Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 161. Menepati Janji


__ADS_3

Setelah kepergian Xionan, Gofan duduk bersila di pinggiran ranjangnya. Dia kembali mengolah Kitab Surga Sembilan Langit.


Gofan juga mengeluarkan beberapa butir Batu Darah sebelum mengolah Batu Kematian yang baru dia dapatkan. Dengan ini, Gofan telah menyerap tiga bagian dari Sembilan Batu Bertuah.


Sementara Gofan mengolah budidayanya, Bailaohu terlihat begitu serius berbincang dengan Kakaknya, Bailian dan seorang lainnya yang mengenakan seragam pakaian Pasukan Taizongbudui.


“Sudah ku bilang, jangan terlalu mencolok. Kenapa Kakak justru menyamar sebagai Pasukan Taizongbudui?.” Keluh Bailaohu yang baru saja dihampiri Bailian.


Setelah mendengar kabar tentang rencana Tianfuzi, Bailian dan beberapa Trah Siluman lain berkunjung ke Pulau Api. Bukan mengkhawatirkan keselamatan Bailaohu, mereka hanya penasaran tentang bagaimana perubahan Alam Kecil sekarang ini.


“Haha.. Tenang saja, mereka semua bodoh. Mereka bahkan tidak bisa membedakan mana manusia asli, mana siluman.” Sahut Bailian dalam balutan seragam Pasukan Taizongbudui.


“Manusia sekarang, makin bodoh saja, mereka kira dengan kekuatan seperti sekarang, mereka akan sanggup mengalahkan Kekaisaran Siluman.” Ucap seorang pria kurus dengan mata yang agak besar, dia juga seorang Siluman.


“Aku tidak percaya, Pangeran Hexuan dari Kalelawar Merah Darah akan ikut menyusup bersama Kakakku.” Sahut Bailaohu kepada pria kurus bermata agak besar tersebut.


Hexuan tertawa, “Tentu saja, ini kesempatan baru... Sekarang kita bebas keluar masuk Dimensi sialan itu...” Ucap Hexuan mengingat, jika dulu dia hendak keluar dari Dimensi Siluman, akan menghabiskan begitu banyak Harta Berharga untuk membantunya melewati celah di pembatas Dimensi.


“Kamu beruntung, bisa keluar masuk karena Kaisar yang mengutusmu.” Imbuhnya kepada Bailaohu, mengingat bagaimana Bailaohu dengan mudah melewati celah di pembatas Dimensi Siluman saat pembatas itu masih ada.


“Aku tahu, tujuanmu bukan hanya karena kabar yang aku berikan... Aku ingatkan, jangan bertindak gegabah. Para manusia ini bukan kantong darahmu!.” Bailaohu berbicara dengan menunjuk tegas ke arah Hexuan.


Trah Kalelawar Merah Darah, sangat suka menghisap darah, selama berada di dalam pembatasan Dimensi Siluman, mereka hanya bisa menghisap darah Siluman lemah dan itu tidak enak. Darah manusia lebih enak, lebih muda lebih manis.


“Sialan. Kamu anggap apa aku ini? Meskipun kami sangat mendambakan darah manusia, kami tidak akan sebodoh itu melanggar perintah Kaisar.” Sahut Hexuan kesal, tetapi ucapan Bailohu memang ada benarnya.


Sial dia tahu apa yang ingin aku lakukan, begitulah pikir Hexuan setelah dia mendengus dan pergi meninggalkan dua bersaudara itu.


“Kak. Apa ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?.” Tanya Bailaohu.


“Tidak ada pergerakan apa pun dari pria bernama Tianfuzi itu, tapi memang benar, dia memiliki hubungan dengan para Bandit itu.” Sahut Bailian.


“Tidak ada lagi?.” Tanya Bailaohu memastikan sekali lagi.


Bailian tampak memikirkan hal-hal yang dia rasa, dia curigai, sebelum akhirnya menjawab, “Kamu tahu Cenayang Gunung Angkasa?, para pasukan itu bergunjing bahwa, Cenayang itu diculik dan Partainya diserang Serigala Mata Biru.”

__ADS_1


“Apa!?.” Bailaohu terkejut, “Tidak mungkin. Kaisar tidak mungkin membiarkan Trah Serigala Mata Biru menyerang Manusia di saat seperti ini...” Imbuh Bailaohu masih sedikit terkejut.


“Benar. Sepertinya ada pihak lain yang sengaja menyalahkan ini kepada Trah Serigala Mata Biru...” Bailian membenahi pelindung bahunya, “Apa kita perlu memberitahu Mouhuli?.” Tanyanya.


Bailaohu mengangguk, “Aku tidak tahu siapa Cenayang itu, tapi mungkin murid Mouhuli yang akan lebih tertarik dengan berita ini daripada Mouhuli sendiri.” Sahut pelan Bailaohu.


“Kak. Bisakah kamu menyelidiki kebenaran berita itu?.” Imbuh Bailaohu.


