Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 181. Ini Keajaiban Kitab Surga!


__ADS_3

Kitab? Kitab Surga Sembilan Langit?!


Salah satu dari tiga Kitab Surga ada di sini?!


Suara menggelegar dari Kepompong Hitam membuat semua orang terkejut, ini terutama berlaku untuk semua anggota Kultus Abu-Abu yang dulu pernah menghancurkan Trah Len. Saat itu, mereka tidak berhasil mendapatkan apa-apa, tidak Kitab, tidak pula Batu Reinkarnasi. Tapi sekarang Kitab itu muncul dan dibudidayakan oleh seorang bocah 13an tahun.


Tungdie dan Xingmou melihat ke arah Gofan, petir yang berkecamuk, pusaran Energi Langit dan Bumi itu berpusat padanya. Itu membuktikan bahwa dialah yang memiliki Kitab Surga Sembilan Langit.


“Siapa bocah ini? Kenapa Kitab itu bisa berakhir di tangannya?.” Batin Xingmou, menyusul turun ke arah Gofan bersama dengan Tungdie.


Vasudev, Duan Tianlang, Xunialiang terkejut, ini baru pertama kali mereka mengetahui Gofan mempelajari Kitab Surga. Anggota dari berbagai Perguruan yang mengenal Gofan juga tidak kalah terkejut.


Kecuali Perguruan Tunjung Putih, Lembah Bunga Kamboja, Yin Biru dan Partai Tongkat Sakti. Tidak peduli teman atau lawan, semua memiliki minat untuk merampas kitab itu dari Gofan. Bahkan para Bangsawan yang masih hidup pun ikut tertarik, ini berlaku untuk Pangeran Goyige. Niat membunuh muncul di matanya.


Mouhuli dan Xionan jatuh dalam dilema, keduanya adalah yang sudah pasti tahu tentang Kitab Surga itu. Melihat tatapan rakus dari Pendekar di sekitarnya, mereka melesat maju untuk melindungi Gofan. Tindakan serupa juga diikuti oleh Vasudev dan semua anggota tiga Perguruan, Tunjung Putih, Lembah Bunga Kamboja, Yin Biru, dan Partai Tingkat Sakti.


“Tidak ku sangka, Bocah ini juga memiliki Kitab Surga, dengan ini, kalau aku bisa mendapatkan semuanya, tidak hanya Energi Surga, jalan untuk menembus Alam Besar terbuka untukku.” Gumulryong menatap ke arah Kepompong Hitam, “Peduli setan dengan Dewa Gelap ini, bagaimana pun, selamanya, aku tidak akan mau bersatu kembali dengannya-!.”Tangannya mengepal erat, napasnya memburu dan kembali menerjang ke arah Gofan.


Haiwa dalam wujud Tongkat melayang kembali setelah memukul mundur Xiongmeng, dia menghalangi setiap serangan yang ditujukan ke Gofan. Tongkat sakti itu bersinar terang dan bergetar pelan sebelum mebesar hingga selebar kumpulan lima pria dewasa. Kemegahannya memancar melindungi Gofan.


Gofan sudah ibarat sebuah peti harta karun, Kitab Surga, Batu Bertuah, dan jika ditambah Tongkat Emas Naga Kembar dan Harta Rahasianya yang lain, siapa yang akan menolak untuk mengambilnya.


Sekarang hampir lusinan orang di gelombang pertama yang terdekat dengan Gofan mencoba untuk menyerangnya. Mereka terperangah sesaat dengan kilauan Tongkat Emas Naga Kembar. Tapi di antara semua Pendekar manusia itu, tidak satu pun tertarik untuk memiliki Tongkat Emas Naga Kembar. Hanya Tianyekwang, dan tiga Siluman yang menginginkan tongkat sakti itu.


Saat lusinan lebih Pendekar di gelombang kedua, maju untuk menyerang Gofan, pertempuran pun kembali bergejolak. Hanya saja kini ada dua kubu di dalam pertempuran itu. Kubu pertama adalah kumpulan Pendekar yang menginginkan kematian Gofan dan kubu lainnya adalah para Pendekar yang melindungi Gofan.


**


“Iblis Putih!? Kembalikan darah Gadis Teratai Emas milikku!!.” Teriak Tianfuzi. Yang lain mungkin meneriakkan Kitab Surga, tapi dia berbeda, dia sudah lama menyimpan dendam pada Gofan, semua rencananya rusak karena 'Iblis Putih'.


Seorang Gadis bertopeng yang berada di antara kubu pelindung Gofan tersentak mendengar teriakan Tianfuzi. Dia marah dan menerjang ke arahnya.


“Penipu! Penjahat!!.” Gadis bertopeng itu menghunuskan pedangnya ke arah Tianfuzi.


*Trang!*


“Sialan! ENYAH!!.” Raung Tianfuzi. Serangannya berhasil ditepis Gadis bertopeng.

__ADS_1


Gadis itu melepas topengnya dan menatap tajam ke arah Tianfuzi “Ayah angkat!! Masih menginginkan darahku?... Hari ini hutang Ayah dan anak kita akhiri di sini...” Ucapnya sedikit sendu, “Jika aku mati, ambil saja sesukamu darah ini.. TIANFUZI! mari kita bertarung!.”


“Putriku...Meiling...” Tianfuzi ternganga, langkahnya terhenti.


