
Keesokan harinya...
Di dalam sebuah Tenda yang cukup besar.
Terlihat Tujuh orang termasuk Gofan tengah berada di dalam Tenda tersebut.
Lima orang, yaitu Kangkai, Suezilu, Xiongmeng, Lujiang dan Wuling duduk di depan Gofan. Sementara, Duan Tianlang, duduk di sebelah kirinya.
“Tuan Muda. Kami sudah mengetahui tentang kerja sama yang akan kamu lakukan dengan Lixiayo.” Ucap Duan Tianlang kepada Gofan.
“Kami setuju, jika Tuan Muda ikut membantu Lixiayo membongkar fakta bahwa Raja yang sekarang adalah Raja yang palsu.. tapi aku khawatir, kalau semua ini hanyalah siasat Lixiayo untuk memanfaatkanmu” Imbuh Duan Tianlang.
“Tidak masalah Senior. Aku tahu harus bertindak bagaimana... Aku tidak akan membabi buta membantunya tanpa tahu motif apa yang sebenarnya dia miliki.” Sahut Gofan.
“Benar Tuan Muda. Sudah jelas, Jendral itu memiliki sebuah agenda di belakangnya. Kita harus menyelidikinya lagi. Masih ada tiga hari lagi, sebelum Turnamen Pulau dimulai. Kita masih memiliki waktu untuk mencari tahu hal ini...” Kangkai angkat bicara, “Aku bersedia turun tangan untuk menyelidikinya.” Imbuhnya.
“Tidak perlu Senior. Masalah ini, Guruku, Mouhuli, sudah terlebih dulu menyelidikinya. Kita hanya tinggal menunggu kabar dari Guruku.” Sahut Gofan.
Semalam, sementara Vasudev memutuskan untuk menyeliki kembali Kediaman Tian, Mouhuli telah membicarakan hal yang sama kepada Gofan. Demi keamanan Benua Penda, maka Raja Palsu harus diungkap dan disingkirkan. Tapi, motif lain Lixiayo yang masih menyisakan tanda tanya.
Sebenarnya, Gofan dan Mouhuli sempat menebak bahwa motif lain dari Lixiayo kemungkinan berkaitan dengan identitasnya sebagai Trah Siluman Tengkorak Putih, namun mereka tidak berani langsung menyimpulkan.
Akhirnya, Mouhuli dan Bianselong memutuskan untuk menyelidiki motif lain Lixiayo serta mencari tahu kebenaran dibalik identitas Raja Palsu itu, termasuk untuk menemukan keberadaan Raja Penda yang asli.
“Tapi... Nyonya Mouhuli juga mengatakan jika Jendral itu berkata bahwa Raja Litaihwang yang asli sudah meninggal. Bisakah kita mempercayai hal itu?” Ucap Suezilu.
Keempat lainnya mengangguk pelan saat Gofan bangkit dari tempat duduknya, “Para Senior. Tenanglah. Aku akan membantu Guru mencari tahu kebenaran hal itu... Mohon bantuannya untuk mendaftarkan namaku sebagai salah seorang peserta Turnamen, sisanya, serahkan saja kepadaku.”
Usai memberikan hormatnya, Gofan pergi dan meninggalkan Tenda tersebut.
Lujiang bangkit dari tempat duduknya dan menyusul Gofan.
Sekarang, hal yang paling mendesak bagi Gofan adalah meningkatkan Budidayanya, sebagai persiapan untuk menghadapi hal-hal buruk yang mungkin saja terjadi saat Turnamen itu berlangsung.
Xiongmeng menatap sinis ke arah punggung Gofan, dia gagal mendapatkan Simpai Emas. Kini, Simpai Emas itu telah jatuh ke tangan Gofan dan masih tersimpan rapi di dalam Cincin Dimensinya.
“Saudaraku sekalian. Kita seharusnya mengikuti saran dari Tuan Muda Pewaris. Aku bersedia, untuk pergi dan mendaftarkannya.” Ucap Xiongmeng setelah merencanakan sebuah rencana lain untuk menjatuhkan Gofan.
“Baik. Bagus... Lakukanlah!... Kamu bisa meminta bantuan Lixiayo untuk membantumu melakukannya. Mungkin saja dia sudah mendaftarkan Tuan Muda sebagai peserta, jadi, kamu hanya tinggal memastikannya saja.” Sahut Duan Tianlang.
__ADS_1
“Baik Mahaguru.” Xiongmeng membungkuk hormat dan bersiap pergi.
“Tunggu...” Panggil Suezilu.
Xiongmeng berhenti dan menoleh ke arah Suezilu.
“Berhati-hatilah.. Jangan sampai Lixiayo tahu, bahwa kita sedang menyelidikinya. Kita harus mengetahui semua motifnya dengan jelas, sebelum mengambil tindakan yang tepat.” Ucap Suezilu yang dibalas dengan anggukan oleh Xiongmeng.
Saat berjalan keluar dari Tenda, sebuah senyum jahat tersemat di wajah Xiongmeng, “Tentu saja. Tentu aku tidak akan memberitahunya, aku hanya akan memberinya sedikit petunjuk.” Guman Xiongmeng ketika dia berjalan menuju Perkemahan Kerajaan Penda, tempat Lixiayo berada.
Duan Tianlang, Kangkai, Suezilu, dan Wuling melanjutkan percakapan mereka.
Sementara itu, Gofan yang baru saja hendak melanjutkan Budidayanya dihampiri oleh seorang gadis belasan tahun berpakaian merah muda dengan rambut teruari.
