Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 51. Pencarian Gofan


__ADS_3

Mouhuli keluar dari dalam danau, setelah semalaman penuh berkeliling danau, berenang mencari Gofan. Namun semua usaha pencariannya itu, tetap tidak membuahkan hasil. Mouhuli muncul di dermaga di sisi seberang pulau.


"Ratu. Apa yang terjadi?"


Tanya Julala kepada Mouhuli.


Julala tiba di dalam ruang dimensi beberapa saat sebelum Mouhuli muncul di dermaga, Julala baru saja selesai mengemas semua harta berharganya ke dalam kantong ruang yang diberikan Gofan.


Hari sudah berganti pagi, berdasarkan rencana, seharusnya hari ini adalah hari dimana Gofan akan mencoba untuk menghancurkan segel kutukan dari Tongkat Emas Naga Kembar.


"Anak itu menghilang, Gofan menghilang di dasar danau ini"


-Sial, apa dia mati?, Sampai-sampai mayatnya pun tidak tersisa?-


Mouhuli sudah menyusuri setiap sudut danau, tetapi tidak ada satu pun jejak keberadaan Gofan.


Gofan menghilang bagaikan ditelan bumi, bahkan jika Gofan mati karena ledakan beruntun itu, seharusnya akan ada jejak darah atau mayat, namun hal itu sama sekali tidak ada.


"Apa!?"


Yubing dan Nian terkejut mendengar kata-kata Mouhuli.


Julala datang ke dalam ruang dimensi, diikuti oleh Yubing dan Nian, ketika mereka sampai di dermaga, mereka melihat Mouhuli yang berulang kali keluar masuk danau, begitu juga dengan Bailaohu.


"Oh, ternyata kalian.... Kenapa kalian masih di hutan ini?"


"Julala. Kenapa kamu membawa mereka kemari?"


Mouhuli sudah mengetahui tentang Yubing dan Nian, dia hanya tidak menyangka, dua orang teman Gofan itu, ternyata masih ada di Hutan Bambu Kemarau.


"Mereka datang beberapa saat yang lalu, mereka memaksa meminta bertemu dengan Gofan. Maafkan aku Ratu, karena aku lancang membawa mereka kemari"


Sahut Julala menceritakan dengan jujur apa yang sedang terjadi.


"Benar Senior, kami yang memaksanya untuk membawa kami menemui Gofan, kami memiliki beberapa pertemuan beruntung dan ingin memberikannya kepada Gofan, karena itu kami masih di hutan ini"


Kata Yubing sambil membungkuk memberikan hormat.


"Senior, apakah yang sebenarnya terjadi pada Gofan?"


Imbuh Yubing, dia sudah mulai tenang setelah terkejut sejenak saat mengetahui bahwa Gofan menghilang di dasar danau. Yubing berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Nian tidak banyak bicara karena masih belum pulih total dari luka-lukanya, dia hanya memperhatikan Julala yang menurutnya sangat aneh. Julala adalah makhluk buas dan belum mencapai tahap berubah wujud ke wujud manusia, tetapi sangat lancar berbahasa manusia.


Berkat Julala yang bisa berbahasa manusia, Nian dan Yubing, tidak lagi kebingungan untuk mencari keberadaan Gofan.


***


Sebelumnya, setelah selesai melakukan pembagian pertemuan beruntung secara merata. Yubing dan Nian berpisah dengan Penatua Mogui dan kelompok Yanse, mereka memutuskan untuk menemui Gofan. Sementara Penatua Mogui dan kelompok Yanse, memutuskan untuk kembali ke perguruan mereka masing-masing.


"Pendekar Yubing. Juniormu tampaknya masih perlu untuk diobati dan kamu juga masih mengidap racun. Apa kamu yakin, akan tetap di hutan ini?"


Tanya Yanse, ketika dia dan kelompoknya sedang bersiap untuk keluar dari Hutan Bambu Kemarau.


"Aku yakin. Setelah menemukan Gofan, kami akan sesegera mungkin kembali ke kota terdekat untuk mencari pengobatan"


Sahut Yubing dengan niatan yang sudah bulat.


Nian sebenarnya ingin menolak rencana Yubing, tetapi dia masih belum sembuh total dari luka-lukanya, jadi dia hanya diam dan mengikuti kata-kata Yubing,


-Senior, waktumu hanya tinggal lima hari, tapi kamu justru ingin menemui bocah itu, aku sungguh tidak mengerti-


Pikir Nian.


