
Perjalanan melewati area badai salju sebentar lagi akan berakhir. Beberapa ratus langkah di depan ketiganya sudah terlihat dinding cahaya pembatas area. Setelah melewati dinding cahaya tersebut, ketiganya akan melangkah ke area selanjutnya.
Tapi dengan jarak yang begitu dekat, Gofan tiba-tiba berhenti. Itu membuat kedua Len bersaudara tidak bisa untuk tidak bertanya.
“Kakak Fan?... Ada apa? Kenapa berhenti? Sedikit lagi kita akan memasuki area ketiga.” tanya Len Ruye dengan raut yang tampak tidak sabar lagi untuk segera meninggalkan area badai salju tersebut.
Len Hui memperhatikan perubahan yang terjadi pada raut wajah Gofan, “Mo Fan... Apa ada sesuatu?”
“Apa kalian tidak mendengarnya?”
“Mendengar apa?” Len Hui berusaha mencari-cari suara apa yang dimaksud Gofan, tapi semua yang didengarnya hanyalah suara hembusan angin dari badai salju yang terjadi di sekitar ketiganya.
“Mendekatlah!” seru Gofan dengan nada sedikit panik.
Keduanya segera mengikuti instruksi Gofan. Meski tidak bisa mendengar suara yang dimaksud oleh Gofan, tapi keduanya yakin bahwa bahaya sedang mengintai mereka. Sekarang, jarak di antara mereka semakin dekat. Membuat lingkaran api biru yang melindungi ketiganya juga ikut mengecil.
“Ada sesuatu di dinding cahaya di depan kita ini...” Gofan mengeluarkan Tongkat Emas Naga Kembar, “Bersiaplah!”
*Triung* Kedua Len bersaudara menghunuskan pedang mereka masing-masing.
“Apa itu adalah Binatang Penjaga di lantai ini?” tanya Len Hui penasaran. Dia tidak bisa merasakan keberadaan apa pun, apalagi mendengar suara yang sebelumnya dimaksud oleh Gofan.
“Hahaha!!” belum sempat Gofan menjawab pertanyaan Len Hui sebuah suara tawa lantang terdengar. Suara itu tepat terdengar berasal dari arah dinding cahaya pembatas area di depan ketiganya.
“Hebat juga kamu. Bisa mendengar suara langkahku, yah... bagaimanapun aku juga tidak terlalu berusaha menyembunyikannya... Hahaha... Kamu yang memiliki darah murni. Aku bisa merasakannya... Tapi kenapa aku juga merasakan ada sedikit darah dari kaumku?.” Sesosok perempuan muncul keluar dari dinding cahaya, “Apa kamu keturunan silang Re-demon dan Anak Surga? Kamu keturunan yang mana? Cahaya atau Kegelapan?” Tanya Perempuan tersebut. Dia menegaskan bahwa Dewa Cahaya dan Dewa Gelap sebagai Anak Surga.
Perempuan itu mengenakan pakaian mirip pelindung tubuh yang terbuat dari bongkahan es batu, beberapa bagian tubuhnya hampir terlihat jelas dari pandangan luar. Hawa dingin terlihat memancar keluar dari tubuhnya. Itu membuat dia terlihat seperti berselimutkan asap dingin.
Perempuan itu memiliki sepasang tanduk hitam kecil yang menyembul dari dahinya. Melihat tanduk kecil itu, Gofan mengingat kemiripan sosok perempuan itu dengan penampilan dari Iblis Gu Bai yang sebelumnya dia kalahkan.
“Re-demon? Apa itu? Perempuan ini selain sedikit mirip dengan Gu Bai, Matanya juga mirip dengan mata milik Suku Naga, apa dia seorang Siluman Naga atau Iblis Naga?” Batin Gofan.
“Hei... Apa kamu tuli? Aku bisa merasakan darah keturunanmu yang lebih murni daripada dua orang temanmu ini... Keturunan Dewa yang manakah kamu? dan katakan, kenapa kamu juga memiliki sedikit aura dari keturunan Re-demon?.” tanya Perempuan itu lagi.
Setiap kali Perempuan itu berbicara, hawa dingin berhembus keluar dari mulutnya, butiran-butiran es kecil berjatuhan di sekelilingnya. Sepertinya hanya dengan sesikit hembusan napasnya saja, dia bisa membekukan lingkungan di sekitarnya.
