Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 189. Pertempuran Membara di Pulau Api bg. 6


__ADS_3

Sekarang dua cahaya ungu berkedap-kedip, saling berbenturan bolak-balik di udara. Cahaya ungu itu... itu mereka, Gofan dan Dewa Gelap. Gelombang tekanan Energi Surga mirip gelombang ombak laut menyeruak dari benturan kedua cahaya ungu.


GEMURUUUHHHHH!!


Tanah di bawah keduanya retak, itu bergetar lebih keras. Pecahan batu-batu kecil melayang ke udara. Tentakel darah menggeliat lebih banyak, lebih kuat, ada cahaya ungu yang juga memancar dari mereka, membuat Boudhia semakin kewalahan. Dia tidak bisa membantu Gofan. Gofan dan Dewa Gelap bertarung bolak-balik di udara.


Ratusan ronde kemudian, Gofan terpukul mundur. Cahaya ungu di tubuhnya berkedip seakan hendak menghilang, itu agak meredup.


“Meski terlihat seimbang, dia sebenarnya hanya menepis seranganku dengan santai...” pikir Gofan. Dia menyeka darah yang keluar di sudut bibirnya.


“Gofan. Kamu bisa mencoba menggunakan kekuatan Jiwamu, gabungkan itu dengan Mata Surga.” saat itu, Haiwa bicara. Dia tersadar berkat kekuatan Jiwa Gofan yang baru terbentuk karena bantuan dari tiga Trah Naga, sehingga dia tahu bahwa kekuatan Jiwa itu cukup kuat, itu pasti bisa membantu Gofan melawan Dewa Gelap.


Gofan mengangguk, dia menarik napas panjang, dadanya membusung, kepalanya menengadah ke belakang dan mulai meraung, “HYAAAAAA!!!!!.”


Petir berderak, Jedar! Jedar! Jedar! seperti menanggapi teriakan Gofan.


Semua Energi di dalam tubuhnya terserap habis ke dalam bentuk Jiwa yang bersila di dalam Kubus Titik Pusat Jiwanya. Angin pusaran keemasan terlihat muncul di atas kepala bentuk Jiwa itu. Saat itu pula, darah Gofan mendidih dan tulang emas di tubuhnya memancarkan cahaya emas yang menyilaukan.


BOOOOMMMMM!! Letusan terdengar dari dalam tubuh Gofan.


Bang! Bang! Bang! Suara retakan tulang dan tubuh yang pecah terdengar darinya.


*WUZZZZ* Angin pusaran terbentuk menglilingi tubuh Gofan. Seperti itu sebuah pelindung yang terbuat dari angin. Ada berbagai macam warna terpancar dari tubub Gofan, itu membuat pusaran angin tampak begitu indah dan menakutkan.


Mata Dewa Gelap tiba-tiba menyipit, dia merasakan sensasi bahaya terpancar dari Gofan. Tapi dia hanya menggelangkan kepala pelan sebelum mengirimkan tinju bilah darah ke arah Gofan.


BANG! Ledakan terjadi.


Pusaran angin yang menyelimuti Gofan bergetar pelan, tapi itu tidak hilang. Itu berhasil menangkis serangan tinju Dewa Gelap.


Alis Dewa Gelap mengerut, dia kembali mengirimkan dua sampai empat tinju bilah darah lainnya. “Ini pasti akan menghancurkan pelindung anginnya.” seringai meremehkan masih memancar dari wajah Dewa Gelap.


BANG! BANG! BANG! Dua sampai empat ledakan lainnya terjadi.

__ADS_1


Ekspresi 'Eee??' terlihat dari wajah Dewa Gelap. Dia terkejut, pelindung angin tidak hancur, itu masih mengelilingi Gofan.


Mungkin terlalau jauh! Pikirnya, dia melesat dan meninju pelindung angin Gofan dari jarak dekat, langsung di depannya.


BANG! BANG! BANG! Ledakan demi ledakan lainnya terjadi.


“Mustahil...” Senyum meremehkan mulai runtuh dari wajah Dewa Gelap, berubah menjadi tatapn serius, tidak ada lagi senyuman.


Dewa Gelap mengangkat kedua tangannya, tinggi-tinggi ke udara. Bola cahaya hitam terbentuk di sana, perlahan mulai membesar.


Saat bola cahaya hitam itu mencapai besaran yang tampak seperti kumpulan 3000an orang, Dewa Gelap meraung dan melemparkannya ke pelindung angin Gofan.


“BULAN HITAM KEMATIAN!!”


Gambar ilusi mirip bulan muncul dari bola cahaya hitam itu. Sangat mirip dengan bulan aslinya, hanya saja jauh lebih kecil. Hawa dingin yang amat sangat terpancar dari bola cahaya hitam, itu membuat udara di sekitarnya seperti membeku. Bahkan pelindung angin yang mengelilingi Gofan mulai berlapis es.


BOOOOOOMMMMMMMMMM!!!


*Duaaarrr!!*


*Duaaarrr!!*


*Duaaarrr!!*


Tapi... Dua hela napas setelah itu, ekspresi 'Eee??' kembali terlihat di wajahnya.


Pusaran angin yang melindungi Gofan memang benar runtuh tapi, Gofan baik-baik saja.


