
" Arghh... Kepalaku!! " Gofan menggeram kesakitan dan memegangi kepalanya.
Gofan tersentak sadar, saat dia merasakan rasa sakit yang teramat sangat di kepalanya.
Gofan membuka mata dan melihat ke sekelilingnya, dia berada di tempat yang tidak dia kenali. Selain itu, ada seorang pria tua dan seorang gadis yang terlihat sebaya dengannya sedang memandangi dirinya.
' Bukankah aku sedang berada di dasar danau?, Dimana ini?, Siapa kedua orang ini? ' Pikir Gofan.
" Akhirnya kamu sadar juga pendekar muda. Tenang... Kami bukan orang jahat, tenang saja, luka-lukamu juga sudah ku obati "
" Perkenalkan namaku Longwang, dan ini anak gadisku, namanya Longyun, kami membawamu kemari untuk memberimu sesuatu " Ucap pria tua itu ketika dia melihat wajah Gofan yang bingung dan penuh kekhawatiran.
" Terima kasih Paman. Tapi dimanakah ini? "
Gofan mengucapkan terima kasih kepada Longwang setelah melihat tubuhnya yang dipenuhi perban, bahkan kepalanya juga dibalut dengan perban. Longwang benar-benar sudah mengobatinya.
Gofan terluka karena ledakan-ledakan yang terjadi pada dirinya. Gofan mengingat bahwa saat dirinya sudah menyerap seluruh energi surga dari batu mental, tubuhnya bercahaya kehijauan dan gelombang energi yang begitu besar keluar dari tubuhnya, meledak-ledak sebanyak 11 kali.
Namun anehnya, setiap kali ledakan itu berakhir, tubuhnya akan menyerap kembali energi yang sudah keluar itu bersama dengan energi lain yang ada di sekitarnya, begitu terus menerus hingga sebelas kali.
" Kamu berada di rumahku, kita masih berada di dasar danau... " Sahut Longwang.
*Zyuut*
Longwang mengibaskan tangannya dan gambaran sebuah kerang kecil seukuran bayi manusia muncul di hadapan Gofan.
" Sekarang, kita sedang berada di dalam kerang itu, aku menyebutnya Kerang Ajaib, itulah rumahku "
Longwang menjelaskan bahwa saat ini, mereka sedang berada di dalam sebuah kerang kecil di dasar danau. Longwang mengibaskan tangannya sekali lagi dan gambar itu pun hilang.
Gofam cukup terkejut, dia bisa berada di dalam sebuah kerang seukuran itu. Namun Gofan tidak bertanya, dia sudah mengerti bahwa kerang kecil itu pastilah sebuah benda ajaib.
" Pendekar muda. Terimalah ini... " Longwang memberikan sebuah bola kristal seukuran lima kali kepalan tangan pria dewasa, kepada Gofan.
" Ini!? Mutiara Roh Naga?, Paman apa maksudmu? Kenapa kamu memberiku benda seberharga ini? "
" Apakah kamu ingin, aku membantumu melakukan sesuatu? " Gofan bingung melihat Longwang menyerahkan Mutiara Roh Naga kepada dirinya.
Dalam Kitab Kompilasi Bela diri, dijelaskan bahwa Mutiara Roh Naga adalah salah satu pertemuan beruntung yang amat sangat langka.
Mutiara ini sama seperti Mutiara Siluman, hanya saja Mutiara Roh Naga merupakan akumulasi budidaya dari seekor naga yang sudah berusia puluhan ribu tahun. Suku Naga sudah musnah saat Era Dewa jatuh terjadi, karena itu Mutiara Roh Naga, dianggap amat sangat langka.
" Tidak. Tidak. Ambil saja, itu bukan milikku, itu milik leluhurku, dia menitipkan ini, dan memintaku menunggu hingga kau muncul di sini " Kata Longwang menjelaskan mengenai pemberiannya itu.
" Aku hanya ada satu permintaan, simpan dan bawalah kami kembali ke laut timur, hanya itu " Imbuh Longwang.
' Leluhurnya Suku Naga? Apa aku sedang bermimpi? ' Batin Gofan.
Mendengar perkataan Longwang, bukannya menjadi percaya dengan apa yang sedang dia alami, Gofan justru merasa dirinya sedang bermimpi.
' Tapi, aku bisa merasakan energi dari mutiara ini. Ini benar-benar asli ' Imbuh Gofan dalam pikirannya.
Mutiara Roh Naga yang kini dipegangnya membuatnya berpikir bahwa mereka memang benar-benar keturunan trah Naga yang sudah lama musnah.
__ADS_1
Gofan tertawa kecil sebelum membalas perkataan Longwang, " Paman, tolong jangan membodohiku, bukankah Suku Naga sudah musnah saat para Dewa jatuh? "
*Zyuut*
*Rooaarr*
*Apa sekarang kamu percaya?* Ucap Longwang dalam bahasa Makhluk buas.
Longwang baru saja berubah wujud, sekarang dia berubah menjadi seekor naga seukuran pria dewasa, suaranya begitu menggelegar, memenuhi seluruh ruangan tempat mereka berada.