“Siapa kamu? Apa kamu Penjaga lantai ini? dan apa itu Re-demon?.” Gofan tidak menjawab pertanyaan Perempuan itu, tapi justru menanyakan apa yang baru saja membuatnya penasaran.
Sosok perempuan itu mengangguk, “Benar... Aku penjaga Pilar di lantai ini dan aku juga Re-demon atau bisa dibilang yang kalian sebut dengan Iblis... Namaku Gu Rong. Aku seseorang yang bukan berasal dari Alam Langit ini.... Sekarang bisakah kamu menjawab pertanyaanku?.”
“Namaku... Mo Fan. Apa kamu seseorang yang memiliki hubungan dengan 'Kekacauan Utama'?”
“Yaa... Dimana sopan santunmu? Aku bertanya banyak hal dan kamu hanya memperkenalkan namamu?.” Gu Rong melipat kedua tangannya sembari mendengus pelan, tampak agak sedikit kesal, “'Kekacauan Utama'? Apa kamu keturunan orang itu?... Jawablah pertanyaanku, aku sudah bertanya banyak hal padamu!.”
Meski Gu Rong memiliki penampilan yang begitu menakutkan, dia masih begitu sopan bertanya kepada Gofan. Gofan tidak menyangka, Gu Rong akan sangat penasaran mengenai dirinya.
“Aku hanya keturunan dari salah satu Dewa Kecil, perkara murni atau tidaknya darah keturunanku, aku tidak begitu mengerti. Karena pada dasarnya aku besar bukan di Alam ini. Aku berasal dari Alam Kecil, dari Benua Penda.” Gofan akhirnya menjawab, sembari menyimpan kembali Tongkat Emas Naga Kembar.
Tentu Gofan tidak akan mengatakan secara langsung bahwa dia memiliki darah keturunan Dewa Naga dan Dewa Pelindung, “Lagipula memang benar, aku memang keturunan dari Dewa Kecil, dan memang benar aku berasal dari Benua Penda.”
Kedua Len bersaudara tampak agak terkejut mendengar jawaban Gofan. Bagaimana tidak, seorang keturunan Klan Cabang Mo ternyata berasal dari Alam Kecil yang baru-baru ini terhubung dengan Alam Besar. Belum lagi, mereka juga terkejut mengetahui bahwa Iblis ternyata memang ada. Selama mereka hidup, Iblis hanya menjadi legenda yang dikisahkan telah diusir oleh Surga. Keduanya tidak menyangka, mereka akan melihat satu di hadapan mereka.
“Perkara Nona merasakan bahwa aku memiliki darah Iblis, mungkin itu karena aku tanpa sengaja memperolehnya saat aku berhasil mengalahkan salah satu Iblis yang aku hadapi baru-baru ini. Aku tidak tahu siapa iblis itu tapi dia mengatakan bahwa dia diutus oleh seseorang bernama 'Kekacauan Utama'.” imbuh Gofan.
Gofan juga tidak mungkin mengatakan bagaimana cara dia memperoleh darah Gu Bai, lagi pula semua yang dia katakan memang begitu adanya, hanya saja dia tidak memperjelas semuanya, “Sebaiknya aku tidak perlu mengatakan tentang Gu Bai lebih banyak lagi.”Jika ternyata Gu Rong memiliki hubungan dengan Gu Bai, bukankah itu akan jadi masalah?.
“Nona? Hahaha... Apakah aku semuda itu di matamu?... Hahaha... Sudah lama aku tidak bertemu orang, siapa sangka akan bertemu dengan kamu yang memanggilku dengan sebutan 'Nona'... Hahaha...”
“Kenapa dia begitu senang? Apa sebenarnya dia adalah Nenek tua yang merubah wujudnya?.” batin Gofan, “Tentu saja, kamu memang terlihat seumuran dengan kami, bukankah begitu Nona Gu Rong?.” Gofan sengaja menekankan kata 'Nona', jika Gu Rong senang bukankah itu baik?, terlebih lagi, jika akhirnya Gu Rong akan membiarkan mereka melewati area pembatas tanpa perlu bertarung.
