Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 34. Kipas Lipat Besi Dewi Kipas


__ADS_3

"Penatua Mogui, setahuku Mutiara Siluman akan memberi efek negatif jika kita meningkatkan budidaya dengan menyerap energi di dalamnya"


Kata Yanse ketika melihat Moyo telah selesai mengumpulkan semua mutiara siluman.


Moyo mengumpulkan 21 mutiara siluman, tujuh mutiara siluman berwarna hitam, tiga yang berwarna Jingga, dan sisanya adalah mutiara merah, tidak ada satu pun mutiara yang berwarna putih.


"Benar, memang ada efek negatifnya, tetapi aku tahu cara menetralisir hal itu"


Sahut penatua Mogui, membenarkan pernyataan Yanse.


Memang akan selalu ada efek negatif dari penggunaan mutiara siluman dalam peningkatan budidaya, efek itu bisa berupa perubahan bentuk secara fisik atau pun perubahan sifat pada pendekar yang menyerap energi di dalam mutiara siluman.


Energi di dalam mutiara siluman adalah energi hasil budidaya dari siluman tersebut dan ketika energi ini masuk ke dalam tubuh pendekar yang menyerapnya, sebagian besar sifat dari siluman itu ikut terserap, dalam kasus tertentu bahkan terjadi perubahan fisik pada si pendekar, perubahan fisik yang menyerupai wujud setengah manusia setengah makhluk buas, seperti tumbuh tanduk, tumbuh cakar, bulu, sisik dan lain sebagainya.


"Nanti aku akan memberitahu kalian cara menetralkannya, sekarang coba kalian periksa kembali, aku masih merasakan ada energi yang cukup besar di antara tumpukan harta ini "


Imbuh Mogui kepada Yanse dan dua lainnya, dia kemudian menyimpan semua mutiara siluman yang dikumpulkan Moyo ke dalam sebuah kantong ruang. Yanse mengangguk diam menanggapi jawaban penatua itu.


Yubing, Yanse, dan Moyo mulai memilah-milah kembali, mencari kembali pertemuan beruntung di antara tumpukan harta itu.


-Hanya Mutiara Siluman, bahkan tidak ada satu pun yang bisa membantuku hidup kembali, apa perjalanan ini benar-benar sia-sia ?-


Pikir Xionan sedikit kecewa, ketika dia tidak menemukan apa-apa saat melayang-layang mencari benda bertuah atau pertemuan beruntung lain yang berguna baginya.


Hari akhirnya menjelang malam ketika Yubing menemukan sebuah lentera lampu kecil. Lentera lampu itu tampak sudah lapuk dan berdebu, benda itu tertumpuk di sudut dekat dinding gua.


"Penatua, Apa benda ini yang anda maksudkan sebelumnya ?"


Yubing memperlihatkan lentera lampu itu kepada penatua Mogui.


"Bukan, nona muda, itu hanya sebuah lentera jiwa, tidak berguna bagi kita, hanya pendekar yang mengolah energi sihir yang bisa menggunakan benda itu, jika kau ingin menyimpannya, simpan saja, mungkin kelak akan berguna bagimu"


Mogui menjelaskan bukan lentera lampu itu yang dia rasakan sebelumnya.


Lentera jiwa tergolong dalam artefak kuno, sebuah benda sihir yang hanya bisa diaktifkan dan dikendalikan dengan energi sihir. Kegunaan lentera jiwa, terutama untuk melawan roh jahat atau mayat hidup, lentera ini juga bisa digunakan untuk menyimpan roh seseorang.


Saat ini, di dunia bela diri Benua Penda, pendekar yang mengolah energi sihir sudah sangat sedikit jumlahnya, mungkin bisa dihitung dengan jari.


Di dunia bela diri, pendekar yang mengolah energi sihir, sering disebut sebagai penyihir.


"Jadi ini benda sihir, terima kasih penjelasannya penatua Mo, saya akan menyimpannya saja"


Yubing menyimpang lentera jiwa ke dalam kantong ruangnya setelah mengucapkan terima kasih atas penjelasan Mogui. Yubing berpikir mungkin kelak benda itu memang akan berguna baginya, lalu dia kembali memeriksa tumpukan harta berharga tersebut.


"Bukan masalah... Moyo buatlah penerangan !, Hari sudah semakin gelap, akan sulit bagi kalian memilah harta-harta ini, "


Perintah Mogui kepada Moyo ketika menyadari hari sudah mulai malam.


"Baik Kek"


Moyo mengangguk dan melesat keluar mengumpulkan beberapa ranting bambu dan daun bambu kering, kemudian dia menyalakan api untuk membakar ranting-ranting dan daun kering itu.


