
[Gua di sisi timur Hutan Bambu Kemarau]
Raut wajah Gofan agak sedikit malu, setelah ketahuan melamun oleh Xionan, namun itu hanya terjadi sesaat, akibat Gofan terkejut melihat Xionan melakukan serangan cahaya panah jiwa, akan tetapi keterkejutan itu akhirnya berubah menjadi sebuah tanda tanya kecil di pikirannya.
' Nannan, serangan apa yang kamu gunakan untuk menyadarkanku sebelumnya? Kenapa mereka baik-baik saja? ' Tanya Gofan melalui pikirannya, saat dia baru saja menarik kekuatan mata iblisnya dari tubuh Nian.
' Itu... Sama saja... Tapi, karena kamu memiliki energi mental, serangan yang kuberikan padamu sedikit lebih kuat, apakah kamu mempermasalahkan itu sekarang? ' Xionan sedikit menahan senyumnya.
Xionan sadar serangan pertama yang dia lakukan pada Gofan, adalah serangan uji coba. Tetapi karena sebelumnya Gofan sudah memakluminya, Gofan harusnya tidak mempermasalahkan perbedaan serangan pada Yubing dan Nian dengan serangan pada dirinya.
'Jadi, begitu...' Pikir Gofan sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sementara Xionan tertawa di dalam hati melihat ekspresi Gofan.
" Hei Bocah ! Kamu panggil apa aku tadi ? "
Nian yang telah terbebas dari kekuatan Gofan sempat terdiam sesaat sebelum menyarungkan pedangnya kembali. Dia jelas mendengar Gofan memanggilnya nona seakan-akan mereka sebaya.
' Celaka, tadi aku lupa lagi, tentang usiaku sekarang ini '
" Maaf Kakak Nian, sepertinya aku salah ucap...Maaf " Gofan menjawab dengan sedikit tersenyum.
" Baik... Sekali ini, aku maklumi, awas saja kalau kamu ulangi lagi " Nian mengangguk-angguk, dia cukup puas mendengar jawaban maaf Gofan.
Meski Gofan mengatakan kedua beruang itu tidak berbahaya. Nian tetap waspada. Nian terus melihat dan memperhatikan kedua beruang itu dengan ketat.
" Terima kasih Kakak Nian "
Sahut Gofan dengan sopan, sementara Nian hanya terus memperhatikan Uroro dan Urori.
Saat Yubing memperhatikan Nian yang terus mengawasi para beruang, Yubing tiba-tiba melihat kantong ruang milik Nian berpendar.
" Nian, sepertinya ada sesuatu yang menyala di dalam kantongmu, coba periksa ! " Tunjuk Yubing, ke arah pinggang Nian.
" Ah..iya, Sebentar, coba ku lihat. Ini... "
Karena benda itu bercahaya di dalam kantong ruangnya, Nian dapat dengan cepat menemukan benda itu.
" Ini token lokasi yang diberikan Lingzi kepadaku, sepertinya mereka sudah melanjutkan kembali perjalanan "
Sambil memegang token bulat seperti telur di tangan kanannya itu, Nian menatap ke arah Yubing.
" Kalau begitu, Kita juga pergi, Ayo... ! " Kata Yubing tegas.
Yubing ingin segera menyelesaikan tujuan utamanya pergi ke Hutan Bambu Kemarau, jika benar lokasi Lingzi dan yang lainnya sesuai dengan yang ditunjukkan token itu, maka itu sudah cukup jauh, sehingga mereka harus segera menyusul.
" Sebentar kakak Yubing, Ada yang harus aku sampaikan " Cegah Gofan karena ingin menyampaikan sesuatu.
" Katakanlah ! " Sahut Yubing pelan, saat memberhentikan langkahnya.
" Begini... Pertama, aku tidak bisa ikut kalian lagi, aku telah memutuskan untuk tetap di sini. Kedua, Apakah kalian sudah memastikan bahwa di barat hutan ini memang ada gua yang kalian cari ? " Tanya Gofan, memastikan bahwa di barat hutan memang ada gua.