__ADS_1
Gu Rong masih tertawa sejenak sebelum akhirnya berkata, “Kamu pandai sekali mengambil hati. Tapi itu tidak akan merubah fakta bahwa kamu harus melewatiku dulu sebelum menyelesaikan lantai ini.” ucapnya.
“Nona. Bolehkah aku bertanya?.” kata Gofan.
“Tidak! Ayo kita bertarung. Aku sudah lama tidak meregangkan badanku.”
“Tapi aku begitu penasaran tentang sesuatu yang Nona katakan sebelumnya, tidak bisakah aku menanyakan itu sebelum kita bertarung?.” pinta Gofan sekali lagi.
“Baik.. Baik... Aku akan membiarkanmu bertanya setelah kamu menahan satu serangan tinjuku... Bagaimana?” Gu Rong kemudian menatap ke arah kedua Len bersaudara, “...dan untuk kalian berdua... Kalian hanya akan menyusahkan Mo Fan jika terus berada di sini! Kalian berdua belum layak untuk berada di Menara ini. Keluarlah!!”
Wuuuzzz....
Dengan satu lambaian tangan, kedua Len bersaudara dihempaskan keluar dari dalam lingkaran api biru pelindung milik Gofan.
Kedua Len bersaudara tidak sempat menahan hembusan angin yang mendorong mereka keluar. Gofan juga tidak sempat melindungi keduanya, kejadian itu berlangsung begitu cepat.
Satu lambaian tangan itu membuat keduanya langsung menghilang ditelan lebatnya hembusan angin badai salju. Keberadaan keduanya tidak terlihat lagi di sekitar Gofan, mereka benar-benar telah menghilang tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.
“Kamu?! Apa yang kamu lakukan?.” geram Gofan.
“Apa yang aku lakukan?... Aku hanya meringankan bebanmu. Bukankah kamu seharusnya berterima kasih padaku?... Aku tidak ingin kamu bertarung sembari melindungi dua semut itu. Itu tidak akan menarik... Tenang saja, keduanya masih hidup. Aku hanya mengeluarkan mereka dari Menara ini.”
“Mengeluarkan mereka? Apa itu semacam teleportasi? Bagaimana dia melakukannya hanya dengan satu lambaian tangan?”
“Sepertinya kamu ingin tahu bagaimana aku melakukannya?”
“Apa dia bisa membaca pikiranku?”
“Jika kamu memahami Alam kamu juga bisa melakukannya, tapi itu perlu usaha yang banyak. Terlihat mudah, hanya satu lambaian tangan, tapi itu mengandung kekuatan Alam yang cukup besar. Itu disebut 'Rule'... Wajar saja orang sepertimu tidak akan tahu apa itu Rule.”
Gu Rong perlahan mendekat ke arah Gofan, sembari berbisik dia berucap di dekat telinga Gofan, “Jika kamu pernah pergi ke luar dari dunia kekuasaan Surga ini, kamu akan melihat dunia yang penuh dengan hal yang belum pernah kamu ketahui.”
Gofan yang terdiam karena begitu penasaran dengan ucapan Gu Rong tiba-tiba tersentak saat hawa dingin mulai membekukan sebagian wajahnya.
Zyuuut... Dengan Lompatan Besar-Kecil, Gofan segera menjaga jarak dari Gu Rong. Api Biru mencairkan es yang menutupi sebagian wajahnya.
“Aya... Kenapa kamu begitu waspada? Aku bahkan belum mulai menyerangmu... Apa ini artinya kamu siap untuk menerima satu pukulanku?” Senyum aneh terpatri di wajah Gu Rong.
“Jika aku tidak menjauh, apa kamu berharap aku akan membiarkanmu membuatku mati membeku?” Gofan memasang ancang-ancang, “Baik. Ayo kita mulai... Majulah!”... Byuuurr... Api Biru melapisi seluruh permukaan tubuh Gofan saat tubuhnya berubah warna menjadi emas. Kini Gofan terlihat seperti patung emas berlapis api.
“Oh... Pembudidaya tubuh? Bagus... Bagus... Sepertinya aku bisa cukup puas meregangkan tubuhku tanpa takut kamu akan tumbang dengan mudah.” Dengan satu hentakan kaki, Gu Rong langsung menghilang dari pandangan Gofan.