Nian bukan mengkhawatirkan dirinya, namun mengkhawatirkan racun di dalam tubuh Yubing.


"Nona muda, kamu yakin tidak menginginkan Mutiara Siluman ini? Ini adalah bagianmu"


Tanya penatua Mogui kepada Yubing.


Saat Mogui membagikan mutiara siluman, Yubing menolak untuk menerima bagiannya, katanya dia sudah cukup senang mendapatkan kipas lipat besi tua dan merelakan mutiara siluman bagiannya untuk diberikan kepada Mogui.

__ADS_1


"Yakin penatua. Sesuatu yang sudah diberikan tidaklah patut untuk diminta kembali"


Sahut Yubing dengan tegas.


Mogui mengangguk dan menyimpan mutiara-mutiara siluman itu ke dalam kantong ruang dan pergi bersama Moyo, kembali ke Perguruan Tombak Naga setelah mengucapkan salam perpisahan.


Lingzi dan Canglini tidak banyak berkata-kata, mereka segera pergi menyusul Mogui dan cucunya setelah berpamitan. Perguruan Canglini dan Lingzi sejalur dengan Perguruan Tombak Naga. Mereka berpikir, akan lebih aman jika mereka pulang dengan ditemani oleh seorang penatua sekelas Mogui.


"Pendekar Yubing. Apa kamu tahu siapa pemilik suara yang sebelumnya membantu kita?"


Tanya Hanbo yang bersiap pergi bersama Yanse.


Ketika hendak pergi, Hanbo mengingat kejadian, dimana suara perempuan tanpa sumber tiba-tiba terdengar dan memperingatkan mereka untuk menghapus jejak darah Jangbi serta tidak membuat kegaduhan saat mereka diserang oleh sekumpulan anak-anak Beruang Bambu.


"Mm... Bisa dibilang itu adalah seniornya Gofan. Aku rasa dia juga yang telah membantu kita dalam pertarungan sebelumnya, hingga menewaskan dua bandit itu"


Yubing tidak tahu siapa pemilik suara itu, dia hanya tahu bahwa suara perempuan tanpa sumber itu berkaitan dengan Gofan.


Yanse dan Hanbo menjadi teringat kembali kepada dua mayat bandit yang dibakar habis oleh penatua Mogui, setelah mendengar jawaban Yubing. Mereka ingat, kedua bandit itu tiba-tiba saja mati tanpa sebab saat sedang bertarung.


Yanse dan yang lainnya terlalu sibuk bertarung dan bertahan, mereka tidak mengetahui dengan pasti bagaimana kedua bandit itu bisa mati.


Baru setelah mendengar jawaban dari Yubing itu, Yanse dan Hanbo menjadi mengetahui bahwa ada orang lain selain penatua Mo yang menolong mereka.


"Aku benar-benar telah lalai, tidak menyadari bahwa selama ini senior adik Gofan telah menolong kita dari belakang. Pendekar Yubinh, Tolong berikan ini kepada Gofan dan seniornya itu"


Yanse menitipkan sebuah kantong ruang kepada Yubing untuk diberikan kepada Gofan dan senior yang hanya terdengar suaranya saja itu alias Xionan.


"Ini mungkin hanya perbekalan untuk orang biasa, tapi aku yakin, ini akan berguna untuk Gofan"


Imbuh Yanse, sebelum memberikan salut perpisahan dan pergi melesat keluar dari Hutan Bambu Kemarau bersama Hanbo.


Begitulah akhirnya, dengan kepergian mereka semua, Yubing dan Nian memulai perjalanan mereka ke arah timur, menuju ke gua Mouhuli.


Ketika sampai di depan gua di sebelah timur Hutan Bambu Kemarau, Yubing dan Nian bertemu dengan Uroro yang tertidur pulas di depan lubang masuk gua. Yubing membangunkan Uroro, namun karena tidak bisa berkomunikasi, mereka berdiam cukup lama di depan lubang gua.


Yubing dan Nian tidak mengerti apa yang diucapkan Uroro, begitu juga sebaliknya, Uroro juga tidak mengerti apa yang diucapkan Yubing dan Nian.


Uroro mengirimkan pesan suara kepada Urori yang masih berjaga di depan portal ruang dimensi.


Di depan portal ruang dimensi, Urori tampak sedang berbincang dengan seekor Beruang Bambu muda yang baru saja keluar dari ruang dimensi.