" Tidak apa, kamu di sini saja, tapi kami harus segera pergi "
Yubing sadar Gofan masih harus berurusan dengan pengendalian mata iblisnya, dan Yubing merasa Gofan aman untuk dia tinggalkan, apalagi sekarang Gofan berteman dengan para Beruang Bambu.
__ADS_1
" Tentang gua itu, itu memang ada, kami sudah melihatnya, dari Cermin milik Hanbo, sebelum memasuki hutan ini " Imbuh Yubing sembari menoleh ke arah Gofan dengan tatapan amat yakin.
" Baiklah, Jika memang begitu, silahkan lanjutkan perjalanan kembali, terima kasih untuk semua, semoga perjalanan kalian aman " Gofan mengangguk, sebelum mengatupkan tangan dan memberi hormat pada Yubing dan Nian.
" Kami pergi, jaga dirimu ! " Yubing melesat ke depan dengan kecepatan penuhnya.
" Sampai jumpa lagi bocah, da... " Nian melesat pergi menyusul Yubing sambil menoleh ke belakang dan melambaikan tangannya.
*Zyuut*
*Zyuut*
Mereka bergerak cepat, hingga dalam waktu delapan hela napas sudah tidak tampak lagi bayangan mereka, di depan mata Gofan.
Kini Gofan berdiri beberapa langkah di depan Uroro dan Urori, dia masih menatap ke arah kedua gadis itu pergi, dia memikirkan sesuatu yang belum dia tanyakan sebelumnya.
' Aku lupa bertanya, kenapa Yubing bisa ada di dalam tornado?... Kenapa juga Nian ada di sini ?... Sudahlah... '
Gofan berbalik dan menghampiri Uroro,
*Uroro, benarkah di barat sana ada sebuah gua lagi ?*
Gofan bertanya untuk memastikan apa yang ada di barat hutan itu dan untuk lebih memastikan bahwa tujuan yang di cari teman-temannya memang nyata ada. Gofan masih penasaran.
*Benar, ada gua kecil di sana, itu rumah Julala* Uroro menjawab santai sambil mengunyah beberapa daun bambu yang melayang-layang di depan wajahnya.
*Julala? dia Beruang Bambu juga ?* Tanya Gofan.
*Bukan, dia datang tiga tahun lalu, dan memangsa anak-anak bangsa kami, dia itu Ular Sisik Naga *
' Ular Sisik Naga? Gawat... mereka dalam bahaya, Tapi... Bagaimana ini? ' Batin Gofan.
Gofan mengingat catatan yang tertulis di Kitab Kompilasi Bela diri, bahwa Ular Sisik Naga adalah makhluk buas tingkat menengah yang kekuatannya hampir setara dengan makhluk buas tingkat tinggi, kekuatannya terutama pada pertahanannya yang kuat.
*Senior... Tenang saja... Jangan terlalu dipikirkan, jika Julala berani memakan siapa pun di dalam Hutan Bambu Kemarau, leluhur akan menghukumnya lagi hohoho, teman-teman Senior, pasti aman* Tawa Uroro, sembari tetap mengunyah daun-daun bambu yang melayang.
*Aku masih khawatir, Bisakah kamu awasi mereka dan selamatkan, jika memang mereka dalam bahaya? ' Pinta Gofan.
Gofan berharap Uroro akan mengulurkan lengan pada teman-temannya jika situasi mereka memang memerlukan bantuan.
*Hohoho, tenang saja, aku akan mengirimkan pesan kepada semua Beruang Bambu di hutan ini, untuk menolong mereka hohoho*
Kali ini bahkan bibir Uroro tidak terlihat terbuka, tapi suara dan tawanya bisa didengar Urori dan Gofan.
*Terima kasih... Aku baru menyadari, dari tadi kamu menjawab semua pertanyaanku dengan energi mental, bagaimana kamu melakukannya ?*
Gofan penasaran melihat Uroro melakukan hal itu, tanpa berbicara tapi suara masih bisa keluar dan terdengar.
*Senior, Ayo masuk, leluhur sudah menunggumu di dalam gua, aku akan mengantarmu ke tempatnya* Ucap Urori.
Urori tiba-tiba menghampiri Gofan dan memberitahukannya pesan yang diterima Urori dari Mouhuli, pesan yang dikirimkan Mouhuli melalui udara dengan kekuatan mata iblisnya.