“Lingbai memberi salam kepada Tuan Muda Pewaris.” Ucap Gadis itu memberikan salam.
“Lingbai? .” Gofan tidak mengenali gadis tersebut, ini pertama kalinya mereka bertemu.
Melihat Gofan bingung, Lujiang berbisik, “Tuan. Dia adalah Murid Perguruan Yin Biru... Bukankah Mahaguru Duan Tianlang sudah pernah menyebutkan masalah ini padamu.”
“Oh jadi ini mereka...” Gofan mengangguk pelan, “Salam Nona. Aku Gofan. Sepertinya kita sebaya, tidak perlu memanggilku Tuan Muda Pewaris. Panggil saja aku Gofan.” Sahutnya kepada Lingbai.
“Baik. Baik. Terserah Nona saja... Aku tahu maksud kedatangan Nona. Aku dan Senior Tianlang sudah berencana mengunjungi Tenda kalian, hanya saja, kami masih banyak kesibukan lain. Jadi, aku meminta maaf karena menundanya.”
“Tidak. Tidak masalah tentang itu Tuan. Lingbai datang hanya untuk memastikan sesuatu...” Sahut Lingbai sembari melihat ke arah leher Gofan.
Lingbai hanya melihat sebuah tali kalung tersemat di leher Gofan, namun bandul kalung itu, tidak terlihat akibat terhalang pakaian Gofan.
“Lingbai ingin memastikan, apakah Tuan Muda memiliki Kalung Kerang seperti ini?.” Imbuh Lingbai sembari menunjukkan sebuah gambar kalung kerang kepada Gofan.
Gofan tentu tahu kalung yang dimaksud Lingbai, “Kalung Kerang Ajaib? Maksudmu Kalung ini?.” Gofan menunjukkan Kalung Kerang Ajaib kepada Lingbai.
Mata Lingbai terbelalak, ternyata memang benar, Gofan memiliki kalung kerang yang serupa dengan milik Mahagurunya.
“Benar Tuan.. Terima kasih Tuan Muda. Lingbai telah memastikannya. Lingbai akan memberitahukan hal ini kepada Mahaguru Yanzi. Beliau sangat berharap bisa bertemu empat mata dengan Tuan Muda untuk mebahas Kalung Kerang Ajaib itu.” Sahut Lingbai.
Gofan mengangguk pelan dan barjanji untuk bertemu Mahaguru Yanzi keesokan harinya. Malam ini, Gofan berencana untuk melatih Budidayanya.
“Paman. Pergilah dan lihat apakah Perguruan Lembah Bunga Kamboja sudah tiba di Pulau ini.” Ucap Gofan setelah Lingbai pergi.
__ADS_1
“Baik Tuan.” Sahut Lujiang.
Setelah memenuhi janji untuk menjadi pelayan Gofan. Lujiang mulai terbiasa memanggil Gofan dengan sebutan Tuan. Sekarang dia benar-benar bertindak layaknya pengawal pribadi Gofan.
Lujiang pergi menuju ke arah Tenda Perkemahan lainnya untuk mencari tahu keberadaan Perguruan Lembah Bunga Kamboja.
**
“Fanfan. Akhirnya kamu pulang juga... Apa yang kalian bicarakan? Apakah menjadi Pemilik Perguruan itu sebegitu menguntungkannya?.” Tanya Xionan.
Hampir seharian ini, Xionan menunggu kepulangan Gofan di Tendanya. Gofan pergi dari semenjak pagi, untuk menghadiri pertemuan, guna membahas beberapa hal termasuk tentang kerja samanya dengan Lixiayo.
“Tidak banyak..Hanya membahas beberapa hal seputar Perguruan... Tentu saja, lihatlah ini...” Gofan mengeluarkan setumpuk besar Batu Darah di hadapan Xionan.
“Inilah keuntungannya.” Imbuh Gofan dengan sedikit nada sombong.
“Kalau sebegitu menguntungkannya, kenapa kamu begitu pelit padaku? Lihatlah.. Aku sama sekali tidak memiliki apa pun di jari-jari tanganku ini.” Xionan melirik ke arah Cincin Dimensi yang dikenakan Gofan.
“Oh... Jadi, kamu ingin memanfaatkanku.” Sindir Gofan.
“Huh.. Pelit!.” Xionan mendengus pelan dan memutar badannya, memunggungi Gofan.
“Aku menarik kata-kataku.. Aku tidak akan mengajarimu apa pun.” Imbuh Xionan dengan nada bercanda.
*Tring*
“Begitukah? Padahal, aku baru saja ingin memberikan ini padamu.” Sebuah Cincin Dimensi muncul di tangan Gofan.
Mendengar itu, Xionan membalik badannya. Ketika dia melihat Cincin Dimensi di tangan Gofan, dia langsung menyambar mengambilnya.
“Kenapa tidak bilang dari awal?. Kalau tahu kamu sudah menyiapkan ini, aku akan langsung mengajarimu beberapa jurus.” Xionan terlihat begitu senang ketika memakai Cincin Dimensi baru miliknya itu.
“Kamu tidak bertanya... Oh ya.. Nannan, simpanlah Batu-batu ini, aku sudah punya banyak yang lainnya.” Tunjuk Gofan ke arah tumpukan Batu Darah yang tadi dia keluarkan.
Dengan senang hati Xionan mengangguk dan menyimpan tumpukan Batu Darah tersebut.
Setelah mengajari Gofan beberapa jurus, Xionan meninggalkan Gofan untuk berbudidaya.
Bersambung...
__ADS_1
Novel ini hanya fiktif belaka. Karya asli penulis. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.