
Kusir kereta dan para pendekar berkuda menuruti perintah si pemuda tersebut dan menerjang maju menabrak rombongan Gofan.
*Triung*
Para pendekar berkuda itu satu per satu melepaskan pedang mereka dari sarungnya dan menerjang maju mendahului kereta kuda, menyerang ke arah Gofan dan rombongan.
Ada sepuluh pendekar berkuda dan sembilan dari mereka adalah pendekar di ranah Great Master tahap awal, hanya satu orang saja yang berada di ranah Grand Master tahap awal di antara kesepuluh pengawal berkuda tersebut.
Xioming yang berada di urutan paling belakang di rombongan Gofan terkejut melihat itu, sebagai orang biasa dia tentu tidak dapat berbuat banyak jika diserang oleh para pendekar di ranah Great Master.
*Zyuut*
"Xioming. Tenang! Kita baru saja kembali hidup sebagai manusia. Aku tidak akan membiarkanmu mati...!"
"Pergilah terlebih dahulu bersama yang lain, aku akan menyusul!"
Ucap Zuena yang kini berada di urutan paling belakang, melindungi Xioming dari serangan para pendekar berkuda.
Zuena sudah merasa bahwa Xioming adalah satu-satunya kenalannya di dunia ini setelah 700an tahun berlalu, sehingga dia tidak ingin Xioming mati begitu saja. Zuena merasa mereka sudah senasib sepenanggungan.
Zuena melangkah maju dan menyerang menggunakan Kipas Lipat Besi miliknya.
"Angin Tajam Mematikan"
*Wuuzz*
*Gedebug*
Serangan angin yang tajam bagaikan sayatan pisau dihembuskan olah kibasan Kipas Lipat Besi yang sudah dialiri oleh tenaga dalam Zuena.
Empat dari sepuluh kuda yang menerjang maju jatuh, namun empat pendekar yang menunggangi kuda itu tidak terjatuh, mereka melompat tepat sebelum kuda-kuda mereka terjatuh.
"Hii"
Enam pendekar lainnya menghentikan laju kuda mereka yang terhalangi oleh empat ekor kuda yang kini terkapar di jalanan Ibu Kota.
Orang-orang yang berlalu lalang di sekitaran jalanan Ibu Kota telah lama bubar dan menjauh, mereka tidak ingin terlibat masalah dengan si pemilik Kereta kuda tersebut.
"Siapa orang-orang ini? Mereka berani sekali membuat masalah dengan keluarga kerajaan"
Ucap salah seorang yang berlalu lalang dijalanan Ibu Kota di antara kerumunan orang.
Kerumunan orang kini berkumpul agak jauh dari pertikaian rombongan Gofan dengan rombongan Kereta kuda. Mereka tadinya telah menyingkir dari jalanan Ibu Kota dan berbaris memberikan penghormatan kepada Kereta kuda itu.
"Benar. Mereka hanya cari mati saja"
Ucap salah seorang di antara kerumunan yang sekarang melihat dan menonton apa yang sedang terjadi dari jauh.
"Lihat! Itu bukannya Pendekar Mangrui? Mereka benar-benar mencari mati"
Tunjuk salah seorang lain di dalam kerumunan kepada si pendekar berkuda yang berada di ranah Grand Master tahap awal.
Pendekar di ranah Grand Master tahap awal itu memang bernama Mangrui. Dia adalah salah satu pemuda berbakat yang sudah memenangi peringkat lima besar Turnamen Pulau tiga tahun sebelumnya. Mangrui adalah seorang murid inti dari Perguruan Awan Langit.
Mangrui tertawa keras di atas kudanya saat dia melihat Gofan dan rombongannya justru melawan dan tidak menuruti perintah mereka.
__ADS_1
"Lumayan. Serangan kipasmu lumayan bagus, tapi itu belum seberapa... Bukannya pergi, kalian justru melawan kami, kalian tidak tahu siapa kami?"
Mendengar perkataan Mangrui, Zuena menoleh ke belakang dan mendapati Xioming, Gofan, dan yang lain masih berada di belakangnya.
"Kalian?, Ini hanya masalah kecil. Aku bisa mengatasi mereka"
Ucap Zuena kepada yang lain.
Zuena berpikir, Gofan serta yang lain sudah pergi dan membiarkan dia sendiri mengatasi masalah rombongan kereta kuda itu. Namun ternyata, Gofan dan yang lainnya masih tetap berdiri di belakangnya.