“Akan ku lakukan sebisanya, bagaimana pun ini pertama kalinya aku melihat manusia lagi.. banyak yang telah berubah.” Sahut Bailian menyanggupi permintaan Bailaohu.


**


Malam berganti dan pagi pun muncul. Gofan tiba di Tenda Perkemahan Perguruan Yin Biru bersama dengan Lujiang dan Duan Tianlang. Gofan datang untuk menepati janjinya.


“Tuan. Perguruan Lembah Bunga Kamboja telah tiba di pulau lain di dekat pulau ini, aku dengar mereka sedang mengkhawatirkan berita tentang Partai Gunung Angkasa.” Bisik Lujiang, saat Gofan duduk menunggu kedatangan Yanzi.


“Apa terjadi sesuatu dengan Partai itu? Ceritakan lebih jelas.” Sahut Gofan berbisik.


Lujiang pun menceritakan hal yang persis sama dengan yang diceritakan Bailian kepada Bailaohu.


Setelah itu, Lujiang pergi dan bergegas meninggalkan tenda tersebut.


“Tuan Muda. Apa terjadi sesuatu?.” Tanya Duan Tianlang penasaran melihat kepergian Lujiang.


Gofan mengangguk “Masalahnya masih belum jelas, jadi aku meminta Lujiang untuk memastikannya terlebih dahulu.”


“Masalah? Masalah apa?.” Tanya Duan Tianlang lagi.


Gofan pun menceritakan berita tentang penyerangan Serigala Mata Biru dan penculikan Lengyue kepada Duan Tianlang, sesaat sebelum Yanzi tiba dan menghentikan percakapan mereka.


“Salam Senior. Salam Tuan Muda Pewaris. Maaf sudah membuat kalian menunggu” Ucap Yanzi yang datang bersama Lingbai.


“Tidak apa-apa. Bukan Masalah... Oh iya, Tuan Muda, Beliau ini, adalah Yanzi, Mahaguru Perguruan Yin Biru.” Sahut Duan Tianlang.


“Salam Senior Yanzi. Terima kasih sudah mengundangku berkunjung.” Ucap Gofan.

__ADS_1


Yanzi mengangguk pelan, sembari duduk, “Lingbai, cepat berikan kotak itu kepada Senior Tianlang.” Imbuh Yanzi.


Lingbai mengangguk dan memberikan sebuah kotak kecil yang dibawanya kepada Duan Tianlang.


“Senior. Itu adalah Teh Samudra Timur, teh itu baik untuk kesehatan paru-paru, silahkan diterima.” Ucap Yanzi usai Lingbai memberikan kotak berisi daun teh kepada Duan Tianlang.


Duan Tianlang tertawa pelan, “Terima kasih. Terima kasih. Tapi, maaf aku tidak membawa apa pun yang bisa kuberikan untukmu.”


“Jangan sungkan Senior... Jika Senior tidak keberatan, bisakah aku bicara berdua saja dengan Tuan Muda Pewaris?.” Sahut Yanzi, mengusir Duan Tianlang secara halus.


Duan Tianlang tersenyum pahit, “Hahaha...” Tawanya canggung, “Baik. Kalau begitu, akan aku tinggalkan kalian berdua. Aku permisi.” Ucapnya sembari pergi keluar tenda bersama dengan Lingbai.


“Terima kasih Senior.” Ucap Yanzi sebelum melakukan sebuah segel tangan.


*Blazh* Sebuah dinding cahaya putih tipis membalut area seluas bagian dalam tenda tersebut.


“Maaf jika tindakanku ini membuat Tuan Muda tidak nyaman. Hal yang ingin aku bicarakan, tidak boleh diketahui oleh orang lain, selain pemilik Kalung Kerang Ajaib.” Ucap Yanzi usai membuat Formasi pelindung yang membuat tenda itu menjadi kedap suara.


“Tidak masalah Senior. Lagi pula, aku sudah bisa menebak apa yang akan senior bicarakan... Bukan begitu, Paman?.” Sahut Gofan ketika Longwang dan Longyun keluar dari Kalung Kerang Ajaib.


“Kalian!?.” Ucap Yanzi terkejut.


“Yanzi. Kamu keturunan dari Putri Longxia?.” Tanya Longwang.


Yanzi tidak menjawab, “Siapa Kalian? Apa kalian Suku Naga?.” Tanyanya.


*Blazh*


Belum sempat Longwang menjawab, seorang Pria muda berpakaian biru tua keluar dari dalam Kalung Kerang Ajaib yang dikenakan Yanzi.


“Benar Yanzi. Mereka Paman dan Sepupuku...” Ucap Pria itu, “Salam Paman. Salam Longyun... Akhirnya kita bertemu juga.” Imbuh Pria tersebut sembari mengatupkan kedua tangan, memberi salam.


“Ya Kakak Longwei! Kenapa kaku begitu?... Senangnya bisa melihatmu lagi.” Sahut Longyun kegirangan dan langsung berlari pelan memeluk Longwei.


Longwang dan Longwei saling tertawa, setelah ketiganya berbalas sapa sebentar mereka saling mengenalkan Gofan dan Yanzi.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2