*Haih... Baiklah. Ayo. Tunjukkan jalannya...* Sahut Gofan dengan sedikit terpaksa.
__ADS_1
Gofan menghela napas cukup panjang, karena dia masih ingin mendengar jawaban dari Uroro, tapi Urori sudah terlanjur menghentikan pembicaraan mereka.
*Baik, tempatnya agak dalam di dalam gua ini, ikuti aku* Kata Urori.
Urori melangkah maju masuk ke dalam gua dan Gofan mengikutinya dari belakang. Sementara Xionan melayang diam sambil terlihat seperti sedang tertidur.
Mereka kini sudah berjalan puluhan langkah,
hingga lubang masuk gua tampak lebih kecil jika mereka melihat ke belakang, semakin ke dalam, semakin gelap gua itu.
*Celepuk*
Sebuah salinan ingatan, tiba-tiba masuk ke kepala Gofan, ingatan tentang cara Uroro menggunakan energi mentalnya yang membuat Uroro tidak perlu menggunakan mulutnya untuk berbicara.
' Beruang ini, dia memang sesuatu, kelak aku pasti akan membalas kebaikanmu ' Pikir Gofan.
Gofan menoleh ke belakang dan menemukan Uroro duduk menghalangi lubang gua dengan aktivitas yang sama, yaitu mengunyah daun bambu.
Gofan kembali memandang ke depan, meskipun gelap gulita, Gofan masih bisa mengikuti Urori masuk lebih dalam ke dalam gua itu, sambil berjalan Gofan mempelajari ingatan yang diberikan Uroro padanya.
' Oh, jadi begitu... Pertama selimuti pita suara dengan energi mental, alirkan setiap energi mental seperti mulut yang sedang berbicara... Baik... Ayo coba! '
*Urori masih jauhkah?* Tanya Gofan menggunakan energi mentalnya, dia langsung berhasil pada percobaan pertamanya.
*Selamat senior, kamu berhasil, kami menyebut itu Suara Mental, ini praktis digunakan saat kami perlu makan banyak tapi tetap harus bicara satu sama lain* Ucap Urori.
Urori langsung menyadari, Gofan berkata menggunakan energi mental, meski dia memunggungi Gofan, dia tahu itu suara mental.
*Bagaimana kamu tahu, aku menggunakan Suara Mental ?*
Gofan bertanya dengan penuh keheranan. Padahal Urori tidak melihatnya, tetapi Urori tetap tahu bahwa itu suara mental.
*Entahlah itu mungkin hanya kebiasaan... Itu tempatnya.. Sedikit lagi... Di depan sana * Jawab Urori.
Urori tidak menjawab lebih panjang dan menunjuk ke arah jalan buntu yang ada di depan mereka berdua. Meskipun gelap gulita Urori tidak kesulitan, menunjukkan jalan kepada Gofan.
*Bukannya itu jalan buntu?, itu dinding belakang gua, bukan ?* Gofan tidak melihat Mouhuli di jalan buntu itu, bahkan tidak ada apa-apa di tempat itu.
*Iya benar, itu dulu, tapi sekarang, ini adalah ruang dimensi, ciptaan leluhur, aku akan membukanya untukmu * Sahut Urori.
Ketika sampai di ujung jalan buntu itu, Urori menekan sebuah batu yang tampak sedikit menonjol, kemudian retakan kecil terjadi dan terbentuk sebuah portal dimensi.
*Zhyuurr*
Portal itu berwarna biru muda, bentuknya seperti tirai air. Suara portal dimensi itu seperti guyuran air.
*Silahkan masuk Senior, aku hanya mengantar sampai di sini* Kata Urori yang kemudian berpamitan pergi meninggalkan Gofan, menuju ke arah luar gua.
" Baiklah. Ayo Nannan, sekarang waktunya berlatih... ! "
Gofan tampak antusias untuk melakukan pelatihan bela dirinya, dia melangkah masuk melewati portal dimensi.
Xionan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia merasa lucu melihat tingkah Gofan yang antusias. Xionan mengikuti langkah Gofan, ikut masuk ke dalam ruang dimensi melalui portal tersebut.
__ADS_1
Bersambung...