" Ka-kamu!? "
' Inikah naga? Dia benar-benar seorang suku naga...' Gofan terkejut melihat seekor naga asli ada di hadapannya, ini adalah pertama kalinya dia melihat seekor naga.
Seumur hidupnya, Gofan hanya pernah melihat naga dari gambar dan lukisan yang ada, belum pernah dia temui seekor pun naga asli, tetapi hari ini, dia telah melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.
" Kami mohon, simpan dan bawalah kami kembali ke laut timur " Longyun bersimpuh dan memohon kepada Gofan, mengulangi kembali perkataan ayahnya.
" Baik. Baik. Aku akan mencoba sebisaku, jadi tolong berdirilah dulu "
" Tapi, apa maksud kalian dengan menyimpan dan membawa kalian?, Bukankah kalian bisa berjalan sendiri? " Tanya Gofan.
Gofan bingung dengan permintaan dari ayah dan anak itu, yang meminta dirinya untuk menyimpan dan membawa mereka kembali ke laut timur.
*Zyuut*
Longwang kembali ke wujud manusianya, " Ini tidak semudah yang pendekar pikirkan, kami adalah dua dari beberapa keturunan trah Naga, Suku Naga, yang berhasil selamat dan telah hidup bersembunyi dari pengejaran trah darah murni "
" Jadi, kami perlu bersembunyi dan menghindari mereka menemukan kami, jika tidak, mungkin mereka akan membunuh kami dan memusnahkan trah kami " Sahut Longwang yang kini duduk di sebuah kursi dari bebatuan karang, di sebelah tempat tidur Gofan.
" Trah darah murni? Maksud Paman, Suku Langit Gelap dan Suku Langit Cahaya? " Tanya Gofan.
Gofan mengingat sekilas cerita yang dijelaskan oleh Guxiong ketika mereka bersembunyi di lorong rahasia Perguruan Tanah Terlarang.
Longwang mengangguk menjawab pertanyaan Gofan.
" Keluargaku juga dibantai dan dibunuh oleh mereka, oleh para keturunan trah darah murni. Serangan gabungan dari Suku Langit Cahaya dan Suku Langit Gelap, telah memusnahkan semua trah keluargaku, kecuali aku " Ucap Gofan dengan nada agak lirih.
Gofan terlihat sedih, mengingat kembali kejadian yang telah melenyapkan seluruh keluarganya dari Benua Penda.
" Pendekar, kamu adalah keturunan trah Len, bukan? " Mendengar perkataan Gofan, Longwang ingin memastikan identitas Gofan.
" Iya benar. Sebelumnya namaku adalah Lenfan, tapi.... karena sebuah kejadian, aku mengganti namaku, sekarang namaku adalah Gofan " Sahut Gofan.
Gofan melemaskan beberapa bagian badannya dengan mengalirkan sebagian tenaga dalam untuk mempercepat penyembuhan, saat tengah berbicara dengan Longwang.
' Dia mengganti namanya? Mungkinkah itu juga untuk menghindari kejaran para darah murni? '
" Gofan. Kamu perlu tahu bahwa kita adalah dua keturunan dari trah yang telah difitnah dan dihancurkan oleh trah darah murni " Kata Longwang.
Longwang kemudian mulai menceritakan apa yang sebenarnya dialami oleh keturunan trah naga, suku naga.
" Ketika Dewa Cahaya dan Dewa Gelap, terus menerus saling bertarung, tidak pernah damai dan mengabaikan perintah Surga untuk menciptakan keseimbangan dan keharmonisan di alam besar. Surga akhirnya memutuskan untuk menciptakan para Dewa kecil, dan salah satunya adalah leluhur kami, Dewa Naga "
__ADS_1
" Dewa Naga berhasil menciptakan kehidupan yang seimbang dan harmonis di alam besar. Dewa Naga berhasil menciptakan sembilan alam langit sebagai tempat hidup para Dewa kecil, bahkan Dewa Naga bersama dengan para Dewa kecil lainnya berhasil menciptakan Alam Kecil, yang kini kita diami sekarang ini "
" Oleh karena itu Dewa Naga dipuji dan disayangi Surga, bahkan dianugerahi gelar Kaisar Langit, pemimpin dari sembilan alam langit. Hal itu membuat iri Dewa Cahaya dan Dewa Gelap, sebagai Dewa besar yang lebih dahulu ada, mereka tidak menerima keputusan Surga itu, mereka menentang Surga "
" Mereka memecah belah para Dewa kecil sehingga terjadilah perang para Dewa dan menyebabkan munculnya kejatuhan para Dewa, Era Dewa jatuh "
" Tidak hanya itu, Dewa Naga yang berhasil selamat dari kekacauan perang. Mereka fitnah sebagai penyebab kekacauan itu, sehingga Surga mengirim Dewa Naga beserta trah Naga turun ke Alam Kecil, sebagai manusia "
" Setelah para naga hilang dari sembilan alam langit, Dewa Cahaya dan Dewa Gelap kembali bertarung, untuk berebut posisi sebagai pemimpin para Dewa, sebagai Kaisar Langit. karena hal itu, mereka melalaikan tugas, hingga akhirnya Surga murka dan mengutuk mereka turun ke alam kecil dan menjadi manusia "