"Ini bukan salahmu Pendekar Zuena. Mengapa harus kamu sendiri yang menghadapi mereka?"
Ucap Mouhuli.
Gofan menepuk pundak Zuena dan melangkah maju, menjawab perkataan Mangrui.
"Kami tidak tahu dan tidak mau tahu, karena kami sudah berjalan di jalan yang benar, dan aku tidak takut pada orang semacam dirimu!"
Ucap Gofan dengan tatapan tegas kepada Mangrui.
Selama perjalan menuju ke Kota Langit Cahaya. Gofan sudah melakukan pengolahan budidayanya, dia belajar mengolah budidaya seperti bernapas. Jadi, meskipun Gofan sedang berjalan, makan, tidur, ataupun beraktivitas yang lain, dia masih bisa menyerap energi langit dan bumi untuk menjadikannya Saripati Energi di dalam Kubus Oktagonnya.
Semua hal itu dipelajari Gofan dari ingatan Tianyuan. Berkat cara latihan semacam itu, kini Saripati Energi Gofan telah pulih sebanyak 1645 lapisan cairan ungu. Gofan menyerap energi langit dan bumi seperti sedang bernapas, setiap hela napas menambah lapisan tenaga dalamnya.
Selama perjalanan itu pula, Gofan membagikan salah satu jurus di dalam ingatan Tianyuan kepada Julala, Urore dan Xiaobai. Jurus yang berguna bagi mereka untuk menyamarkan diri ketika berada di lingkungan manusia. Gofan meminta ketiga teman Makhluk buasnya itu untuk mengingat dan mempelajarinya, jika ingin segera dapat bergerak bebas di lingkungan manusia.
"Sombong betul! Bocah!! Kamu pikir, bisa mengalahkanku?... Akan aku tunjukkan apa itu rasa takut kepadamu!"
Bentak Mangrui geram mendengar jawaban Gofan.
"Kalian semua serang yang lain!... Serahkan bocah tidak tahu diri ini kepadaku"
*Zyuut*
*Trang*
*Trang*
Dentuman senjata beradu pun akhirnya terdengar di jalanan Ibu Kota yang kini terlihat lengang tersebut.
Zuena bertarung dengan kipas miliknya, sementara Mouhuli, Bailaohu dan Bianselong masing-masing bertarung menggunakan pedang mereka.
Xioming terpaksa menyingkir karena dia satu-satunya yang bukan pendekar di antara rombongan Gofan. Xionan melayang di sekitaran Xioming, dia berjaga-jaga untuk melindungi kakaknya itu.
Zuena menghadapi dua di antara sembilan pendekar pengawal kereta yang menyerang mereka. Tiga lainnya di hadapi oleh Bailaohu. Mouhuli dan Bianselong masing-masing menghadapi dua orang pendekar pengawal yang tersisa.
Karena menyamar sebagai seorang pendekar manusia, Mouhuli, Bailaohu, dan Bianselong terpaksa menyembunyikan hawa siluman mereka, sehingga budidaya mereka pun menurun jauh.
Awalnya Mouhuli dan Bailaohu berada di ranah Human God tahap akhir, semetara Bianselong berada di ranah Holy Saint tahap pertengahan. Kini Mouhuli dan Bailaohu berada di ranah Great Master tahap akhir sementara Bianselong berada di ranah Great Master tahap pertenghan.
Akibat hal itu, pertarungan pun menjadi alot, mereka bertiga tidak bisa dengan mudah membunuh ketujuh pendekar pengawal yang menyerang mereka.
Zuena sendiri akhirnya mengernyitkan alisnya, dia tidak menyangka bahwa meskipun musuh yang dia hadapi berada di ranah Great Master tahap awal, namun masing-masing dari mereka memiliki tenaga dalam yang lebih murni daripada miliknya.
"Pendekar mata satu, pakai saja kipas mu ini untuk mengipasi dirimu di alam baka!"
__ADS_1
Teriak salah seorang pendekar pengawal kepada Zuena.
Meski sudah kembali menjadi manusia, luka di mata kanan Zuena masih tetap sama seperti waktu dia menjadi Urori. Sekarang Zuena hanya bisa bertarung menggunakan satu matanya, itu juga sedikit menghambatnya dalam memberikan perlawanan.