Moyo membuat penerangan berupa api unggun, di dekat tumpukan harta, sehingga meski hari sudah malam, mereka masih bisa melihat dan memilah harta-harta itu.


-Lentera jiwa? itu bisa menyelamatkanku, jika dalam waktu kurang dari sebulan ini, aku masih belum bisa hidup kembali, lentera itu bisa menyimpan rohku-


Xionan sedikit bersyukur bahwa Yubing yang mendapatkan dan menyimpan lentera jiwa, benda sihir itu sangat berguna bagi roh seperti Xionan.


Kini Xionan hanya punya waktu kurang dari satu bulan, mungkin hanya dua sampai tiga minggu lagi untuk bertahan di dunia manusia, itu semua akibat dari dia yang terus menerus menggunakan intisari kehidupannya untuk membuat serangan cahaya panah jiwa, itu mengurangi masa hidupnya.


-Aku akan meminta Fanfan untuk meminta lentera itu dari gadis ini-


Pikir Xionan, dia yakin, jika dia meminta pertolongan Gofan untuk meminta lentera jiwa dari Yubing, Yubing pasti akan memberikannya dengan ikhlas.


"Kakek! Ini, Aku menemukannya, benda inikah yang kakek maksud ?"


Moyo memperlihatkan sebuah kipas lipat yang terbuat dari besi kepada kakeknya.


"Benar, bawa kemari Hahaha, Bagus, Bagus !!!"


Mogui yang sedari tadi hanya bersikap biasa-biasa saja, tiba-tiba menjadi sangat senang setelah melihat kipas lipat besi yang ditemukan oleh Moyo.


"Ini Kek,"


Moyo menghampiri Mogui yang duduk bersila sedikit jauh dari tumpukan harta, dan menyerahkan kipas lipat besi yang dia temukan.


-Itu!?, Itu kipas lipat Zuena-


Xionan kaget melihat kipas lipat besi yang ditemukan oleh Moyo, dia ingat betul, bahwa kipas lipat yang kini dipegang oleh Mogui itu adalah kipas lipat milik Zuena, pendekar yang 700an tahun lalu menyelamatkannya dari serangan anak-anak Mouhuli.

__ADS_1


-Bagaimana kipas lipat itu bisa berakhir di gua ini?, dan dimana ular sisik naga yang dikatakan beruang itu ?-


Xionan sempat merasa curiga, dari awal memasuki gua, situasinya benar-benar lancar, tidak ada jebakan atau penghalang rahasia yang melindungi tumpukan harta itu, bahkan dia tidak menemukan ular sisik naga yang diceritakan Uroro pada Gofan.


Keadaan itu benar-benar sempat membuat Xionan curiga, namun kecurigaan itu memudar saat ditemukannya mutiara siluman, dan menyusul lentera jiwa, yang membuat Xionan berpikir gua itu mungkin sudah ditinggalkan oleh si ular yang pergi tanpa membawa hartanya.


Tetapi setelah melihat kipas lipat milik Zuena, Xionan menjadi ingin menemukan keberadaan si ular sisik naga, Xionan ingin tahu kenapa kipas lipat milik Zuena bisa berakhir di tumpukan hartanya.


"Kakek, kipas apa ini? Bentuknya terlihat sama dengan yang ada di lukisan milik kakek, apa itu yang membuat kakek sangat senang ?"


Tanya Moyo penasaran melihat perubahan sikap kakeknya.


Pertanyaan Moyo itu juga sekaligus menyampaikan rasa penasaran Yanse dan Yubing, yang ingin tahu tentang kipas lipat besi itu.


"Haha... Ini kipas lipat besi milik Dewi Kipas... selama ini, aku hanya bisa melihat lukisannya saja, tapi ternyata senjata dewa ini benar-benar ada Hahaha"


Mogui tertawa lantang sambil terus memeriksa keaslian kipas yang dia tebak sebagai kipas lipat besi Dewi Kipas.


Saat masa awal dari era dewa jatuh, banyak senjata milik para dewa dan dewi yang jatuh ke dunia kecil, salah satunya adalah kipas lipat besi itu.


Kipas itu sebelumnya jatuh dan ditemukan oleh leluhur keluarga Zuena, yang selanjutnya turun temurun selalu menjadi pemuja dari Dewi Kipas, karena pemujaan tulus itu mereka berhasil menemukan rahasia jurus yang tersimpan di dalam kipas dan kemudian dianggap sebagai keturunan tidak langsung dari sang Dewi Kipas.


