Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 166. Masih Ada Lima Lagi


__ADS_3

Satu langkah, setelah enam tarikan napas, satu langkah lagi. Enam tarikan napas lagi, lalu satu langkah lagi.


Saat Gofan berjalan selangkah demi selangkah menelusuri terowongan. Tanah tempatnya berpijak sama sekali tidak membekas, meski dia merasakan tekanan seberat Gunung sedang menindihnya di setiap langkahnya.


Saat langkahnya mencapai 24an langkah, Lentera Jiwa yang telah dia lewati tiba-tiba mengeluarkan suara lagi, “Masih ada lima lagi... Haha... Masih ada lima lentera lainnya.” Tawanya sebelum sosok mungil bercahaya itu kembali menjadi cahaya redup.


Gofan tidak sanggup menanggapi, dia jelas mendengarnya. Ternyata, ada enam Lentera Jiwa semacam itu. Belum juga mencapai Lentera yang kedua, dia sudah mengerahkan banyak tenaga dalam.


Waktu terus berlalu, napas demi napas, langkah demi langkah. Gofan akhirnya tiba di Lentera Jiwa yang kedua. Dia tidak menghitung lagi, sudah berapa langkah yang dia tempuh untuk sampai di sana, yang jelas, itu lebih dari ratusan langkah.


“Hmm... Maaf jika aku menambah bebanmu.” Tawa sosok mungil bercahaya yang muncul di Lentera Jiwa Kedua. Kali ini, sosok yang muncul mirip seperti pria paruh baya. Lebih muda daripada yang pertama.


Gofan menarik napas yang panjang dan melanjutkan langkahnya lagi. Sekarang, tubuhnya seperti di tekan oleh sebuah Gunung ditambah dengan sebuah Bukit. Bisa dibilang, satu setengah Gunung.


Tulang di kakinya berderit saat Gofan melanjutkan langkahnya, kali ini dia melangkah setelah menarik sepuluh napas. Satu langkah setelah tarikan sepuluh napas, begitu seterusnya.


Ratusan langkah berikutnya...


“Dia tidak berkata apa-apa? Sial... bebannya bertambah lagi.” Batin Gofan ketika dia melewati Lentera yang Ketiga.


Di Lentera itu, sosok mungil wanita tua bertongkat berdiri menatap Gofan dalam diam. Setelah itu, tubuhnya ditekan oleh tekanan seberat memikul dua buah Gunung.


Berikutnya... Setelah ratusan langkah, hingga tiba di Lentera Jiwa keempat.


“Kakak. Semangat ya... Semangat... Semangat... Kamu pasti bisa-!.” Teriak kegirangan sosok anak kecil di dalam Lentera Jiwa Keempat.


Di Lentera Jiwa Keempat, sosok mungil anak kecil yang terlihat seperti berusia tujuh sampai delapan tahun tersebut menambah berat tekanan yang harus dipikul Gofan. Sekarang dia berjalan seakan memikul dua setengah berat sebuah Gunung.


*Kretak Kretak Tak*


Tulang emas di bagian kedua lutut kaki dan kedua pundak Gofan terdengar mengeluarkan bunyi retakan.


*Gedeblug*


Bersamaan dengan bunyi retakan itu, Gofan terjatuh. Satu lututnya menyentuh tanah.


“Hanya tinggal dua lagi.” Batin Gofan menyemangati dirinya. Dia tidak memperdulikan teriakan sosok anak kecil di Lentera Keempat. Bagaimanapun Gofan mendengarnya, teriakan semangat dari sosok jiwa di Lentera Keempat itu terdengar seperti menertawai beban yang dipikulnya.


Gofan yang masih berlutut satu kaki, memejamkan matanya. Dia mengarahkan untaian Saripati Energi di dalam Kubus Titik Pusat Jiwanya ke arah bagian tulang yang retak. Gofan berusaha memperbaiki mereka.


“Kakak?... Kenapa diam?.” Ucap sosok anak kecil di Lentera Jiwa Keempat, “Aku sudah menyemangatimu. Ayo jalan lagi-!.” Serunya.


Gofan masih berusaha menyempurnakan kembali kondisi tulangnya.


“Jangan bilang kamu menyerah.. Kakak? Kamu menyerah?.” Ucap sosok anak kecil itu, lalu mendengus dan mengambil posisi duduk bersila. Tangan kanannya menopang dagunya, “Tidak seru-!.” Imbuhnya.


“Tubuh Gajah Naga Sejati.” Teriak Gofan di dalam batinnya saat dia berhasil menyempurnakan kembali tulang-tulang yang retak. Gofan mengedarkan Ilmu Tubuh Naga Sejati untuk memperbaiki tulang-tulangnya tersebut.


