
Kembali ke Celah Dimensi di Rawa Bairawa. Gofan akhirnya selesai memulihkan diri. Dia mencoba kembali melangkahkan kakinya, melanjutkan langkahnya menuju ke ujung Kolam Teratai Tujuh Warna.
‘Semakin aku memaksakan diri semakin sakit yang aku rasakan. Kenapa aku merasa peristiwa ini mirip dengan saat itu?...’
*Cepluk* Air berwarna pelangi beriak saat Gofan melanjutkan langkah kakinya.
‘Benar.. Kosong adalah berisi, berisi adalah kosong.. Keikhlasan. Aku akhirnya mengerti dan melepaskan semua beban, tidak memaksakan diri namun mengosongkan pikiran, sehingga justru pikiran terisi dengan beragam pengetahuan dan solusi. Aku mulai bisa melihat dari berbagai sudut pandang, jika bukan karena itu, aku akan terfokus hanya pada kegagalanku...’
*Cepluk* Gofan berhenti.
Saat langkahnya mencapai 513 langkah, Gofan berhenti. Dia berdiri diam sembari memperhatikan ke sekeliling kolam.
Gofan melihat seluruh bunga teratai yang ada di dalam kolam itu. Semua bunga teratai itu mekar dengan indahnya. Warna pelangi menghiasi kelopak setiap helai bunga teratai tersebut. Bahkan setelah memperhatikan dengan lebih seksama, Gofan menyadari bahwa setiap tangkai dari bunga teratai itu berwarna agak keemasan.
*Cepluk* Sembari menahan rasa sakit, Gofan melangkah ke arah salah satu bunga teratai.
*Tek* Gofan memetik salah satu bunga teratai.
‘Bunga ini? Tangkainya keras sekali, ini lebih mirip cabang sebuah pohon... Kenapa tidak ada akarnya? Sepertinya ada sesuatu di dalam kolam ini’ Batin Gofan.
*Byuur* Gofan menggertakkan giginya, menahan sakit, saat dia memasukkan kepalanya ke dalam kolam.
‘Ini!?’
Gofan melihat kakinya ternyata tidak berpijak pada apapun. Selama ini dia berjalan mengambang. Kolam Teratai Tujuh Warna itu terlihat sangat dalam, tidak terlihat sedikit pun dasar kolam.
‘Pantas saja tidak ada akarnya... bunga-bunga teratai ini benar-benar cabang sebuah pohon’
Di depan mata Gofan terlihat jelas sisa tangkai dari bunga teratai yang sebelumnya dia petik, ternyata benar adalah cabang sebuah pohon. Ada sebuah pohon besar berbatang emas tepat di bawah kaki Gofan yang mengambang.
*Tep* Gofan yang masih merendam kepalanya berusaha menghentakkan kaki.
‘Tidak ada pijakan sama sekali tapi ketika aku menghentakkan kaki, sangat mirip dengan permukaan dasar tanah. Apa ini? Formasi ruang?’
Gofan membentuk sebuah segel tangan saat dia mencoba membuat celah ruang di tempat kakinya berpijak.
*Blazh* Sebuah celah ruang terbentuk saat Gofan terjatuh lebih dalam ke dalam Kolam Teratai Tujuh Warna melewati lapisan tempat kakinya berpijak.
‘Ini? Tidak ada rasa sakit sama sekali.. Setelah aku melewati lapisan tempat berpijak tadi, sekarang aku tidak merasakan rasa sakit lagi’ Gofan berenang-renang agar dirinya tidak jatuh lebih dalam.
__ADS_1
Gofan berenang mendekat ke arah batang emas pohon bunga teratai berwarna pelangi tersebut.
‘Pohon apa ini? Kenapa bentuknya aneh sekali?’ Gofan menempelkan telapak tangan kanannya ke batang emas pohon bunga teratai tersebut.
*Triing*
Tanpa sengaja kesadaran Gofan ditarik masuk ke dalam batang emas pohon bunga teratai tersebut.
“Ini!? Dimana ini?” Gofan memandang sekitarnya dan hanya melihat hamparan tanah putih yang tidak berujung.
Gofan belum menyadari bahwa kesadarannya ditarik masuk ke dalam batang emas pohon tersebut. Dia berjalan menelusuri tanah putih itu namun tidak ada ujung akhir yang bisa dia temui, seolah-olah tanah putih itu tidak berhingga.
Semua benda yang tumbuh di atas tanah putih itu, juga berwana putih, bahkan batu, langit dan hewan-hewan kecil yang terlihat juga berwarna putih.
Tidak disadari Gofan, semakin lama dia menelusuri tanah putih itu semakin banyak ingatannya yang menghilang.
“Aku rasa tadi aku sudah melewati tempat ini...” Gofan terlihat bingung.
Dia mengambil tiga buah batu putih dan menumpuk mereka untuk menandai bahwa dia sudah pernah berada di tempat itu. Setelah itu, Gofan kembali melakukan perjalanan.