-Kipas lipat besi Dewi Kipas? jadi Zuena adalah keturunan tidak langsungnya, aku pikir itu hanya dongeng..-


Mendengar perkataan Mogui, Xionan jadi mengingat mengenai dongeng yang selalu diceritakan ibunya, tentang para keturunan tidak langsung dari para dewa yang ada di dunia ini, yang menggunakan senjata dewa untuk menegakkan keadilan dan membasmi para siluman.


Hal itu memang benar terjadi, namun karena kejadiannya sudah sangat amat lama, semua itu hanya dianggap dongeng oleh generasi selanjutnya, termasuk oleh Xionan.


"Kipas milik Dewi Kipas, bukankah itu hanya sebuah dongeng kek ?"


Tanya Moyo yang masih belum mempercayai kata-kata kakeknya.


"Kita akan membuktikannya,"


*Treep*


Mogui bangun dan membuka kipas lipat besi itu lalu melangkah keluar gua.


Melihat hal itu, Moyo, dan yang lain mengikuti langkah Mogui keluar gua.


Xionan juga penasaran, mengenai kebenaran kipas lipat itu sebagai sebuah senjata dewa, jadi dia mengikuti keempat orang itu melayang keluar dari gua.


*Zyuut*


Namun, tidak ada yang terjadi, kipas lipat itu seperti kipas biasa, tidak ada kekuatan seperti yang dikira Mogui dan yang lainnya.


"Sebentar, aku akan mencoba sekali lagi,"


Mogui yakin betul bahwa kipas itu adalah kipas lipat besi milik Dewi Kipas, jadi dia mencobanya sekali lagi


*Zyuut*


Namun, lagi-lagi tidak ada yang terjadi.


"Sekali lagi"


Mogui masih yakin, bahwa kipas itu asli, dia jelas-jelas mengingat bentuk kipas di dalam lukisan Dewi Kipas yang dia miliki, dan itu sama persis dengan kipas yang sekarang ada di tangannya.


*Zyuut*


Setelah Mogui mengibaskan kipas itu lagi, tetap saja tidak ada yang terjadi.


Mogui terus mengulang hingga sepuluh kali berikutnya, tetapi hasilnya tetap saja sama, kipas itu seperti kipas biasa, tidak ada kekuatan atau serangan yang muncul saat dia mengibaskan kipas itu.


"Kek, sudahlah, itu semua hanya dongeng, mungkin bentuk kipas itu saja yang sama dengan yang ada di lukisan itu"


Moyo pernah melihat lukisan Dewi Kipas milik kakeknya, dan memang benar bentuk kipas yang dia temukan serupa dengan yang ada di dalam lukisan itu.


Moyo menghentikan usaha kakeknya setelah berkali-kali melihat kakeknya gagal.


Mogui tidak menanggapi perkataan cucunya itu, dia hanya terus memandangi kipas di tangannya, dia yakin betul, itu pasti kipas lipat besi Dewi Kipas, hanya saja dia bingung kenapa kipas itu tidak berfungsi.


-Apa kipas ini hanya bisa digunakan oleh perempuan ?-


Mogui memikirkan sebuah kesimpulan, oleh karena kipas itu milik seorang dewi, dia menyimpulkan bahwa mungkin hanya perempuan saja yang bisa menggunakan kipas itu.


"Nona muda, Maukah kamu mencoba menggunakannya ?"


Tanya Mogui kepada Yubing setelah dia mengambil kesimpulan bahwa mungkin hanya perempuan yang bisa menggunakan kipas itu.

__ADS_1


"Tentu Penatua, saya akan mencobanya"


Yubing yang penasaran tentu tidak akan menolak kesempatan untuk mencoba senjata dewa, apalagi jika itu benar.


*Zyuut*


Yubing mengibaskan kipas lipat besi itu, namun tidak juga terjadi apa-apa. Yubing mencoba sebanyak tiga kali lagi, namun hasilnya tetap sama, tidak terjadi apa-apa.


"Pena...."


Yubing hendak mengembalikan kipas itu kepada penatua Mogui, tapi tiba-tiba sebuah suara terdengar di pikirannya, sehingga kata-katanya menjadi terhenti.


-Tunggu, jangan kembalikan kipas itu, minta kipas itu darinya dan berikan pada Gofan, Gofan pasti bisa menggunakannya-


Xionan mengirimkan pesan suara pada Yubing, dia ingin Yubing menyimpan kipas itu dan memberikannya pada Gofan.


Meskipun saat ini kipas itu tidak berfungsi, Xionan tidak ingin kipas milik Zuena jatuh ke tangan Mogui.


