
Di dalam lorong rahasia perguruan, Guxiong tanpa sengaja bertemu dengan Lenfan, yang pada saat itu juga bersembunyi di dalam lorong.
Lenfan baru saja tiba bersama ayahnya dari perjalanan mengunjungi Perguruan Tunjung Putih, ketika melihat kekacauan yang terjadi di dalam perguruan, ayahnya menyuruh Lenfan agar bersembunyi di dalam lorong rahasia itu.
Guxiong yang melihat keberadaan Lenfan di dalam lorong, tidak menanyakan apa-apa kepada Lenfan. Guxiong hanya meminta Lenfan untuk mendengarkan dia menceritakan seluruh kejadian yang terjadi saat itu, bahwa semua itu terjadi karena rencana jahat yang dilakukan keluarganya.
Guxiong menceritakan bahwa kakek dan kakek moyangnya melakukan kerja sama dengan seseorang yang ternyata adalah musuh besar leluhur dari trah Len, yaitu para keturunan trah darah murni yang jahat.
".....begitulah yang terjadi, Ibuku baru sadar bahwa orang yang mereka ajak bekerja sama adalah orang yang bekerja untuk keturunan trah darah murni yang memiliki perseteruan lama dengan trah Len "
Guxiong tidak tahu tentang Kultus Abu-Abu. Berdasarkan pesan yang dititipkan ibunya, Guxiong hanya tahu bahwa serangan ini dilakukan oleh para keturunan trah darah murni, serangan gabungan dari suku langit cahaya dan suku langit gelap yang mempunyai permusuhan lama dengan leluhur trah Len.
Lenfan hanya diam mendengarkan apa yang diceritakan Guxiong. Setelah beberapa saat mendengarkan cerita Guxiong, Lenfan jadi menaruh benci kepada keluarga Guxiong terutama kepada kakek moyangnya, Xinglau, namun dia juga merasa kasihan akan apa yang pada akhirnya menimpa keluarga Guxiong.
Saat Lenfan mendengarkan seluruh cerita tentang rencana jahat keluarga Guxiong, dia tengah duduk bersandar di dinding lorong sambil memegang sebuah liontin batu berwarna merah yang tergantung lehernya. Lenfan menatap liontin itu dengan tatapan sendu.
Lenfan cemas akan nasib keluarganya, nasib ayahnya, ibunya, pamannya, dan banyak kerabat perguruan lainnya, meski demikian, Lenfan tidak dapat berbuat apa-apa, dia terlalu takut untuk keluar dan memastikan keadaan mereka. Dia dan Guxiong hanya bisa mendengar suara pertempuran, suara jeritan, dan sesekali suara ledakan, dari dalam lorong rahasia.
Pada akhirnya setelah menyelesaikan semua cerita, Guxiong meminta maaf mewakili seluruh keluarganya. Guxiong melakukan itu sambil menangis. Lenfan hanya mengangguk pelan dengan air mata yang juga menggenang di kedua bola matanya.
***
_Malam hari, di dalam Dunia Dimensi, Mouhuli_
*Sehari berlalu, aku keluar dari lorong rahasia bersama Guxiong, lalu kami melihat situasi yang tidak akan pernah kami lupakan seumur hidup kami*
Gofan menceritakan bahwa setelah itu, dia dan Guxiong memutuskan untuk pergi ke keluarga besar ayah Guxiong, ke kediaman keluarga Gu. Dia tinggal di sana selama dua tahun, sebelum akhirnya terpaksa pergi dari kediaman itu dan hidup berkelana.
*Jadi begitu, aku memang tidak menyukai si tua Xinglau itu, orang tua itu selalu saja menghalangi Tabib Len, saat hendak menemui kakeknya, tapi aku tidak pernah menyangka dia melakukan pemberontakan*
Julala saat itu selalu mengikuti kemana pun Lenchan pergi, sebagian besar cerita yang diceritakan Gofan sudah diketahuinya, dia menyaksikan sendiri kompetisi perebutan posisi Mahaguru dari dalam saku baju Lenchan.
Cerita yang tidak diketahui Julala adalah cerita mengenai rencana jahat yang direncanakan Xinglau, yang pada akhirnya malah membawa kehancuran kepada keluarganya sendiri. Julala juga tidak menyangka bahwa selain keluarga Xing, ternyata ada pihak lain yang ingin menghancurkan trah Len.
*Xiashe, ambil ini, aku punya dua, simpan harta warisan Paman Lenchan di dalamnya, aku kurang suka melihatmu memuntahkan herbal seperti sebelumnya*
Imbuh Gofan, saat memberikan sebuah kantong ruang yang selama ini dia pergunakan untuk menyimpan keperluan orang biasa.
*Terima kasih, aku akan mengembalikan kantong ini, tunggu saja, aku akan segera kembali, shhh, kalau begitu aku pergi, kamu beristirahatlah*
Julala pergi meninggalkan Gofan yang saat itu masih duduk di halaman di sebelah gubuknya.