" Disinilah semua bermula, ketika mereka tiba di alam kecil, mereka melihat Dewa Naga telah menjadi pemimpin umat manusia, dan keturunan trah Naga yaitu Suku Naga selalu dipuja oleh para manusia. Hal itu membuat Dewa Cahaya dan Dewa Gelap, memutuskan untuk membunuh Dewa Naga dan mengambil alih tampuk kekuasaan atas manusia "
" Saat menjadi manusia, kedua Dewa itu memiliki kemampuan yang sama dengan Dewa Naga, sehingga mereka memutuskan untuk bergabung dan membunuh Dewa Naga. Dengan bergabungnya mereka, mereka berhasil membunuh Dewa Naga "
" Selanjutnya, Dewa Cahaya dan Dewa Gelap membasmi semua suku naga yang ada dan semua yang berkaitan dengan Dewa Naga, namun ada beberapa yang yang berhasil selamat, salah satunya adalah leluhurmu, keturunan darah campuran, keturunan perkawinan manusia dan Dewa Naga "
" Puluhan ribu tahun berlalu, mereka membentuk dogma baru bahwa bela diri berasal dari dua keturunan mereka yaitu Suku Langit Cahaya keturunan Dewa Cahaya dan Suku Langit Gelap keturunan Dewa Gelap, mereka menjadikan diri mereka leluhur budidaya bela diri. Berkat dogma itu, mereka berhasil menjadi pemimpin di Alam Kecil ini dan menghilangkan jejak keberadaan kami, kami hanya dikenang sebagai dongeng dan mitos "
Longwang berhenti bercerita dan menuangkan secangkir teh yang terdapat di atas meja di tempatnya duduk.
" Jadi, maksud paman, bela diri telah ada jauh sebelum dogma baru itu disebarkan? "
Gofan dari tadi tercengang mendengar cerita yang diceritakan oleh Longwang, dia kini mengetahui alasan para darah murni membantai keluarganya.
Gofan juga akhirnya menyadari, bahwa trah naga bukan musnah karena perang para dewa pada saat Era Dewa Jatuh seperti yang banyak diceritakan, tetapi musnah karena dibantai oleh Dewa Cahaya dan Dewa Gelap setelah era dewa jatuh. Namun karena dogma baru ciptaan mereka, mereka berhasil melenyapkan bukti keberadaan trah naga di alam kecil.
" Sudah ada. Bahkan sebelum Alam Kecil ini ada... "
" Segalanya berasal dari Surga, bela diri pun berasal dariNya " Ucap Longwang sambil menyesap teh yang ada di cangkirnya.
" Paman, apakah itu berarti para Dewa kecil telah musnah? " Gofan ingin mengetahui lebih jelas mengenai nasib para dewa kecil.
" Masih, mereka masih ada di semua sembilan alam langit. Mereka adalah Dewa-dewa kecil yang menyerah tunduk kepada Dewa Cahaya dan Dewa Gelap, sebelum kedua dewa itu dikutuk turun ke alam kecil " Sahut Longwang.
" Lalu, Siapakah yang memimpin mereka sekarang? " Tanya Gofan sembari menyimpan Mutiara Roh Naga ke dalam kantong ruang.
Meski sudah memiliki cincin dimensi, Gofan belum bisa menggunakan cincin tersebut, sebab dia belum merubah kepemilikan cincin itu dari pemilik sebelumnya, yaitu seseorang yang dirampok Bailaohu. Hanya setelah merubah kepemilikan, barulah Gofan bisa menggunakan cincin dimensi itu.
" Saat ini, Kaisar Langit yang memimpin mereka adalah pecahan diri dari Dewa Cahaya, dikenal sebagai Dewa Phoenix."
" Kamu tahu Neraka? " Longwang tiba-tiba mengajukan sebuah pertanyaan kepada Gofan.
" Tahu, Neraka itu tempat pengadilan bagi para roh... Apa maksud Paman bertanya tentang Neraka? " Sahut Gofan sembari bertanya kembali.
Gofan tidak mengerti, kenapa tiba-tiba Longwang menanyakan hal itu kepadanya. Gofan bangkit dan duduk di pinggiran tempat tidurnya.
" Di sanalah pecahan diri dari Dewa Gelap memimpin, dia menjadi Raja Neraka ketika kalah dalam persaingan berebut kursi Kaisar Langit, dengan kekuatan kegelapannya, dia menciptakan Neraka dan menjadikan dirinya pemimpin di sana, Raja di alam kematian itu "
Longwang berhenti berbicara, dan berdiri menghampiri Gofan. Sementara Gofan mengangguk diam mendengar semua penjelasan dari Longwang.
" Teman-temanmu sudah menunggu di luar, dan kamu juga harus melanjutkan kisahmu ini, jadi, Ayo keluar dan bantulah kami membalaskan dendam! " Kata Longwang.
Usai Longwang berkata demikian, tiba-tiba sebuah pusaran air membawa tubuh Gofan melayang terbang keluar dari kerang kecil yang ada di dasar danau itu.
__ADS_1
Bersambung...