“Kecepatan ini? Apa ini Rule yang tadi? Dia menghilang begitu cepat...” dengan menghilangnya Gu Rong dari pandangan matanya, Gofan memejamkan kedua matanya dan menggunakan Samudra Kesadaran untuk mengetahui jejak keberadaan Gu Rong.
Apa yang tidak bisa dilihat dengan mata fisik, bisa dirasakan dengan mata batin. Semua yang bergerak pasti meninggalkan jejak. Sekecil apa pun itu, pasti bisa terlihat dengan pemusatan pikiran, dengan fokus pengerahan Energi Mental.
Semenjak mengalahkan Kelabang Seratus Mata, Lautan Kesadaran milik Gofan telah berubah menjadi Samudra Kesadaran. Kepekaannya kepada lingkungan sekitarnya menjadi semakin bertambah. Dengan pemusatan pikirannya, jejak terkecil dari keberadaan Gu Rong pasti akan bisa dia rasakan, sekalipun itu tidak terlihat oleh kedua mata fisiknya.
*Blazh* Seketika semua hal terasa begitu lambat. Semua tampak seperti tidak berwarna, hanya hitam dan putih. Garis-garis dan titik-titik putih terlihat membentuk segalanya di dalam kegelapan.
Tumpukan salju dan angin yang berhembus, terlihat seperti untaian garis dan titik-titik putih itu. Tubuh Gofan seperti gabungan garis putih di antara untaian tumpukan salju dan angin yang berhembus. Semuanya bergerak begitu lambat, begitu jelas.
Dug.. Dug.. Dug.. Suara detak jantung Gofan terdengar begitu lambat. Gofan bahkan bisa melihat bagaimana Jantung dan organ tubuhnya bekerja.
Wuzz.. Wuzz.. Wuzz.. Suara hembusan angin badai salju, terdengar begitu lambat. Kepingan butiran-butiran salju terlihat begitu jelas.
Gofan bisa melihat dan mendengar setiap gerakan kecil yang terjadi di sekitarnya, karena semuanya terasa begitu lambat.
“Ketemu!” Gofan memutar tubuhnya dan menyilangkan kedua tangannya tepat di depan dadanya.
__ADS_1
BANG!!!
BOOOMMMM!! ledakan salju terjadi, ketika Gofan terpukul mundur puluhan langkah.
Gofan membuka matanya dan melihat Gu Rong mengepalkan tinjunya. Tinju yang baru saja membuatnya terhempas mundur puluhan langkah. Kedua tangan Gofan yang menghadang pukulan Gu Rong terlihat dilapisi oleh lapisan angin yang membeku.
Plok... Plok... Plok... Gu Rong bertepuk tangan, dia tertawa tapi nada tawanya tidak terdengar begitu riang, “Samudra Kesadaran? Apa kamu mendapatkannya karena mengalahkan Kelabang tua itu?.”
“Bukankah sekarang giliranku yang bertanya?.” ucap Gofan mengabaikan pertanyaan Gu Rong.
“Tanyalah...” sahut Gu Rong ketus.
“Mengapa kamu menyebut Iblis di sini sebagai Re-demon? Dari mana asalmu? dan Apa yang kamu ketahui tentang 'Kekacuan Utama'?”
“Cih... Jadi itu yang membuatmu penasaran... Baiklah... tidak ada salahnya juga memberitahumu...” Gu Rong menjentikkan jarinya, seketika tumpukan salju di dekatnya berputar-putar dan membentuk sebuah tubuh, “Ini adalah 'Kekacauan Utama'... Jika kamu bertemu dengannya, larilah. Jangan cari masalah dengan orang itu.” tunjuk Gu Rong ke arah tubuh yang terbentuk dari tumpukan salju.
“Wujud itu... Itu terlihat berbeda dengan Raja Iblis dari Tungku Arcana, benarkah itu orang yang sama?.”
“... Seperti yang kamu ketahui, dia adalah awal dari semua Iblis yang lahir di Alam Surga ini. Dia adalah Raja dari semua Suku Iblis. Dia terlahir untuk membawa kehancuran, karena itu Surga mengusirnya beserta semua Suku Iblis dari Alam ini dan melempar mereka ke Dimensi lain, yaitu Dimensi tempatku berasal, Netherworld...” Imbuh Gu Rong. Dengan jentikan jari lainnya, tubuh dari tumpukan salju itu menghilang menjadi butiran-butiran salju.