*Gofan, apa kamu tahu apa yang dicari para trah darah murni itu di perguruan ayahmu? tidak mungkin motif mereka hanya semata-mata untuk menyelesaikan perseteruan lama bukan?*
Julala berhenti dan berbalik menoleh ke arah Gofan, dia penasaran apa yang membuat keturunan trah darah murni melakukan pembantaian sekeji itu terhadap keluarga trah Len.
*Aku juga berpikir demikian, tapi untuk saat ini aku tidak tahu apa tujuan mereka melakukan itu*
Sahut Gofan, saat dia berdiri dan meregangkan tangan serta kakinya.
*shhh, lain waktu kita harus mencari tahu masalah ini, shhh, Aku pergi*
__ADS_1
Julala melihat tatapan mata Gofan sedikit berair ketika cahaya bulan menyinari wajahnya. Gofan hanya mengangguk menyetujui kata-kata Julala.
Julala memutuskan untuk melanjutkan jalannya, pergi keluar dari dunia dimensi dan menyimpan semua harta berharga Lenchan ke dalam kantong ruang pemberian Gofan.
Gofan berdiri dengan dua tangan dilipat ke belakang punggung, kepalanya agak menengadah, melihat bintang-bintang yang bersinar terang di langit dunia dimensi itu. Air matanya berlinang, Gofan mengingat kembali keadaan mayat ayah dan mayat ibunya, ketika dia keluar dari lorong rahasia tempatnya bersembunyi.
-'Hanya dengan menembus sembilan langit dan pergi ke Alam Besar', Ayah... Ada apa di Alam Besar? jika Surga ada, jika Dewa ada, mungkinkah untukku merubah waktu?-
Saat dia mengingat masa lalu, Gofan mengingat kata-kata yang selalu dikatakan Lenhao, saat dia dilatih bela diri oleh ayahnya itu, 'Hanya dengan menembus sembilan langit dan pergi ke Alam Besar'.
Gofan tidak tahu mengapa ayahnya terus mengatakan tentang Alam Besar dan menembus langit, mengingat itu, Gofan hanya menggeleng-geleng kepala dan masuk ke dalam gubuk.
Di dalam gubuk, Xionan telah tertidur dengan posisi yang sama seperti kemarin malam. Gofan duduk bersila di sisi luar dipan, dia melakukan segel tangan dan mulai mengolah budidaya energinya.
Oleh karena hari sudah mendekati subuh, Gofan hanya menyerap energi langit dan bumi setelah saripati energinya bertambah menjadi 608 lapisan tambahan. Warna biru dari saripati energi mulai berubah semakin keunguan, hal itu membuktikan bahwa kesimpulan yang diambil Gofan sudah benar.
Hari pun berganti, malam telah berlalu dan hari latihan ke-25 tiba. Gofan melakukan kegiatannya seperti biasa, mulai dari membasuh diri, mengisi penuh gentong air, dan beristirahat sejenak sambil memasak makanan.
Adapun hal yang berbeda adalah hari latihan ke-25 ini adalah hari pertama Gofan menyantap sup buatannya bersama dengan Mouhuli. Meski hari belum mencapai tengah hari, Mouhuli sudah muncul di hadapan Gofan, karena tertarik oleh aroma sup yang dibuatnya.
*Sruput*
"Aku penasaran, Apa nama sup ini? Kenapa setiap memakannya, Aku merasa seperti tubuhku kembali bugar, ini sungguh menyenangkan, ini seperti makan sambil berlatih"
Tanya Mouhuli saat masih asyik menyantap sup buatan Gofan. Dia duduk di sebuah potongan kayu di luar dapur.
"Namanya sup nutrisi tenaga, dibuat dengan herbal-herbal yang mampu memulihkan stamina, oleh karena itu tubuh terasa bugar jika mengonsumsi sup ini."
"Pantas saja... Oh ya, ini herbal yang kamu minta"
Mouhuli mengibaskan tangannya dan dua herbal itu muncul, di depan Gofan saat Mouhuli baru saja menghabiskan sup di dalam mangkuknya.
"Terima kasih Leluhur, kalau begitu, saya akan melanjutkan latihan, saya permisi"
Gofan yang juga sudah usai makan, menyimpan dua herbal itu ke dalam kantong ruang, lalu beranjak pergi untuk memulai latihan fisik ala ayahnya.
Setelah berhari-hari menjalani pelatihan, tubuh Gofan kini mengalami beberapa perubahan, Gofan menjadi sedikit lebih tinggi, lebih berotot, tubuh kurusnya sudah tidak terlihat lagi dan juga karena Kitab Tubuh Tulang Abadi, kulitnya menjadi lebih bersih, wajahnya pun menjadi lebih tampan.