*Cesshh* Asap putih keluar dari tubuh Gofan.


*Groaahh* Satu hela napas setelah itu, teriakan Naga dan lengkingan suara Gajah terdengar bersamaan saat Gofan berdiri dengan tegap.


*Duuaaar*


*Duuaaar*


*Duuaaar*


Saat itu, di dekat tempat Gofan berdiri, ledakan-ledakan kecil terjadi. Ledakan-ledakan kecil itu mengguncang terowongan.

__ADS_1


Lentera Jiwa Keempat terdorong mundur beberap langkah. Sosok anak kecil di dalamnya terlihat kesakitan sembari memegang dadanya.


Hal serupa juga terjadi pada tiga Lentera Jiwa yang telah dilewati Gofan. Ketiga Sosok di Lentera Jiwa tersebut, muncul kembali dengan ekspresi kesakitan.


Seperti masuk ke tahap selanjutnya dari Ilmu Naga Sejati, tubuh, darah, dan tulangnya semakin menguat. Saat itu terjadi, beban dua setengah Gunung yang membuatnya setengah berlutut, sirna. Gofan berdiri tanpa beban, tanpa tekanan.


Gofan tersenyum lebar. Saat mendapati tubuh, darah, dan tulangnya semakin menguat. Ini seperti mendapat kekuatan baru setelah berlatih dengan giat. Dia senang sekali.


Gofan berbalik, dia menatap sosok di Lentera Keempat, “Terima kasih Senior. Terima kasih semngatnya. Aku memang bisa.” Sahutnya sembari menangkupkan kedua telapak tangannya, memberi hormat.


Dua hela napas setelah itu, cahaya jiwa di setiap Lentera yang telah dilewati Gofan menghilang.


*Blash* Sosok anak kecil itu tersenyum meringis sebelum akhirnya menghilang bersama dengan sosok-sosok di ketiga Lentera Jiwa lainnya.


“Siapa sebenarnya mereka?.” Batin Gofan. Pandangannya kini terarah ke kegelapan yang terjadi, setelah keempat Lentera Jiwa itu padam dan terjatuh ke lantai terowongan.


Gofan mengibaskan lengan kanannya dan semua Lentera Jiwa yang terjatuh itu, terhisap masuk ke dalam Cincin Dimensinya. Gofan menghela napas. Dia menyayangkan, jiwa-jiwa itu musnah dan tidak akan bisa mengalami reinkarnasi lagi, karena kejadian sebelumnya.


“Dua Senior di depan, di dalam Lentera Jiwa. Mohon maafkan aku. Aku tidak ada niat untuk memusnahkan Jiwa-jiwa para Senior di Lentera pertama sampai keempat. Semuanya terjadi di luar kehendakku... Aku akan melanjutkan perjalananku. Mohon memberiku muka, setelah ini, aku berjanji akan membantu Jiwa kalian untuk melewati Neraka dan bereinkarnasi.” Teriak Gofan. Dia membalik badan dan melanjutkan langkahnya.


Kedua sosok di dua Lentera Jiwa selanjutnya, sudah muncul dari tadi, saat teriakan Naga dan lengkingan suara Gajah terdengar di telinga mereka. Mereka sudah ketakutan saat itu. Tanpa diperingati Gofan pun, mereka tidak akan berani mempersulitnya.


Tanpa tekanan, Gofan tiba dengan cepat di depan Lentera Jiwa Kelima.


“Pendekar Muda. Apa hubunganmu dengan Dewa Naga dan Dewa Pelindung?.” Tanya sosok seorang pria muda sebaya Gofan muncul di Lentera kelima.


Sosok di Lentera Kelima dan Keenam, tahu dengan jelas bahwa Gofan pasti memiliki kaitan dengan kedua Dewa tersebut.


“Aku keturunan mereka.” Sahut Gofan singkat, “Siapakah Senior-senior ini? Dan kenapa kalian mendiami Lentera-lentera Jiwa ini?.” Tanyanya penasaran.


Sambil melanjutkan perjalanan, sosok di Lentera Kelima melayang menjawab pertanyaan Gofan, “Maafkan kami, jika saja dari awal kami tahu, bahwa kamu adalah keturunan mereka, kami pasti tidak akan menyulitkanmu.”


“Kami berenam, dulu adalah Enam Jendral Naga Utara. Saat tubuh kami mati, Raja Naga Laut Utara menyegel roh kami di Lentera ini dan meminta kami menjaga Harta di tempat ini... Aku Long Ergou dan dia Long Erwang.” Imbuh sosok di Lentera kelima saat menunjuk sosok di Lentera Jiwa keenam.


“Aku Gofan.” Ucap Gofan sembari mengangguk pelan, “Senior Ergou. Senior Erwang. Mohon berbagi petunjuk tentang Harta di depan.” Gofan menatap ke arah kedua sosok di dua Lentera di hadapannya.


