
'Apa itu? Bagaimana mungkin?.. Sial.. Pantas saja jurusnya dinamai Jubah Tanah Pelindung. Ternyata semua karena itu' Bola mata Wangjang membelalak saat melihat keadaan Gofan yang baik-baik saja seusai terpental akibat ledakan.
Sekarang tubuh Gofan telah dilapisi oleh sebuah jubah yang terbentuk dari tanah. Jubah dari tanah itu melindungi Gofan dari ledakan.
Bukan hanya tidak terluka, Gofan bahkan terlihat begitu bersemangat. Karena ledakan itu, seorang peserta lain jatuh pingsan setelah berbenturan dengan dirinya yang dilindungi jubah tanah.
"Tinggal 28 lainnya... Ayo kita maju lagi Haiwa!" Gumam Gofan saat dia beranjak bangkit dan menyerang ke arah Wangjang.
'Baik. Ayo hajar mereka semua!' Sahut Haiwa dengan santainya dari dalam Tongkat Emas Naga Kembar.
"Pukulan Api Penakluk Iblis"
"Meriam Tanah"
"Langkah Kilat"
Gofan memadukan jurus tongkat miliknya dengan jurus elemen tanah yang dia kuasai.
Puluhan tanah padat melayang mengelilingi Gofan. Tanah padat itu membentuk bola-bola peluru seukuran dua kali kepalan tangan. Satu demi satu bola peluru tanah itu dipukul Gofan dengan Tongkat Emas Naga Kembar.
*Tyuung*
*Zyuut*
Wangjang menghindari setiap bola peluru tanah yang menyerang ke arahnya. Tapi gerakan tangan Gofan begitu cepat, langkah kaki Gofan juga begitu cepat. Wangjang tidak bisa mengimbangi kecepatan itu.
*Duagh*
"Ukh..." Wangjang akhirnya terpukul mundur karena terkena beberapa hantaman bola peluru tanah.
*Triuung* Sebuah rantai berujung pisau tiba-tiba melesat ke arah Gofan.
*Trang* Gofan menangkis serangan rantai pisau itu dan melompat ke samping.
Seorang pendekar pria berparas cantik berjubah merah menatap marah ke arah Gofan saat serangan rantai pisaunya gagal bersarang di tubuh Gofan.
"Aku berterima kasih karena kamu membuat lawanku tadi pingsan... Tapi kamu juga harus aku singkirkan!" Seru pria berparas cantik itu kepada Gofan.
'Kenapa pria semacam ini juga mengikuti kontes jodoh ini?' Batin Gofan sesaat setelah melihat pendekar pria itu.
"Dingfang! Jangan ikut campur. Dia mangsaku!" Teriak Wangjang.
"Ikut campur?! Tidak salah?... Dialah yang lebih dulu mengacaukan pertarunganku, lagi pula hanya satu orang saja yang bisa berdiri menang di panggung ini. Kalian harus aku singkirkan!" Sahut Dingfang sembari mengacungkang rantai pisau miliknya ke arah Wangjang.
"Baik. Akan aku singkirkan kamu terlebih dahulu!" Wangjang maju menerjang ke arah Dingfang.
*Zyuut* Gofan muncul menghalangi langkah Wangjang.
"Eit.. Jangan lupa... Aku masih di sini!" Gofan mengerahkan Energi Tanah miliknya saat dia menerjang ke arah Wangjang.
"Pukulan Tangan Golem"
Gofan menggunakan jurus pukulan untuk menghadang Wangjang.
Sekumpulan tanah memadat dan membentuk sebuah kepalan tangan batu di tangan kiri Gofan. Gofan mengarahkan kepalan tangan batunya itu ke arah tubuh Wangjang
"Tapak Api Matahari"
*Tap* Wangjang menahan serangan kepalan tangan batu Gofan.
"Kamu pikir. Aku tidak bisa menahan pukulan semacam ini!?" Wangjang menahan serangan kepalan tangan batu Gofan dengan telapak tangan kirinya yang berlapis api membara.
"Rantai Penyatu Jiwa"
*Triuung* Dua buah rantai pisau melesat.