*Urore, kenapa kau malah babak belur begini? bukannya leluhur meminta bantuanmu? apa yang kau lakukan, sampai seperti ini?*


Urori mengabaikan pesan suara Uroro, karena dia terkejut, ketika melihat Beruang Bambu muda bernama Urore keluar dari ruang dimensi dengan tubuh babak belur.


*Tidak...tidak ada apa-apa, tapi, jika lain kali leluhur meminta bantuan dari Beruang Bambu yang masih muda, ku harap kakak akan memanggil Beruang Bambu muda yang lainnya*


Sahut Urore kepada Urori. Terlihat wajah beruang muda itu penuh dengan rasa trauma, dia malu jika harus memberitahu kenyataan yang telah dilakukan Mouhuli dan Bailaohu kepadanya.


Urore adalah Beruang Bambu muda yang dipaksa oleh Mouhuli dan Bailaohu untuk buang air kecil, untuk diambil air kencingnya dan dijadikan tetes mata.


Awalnya, Urori menerima pesan suara dari Mouhuli untuk mengirimkan seekor Beruang Bambu muda yang belum pernah melakukan perkawinan ke dalam ruang dimensi dan Urori memilih adiknya, Urore, untuk dikirim pergi ke dalam ruang dimensi.


Urore tidak pernah menyangka bahwa hari dimana dia menyetujui kata-kata kakaknya adalah hari naas bagi dirinya. Ketika sampai di gubuk Mouhuli, Urore diminta untuk buang air kecil. Namun, karena memang tidak bisa, Mouhuli memaksanya untuk meminum banyak air.


Belasan guci air danau belum juga membuat Urore ingin buang air kecil, Mouhuli tetap memaksanya hingga akhirnya Urore kabur dan kejar mengejar pun terjadi. Setelah tertangkap kembali dan meminum tambahan puluhan guci air danau, Urore akhirnya bisa buang air kecil.


Ketika Urore berpikir semua sudah selesai, justru hal yang lebih mengerikan terjadi. Bailaohu juga memaksanya untuk kecing. Urore dipaksa minum lebih banyak lagi air dari danau, bahkan Bailaohu memaksa secara kasar dengan kekerasan. Urore bahkan dipaksa meminum langsung air dari danau, dia berulang kali ditenggelamkan oleh Bailaohu di malam yang dingin itu.


*Kenapa? Melayani leluhur adalah hal yang terhormat, kau harus bangga*


Kata Urori menjawab kata-kata adiknya yang kini terlihat gemetaran. Urore hanya diam dan tidak menjawab kata-kata Urori.


*Kenapa adikmu? Sepertinya dia sedang tidak sehat*


Julala muncul di depan kakak beradik itu, dia baru selesai mengemasi harta berharganya dan hendak masuk ke ruang dimensi untuk menemui Gofan.


*Julala, sebaiknya kau keluar dulu, di luar gua ada dua gadis teman senior yang mencarinya, sepertinya Uroro kesulitan bicara dengan mereka*


Urori tidak menjawab pertanyaan Julala melainkan, menyampaikan pesan suara Uroro ketika dia melihat Julala tiba di depannya.

__ADS_1


*Senior? maksudmu Gofan?, manusia yang saat ini dilatih Ratu?*


Tanya Julala.


*Iya benar... jadi namanya Gofan*


Urori tidak tahu siapa nama Gofan sebelumnya, sebab Gofan tidak pernah memperkenalkan dirinya.


*Jelas saja dia kesulitan berbicara dengan mereka, dia kan tahunya hanya bahasa makhluk buas, shhh, kalian seharusnya meniruku, mempelajari bahasa manusia*


Julala berbalik dan menuju ke lubang masuk gua.


Oleh karena kedekatannya dengan manusia, terutama dengan Lenchan dan keluarganya, Julala berusaha keras mempelajari bahasa manusia. Selama tiga tahun di Hutan Bambu Kemarau, Julala sering mengunjungi Mouhuli untuk belajar bahasa manusia.


Begitulah akhirnya Julala berkomunikasi dengan Yubing dan Nian, lalu mengajak mereka menemui Gofan di dalam ruang dimensi.


***


Mouhuli menceritakan apa yang terjadi tanpa memberitahu tentang batu mental, dia hanya menyampaikan bahwa Gofan sedang melatih energi mentalnya dan ledakan demi ledakan terjadi lalu Gofan menghilang tanpa jejak. Bahkan setelah Mouhuli menggunakan persepsi dan energi mentalnya, Mouhuli tetap tidak mampu menemukan keberadaan Gofan.


