
Tian Duoduo dan kelompoknya datang terlambat dan harus dengan sabar menerima kenyataan pahit, bahwa Mo Fan, rekan bisnis barunya telah tenggelam di dalam Lumpur Pemakaman Dewa.
“Tuan Muda Fan. Aku harap arwahmu akan menemukan tempat terbaik, semoga kamu tenang di sana. Segala keuntungan dari penjualan bisnis kita, aku janji akan menyimpannya sebagai simpanan atas namamu.” gumam Tian Duoduo dengan tangan terkatup, berdoa agar arwah Gofan diberikan ketenangan.
Melihat doa yang dipanjatkan Tian Duoduo, Li Han tidak sanggup untuk tidak menanggapi, “Tian Duoduo. Kenapa kamu masih berpakaian seperti ini, jika kamu menyukai Mo Fan itu? Bukankah kalau dia masih hidup, dia akan terus salah paham.”
“Paman Han... Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku sungguh menyayangkan kematiannya. Tahukah Paman, bisnis apa yang dia dan aku akan lakukan?.”
“Apalagi kalau bukan Harta Ilahi dan seputar itu...” sahut Li Han sembari menahan senyum.
“Ini....” *Blazh* miniatur setengah potongan set Fosil Emas Tulang Naga bagian kaki melayang di telapak tangan Tian Duoduo.
“Fosil Emas Tulang Naga?!!.” tidak hanya Li Han yang terkejut, Mo Xiefeng dan Jiang Ruo tak kalah terkejutnya, saat melihat harta langka tersebut.
“Duo'er. Bagaimana kalau kamu menjual ini ke Klan Suci Jiang?. Paman ini akan membantumu mendapatkan untung yang layak.” bujuk Jiang Ruo.
“Tidak.. Tidak... Jangan jual padanya. Klan Suci Mo akan memberikan pembayaran yang lebih memuaskan daripada miliknya, jual padaku saja.” Mo Xiefeng ikut membujuk.
Baru saja, Li Han hendak ikut membujuk, tapi Tian Duoduo berbalik dan berkata, “Sudah ada kesepakatan di antara Mo Fan dan aku, bahwa benda ini akan dilelang dalam Lelang Akbar tahun ini. Jika ketiga Paman dan Aliansi berminat, silahkan bertaruh di sana. Permisi.”
Tian Duoduo dan kelompoknya serta Hua bersaudara pergi, kembali ke Menara Harta Ilahi.
“Li Han. Menurutmu apa yang harus kita lakukan? Kita gagal menyelamatkan orang itu... Tapi... Mungkinkah masih ada peluang dia bisa keluar hidup-hidup dari dalam lumpur ini?.” tanya Jiang Ruo.
“Entahlah... Untuk sekarang, kita kembali dulu... Kita laporkan semua ini pada Ketua. Lagi pula, permasalahan titah Kaisar belum mendapatkan jawaban.” sahut Li Han.
“Ayo!!.”
*Wuuusss* *Wuuusss* *Wuuuusss*
Di dalam Lumpur Pemakaman Dewa...
Enam sosok hantu bermata merah menyala menyeret tubuh Gofan yang sekarat, masuk semakin dalam ke dasar Lumpur Pemakaman Dewa.
Bluup* Bluup* Bluup*
Gofan tenggelam semakin dalam dan ketika dia sampai ke dasar lumpur merah tersebut, cahaya emas Mata Ilahi bersinar terang. Gofan masih dalam keadaan tidak sadarkan diri, tapi sesuatu yang berada di dasar Lumpur Pemakaman Dewa, membuat Mata Ilahinya terbuka.
*Blazh* Saat Mata Ilahinya memancarkan cahaya emas yang terang, enam hantu yang berusaha memangsa jiwa Gofan menjerit kepanasan...'Hiyaaaa.... Hiyaaaa.... Hiiyaaaa...' seketika tubuh samar mereka meredup dan menghilang, musnah dalam ketiadaan.
__ADS_1
Tubuh Gofan melayang satu kaki di atas dasar Lumpur Pemakaman Dewa, seluruh tubuhnya di balut cahaya emas. Cahaya emas itu memadat dan membentuk empat benang-benang cahaya. Keempat benang cahaya emas bergerak bagai tentakel ke empat tempat yang berbeda di dasar lumpur merah.
Benang cahaya emas yang pertama merayap masuk ke dalam sebuah baju Zirah yang di dalamnya terdapat kerangka seseorang yang berwarna ungu menyala.