Long Ergou memandang ke arah sosok pria tua di Lentera keenam yang bernama Long Erwang.


“Tidak apa... Dia adalah keturunan Naga juga, tidak salah untuk memberitahukan padanya.” Ucap Long Erwang, yang kemudian menatap ke arah Gofan, “Gofan. Jika kamu mampu, maka cobalah untuk menaklukkan Jiwa yang ada di akhir terowongan ini... Di dalam ada pecahan daging tubuh Dewa Naga dan sebagian kecil Jiwanya. Ada Es Abadi yang menjaganya tetap utuh.”


“Berhati-hatilah pada Es itu... Dia sudah ada sangat lama, bahkan sebelum kami berjaga di terowongan ini... Es itu, sudah mewujudkan dirinya. Dia hidup karena menyerap sedikit daging dan jiwa dari Dewa Naga yang dia jaga.” Imbuh Long Erwang.


“Entah apa yang dia pikirkan, semakin lama, dia semakin menginginkan seluruh pecahan daging tubuh dan Jiwa Dewa Naga tersebut.” Ucap Long Ergou menimpali.


“Mewujudkan dirinya?.” Tanya Gofan.


“Benar. Dia sudah menjadi seorang Siluman. Siluman Salju.” Sahut Long Erwang.


Bongkahan 'Es' yang telah amat sangat lama menjaga pecahan daging tubuh dan sebagian kecil Jiwa Dewa Naga menjelma menjadi Siluman. Gofan tidak heran, hal semacam itu, mungkin saja terjadi. Tentu saja, itu karena dia menjaga pecahan daging tubuh dan percikan kecil Jiwa seorang Dewa. Itu tidaklah mustahil.


“Di dalam akan dingin sekali. Apa kamu mempelajari budidaya Energi Elemen Api?.” Tanya Long Ergou.


Gofan menggeleng pelan menjawab pertanyaan tersebut.


“Kebetulan, aku memiliki Kitab Budidaya Energi Elemen Api, apa kamu mau menerimanya? Mungkin ini bisa sedikit membantumu untuk menghadapi Siluman Salju di dalam.” Imbuh Long Ergou setelah melihat gelengan kepala Gofan.


Setelah Gofan mengangguk, setuju menerima warisan ilmu tersebut, seberkas api kecil dari Lentera Jiwa Long Ergou melesat, mencoba masuk ke dalam dahi Gofan.


“Eh... Ini?!.” Ucap kaget Long Ergou.

__ADS_1


Long Erwang menatapnya aneh, “Kenapa? Ada apa?.” Tanyanya kepada Long Ergou.


“Gofan. Ada apa di dahimu itu? Sesuatu menghalangi kilasan ingatanku untuk masuk ke dalamnya.” Ucap Long Ergou saat dia menarik kembali api kecil ke dalam Lentera Jiwa miliknya.


Api kecil itu adalah percikan kecil Jiwa Long Ergou yang mengandung ingatan tentang Kitab Budidaya Energi Elemen Api miliknya.


“Ini.. Ini Mata Ilahi.” Sahut Gofan sembari meraba tanda garis lurus tipis di dahinya. Sayang sekali, karena Energi Mentalnya yang lemah, dia tidak bisa menggunakan Mata Ilahi tersebut. Mata Ilahi hanya bisa dipakai sekali, sebelum Gofan akhirnya akan kehilangan kesadaran setelah mengaktifkan kekuatan mata tersebut.


Kedua sosok di kedua Lentera Jiwa itu tercengang. Pantas saja, percikan jiwa Long Ergou tidak bisa masuk, itu karena Mata Ilahi. Percikan Jiwa itu, dinilai Mata Ilahi sebagai bagian dari roh yang hendak merasuki Gofan. Tentu saja, akan ditolak untuk masuk.


“Percikan Jiwaku tidak diterima oleh Mata Ilahi... Maafkan aku, sepertinya aku tidak bisa mewariskan budidaya ini kepadamu.” Long Ergou mendesah pelan.


Gofan memutar otaknya, sayang sekali jika dia harus melewatkan kesempatan untuk mendapatkan warisan ilmu dari seorang mantan Jendral Naga, “Senior Ergou... Bagaimana jika Senior membacakan dan memperagakan caranya saja? Mmm... Ini mungkin akan lebih lama, tapi aku akan berusaha agar Senior tidak perlu mengulangi... cukup sekali peragaan saja.”


**


Ribuan hela napas setelah Long Ergou menyetujui saran Gofan. Di atas permukaan tanah, di atas Ring Tarung, hari telah berganti.