"Penatua Mogui, aku rasa ini hanya kipas biasa, tapi, bolehkah aku menyimpannya? aku sangat menyukai kipas lipat seperti ini, ini akan berguna saat cuaca panas, saya menyukai bentuknya"


Yubing menuruti perkataan Xionan, dan mencari alasan, agar bisa mendapatkan kipas lipat itu.


"Iya Kek, biarkan saja pendekar Yubing memilikinya, itu mungkin hanya kipas tiruan,"


Moyo menganggap kipas itu palsu, dan menyetujui permintaan Yubing, karena percuma saja dia dan kakeknya menyimpan kipas yang hanya berguna sebagai hiasan itu.


"..mm..."


Mogui ragu memberikan kipas itu pada Yubing, meski tidak berfungsi, dia yakin, kipas itu asli.


"Penatua, Bagaimana jika aku menukarnya dengan ini?"


Yubing mengeluarkan sebuah kipas lipat lain. Kipas lipat itu juga terbuat dari besi namun kipas itu bukan senjata dewa, hanya senjata kipas yang ketika dikibaskan akan mengeluarkan beberapa pisau kecil untuk menyerang lawan.


"Kipas pisau terbang? Nona, kamu yakin ingin menukarnya dengan kipas itu?"


Mogui sedikit terkejut, melihat Yubing menawarinya sebuah senjata khusus milik Lembah Bunga Kamboja.


"Tentu Penatua, aku yakin, bentuk kipas lipat ini sangat indah, aku menyukainya"


Yubing membuat alasan agar dia bisa mendapatkan kipas lipat besi Dewi Kipas itu untuk dia berikan kepada Gofan.


"Sudahlah nona, ambil saja, anggap aku memberimu hadiah dan kau berhutang satu hal padaku"


Mogui malu menerima tawaran itu, meskipun sebenarnya dia ingin memiliki kipas pisau terbang yang ditawarkan Yubing, tetapi sebagai seorang penatua sebuah perguruan akan memalukan jika dia menerima pertukaran itu, jadi dia mengikhlaskan semuanya, dia mengikhlaskan kipas lipat besi Dewi Kipas untuk dimiliki Yubing.


"Terima kasih Penatua, aku berhutang satu pada anda"


Yubing mengatupkan kedua tangannya dan mengucapkan terima kasih sambil membungkukkan badannya ke arah Mogui, kemudian dia cepat-cepat menyimpan kedua kipas lipat itu ke dalam kantong ruangnya, Yubing takut penatua itu akan berubah pikiran.


-Hihihi bagus, ujung-ujungnya semua harta berharga ini akan jatuh ke tangan Fanfan Hihihi-


Xionan senang, Yubing berhasil mendapatkan kipas milik Zuena dari tangan Mogui.


-Tapi kemana ular itu? Kenapa dia pergi tanpa membawa harta berharganya ?-


Pikir Xionan, sambil melayang mengikuti keempat orang itu, kembali memasuki gua, melanjutkan mencari pertemuan beruntung lainnya.


Beberapa ratus hela napas kemudian, setelah hanya menemukan dua buah kitab jurus yang biasa-biasa saja, mereka berhenti mencari.


Mogui kemudian menyimpan seluruh sisa tumpukan harta itu ke dalam kantong ruang yang berbeda dengan kantong ruang yang menyimpan mutiara siluman.


Karena hari sudah malam, mereka berempat memutuskan untuk bermalam di dalam gua. Mereka berencana untuk kembali besok, kembali ke tempat Lingzi dan yang lainnya untuk membagikan harta yang mereka temukan secara merata.


-Kenapa posisi batu ini seperti menghalangi sesuatu ?-


Saat Xionan memperhatikan keempat orang yang bersamanya telah tertidur, dia berkeliling gua dan menemukan sebongkah batu besar dengan posisi yang agak janggal, sehingga dia mengira batu itu menutupi sesuatu.


Merasa ada yang janggal, Xionan menembus batu itu, dan menemukan sebuah lubang yang cukup besar di bawah batu besar itu.


-Ternyata memang ada sesuatu, mungkin ini semacam jalan rahasia, aku harus menelusurinya-


Xionan yang menemukan adanya sebuah lubang di bawah bongkahan batu besar itu, memutuskan untuk menelusuri lubang bawah tanah itu.


-Mungkin ular itu ada di ujung jalan rahasia ini-


Pikir Xionan saat terus melayang menelusuri lubang bawah tanah yang dianggap Xionan sebagai sebuah jalan rahasia.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2