Gofan menyadari semua itu, namun dia tidak terlalu menganggap penting semua perubahan pada tubuh fisiknya, sebab yang terpenting baginya adalah peningkatan kekuatan. Oleh karena itu, Gofan tidak mengendurkan semangatnya, dia tetap melakukan semua latihan yang sudah berhari-hari dia jalani ini, dengan sungguh-sungguh.
Hari pun berlalu dan malam datang, saat Gofan sedang sibuk meracik obat penawar lima racun untuk Yubing. Gofan sudah meracik obat penawar itu, sejak sore hari setelah dia menyelesaikan semua tugas hariannya,
-Sayang sekali aku bukan seorang tabib, aku tidak bisa membuat pil, tapi menurut kitab paman, aku bisa merubah bentuk obatnya menjadi serbuk-
Meski sudah menguasai seluruh isi Kitab 100 Kehidupan, Gofan belumlah bisa disebut sebagai tabib. Dia tidak mempelajari kitab teknik yang mengolah energi elemen alam yang berguna dalam pembuatan pil, yaitu api.
Umumnya para tabib adalah mereka yang mempelajari kitab teknik energi api, mereka memiliki kemampuan mengendalikan api untuk membuat pil, sementara Gofan tidak mempelajari kitab itu.
"Apa aku perlu mempelajari kitab teknik yang mengolah energi api? Apa tubuhku mampu menampung banyak jenis energi? Belum lagi Xionan berharap aku mempelajari energi sihir"
Gofan menggeleng-geleng sambil menumbuk beberapa herbal obat.
__ADS_1
Dulu selama hidup berkelana, berkeliling Benua Penda, Gofan pernah mendengar, ada seorang pendekar yang mengolah lebih dari dua energi yang membuat pendekar itu menjadi cacat, titik pusat jiwanya meledak karena tidak mampu menampung banyaknya energi yang masuk.
-Tapi, saat ini ada tiga jenis energi di tubuhku, intisari energi untuk tenaga dalam, energi mental untuk mata iblis, dan energi surga dari batu reinkarnasi. Aku masih baik-baik saja, apa mungkin aku mempelajari energi sihir ?-
Pikiran Gofan mempertanyakan banyak hal, sementara tangannya terus meracik obat penawar.
-Lagi pula kenapa Xionan ingin aku mempelajari sihir? Apa dia tidak khawatir aku akan menjadi cacat, nanti aku harus menanyakannya-
Gofan melihat ke arah Xionan yang tertidur memunggunginya.
Xionan baru saja habis berkeliling pulau, dia juga sempat keluar masuk portal, seperti sedang memastikan sesuatu,
-Apa yang dilakukannya seharian ini, sampai membuatnya tertidur lelap seperti sekarang-
Setelah hari hampir menjelang subuh, akhirnya serbuk obat penawar lima racun Yubing berhasil diselesaikan Gofan. Tidak ada kesalahan yang terjadi selama Gofan meracik obat itu, sebab Gofan hanya menumbuk dan mencampurkan herbal obat membuatnya menjadi bentuk serbuk.
Lain halnya jika Gofan membuat obat penawar menjadi berbentuk pil, kesalahan dalam pengendalian api akan membuat pil menjadi rusak dan kehilangan khasiat,
-Menjadikannya serbuk juga tidak semanjur pil, Apa Yubing akan sembuh dengan serbuk ini? aku hanya berani bertaruh 50:50-
Serbuk obat penawar yang sudah selesai itu, dimasukkan Gofan ke dalam sebuah botol obat,
"Semoga saja ini berhasil, karena ini adalah resep Pil Penyambung Nyawa, Aku akan menamai serbuk ini, Serbuk Penyambung Nyawa"
"Itukah Obatnya ?"
Xionan tiba-tiba muncul melayang di sebelah Gofan, dia baru saja bangun dan mendapati Gofan yang sedang asyik sendiri meracik obat.
"Kamu sudah bangun? Bukankah hari masih malam?"
Gofan heran melihat Xionan yang tiba-tiba muncul di sebelahnya, padahal menurutnya hari masih malam, masih belum waktunya untuk bangun.
"Kamu Ini... Lihat !"
*Kriieet*
Xionan mengibaskan tangan dan jendela kecil di gubuk bambu itu terbuka, sinar matahari pagi yang menyilaukan mata menyusup masuk ke dalam gubuk.
"Eh... Sudah pagi?, Sial... Aku bahkan belum sempat tidur"
Hari latihan ke-26 telah datang, tetapi karena asyik meracik obat, Gofan belum sempat tidur.
"Itu Obat Penawarnya ?"
Tanya Xionan sekali lagi.
"Iya, ini obat untuk Yubing"
Sahut Gofan dengan sedikit lesu ketika menyadari hari telah berganti, sementara dia belum tidur seharian. Bagi pendekar pemula seperti Gofan, makan dan tidur masih diperlukan.
Bersambung...
__ADS_1