
Xunialiang mulai merpalkan beberapa kalimat tidak jelas yang terdengar seperti menggumam. Beberapa saat setelah itu, dia meletakkan helaian rambut Yubing tepat di atas bola kristalnya yang telah bercahaya terang.
Usai terlihat seperti melakukan beberapa gerakan seperti menari berjinjit, Xunialiang berucap dengan cukup keras, “Terbukalah-! Atas ijin Yama, Raja Neraka, Terbukalah....”
*Jedar* Suara petir dan kilat terdengar terjadi di langit di atas kediaman Xunialiang.
Yubing, Nian, dan Meiling mendadak terkejut. Hari yang tadinya tenang kini mendadak seperti akan diterjang badai.
*Wuuzzz* Angin kencang berhembus.
*Krincing-Krincing* Jejak langkah kaki seperti mengenakan rantai besi terdengar.
“Tutup mata kalian. Jangan dibuka, apa pun yang terjadi.” Ucap Xunialiang usai kabut putih tebal masuk memenuhi bagian lantai kamar Meiling.
Melihat kabut putih itu, perasaan merinding memenuhi tubuh Yubing, Nian, dan Meiling. Mereka bertiga bergegas memejamkan mata saat langkah kaki berantai terdengar semakin mendekat.
*Krincing Kringcing*
Nian yang merasa kakinya dingin terkena kabut putih itu, sembari masih memejamkan mata, memilih duduk di pinggiran tempat tidur Meiling.
Nian memeluk erat tangan Yubing yang juga duduk di pinggiran tempat tidur Meiling. Semakin dekat suara langkah kaki berantai itu, semakin dingin udara di dalam kamar Meiling. Rasa takut telah memenuhi ruangan kamar itu.
“Waktumu sepuluh hela napas. Kami akan membawanya kembali.” Terdengar suara seorang pria saat mereka semua menutup mata.
“Terima kasih Surahatma.” Sahut Xunialiang.
Mendengar ucapan Xunialiang, Yubing dan kedua lainnya menjadi semakin ketakutan. Mereka diam tidak bergerak. Ketiganya tahu, bahwa Surahatma yang dimaksud Xunialiang adalah Dewa Kematian yang biasanya menjemput roh orang mati.
Konon, jika Surahatma menampakkan diri dan dilihat oleh orang hidup. Roh orang itu akan langsung keluar dari tubuhnya dan dibawa ke Neraka untuk diadili. Karena itu, Yubing, Nian, dan Meiling tidak ada yang berani membuka mata.
“Benarkah kamu Nenek dari gadis ini? Apakah dia memiliki saudari kembar?.” Tanya Xunialiang sembari masih memegang bola kristalnya yang bercahaya terang.
Di hadapan Xunialiang, ada seorang roh Nenek yang di dadanya terikat sebuah rantai. Di belakang Nenek itu, ada Surahatma yang memegang rantai.
__ADS_1
Roh Nenek itu mwnoleh ke arah Yubing dan Meiling, dia tersenyum kecil, sebelum suara rentanya terdengar, “Cucuku Yubing, akhirnya kamu menemukan adikmu. Seorang perawat wanita yang membantu persalinan ibumu membawanya kabur saat kalian dilahirkan... Ibumu meninggal tidak lama setelah melahirkan, karena perbuatan perawat itu. Sementara Ayahmu yang berusaha menyelamatkan Adikmu dibunuh saat dalam pengejaran...”
“Waktu habis..Sesuai perjanjian, Bola Kristal itu akan kami ambil kembali.” Sela Surahatma saat dia menarik terbang bola kristal di tangan Xunialiang menuju ke telapak tangannya.
Beberapa hela napas kemudian suasana mendadak sepi. Sebelum suara Xunialiang terdengar menyuruh Yubing dan Nian membuka mata.
Saat mereka membuka mata kembali, suasana ruangan telah kembali normal. Kabut putih yang menakutkan itu telah menghilang.
Meski sedih tidak bisa melihat Neneknya, Yubing tetap bersyukur telah mengetahui kebenarannya. Yubing berterima kasih kepada Xunialiang.
‘Siapa sebenarnya yang menculikku sewaktu kecil? Apa perawat itu adalah suruhan Ayah angkat?’ Batin Meiling saat dia memeluk erat pinggang Yubing yang tengah mengendalikan Elang Tanduk Bengkok.
“Senior. Sepertinya kita bisa tiba di Pulau kecil di luar Pulau Api itu dalam dua hari.” Ucap Nian dari atas punggung Elang Tanduk Bengkok lainnya.
Yubing mengangguk. Saat ini, hanya beberapa di antara Murid Lembah Bunga Kamboja yang terbang mengendarai Elang Tanduk Bengkok untuk menuju ke Pulau Api. Sebagian besar masih berada di sebuah kapal laut di Laut Timur.
Yubing dan kelompoknya mendapat mandat khusus untuk pergi ke sebuah Pulau kecil di pinggiran Pulau Api. Bersama seorang Penatua dan enam murid lainnya, Yubing, Nian, dan Meiling berangkat menuju pulau tersebut.
[Markas Bawah Tanah Divisi II Bandit Serigala Biru]
“Ini sungguh aneh.. Jika akhirnya kita terkurung di dalam sini bersama semua makhluk ini.. Kita tidak bisa gegabah.. Coba periksa dulu seluruh tempat ini!.” Vasudev pergi dan melangkah menuju ke arah dinding ruangan tersebut.