“Aku bukan Putrimu! Penipu!!.” Gadis itu tidak lain adalah Meiling. Sembari melesat maju, kenangan penyiksaan yang dilakukan Ayah Angkatnya berputar dalam benaknya.


Tianfuzi tertawa, “Pucuk dicinta ulam tiba.. Bagus... Bagus... Meiling putriku, ayo kita pulang bersama. Urusan Ayah belum selesai denganmu”


Tianfuzi menangkis serangan pedang Meiling. Meiling dipaksa mundur oleh serangan tapak Tianfuzi. Dalam puluhan serangan tapak, hampir setengahnya selalu mengenai tubuh Meiling.


**


Di sisi lain Area Turnamen, seekor Ular Raksasa, 90an kaki, tengah terdesak. Sebagian besar kulitnya terkelupas karena terkena racun. Asap hijau keluar dari luka-luka itu. Itu Julala, dia terluka parah.


“Cacing kecil. Berhentilah melawan. Serahkan Pagoda itu dan aku akan membiarkan hidup.” Ucap seorang Pria tua dengan punggung bungkuk.


“Puih..!.” Meludah, “Mati sekalipun, Pagoda ini tidak akan pernah jatuh ke tanganmu.” Ucap Julala mendesis.


Pria tua bungkuk itu mengayunkan tangannya dan sebuah tangan hijau ilusi menyebar mengelilingi Julala, “Ini racun terbaru buatanku, lebih baik aku mengujinya terlebih dahulu padamu Hehehe.”


“Tuan Guxiu.. Habisi saja langsung. Bulan purnama akan segera berlalu, kita memerlukan Jiwa Siluman Anjing itu.” Huangkong duduk di sudut dinding pembatas Formasi, memulihkan lukanya.


*Grrooaaahh!!!*


Julala menjerit kesakitan, tubuh besarnya tiba-tiba dipaksa menyusut. Cengkraman tangan hijau Guxiu meremas dan meremukkan setiap tulang di dalam tubuhnya.


“Gofan.. Jagalah warisan Tabib Len.. Jaga dirimu.” Julala melesat ke arah Guxiu. Sebelum tubuhnya benar-benar menyusut, dia memilih untuk membakar Budidayanya, Titik Pusat Jiwanya mendidih seperti air panas, dia siap meledakkan dirinya.


“Matilah bersamaku! Tua bungkuk!!!!.” Tubuh Julala memancarkan cahaya kuning terang.


“Bang***t.. Cacing ini akan meledakkan dirinya!.”


Bang! Bang! Bang! Ledakan berkali-kali terjadi, darah menyembur kemana-mana, potongan daging ular berserakan.


**


Hati Gofan terguncang. Meskipun kini matanya tengah tertutup rapat, dia bisa mengetahui hal yang sedang terjadi di sekelilingnya. Kematian Julala tidak luput dari itu. Tanpa sadar, air mata menetes dari kedua sudut matanya yang tertutup.

__ADS_1


“Xiashe...”


Kenangan masa kecilnya saat bermain dengan Xiashe, juga pertemuannya kembali di Dimenai Mouhuli, pertolongan Xiashe di Ibu Kota, dan pelatihannya bersama di dalam Payung Tangisan Surga melintas di benak Gofan. Tubuhnya bergetar pelan. Putaran penyerapan Energi Langit dan Bumi bertambah cepat, amarah dan kesedihan mendorong basis budidaya Gofan melonjak ke tahap Langit Ketiga. Cahaya ungu semakin terang saat tubuhnya melayang dan berputar-putar.


Angin kencang terjadi di sekelilingnya, langit kembali bergejolak, semakin banyak baut-baut petir yang melintas dan turun ke bumi.


*Jedar!!*


*Jedar!!*


Tanah berguncang dan retakan tanah akibat Formasi Roh Air Kuning semakin membesar. Sebuah jurang selebar dua tubuh manusia terbentuk melintang lurus tepat di bawah Gofan. Retakan itu merobek tanah dan perlahan mulai menghancurkan Formasi Tameng Harimau Naga.


*Groooaahhh*


*Grooaaahhh*


Dua bayangan ilusi muncul mengelilingi Gofan. Bayangan putih berbentuk Gajah dan bayangan biru berbentuk Naga. Keduanya berputar dan meraung-raung memanggil petir.


“I-ini!! Dia.. Dia menerobos.. Dia akan memasuki ranah Saint Master.”


Saint Master tahap awal!


Saint Master tahap pertengahan!!


“Sial! Dia menerobos tiga tahap sekaligus... Saint Master tahap akhir!...”


“Ini keajaiban Kitab Surga!.”


Ini kesempatan! SERANG!! Saat terakhir dimana Gofan akan menyelesaikan terobosannya adalah saat yang kritis, jika ada yang menyerangnya di saat seperti itu, maka basis Budidayanya akan terguncang dan semua Energi Langit dan Bumi yang diserapnya akan mengalami kekacauan. Kekacauan ini dapat mengakibatkan kelumpuhan bahkan kematian.


*Duaaarrr!!*


*Duuaarrr!!*


*Duuuaaarr!!*


Belum sempat serangan mengenai Gofan, ledakan besar terjadi.... Formasi Tameng Harimau Naga hancur lebur, meledak!.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2