"Nian. Kamu tunggu di sini, aku akan membantu menemukan Gofan"


*Kecebyur*


Yubing menyelam masuk ke dalam danau, berenang mencari Gofan, dia menggunakan tenaga dalamnya untuk melapisi dirinya agar tetap bisa benapas di dasar danau.


Nian hanya menggangguk diam, lalu duduk di tepian dermaga. Nian juga ingin membantu namun kondisinya belum mengijinkan, dia hanya bisa berdoa dan menunggu hasil perkembangan pencarian Gofan.


"Hei...Ular! Siapa mereka?"


Tanya Bailaohu kepada Julala ketika dia muncul keluar dari dalam danau, dia juga gagal menemukan keberadaan Gofan. Ketika Bailaohu keluar dari danau dia melihat Yubing bersama dengan Mouhuli menyelam masuk ke dalam danau.


"Salam Senior. Mereka teman-teman Gofan.... Aku permisi dulu, aku juga ingin membantu mencari Gofan"


Sahut Julala sebelum merayap menyelam ke dalam dasar danau, menyusul Mouhuli dan Yubing yang sudah terlebih dahulu masuk ke dalam danau. Bailaohu hanya diam memandang punggung Nian, dia tidak menjawab perkataan Julala.


"Cih... Manusia, jika kalian bukan teman Gofan, aku pasti sudah membunuh kalian, seperti aku membunuh manusia-manusia itu"


*Kecebyur*


Bailaohu kembali menyelam untuk mencari Gofan. Bailaohu tidak menyukai manusia, bahkan dia awalnya, tidak menyukai Gofan, tetapi setelah mengetahui bahwa Gofan adalah setengah siluman dan sup buatan Gofan benar-benar lezat, Bailaohu menjadi menyukai Gofan.


Ketika dalam perjalanan menuju ke tempat Mouhuli, di luar Hutan Bambu Kemarau, Bailaohu bertemu dengan sekelompok manusia. Bailaohu tanpa kata-kata langsung membantai dan membunuh mereka, dari sanalah cincin dimensi yang dia berikan kepada Gofan berasal.


-Ada apa dengan siluman itu?-


Nian mendengar apa yang dikatakan Bailaohu, sebelum Siluman Harimau Putih itu menyelam masuk ke dalam danau.


-Benar.... Aku hampir saja lupa, siluman tetaplah siluman, makhluk buas yang kejam tanpa belas kasihan-


Pikir Nian, dengan wajah yang terlihat penuh amarah.


Beberapa waktu ini, karena pengaruh Gofan, Nian mulai terbiasa dengan siluman, dia tidak lagi menganggap siluman sebagai musuh. Namun, setelah mendengar perkataan Bailaohu, Nian tersadar dan kembali menganggap siluman adalah musuh dan tetap harus diwaspadai.


Di dalam danau, Xionan masih terus berkeliling mencari jejak keberadaan Gofan. Tidak sekalipun, dia keluar dari dalam danau, dari semalam hingga sekarang, Xionan masih terus mencari Gofan. Xionan benar-benar menyesal telah meninggalkan Gofan sendirian, saat ledakan-ledakan itu terjadi.


-Aku yakin, kamu pasti masih ada di sini. Fanfan, aku pasti akan menemukanmu-


Meski belum menemukan sedikit pun jejak keberadaan Gofan, Xionan meyakini, bahwa Gofan masih berada di dasar danau itu. Itulah yang membuat Xionan terus berkeliling mencari jejak keberadaan Gofan.


Sesungguhnya Gofan memang masih berada di dalam danau, hanya saja keberadaannya disembunyikan oleh sebuah formasi pelindung. Gofan, saat ini berada di dalam sebuah kerang seukuran bayi manusia, dia sedang tidak sadarkan diri.


"Ayah. Benarkah dia orangnya?"


Kata seorang gadis yang sedang berdiri di sebelah Gofan. Gofan berbaring tidak sadarkan diri di sebuah tempat tidur yang terbuat dari bebatuan karang.


"Iya. Lihat...! Bukankah dia mirip seperti yang ada di lukisan ini, dia juga setengah manusia dan setengah siluman, rambutnya juga putih"


Ayah gadis itu menunjukkan sebuah lukisan kepada anak gadisnya.


Dalam lukisan itu terlihat seorang pria berambut putih, berdiri di atas puncak sebuah gunung. Tubuh pria berambut putih itu bersinar seperti layaknya seorang Dewa, tetapi setengah tubuh dari pria itu berbulu seperti kera dan memiliki ekor bersisik seperti ekor naga.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2