Gofan menghela napas kesal dan pergi ke arah dinding yang lain. Dengan malas dia mengikuti perintah gurunya.
“Guru.. Bagaimana jika begini.. Guru tunggu di luar dan aku di dalam, jika terjadi sesuatu dengan ruangan ini. Guru bisa menolongku dari luar.” Ucap Gofan saat tangannya meraba ukiran aneh yang terukir di dinding ruangan tersebut.
“Jika semua Mayat ini bangkit, Apa kamu bisa mengatasinya sendiri?.” Sahut Vasudev.
“Aku punya tongkat ini, ini senjata dewa. Aku pasti bisa menyelamatkan diriku.” Ucap Gofan saat Tongkat Emas Naga Kembar muncul di tangannya.
‘Gofan. Sebaiknya kalian tinggalkan tempat ini... Ukiran yang sedang kalian lihat ini adalah Formasi Sembilan Kutukan Langit. Ini Formasi yang tidak bisa kamu atasi, ini berbahaya, aku tidak bisa membantumu untuk hal ini’ Suara Haiwa tiba-tiba terdengar di kepala Gofan.
Alis mata Gofan menekuk, ketika dia mendengar ucapan Haiwa. Meski terkejut mendengar tentang Formasi itu, Gofan tidak berubah pikiran, dia masih ingin mendapatkan kunci Gerbang Dewi Ruyi dengan cara apapun.
__ADS_1
Melihat ekspresi wajah Gofan mendadak berubah. Vasudev mengeluarkan Senjata Dewa miliknya, Vasudev pun akhirnya bertanya kepada Haiwa di dalam Payung Tangisan Surga mengenai ukiran dinding itu.
Sesaat setelah itu, Vasudev menggeleng pelan dan berucap, “Kita pergi.. Jika kamu terkurung di sini, bahkan aku pun tidak bisa membantumu keluar dalam waktu dekat...”
“Haiwa di dalam tongkatmu pasti sudah memberitahukan tentang Formasi Sembilan Kutukan Langit... Jadi, kamu pasti sudah tahu arti ukiran di dinding ini... Formasi ini bukan tandingan kita.” Imbuh Vasudev.
Haiwa di dalam Payung Tangisan Surga memberitahukan hal yang sama kepada Vasudev, bahwa ukiran di dinding itu adalah Formasi Sembilan Kutukan Langit.
Jika seseorang terkurung di dalam Formasi itu, maka seluruh kekuatan Energi di dalam tubuhnya akan menghilang. Orang yang terkurung akan menjadi layaknya manusia biasa tanpa tenaga dalam.
Vasudev melangkah keluar menuju pintu batu, meski merasa sangat disayangkan, dia tidak bisa bertaruh menghadapi sesuatu yang belum bisa dipastikan bahwa dia bisa mengatasinya.
Formasi Sembilan Kutukan Langit, dibuat oleh Dewa dengan menggunakan darah mereka sendiri. Manusia biasa ataupun pendekar yang hanya di ranah Human God tidak akan mampu mengatasi Formasi yang dibuat dengan darah Dewa.
“Nak.. Kenapa kamu masih diam? Kita akan cari cara lain untuk pergi ke Neraka.. Masalah kunci itu, kita bisa pikirkan nanti.. Ayo!.” Seru Vasudev saat melihat Gofan yang masih terdiam.
“Maaf Guru! Aku akan tetap di sini. Akan ku hancurkan patung itu, dan mengambil kunci Gerbang Dewi Ruyi.” Sahut Gofan
“Aiya.. Jangan keras kepala, kita bisa memikirkan cara mengambil kunci itu nanti. Sekarang kita harus pergi dulu, untuk menemukan cara mengatasi Formasi ini, jika memang tidak bisa, kita harus menggunakan cara lain untuk pergi ke Neraka.” Bujuk Vasudev.
“Guru.. Percayalah.. Mayat-mayat ini, tidak akan bisa berbuat banyak kepadaku, aku yakin, aku bisa mengatasi mereka. Tentang Formasi ini, aku akan menunggu Guru mengeluarkanku. Aku tidak akan menyalahkan Guru, jika pada akhitnya Guru tidak menemukan cara untuk menghancurkan Formasi ini.” Bantah Gofan.
“Percuma.. Bahkan jika kamu mendapatkan kunci-kunci itu, kamu akan terkurung di sini bersama mayat-mayat ini.. Berhentilah keras kepala, kita akan cari cara lain.. Ayo-!.” Sekali lagi, Vasudev membujuk agar Gofan mau pergi meninggalkan ruangan tersebut.
*Tep* Gofan berlutut.
“Guru. Murid mohon... Percayalah, murid pasti akan bisa mengatasi ini.” Gofan membungkuk, dia mwnyembah ke arah Vasudev yang masih berdiri di mulut pintu batu.
“Gofan. Bangunlah.. Berhentilah keras kepala. Meski kamu bangga dengan semua pencapaianmu saat ini, di mata Dewa, kita ini bukanlah apa-apa. Kamu tidak akan bisa mengatasi Formasi ini.” Vasudev menolak.
Gofan tidak bergeming. Dia masih diam menyembah ke arah Vasudev.
Bersambung...
__ADS_1