Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 155. Tiba Di Neraka


__ADS_3

“Ini!? Paman. Apa yang kamu lakukan padanya?.” Tanya Gofan usai melihat Dewa Kematian berwajah putih pucat itu menuruti perintah Tuobha.


Tuobha tertawa, “Ini hanya masalah kecil... Oh ya, Untuk apa kamu ke Neraka?.” Tanyanya.


“Aku ingin menyelamatkan temanku.”


“Temanmu? Jadi kamu mau menyelamatkannya dari hukuman Neraka?.” Tanya Tuobha.


Gofan mengangguk.


“Kamu hanya akan mengantar nyawa jika pergi ke sana dengan kemampuanmu sekarang... Hanya orang mati yang bisa pergi ke Alam Kematian itu.”


Gofan diam, dia masih penasaran, apa yang sebenarnya dilakukan Tuobha kepada Dewa Kematian, hingga membuat Dewa itu begitu menurut padanya.


“Aku tahu Paman. Tapi aku harus pergi, setidaknya aku sudah berusaha... Paman... Apa yang Paman lakukan pada Surahatma ini?.” Gofan memberanikan diri menanyakan rasa penasarannya yang tadi belum dijawab Tuobha.


*Blazh*


“Aku tidak melakukan apa-apa... Ini semua karena Batu ini.” Sebuah batu bercahaya hitam dengan asap hitam tipis terbang melayang di telapak tangan Tuobha.


“Batu Kematian!?.” Ucap Gofan sedikit terkejut.


“Benar. Ini salah satu dari sembilan Batu Bertuah... Sepertinya kamu juga punya batu seperti ini. Batu apa yang kamu miliki?.”


Sebelumnya, Tuobha mendekati dan menghampiri Gofan karena merasakan getaran pada batu bertuah miliknya.


“Aneh... Kenapa aku tidak merasakan apa-apa, meskipun Paman mengeluarkan batu itu? Apa ada yang salah dengan Batu itu?.” Tanya Gofan.


“Itu karena aku mengendalikan Hawa Surga dari Batu ini. Jika kamu bisa mempelajari pengendalian Hawa Surga, kamu juga bisa menyembunyikannya dari pemilik Batu lain.” Sahut Tuobha.


Lagi-lagi mengenai pengendalian Hawa Surga, itulah yang dipikirkan Gofan di dalam benaknya saat kedua matanya menatap ke arah Batu Kematian.


“Gofan... Batu apa yang kamu miliki?.” Tanya Tuobha sekali lagi.


“Batu Mental.”


“Hmm... Tapi kenapa kekuatan Mentalmu selemah ini? Tidak mungkin, pasti ada yang salah.” Ucap Tuobha.


*Deg*


Gofan terkejut, hanya menatapnya saja, Tuobha sudah tahu bahwa Energi Mental di dalam dirinya begitu lemah. Gofan menjadi semakin penasaran, tentang siapa sebenarnya Tuobha ini.


“Paman. Aku sedang terburu-buru. Jika Paman hanya ingin pamer, aku permisi.” Ucap Gofan hendak berbalik, kembali ke tempat membuka Gerbang Dewi Ruyi.

__ADS_1


Dia tidak menjawab pertanyaan Tuobha, lagi pula, dia memang tidak akan bisa menjelaskan mengenai melemahnya Energi Mental di dalam tubuhnya.


“Aiya... Aku bukan ingin pamer. Aku ingin meminta bantuanmu. Sebagai gantinya aku akan memberikan Batu ini.”


Batu Kematian, salah satu dari sembilan Batu Bertuah. Batu hitam pekat itu mempunyai kemampuan untuk membuat penggunanya memiliki kendali atas roh dan jiwa yang telah meninggal.


“Lalu kenapa? Aku perlu pergi ke Neraka. Aku tidak perlu boneka-boneka roh seperti mereka.” Tunjuk Gofan ke arah Dewa Kematian yang masih berada dalam kendali Tuobha.


“Bocah kecil... Sepertinya kamu belum tahu, kemampuan lain dari Batu ini...”


“Tunggu sebentar... Lihat ini.”


Tuobha membentuk segel tangan dan melempar tinggi Batu Kematian ke atas kepalanya.


Asap hitam menyebar di sekitar batu tersebut dan membentuk sebuah lorong hitam yang sangat gelap.


“Ahhh... Tolong aku....”


“Sakit... Tolong aku....”


“Ampun... Tolong hentikan..”


Jerit-jerit kesakitan terdengar keluar dari lorong hitam tersebut. Bau amis darah serta aroma daging dan kulit yang terbakar, tercium keluar dari dalam lorong tersebut.


“Hanya aku yang bisa mengizinkan, siapa pun pergi dan memasuki Lorong Hitam ini... Bagaimana? Kamu mau menolongku? Aku berjanji akan memberikan batu ini kepadamu sebagai imbalannya.”