Di lain pihak Gofan sudah menghadapi Mangrui selama beberapa puluh gerakan. Gofan mengalirkan tenaga dalam ke dalam Tongkat Emas Naga Kembar, yang kini sudah menjadi tongkat besi biasa.
Tongkat besi Gofan yang semula berukuran seruling, kini telah kembali ke ukuran normalnya saat menerima aliran tenaga dalam Gofan.
"Langkah Kilat"
"Pukulan Api Penakluk Badut"
Teriak Gofan saat mengayunkan tongkat besinya yang terlihat seperti berapi-api karena diselimuti oleh aliran tenaga dalamnya.
Gofan memadukan kecepatan jurus Langkah Kilat dengan Pukulan Api Penakluk Iblis yang kini dirubah namanya lagi oleh Gofan menjadi Pukulan Api Penakluk Badut. Untung saja Haiwa sedang tertidur sehingga tidak ada yang mengkritik Gofan.
"Tarian Pedang Cahaya"
Mangrui mengerahkan salah satu jurus andalannya untuk menangkis serangan tongkat api Gofan.
Gerakan serangan pedang Mangrui terlihat sangat indah namun bercahaya terang menyilaukan mata, setiap sisi dari bilah pedangnya akan memantulkan cahaya matahari yang diarahkan ke pandangan mata Gofan.
*Trang*
Dentuman pedang bercahaya dan tongkat berapi terdengar jelas di siang hari itu, saat jalanan Ibu Kota menjadi sepi karena pertikaian dua rombongan itu.
Saat pertarung terdengar riuh di luar kereta. Di dalam kereta tiga orang pemuda tengah menunggu dengan tidak sabar. Salah seorang pemuda itu adalah Goyige, Pangeran Pertama Kerajaan Meghalaya yang baru saja tiba di Kota Langit Cahaya.
"Apa yang terjadi? Kenapa mereka lama sekali mengatasinya?"
Tanya Goyige kepada seorang pemuda yang sebelumnya memberi perintah kepada Mangrui dan yang lainnya untuk menyingkirkan Gofan dan rombongannya.
Pemuda yang memberi perintah itu bernama Litaizhong, Pengeran Ketujuh Kerajaan Penda. Litaizhong baru saja tiba di jalanan Ibu Kota dari menjemput Goyige dan rombongannya di salah satu Gerbang Dimensi.
Ada total sepuluh Gerbang Dimensi yang menghubungkan Kota Langit Cahaya dengan sepuluh tempat yang berbeda. Gerbang Dimensi yang dilalui Gofan dan rombongan tidak termasuk di antara kesepuluh Gerbang Dimensi yang ada.
Gerbang Dimensi yang dilalui Gofan dan kawan-kawan adalah Gerbang Dimensi ke-11 yang telah 700an tahun menghilang bersamaan dengan menghilangnya Hutan Tanpa Malam. Dengan kembalinya Gerbang Dimensi ke-11 ini, akan membuat kehebohan baru di Kota Langit Cahaya. Saat ini, belum ada yang menyadari kemunculan kembali gerbang ke-11 tersebut.
-Darimana datangnya orang-orang barbar ini?-
Pikir Litaizhong.
Setiap orang yang keluar dan masuk ke Ibu Kota akan melalui kesepuluh Gerbang Dimensi. Setiap orang itu akan membawa token pengenal untuk data diri dan akan mendapatkan informasi terkait acara keluarga kerajaan dan kejadian penting yang diumumkan sewaktu-waktu di masing-masing gerbang.
Seharusnya setiap orang yang hari ini memasuki Ibu Kota telah mengetahui perihal penjemputan Pangeran Pertama Kerajaan Megalaya beserta rombongan.
"Kakak Goyige tenang saja. Semua pasti akan teratasi. Mangrui adalah salah satu pendekar muda berbakat, dia tidak mungkin dikalahkan"
Ucap Litaizhong sembari tertawa.
*Gedebruak*
Belum selesai Litaizhong tertawa, atap Kereta kuda yang mereka tempati kini hancur karena hantaman tubuh Mangrui. Mangrui terkapar di lantai kereta yang kini tidak beratap lagi.
"Ma-Mangrui!?"
__ADS_1
Litaizhong kaget bukan main, begitu juga Goyige dan seorang pemuda lainnya.
Bersambung...