__ADS_1
Masing-masing rantai pisau itu menyerang ke arah Gofan dan Wangjang yang sedang beradu tenaga dalam saat pukulan Gofan dan tapak Wangjang saling berbenturan. Dingfang menyerang Gofan dan Wangjang secara bersamaan.
"Pengganggu!!" Seru Wangjang dan Gofan secara serempak.
Gofan menggunakan Tongkat Emas Naga Kembar untuk menangkis serangan rantai pisau Dingfang. Di saat yang sama Wangjang menggunakan Gada berapi miliknya untuk menangkis serangan rantai pisau Dingfang.
Lalu Gofan dan Wangjang menggunakan jurus pukulan dan tapak mereka untuk menyerang Dingfang.
*Duagh*
"Argghh!!" Dingfang terpukul mundur hingga puluhan langkah. Dingfang terluka parah. Pukulan dari kepalan tangan batu Gofan dan serangan dari tapak berlapis api Wangjang bersarang tepat di dada Dingfang.
Usai menyingkirkan Dingfang, Gofan menoleh ke arah Wangjang, begitu juga sebaliknya. Sekarang mereka menatap sembari saling tersenyum meremehkan.
"Pukulan Api Penakluk Iblis"
"Hantaman Badai Api"
*Trang* Tongkat Emas dan Gada berapi saling berbenturan.
*Trang*
*Trang*
Mereka bertarung imbang. Baik Gofan maupun Wangjang tidak ada yang terpukul mundur. Mereka terus menerus saling menyerang.
Setelah puluhan gerakan, barulah Wangjang melompat mundur.
'Aneh.. Kenapa tenaga dalamnya seperti tidak ada habisnya? Budidaya apa yang dipelajari Yanse sampai bisa seperti ini?' Batin Wangjang saat dia kelelahan karena mulai kehabisan tenaga dalam.
Wangjang meraih kantong ruang miliknya dan mengeluarkan sebutir Pil berwarna hitam. Segera setelah itu, Wangjang menelan pil tersebut sembari membentuk sebuah segel tangan.
'Pil hitam!?' Gofan tidak asing dengan pil yang baru saja ditelan oleh Wangjang. Pil itu adalah Pil Hitam, salah satu pil yang membuatnya menguasai Mata Iblis.
"Hyaaa!!!" Teriak Wangjang saat gelombang Energi Mental menyeruak keluar dari tubuhnya.
*Duarr*
*Duarr*
Gofan melesat mundur menghindari serangan ledakan Energi Mental tersebut.
"Argghhh!"
"Arggghhh!!"
Empat pasang peserta yang tengah bertarung di dekat Wangjang terluka karena ledakan energi tersebut.
"Gofan. Kenapa kamu tidak menggunakan Mata Iblis dan mengakhiri ini secepatnya?" Tanya Haiwa dari dalam Tongkat Emas Naga Kembar.
"Belum saatnya. Aku masih ingin melatih elemen tanah milikku" Sahut Gofan saat sebuah perisai tanah muncul di hadapannya.
Perisai tanah itu melindungi Gofan dari terpaan ledakan Energi Mental Wangjang.
"Hahaha.. Yanse! Aku akui, tenaga dalammu lebih murni dan lebih padat daripada milikku... Tapi dengan kekuatan mental ini, aku akan membunuhmu!" Seru Wangjang.
Berkat Pil Hitam, kekuatan mental Wangjang meningkat pesat. Dia terbang melayang setinggi enam kaki. Gada berapi miliknya juga melayang di hadapannya.
"Api Dewa Matahari"
*Bhuurr*
Seluruh tubuh Wangjang dilapisi api saat dia melayang-layang di atas ring tersebut.
"Dia!?"
__ADS_1
"Energi Api yang besar...."
"Itu Wangjang dari Perguruan Bulan Bintang!"
"Dia baru beberapa tahun lalu mencapai Grand Master tahap akhir... orang yang dilawannya pasti akan kalah"
"Sial. Jika dia berada di ring ini, harapanku untuk menang sirna sudah!"
Ucap beberapa peserta lain yang tersisa di ring tarung dua. Mereka berhenti bertarung dan melihat ke arah Wangjang yang melayang-layang.