“Katakan. Apa yang bisa aku bantu?.” Gofan menerima tawaran Tuobha.


“Di dalam Neraka ada sebuah bunga bernama Bunga Api Ribuan Roh, aku ingin kamu mengambilnya untukku.” Sahut Tuobha.


“Baik. Aku setuju.” Ucap Gofan tanpa ragu-ragu.


“Kamu tidak penasaran, kenapa aku tidak pergi sendiri dan mengambil batu itu?.” Tuobha tidak menyangka Gofan akan langaung menyetujuinya begitu saja.


Gofan menggelengkan kepala, “Aku yakin, Paman pasti terikat oleh tempat ini, karena itu Paman tidak bisa pergi dari Lembah Kematian ini, betul bukan?.”


‘Pintar juga, dia bisa menebak dengan benar.’ Batin Tuobha.


Setelah menggunakan jurus terlarang dan mengorbankan nyawanya sebagai taruhan untuk mengurung para pemberontak Kerajaan Tulang Putih, Tuobha menjadi terkutuk. Dia terikat oleh jurus terlarang tersebut. Rohnya dikutuk untuk tidak bisa pergi, selain dari tempat dimana jurus tersebut dia gunakan.


“Benar. Tebakanmu benar.... Baik, karena kamu sudah setuju... Bersiaplah...” Tuobha membentuk sebuah segel tangan lainnya.


Cahaya hitam dari segel tangan Tuobha memancar masuk ke dalam tubuh Gofan. “Hahaha... Bagus. Pergilah dan ingat untuk membawa kembali bunga itu.” Ucap Tuobha saat dia menarik keluar roh Gofan dari tubuhnya dan melemparnya masuk ke dalam lorong hitam.

__ADS_1


‘Kenapa rohnya berbeda dengan tubuhnya? Apa tadi aku salah lihat?.’ Batin Tuobha sesaat setelah Gofan tiba di depan Gerbang Neraka.


***


[Gerbang Neraka-Neraka Tingkat Satu]


Ada 18 Gerbang Neraka yang harus dilalui roh yang telah dijemput oleh Dewa Kematian dan sekarang Gofan berada di Gerbang Pertama, Neraka Tingkat Satu.


“Ayo.. Ikuti aku.” Ucap Surahatma yang sebelumnya dikendalikan oleh Tuobha.


Tuobha mengutus Dewa Kematian itu untuk menuntun Gofan menuju ke tempat Bunga Api Ribuan Roh berada.


“Tunggu.. Aku perlu mencari temanku dulu.” Sahut Gofan.


“Sebutkan. Siapa yang kamu cari?.” Tanya Surahatma itu dengan nada kaku karena pengaruh dari kendali Tuobha.


*Blazh* Sebuah kitab besar setebal satu telapak tangan muncul melayang di hadapan Surahatma tersebut.


‘Catatan Daftar Kematian?.’ Tatap Gofan ke arah Kitab tersebut sebelum berkata, “Xionan. Namnya Xionan. Aku bertemu dengannya di Hutan Bambu Kemarau.”


Surahatma itu, membolak-balik Catatan Daftar Kematian dan mencoba menemukan Xionan yang dimaksud oleh Gofan.


“Tidak ada.” Ucap Surahatma itu setelah dia menutup kembali Catatan Daftar Kematian.


“Tidak ada? Apa maksudmu? Dia sudah dibawa ke Neraka beberapa bulan yang lalu....”


“Tidak ada. Berarti belum masuk Neraka.” Sela Dewa Kematian tersebut.


Dengan kata lain, Xionan masih dalam perjalanan menuju ke Neraka.


Setahu Gofan, setiap arwah yang baru tiba di Neraka, pasti akan muncul di tempatnya berada saat ini, yaitu Gerbang Neraka Tingkat Satu.


Jika Gofan menunggu, entah kapan Xionan akan tiba di Gerbang tersebut. Jadi, dia memutuskan pergi untuk mengambil Bunga Api Ribuan Roh sebelum menyelamatkan Xionan.


Selain itu, saat ini hanya Surahatma yang masih dikendalikan Tuobha, yang bisa dia andalkan untuk menyelamatkan Xionan. Gofan tidak mungkin bertarung menghadapi dua orang Surahatma lain yang telah menangkap Xionan.


**


Di kedalaman Neraka Tingkat Satu...


Aroma amis darah, jeritan kesakitan, aroma daging dan kulit terbakar, terus mengikuti perjalan Gofan dan Si Surahatma. Mereka akhirnya tiba, tepat di depan sebuah kawah darah yang mendidih.


“Itu bunganya... Ambil dan berikan pada Tuan.” Tunjuk si Surahatma ke arah sebuah bunga yang berada tepat di tengah kawah darah mendidih tersebut.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2