kelabang rakasasa.


Bersambung...


“Aneh sekali. Apa pintu itu berkarat? Sekuat apapun kita menariknya, dia tidak bisa terbuka!.” keluh kesal Liu Ling.


“Sudahlah. Kita semua sudah mencobanya, pasti ada cara khusus untuk membuka pintu baja hitam itu. karena kita tidak bisa masuk, kita akan menunggu di sini. Tempat ini sepertinya dihindari oleh para Binatang Langit. Kita pasti aman di sini.” ucap Chen Feng.


Jiang Mulan berdiri diam menatap tugu batu besar dihadapannya. Dia diam dan entah apa yang tengah dia pikirkan.

__ADS_1


Dengan demikian, Chen Feng, Jiang Mulan, dan anggota lainnya memutuskan untuk menunggu Gofan di luar Menara Enam Pilar Binatang.


__ADS_2