“Semua Iblis generasi baru yang terlahir di Netherworld disebut Re-demon... Sebab telah terjadi percampuran dengan penduduk asli Netherworld, yaitu Kaum Lizardman... Jadi begitulah, aku adalah Re-demon, sebagian Iblis dan sebagian Lizardman... Apa semua jawaban ini menjawab rasa penasaranmu? Bisakah kita melanjutkan pertarungannya?”
“Lizardman? Sejenis kadalkah? Jadi karena itu matanya terlihat seperti mata Naga... Dimensi Netherworld?” Gofan melelehkan es yang membekukan tangannya, tubuhnya perlahan kembali seperti semula, “Bisakah kita tidak bertarung?.” tanyanya.
“Aku ini penjaga lantai ini, jika kamu tidak bisa mengalahkanku, bagaimana kamu bisa menuju lantai ketiga? Selain itu, kamu juga harus menghadapi Kura-kura tua yang juga menjaga lantai ini bersamaku.” sahut Gu Rong.
“Nona Gu Rong, kamu terlihat begitu cerdas, tidak seperti dua binatang yang aku hadapi di lantai sebelumnya. Kenapa kamu membiarkan dirimu menjadi Penjaga di Menara ini seperti mereka? dengan kemampuanmu bukankah kamu bisa pergi dengan mudah dari Menara ini?.”
“Bukannya aku tidak ingin pergi... Tapi ini seperti, aku tidak boleh pergi dari Menara ini.”
“Apa ada sesuatu yang menahanmu di sini?” tanya Gofan lagi.
“Hmm... Sepertinya tidak masalah kalau aku jujur padamu. Setidaknya setelah ini, kamu juga akan mati di tanganku... Bisa dikatakan begitu, memang ada sesuatu yang menahanku, karena kalau aku meninggalkan Menara ini, aku pasti akan mati.”
Bersambung...
“Aaarrrggghh!!!!”
*Gedebug*
Kedua Len bersaudara muncul di udara di luar Menara Enam Pilar Binatang, keduanya jatuh dari luar Lantai Kedua menara itu.
Chen Feng, Jiang Mulan, dan lainnya terkejut melihat kemunculan tiba-tiba keduanya.
Seorang Pria dengan paras cantik juga terlihat berada di antara kelompok Chen Feng tersebut, dia terlihat seperti baru saja bergabung dengan kelompok Chen Feng. Jika Gofan berada di sana, dia akan mengenali sosok Pria dengan paras cantik itu, itu Tian Duoduo. Si Pria kaya dari Menara Harta Ilahi.
“Kalian? Bukankah kalian dua Len bersaudara?” tanya Tian Duoduo kepada Len Ruye dan Len Hui yang masih mengerang menahan sakit. Keduanya hanya mengangguk pelan, tanpa menjawab.
Tian Duoduo membantu Len Ruye berdiri.
“Kamu mengenal mereka?” tanya Gadis cantik yang juga ikut muncul bersama Tian Duoduo dan bergabung dengan kelompok Chen Feng.
Gadis itulah yang sebelumnya dikira oleh kelompok Chen Feng sebagai Ning Rui.
Gadis cantik itu juga adalah yang orang yang paling tidak ingin ditemui Gofan saat ini, beruntung Gofan masih berada di dalam Menara. Siapa lagi kalau bukan, Putri Suci, Li Yuan.
“Mereka adalah keponakan dari kenalanku di Keluarga Len.” sahut Tian Duoduo setelah yakin dengan identitas dari kedua Len bersaudara itu. Dia sudah lama tidak mengunjungi langsung kediaman Keluarga Len.
Setelah Kedua Len bersaudara menjelaskan tentang pertemuan mereka dengan 'Mo Fan' mereka juga memutuskan untuk menunggu Gofan keluar dari menara sembari mencari cara keluar dari dimensi terpisah itu melalui boneka manusia yang mereka miliki. Tian Duoduo dan Li Yuan membawa petunjuk yang cukup meyakinkan tentang cara menggunakan boneka manusia itu.
__ADS_1