Hari pertama telah terlewati. Kini Turnamen Pulau memasuki Hari Kedua.


Setelah babak penyisihan kemarin, hanya tersisa, 18 Peserta yang kini hadir di babak 18 Besar. Xionan, Shiyuxin, dan boneka manusia tanah Gofan termasuk di dalamnya.


Hampir saja mereka terlambat, sedikit lagi, mungkin, ketiganya tidak akan ada di Babak 18 Besar.


Kemarin, setelah meninggalkan Gofan. Ketiganya memutuskan untuk memotong jalan, daripada menelusuri terowongan lagi, yang tentu saja akan menghabiskan waktu seharian.


Xionan meminta Fanjia, sebutan yang diberikan Xionan untuk boneka manusia tanah Gofan, agar menggali lubang langsung ke atas permukaan tanah. Saat mereka merasakan bahwa mereka telah tiba di dekat area Ring Tarung, dengan Energi Elemen Tanahnya, Fanjia menggali ke atas permukaan tanah... Dan jadilah mereka tiba tepat waktu.


Babak pertama adalah Tarung Bebas. Tidak ada yang menarik untuk dibahas. Mereka yang kuat, itulah yang bertahan.


Tianxian hanya melirik ke arah Fanjia yang dikiranya Gofan, tapi dia tidak menyerangnya saat itu. Dia memilih membiarkan Fanjia untuk lolos melewati Babak Pertama. Dia tidak ingin terburu-buru membunuh Gofan.


Sementara, Litaihyun yang juga ikut dalam Turnamen, dengan sengaja menjauhkan Gofan dari lawan-lawan yang tangguh. Dia mengamankan Fanjia, alias Gofan, agar bisa sampai ke Babak Final demi melanjutkan rencana Lixiayo.


Litaizhong yang juga turun sebagai peserta, benar-benar geram melihat tingkah kakaknya itu, beberapa kali dia mencoba menargetkan Fanjia, tapi selalu dihalangi Litaihyun.


Termasuk juga dengan Ximenhong dan para Pendekar Muda Meghalaya, semuanya dibuat kelabakan oleh tingkah aneh Litaihyun. Mereka terus dihalangi oleh Litaihyun, saat mencoba membunuh Gofan di Babak Pertama.


Litaihyun yang merupakan samaran Gennai Dadoros hanya bisa menghela napas melihat begitu banyaknya pendekar yang ingin menyingkirkan Gofan. Jika bukan karena rencana Lixiayo dan janjinya kepada Lixiayo, dia mungkin juga akan ikut membunuh Gofan atau mungkin hanya akan menjadi penyemangat mereka untuk membunuh Gofan.


“Fanjia. Ternyata kamu sama kuatnya dengan Gofan. Berjuanglah.” Bisik Xionan memberi semangat pada Fanjia.


Xionan tidak menyangka, meski hanya kloningan Gofan yang terbuat dari tanah, Fanjia, dapat bertarung sama persis dengan Gofan. Bahkan, dia benar-benar terlihat terluka, saat sempat tergores senjata lawan.


Xionan sebenarnya menunggu kedatangan Gofan, agar dia dapat bertanding di Babak 18 Besar. Tapi, sepertinya perjalanan mencari Pertemuan Beruntung di bawah tanah di Pulau Api itu, memakan waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Mau tidak mau, akhirnya Fanjia lagi-lagi mewakili Gofan di putaran kedua Turnamen Pulau.


Xionan hanya berharap, tidak akan ada yang menyadari bahwa Fanjia adalah boneka manusia tanah. Jika sampai ketahuan, tentu saja, Gofan akan didiskualifikasi.


“Terima kasih Nannan.” Fanjia ini sedikit lebih hormat kepada Xionan. Dia seperti menganggap Xionan itu seorang Senior.


Tidak jauh dari keduanya, Shiyuxin mendengus mendengarkan percakapan keduanya, “Tidak yang asli, tidak yang palsu, semuanya dia dekati.” Batinnya geram.


“Babak Kedua adalah pertarungan satu lawan satu. Ke-18 Finalis silahkan mengambil token nomor urut secara acak.” Ucap seorang pria muda yang menjadi pembawa acara di Turnamen tersebut.


Ke-18 Finalis telah berdiri di atas Ring Tarung, dk tengah Ring Tarung ada sebuah kotak yang berisikan 18 token kayu. Ada nomor di setiap token tersebut. Para peserta mengambil token secara acak.


“Nomor 01 melawan Nomor 18, kemudian Nomor 02 melawan Nomor 17, dan demikian seterusnya.” Imbuh pria muda itu, setelah dia menyingkirkan kotak tempat token kayu yang sudah kosong.


*Gong* Pertandingan pertama Babak Kedua, Babak 18 Besar dimulai.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2