"Mati!" Wangjang mengacungkan tapak tangannya ke arah Gofan.
*Bhuurr* Beberapa bola api seukuran tiga kali kepalan tangan melesat dari telapak tangan Wangjang.
*Duarr*
*Duarr* Ledakan demi ledakan menerpa perisai tanah Gofan.
Peserta lain yang melihat kejadian itu mundur menjauh. Lima di antara mereka memilih mundur dari pertarungan.
Dingfang yang tadinya terpukul mundur dan cedera parah akhirnya berhasil memulihkan diri. Dingfang memanfaatkan kesempatan mundurnya peserta lain, untuk menyerang mereka secara diam-diam.
Sementara itu, Wangjang tidak henti-hentinya menghujani Gofan dengan serangan bola api miliknya.
"Cukup!" Gofan kesal menahan serangan bola api yang terus menerus dilempar Wangjang.
Tidak satu pun dari serangan bola api Wangjang yang berhasil melukai Gofan. Lapisan jubah tanah dan perisai tanah tidak henti-hentinya melindungi Gofan dari terjangan serangan bola-bola api tersebut.
"Haiwa. Mohon bantuannmu!" Gofan melempar Tongkat Emas Naga Kembar ke arah Wangjang.
*Zyuut* Tongkat emas itu melesat ke arah Wangjang saat Gofan membentuk sebuah segel tangan.
"Tongkat Sakti...Membesarlah!"
*Blazh* Tongkat Emas Naga Kembar yang melesat ke arah Wangjang berubah menjadi beberapa kali lebih besar daripada ukurannya yang semula.
*Dung* Tongkat Emas Naga Kembar memukul Wangjang.
"Aarrgghhh!!!" Teriak Wangjang kesakitan saat api di tubuhnya mendadak padam karena pukulan dari Tongkat Emas Naga Kembar.
Wangjang terpukul dan terpental, terbang melayang hingga keluar dari ring tarung. Wangjang terpental hingga keluar dari Kota Hantu. Wangjang mendarat di luar Kota Hantu ketika tubuhnya menabrak sebuah bukit.
*Zyuut* Tongkat Emas Naga Kembar kembali ke tangan Gofan dengan ukurannya yang semula.
"Dingfang bukan? Kamu selanjutnya!" Tunjuk Gofan ke arah Dingfang yang masih terheran-heran melihat Wangjang terbang melayang terpental menjauh dari Kota Hantu.
***
'Tongkat Dewa Perang!?' Batin Seorang Gadis bercadar dari dalam sebuah tandu ketika melihat Tongkat Emas Naga Kembar yang membesar.
"Yinfeng. Siapa nama pendekar muda yang menggunakan tongkat sakti itu?" Tanya Si Gadis kepada seorang pria paruh baya yang berdiri di luar tandu.
"Lapor Putri. Kalau tidak salah, namanya adalah Yanse, seorang murid elit dari Perguruan Kelas Bintang Tiga, Perguruan Bambu Giok" Sahut Pria paruh baya bernama Yinfeng itu kepada si Gadis di dalam tandu.
Gadis yang berada di dalam tandu itu adalah Shiyuxin, si Putri Pemimpin Kota. Dia melihat dan memantau jalannya kontes perjodohan itu.
'Yanse? Perguruan Bambu Giok? Tidak mungkin... Jika dia memiliki Tongkat Dewa Perang, dia seharusnya murid dari Perguruan itu' Batin Shiyuxin ketika mengetahui identitas Yanse.
"Yinfeng. Aku merasa itu identitas palsunya. Tolong kamu cari tahu tentang Yanse dari Perguruan Bambu Giok yang asli" Ucap Shiyuxin beberapa saat setelah merasa yakin bahwa identitas Yanse itu hanyalah sebuah samaran.
'Palsu? Benarkah itu?...'
"Baik Putri" Sahut Yinfeng meski masih ragu dengan perintah dari Shiyuxin.
Yinfeng kemudian memanggil dua orang berpakaian putih dengan riasan wajah aneh dan memerintahkan mereka untuk pergi menyelidiki Yanse yang asli di Perguruan Bambu Giok.
__ADS_1
Bersambung...