Mata Dewa Gelap membelalak, dia seperti tidak bisa menerima itu. Baginya Gofan hanya Junior yang bahkan tidak perlu dia khawatirkan, bahkan seorang Human God, tidak membuatnya perlu menghabisakan banyak tenaga. Tapi, Gofan membuatnya mengerahkan 20% kekuatannya untuk menghasilkan bola cahaya hitam itu.


“Menarik. Ini pasti karena kekuatan Batu Surga... Hahaha... Bagus.. Bagus... Tunjukkan semua kekuatan itu, aku akan mengerahkan 50% kekuatanku untuk menghadapimu.” ucap Dewa Gelap dengan jumawa. Tatapannya kembali seperti sebelumnya, dia meyakini kegagalan serangannya karena Batu Surga. Dia hanya perlu mengerahkan lebih banyak kekuatan, hanya itu, Gofan hanya Junior, tidak perlu dikhawatirkan.


Mata Gofan masih terpejam, dia merasakan apa yang terjadi di luar. Berkat perlindungan pusaran angin, Gofan tidak perlu mengkhawatirkan keselamatannya. Ketika sampai di permukaan cekungan, tubuh Gofan memancarkan ledakan cahaya hijau. Teratai Racun Pelangi dalam darahnya semua mengalir masuk dan menyatu dengan bentuk Jiwanya. Tidak ada lagi yang mengekang Energi Mentalnya, Energi hijau itu meledak dari dalam tubh Gofan.

__ADS_1


“Jadi, selama ini, keduanya memerlukan wadah untuk menampung mereka. Berkat bentuk Jiwaku, aku memiliki wadah lain untuk menampung Teratai Racun Pelangi... Sekarang, aku bisa mengerahkan kekuatan Mental... Sekaligus tubuhku juga memiliki kekebalan pada segala jenis racun.” Mata Gofan terbuka. Satu memancarkan cahaya hijau dan yang lain memancarkan cahaya ungu.


“HYAAAAA!!!!.”


“MATA SURGA.”


“MATA IBLIS.”


Sebagian tubuh Gofan diselimuti cahaya hijau dan sebagian lainnya diselimuti cahaya ungu. Tubuhnya bergetar dan perlahan melayang naik ke udara. Cahaya hijau ungu itu sepertinya tengah merubah struktur tubuh Gofan, perlahan-lahan tubuhnya mulai mengalami perubahan.


Kuku-kuku jari tangannya memanjang, berubah warna menjadi hitam dan sangat tajam, serupa dengan bilah sebuah pedang. Rambutnya kembali memutih, memanjang tergerai, tertiup kesana kemari dalam terpaan angin. Setengah tubuh dari Gofan itu berbulu seperti Kera dan ekor tumbuh dari tubuhnya, ekor itu bersisik seperti ekor Naga. Tubuhnya juga membesar, hampir sebesar seekor Gajah. Jika Bianselong ada di sana, dia mungkin akan terperngah. Perubahan Gofan terlihat mirip seperti yang telah diramalkan oleh Raja Siluman Serigala. Dia terlihat seperti setengah Dewa setengah Makhluk buas.


BOOOOMMMMM!! Ledakan mengakhiri perubahan itu. Meski terkesan lama, tapi sebenarnya semua terjadi dalam waktu singkat, tidak lebih dari dua puluh helaan napas.


Gofan berdiri di sana, di udara, menatap tajam ke arah Dewa Gelap. Satu matanya berwarna hijau, satu lainnya berwarna ungu. Keduanya memancaekan niat membunuh yang besar ke arah Dewa Gelap.


ROOOAAAARRRRRR!! Raung Gofan ke arah Dewa Gelap, kini teriakannya sangat mirip dengan Makhluk buas.


“Lalu kenapa?.” ucap Dewa Gelap menanggapi raungan dan tatapan Gofan, “Meski kekuatanmu bertambah, tapi kamu kehilangan kesadaranmu... Saat sadar ka-.” belum sempat Dewa Gelap menyelesaikan ucapannya, Gofan muncul di hadapannya dan menyerangnya dengan cakar hitam setajam bilah pedang.


Memang benar, seperti yang dikatakan Dewa Gelap. Gofan telah kehilangan kesadarannya, gabungan kekuatan Mata Surga dan Mata Iblis kembali menguasai tubuhnya.


BOOOMMM!


Dewa Gelap terperangah, dia terpukul mundur tiga langkah. Kemudian, dia meraung dan mengerahkan 50% kekuatannya, cahaya ungu memancar lebih terang, tubuhnya berkedip mengeluarkan percikan petir emas dan asap hitam.


Bang! Bang! Bang! Benturan kembali terjadi.


Gofan bertarung brutal mirip Makhluk buas, Dewa Gelap bertarung dengan kekuatan 50%nya. Keduanya bertarung bolak-balik lagi, bertarung lebih dari ratusan gerakan. Tidak ada satu pun yang mundur, mereka berimbang di udara.


Bersambung...


Episode 190. adalah episode akhir (Musim I) Pendekar Sembilan Langit. Terima kasih untuk yang sudah memberi dukungan. Terima kasih sudah membaca. Like jika kalian suka.

__ADS_1


Semoga Tuhan Memberkati


__ADS_2