*Zyuuut* Benang cahaya emas pertama membungkus keseluruhan kerangka tersebut, perlahan kerangka berwarna ungu menyala itu diubah oleh cahaya emas menjadi abu berwarna ungu yang kemudian memadat menjadi sebongkah batu berwarna ungu menyala.
Jika saja Gofan tersadar, mungkin dia akan mengenali batu tersebut, ada pola ukiran tertentu di batu tersebut. Mirip dengan bongkahan batu yang dulu diberikan Dewa Perang, Tianyuan, padanya. Benar! Itu Batu Surga. Salah satu pecahan yang belum ditemukan.
Di tempat yang berbeda, Benang cahaya emas kedua membungkus kerangka raksasa seekor binatang langit, itu kerangka seekor Naga. Tulang-tulang ungu Naga itu dirubah cahaya emas kembali ke wujud asalnya yaitu bongkahan Batu Surga lainnya.
Benang cahaya emas yang ketiga membungkus sebuah artefak yang terlihat sangat kuno, itu mirip seperti Cawan tapi cukup besar untuk menampung beberapa kubik air. Dalam balutan cahaya emas, Cawan besar itu meleleh, berubah menjadi Batu Surga lainnya.
Dan benang cahaya emas terakhir membungkus penuh sebuah Pedang besar, ukurannya sebesar tubuh manusia, entah makhluk apa yang mampu mengangkat pedang semacam itu. Cahaya emas terakhir menarik keluar sebuah manik-manik yang tertanam di gagang pedang, itu Batu Surga lainnya, dan ketika Batu Surga dikeluarkan, Pedang besar itu hancur menjadi serpihan abu.
Keempat Batu Surga menyala ungu terang dalam balutan emas saat ditarik oleh Mata Ilahi masuk ke dalam tubuh Gofan.
BOOOOMMMMM!!!! Seketika basis budidaya Gofan diaktifkan. Empat pecahan Batu Surga mulai menyatu dengan tubuhnya, memperbaiki setiap bagian yang layu dan rusak. Tubuh Gofan seperti dibentuk ulang, disempurnakan, lagi dan lagi.
Bahkan berkat penyempurnaan tubuhnya itu, lumpur darah yang berada di sekitanya disaring dan dihisap masuk untuk dimurnikan menjadi darah baru bagi tubuh Gofan.
Bang! Bang! Bang! ledakan energi melonjak keluar dari tubuhnya. Tanpa sadar budidaya Gofan meningkat pesat. Sebelumnya dia berada dalam tahap awal ranah Saint God, kini satu demi satu tahap lanjutan ditembusnya.
Ada empat tahap dalam ranah Saint God, yaitu tahap awal, tahap pertengahan, dan tahap puncak, kemudian ditambah satu tahap lagi, yang disebut dengan tahap 'Kelahiran Bintang'. Mereka yang telah mencapai tahap 'Kelahiran Bintang' berarti telah memiliki benih Jiwa Bintang dan siap untuk melangkah ke ranah Star Pioneer. Saat mereka telah membentuk Satu Jiwa Bintang, saat itulah mereka disebut telah memasuki ranah Star Pioneer.
Tidak berhenti di sana, Mata Ilahi juga menarik keempat pecahan Batu Surga lainnya dari Titik Pusat Jiwa Gofan, membuat keempatnya masuk dan melebur menjadi satu dengan kesadaran Gofan. Keempat batu itu menjadi percikan cahaya ungu menyala yang memperkuat kesadaran Gofan.
Mulai sekarang, bahkan jika ada Dewa Gelap lainnya yang ingin merebut pecahan Batu Surga dari Gofan, tidak akan pernah bisa, meskipun raganya dihancurkan, Batu Surga telah melebur menjadi kesadarannya dan hanya Gofan seorang yang bisa memilikinya, sekarang, nanti, dan selama-lamanya, hingga dia lenyap dari seluruh Alam.
Tingkat kesadaran Gofan meningkat enam kali lipat, itu berarti kekuatan Jiwanya juga meningkat enam kali lipat. Di saat ranah budidayanya mencapai tahap 'Kelahiran Bintang', tingkatan budidaya tubuhnya juga ikut menguat. Gofan telah mencapai tahap Tulang Emas-Tubuh Emas tingkat Tinggi.
Bang! Bang! Bang! ledakan lonjakan terus terjadi saat Mata Ilahi mengaktifkan Kemampuan Ilahi dari Kitab Dewa Sembilan Langit, yaitu Pusaran Penelan Surga!