“Benar. Ternyata aku hanya berputar-putar di tempat ini.” Setelah berjalan hampir ratusan langkah Gofan kembali lagi ke tempat yang sudah dia tandai.
Gofan menghampiri Pria muda yang berpakaian serba putih itu.
“Permisi Tuan.. bisakah aku bertanya? Dimanakah ini?” Gofan menghentikan laju Gajah pria muda itu.
Pria muda itu melihat ke arah Gofan, dia tidak menjawab dan hanya tersenyum. Tangannya melambaikan tanda seperti meminta Gofan mengikutinya.
‘Sepertinya dia ingin aku mengikutinya’ Gofan berjalan pelan di belakang Pria muda yang menunggangi Gajah Putih tersebut. Gofan mengikuti mereka.
Setelah ratusan langkah perjalanan, Gofan terkejut mendapati sebuah rumah mewah berwarna putih muncul di tempat yang sedari tadi dia kelilingi. Seharusnya tidak ada rumah di sana.
Kemudian sesuatu yang lebih aneh lagi dilihat oleh Gofan. Saat Pria muda dan Gajahnya berhenti di depan rumah. Pria muda itu turun dari punggung Gajah Putih dan berjalan pergi ke sebuah kandang yang berada di belakang rumah. Sementara Gajah Putih yang ditunggangi Pria muda itu menyusut dan masuk ke dalam rumah mewah tersebut.
‘Kenapa terbalik? Manusia masuk kandang, hewan masuk rumah...’ Saat Gofan diam sesaat melihat keanehan tersebut.
“Dewa Pelindung.” Gofan membaca tulisan yang tertera di atas pintu masuk rumah itu. Karena warnanya juga putih, Gofan hampir tidak menyadari adanya tulisan tersebut.
Beberapa saat kemudian, Gofan memutuskan untuk menemui si Pria muda tersebut. Gofan pergi ke belakang rumah, dia menghampiri Pria muda yang kini berada di dalam kandang.
__ADS_1
“Tuan. Apa yang kamu lakukan, bisakah kamu memberitahuku dimana ini?.” Gofan bertanya dari balik pintu kandang.
Pria muda itu berdiri diam menatap Gofan sembari menunjuk ke arah rumah mewah yang berwarna putih itu.
“Masuk ke rumah? Tuan menyuruhku masuk?.”
Pria muda itu mengangguk saat menjawab pertanyaan Gofan. Gofan pun masuk ke dalam rumah.
*Jreng Jeng Jeng*
*Dum Da Dum*
Suara nyanyian-nyanyian merdu dan tari-tarian menyambut Gofan saat dia tiba di dalam rumah tersebut.
Tidak seperti di luar rumah yang sunyi sepi, di dalam rumah begitu ramai dan terasa begitu meriah. Tidak juga seperti di luar rumah, semuanya berwarna putih, tapi di dalam rumah semuanya berwarna-warni. Ada banyak orang di dalam rumah itu, mereka begitu ramah menyambut kedatangan Gofan.
Gofan memperhatikan sekeliling dan berusaha mencari Gajah Putih yang sebelumnya masuk. Setelah berjalan sebentar, Gofan melihat Gajah Putih yang telah menyusut hingga sebesar ukuran anak-anak itu berjalan masuk ke dalam sebuah kamar. Gofan pergi mengikutinya.
Saat tiba di dalam kamar itu, Gofan tidak mendapati si Gajah Putih. Dia hanya melihat seorang Anak kecil berkepala gajah dan membawa Gada sedang duduk di sebuah kursi.
Gofan terkejut sesaat ketika melihat kepala anak kecil itu, mungkinkah itu gajah yang tadi dia ikuti, begitulah pikirannya.
Anak kecil itu menoleh ke arah Gofan dan berkata, “Sepertinya Goli sudah lama berpulang... Kamu cukup beruntung bisa memakai jasadnya. Sekarang namamu Gofan, bukan?”
Gofan diam dan menggaruk kepalanya, dia tidak mengerti apa yang diucapkan Anak kecil itu. Ingatan tentang Goli telah terhapus saat dia menelusuri jalan tanah putih.
“Siapa Goli? Gofan? Aku Lenfan.” Gofan menjawab setelah cukup lama terdiam.
“Mari duduklah. Minumlah teh ini dulu, sepertinya cuaca di luar telah menghapus sebagian ingatanmu.” Anak kecil itu menunjuk sebuah kursi kepada Gofan.
Gofan duduk dan meminum teh yang disajikan Anak kecil berkepala gajah tersebut.
“Bagaimana? Sudahkah kamu bisa mengingat siapa Goli dan siapa Lenfan?.” Ucap Anak kecil itu sesaat setelah Gofan menenggak habis teh di dalam cangkirnya.
Gofan belum menjawab, kedua gendang telinganya mendengung dan satu demi satu ingatannya kembali pulih.
Bersambung...
Novel ini hanya fiktif belaka. Karya asli penulis. Jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
__ADS_1