Saat Pusaran Penelan Surga diaktifkan, itu akan menelan segalanya!.
Tubuh Gofan ibarat sebuah lubang hitam tanpa dasar yang terus menerus menelan segala sesuatu yang ada di dekatnya. Semua benda yang ada di dalam Lumpur Pemakaman Dewa, disuling dan diserap menjadi energi untuk memperkuat tubuh dan budidaya Gofan.
Lumpur darah, Kerangka jasad, Artefak kuno, Kristal Semesta, Zirah tempur, Kereta Langit, Kapal Langit, reruntuhan bangunan, dan semua benda lain di dalam Lumpur Pemakaman Dewa, disuling menjadi butiran-butiran energi dan ditelan masuk ke dalam pusaran yang muncul dari tubuh Gofan.
Satu hari, dua hari, tiga hari... Waktu terus berputar saat pusaran yang muncul dari tubuh Gofan, semakin lama, semakin membesar.
__ADS_1
Satu setengah bulan kemudian... Sebuah pusaran air besar terjadi di Lumpur Pemakaman Dewa.
Sementara di Langit Violet, badai angin besar terjadi. Angin kencang terus menerus berputar-putar ketika Energi Matahari-Bulan dalam jumlah besar terhisap masuk ke dalam pusaran air di Lumpur Pemakaman Dewa.
Langit Violet bergemuruh.. Jedar! Jedarr!! Duaarr!!!
Sebuah kilatan petir menyambar tepat ke titik pusat Putaran air, tepat menyambar ke tempat dimana Gofan berada... Bang!!! hantaman petir mengenai tubuh Gofan dan membangunkan kesadarannya.
“HHIIIYAAAAAAAA!!!.” raung Gofan saat kepalanya menengadah ke belakang dan kedua tangannya mengepal terlentang!! Gofan telah tersadar!!.
Cahaya Biru terang memancar dari tubuh dan Mata Ilahi Gofan... Kini Mata Ilahi miliknya memancarkan Cahaya Biru terang!.
***
Kota Xingchen-Menara Harta Ilahi.
“Kenapa ini? Apa yang terjadi? Pelelangan tahun ini sangat penuh peserta... Bahkan tiga Klan Suci juga ikut langsung dalam pelelangan ini.”
“Apa kamu tidak mendengar?, Pelelangan hari ini akan menampilkan Fosil Emas Tulang Naga, itu setengah set bagian kaki Naga. Sekarang sangat sedikit item Harta Ilahi yang bisa membantu peningkatan seseorang menuju ke ranah budidaya Immortal Realm, jelas saja tiga Klan Suci akan hadir di sini. Jika mereka mendapatkan fosil itu, mereka akan memiliki tambahan pendekar di ranah Immortal Realm.”
“Pantas saja... Tapi kenapa Keluarga Gu dari Kota Dansheng tidak ada yang hadir?.”
“Itu karena mereka tengah menyelidiki fenomena aneh yang terjadi di Lumpur Pemakaman Dewa.”
“Apa ada yang terjadi pada tempat terkutuk itu?.”
“Lumpur Pemakaman Dewa sudah tidak ada lagi!.”
“Apa!!? Yang benar?.”
“Benar... Aku mendengar langsung dari salah seorang anggota Keluarga Gu. Katanya, dua minggu yang lalu, sebuah badai besar terjadi tepat di atas Lumpur Pemakaman Dewa, lalu keesokan harinya saat badai itu hilang, seluruh lumpur darah itu juga hilang... Bahkan hantu-hantu yang ada di dalam lumpur, juga menghilang tanpa jejak.”
“Apa mereka menemukan penyebabnya?.”
“Katanya sebuah Harta Ilahi Kuno tertinggi mungkin muncul di sana dan menyerap habis semua yang ada di Lumpur Pemakaman Dewa itu.”
“Waahh... Kalau benar begitu, berarti Harta Ilahi itu akan jauh lebih berharga daripada Fosil Emas Tulang Naga!.”
Bla... Bla... Bla... Suara bising percakapan di sana sini, terjadi di setiap sudut tingkat tertinggi dari Menara Harta Ilahi, hari ini Pelelangan Akbar telah dimulai.
__ADS_1
Bersambung...
“Semua Karakter, Tempat dan Kejadian dalam Novel ini Hanyalah Fiksi. Semoga Terhibur.”