
Xiongmeng tertawa puas, dia puas dengan perubahan bentuknya. Kini jelas dia lebih dan lebih kuat. Jika sebelumnya, dia berada di ranah Saint Master, mungkin sekarang dia bisa dikategorikan sebagai Pendekar di ranah setengah langkah Human God. Dia mengangkat tinggi kedua tangannya dan Asap tengkorak di atas kepalanya semakin membesar.
“Bocah terkutuk! Sekarang, terima ajalmu!.” Xiongmeng melempar Asap tengkorak hitam itu ke arah Gofan.
Anehnya, asap tengkorak hitam itu seperti memiliki kesadarannya sendiri. Rahangnya terbuka dan tertutup saat jerit tangis memekakan telinga terdengar dari sana. Suaranya menyayat hati.
Anggota Tongkat Sakti dan Tunjung Putih yang tidak kerasukan bergidik ngeri melihat perubahan Xiongmeng. Mereka mengira dia menyerang Gofan karena kerasukan semata, sama seperti orang lainnya. Jika mereka tahu itu karena dendam mungkin mereka akan lebih terkejut, yang pasti setiap kali mereka melihat wujud Xiongmeng, rasa kematian serasa menjalar hingga ke kaki mereka.
Hal yang sama juga dirasakan Gofan. Rasa kematian yang pekat mengalir melalui udara seiring dengan mendekatkan asap tengkorak itu. Ini memaksa Gofan menggunakan seluruh kekuatan Mata Surga, 100% Energi Surga.
“Hyaaa!!!.” Teriak Gofan. Seluruh cahaya ungu meresap ke dalam tubuhnya, kedua matanya berubah ungu dan rambut putihnya menjadi hitam seluruhnya. Gofan melayang terbang 18 kaki dari permukaan.
Asap tengkorak menukik ke atas mengejarnya. Kyak Kyak Kyak Kyak... Tawa aneh terdengar setelah jerit kesedihan. Aura dingin memancar di sekitar asap tengkorak itu, membuat layu kehidupan yang dilewatinya. Itu menghisap nyawa, mengurangi Unsur hidup setiap makhluk yang dilewatinya.
“Tinju Sembilan Kutukan Langit: Tinju Utara!.”
Gofan mengepalkan kedua tangannya dan mengerahkan segenap kekuatan tanda Formasi Sembilan Kutukan Langit. Tanda di kedua punggung tangannya memancarkan cahaya merah keunguan. Tinju itu diperkuat oleh Energi Surga miliknya.
Dalam beberapa hari terkurung dalam Formasi Tameng Harimau Naga, Gofan mendapatkan pencerahan. Menyaksikan beragam jenis tinju yang dikerahkan oleh Para Pendekar lain untuk menerobos Formasi, membuatnya menyadari berbagai cara melepaskan pukulan tinju. Saat dia membandingkannya dengan Tinju Sembilan Kutukan Langit, dia menyadari masih banyak ruang untuk dikembangkan dalam jurus tinju itu.
Seperti halnya Formasi Sembilan Kutukan Langit yang menggunakan sembilan arah mata angin, Gofan mengambil setiap Energi Langit dan Bumi dari sembilan arah mata angin itu, untuk memperkuat pukulan tinjunya.
Bang! Ledakan terjadi. Sebagian kecil Asap tengkorak meledak karena Tinju Utara.
“Masih kurang!.” Gofan melayang lebih tinggi. Mengambil ancang-ancang untuk melepas tinju selanjutnya.
“Tinju Sembilan Kutukan Langit: Tinju Utara! Tinju Barat! Tinju Selatan!.”
Kali ini, tiga kali berturut-turut. Setiap pukulan mengambil penuh, Energi Langit dan Bumi dari tiga arah mata angin, Utara, Barat, dan Selatan.
Bang! Bang! Bang!
Ledakan besar terjadi dan mengguncang Formasi Roh Air Kuning, membuat beberapa anggota dua Perguruan memuntahkan darah. Asap tengkorak itu hancur menjadi kepingan asap hitam, kembali ke atas kepala gundul Xiongmeng.
“Ukh..!.” Xiongmeng memuntahkan seteguk darah. Mata hitamnya berkedip semakin redup.
Xiongmeng menekuk kedua lututnya dan melesat ke atas, dia terbang menyerang langsung ke arah Gofan. Mereka bertukar pukulan di udara. Kekuatan Xiongmeng membuat layu daging tubuh Gofan, tapi berkat perlidungan Tubuh Gajah Naga Sejati dan Kekuatan Mata Surga, daging tubuhnya yang layu perlahan pulih.
Hal serupa juga terjadi pada Xiongmeng, setiap pukulan Gofan mengenai tubuhnya, asap hitam akan keluar dan daging tubuhnya semakin layu, kulit abu-abunya perlahan mirip kulit manusia pada umumnya.
Setelah ratusan ronde, Xiongmeng meraung, tubuhnya semakin lemah, sembari bertarung, dia kembali menghisap setiap Roh Jahat yang ada di sekitarnya. Melihat itu, Gofan mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Formasi Roh Air Kuning ini seperti penyedia sumber makanan baginya, selama Formasi ini utuh, dia akan sulit dikalahkan.” Batin Gofan saat otaknya berputar mencari cara menghentikan Xiongmeng menghisap para Roh Jahat.
Di bawah mereka, Gumulryong bersiap melompat, dia mengarahkan Serigalanya untuk menerjang ke arah Gofan.
“Serahkan Energi Surgamu padaku!!.” Teriaknya di atas punggung Serigala Mata Biru yang melayang melesat ke arah Gofan.
Xiongmeng melihat sekilas, dia mundur dan membiarkan cakaran ganas dari Serigala Mata Biru meluncur ke arah Gofan. Xiongmeng memanfaatkan kesempatan itu untuk menghisap lebih banyak Roh Jahat di sekitarnya.
*Crashh!!* Gofan gagal menghindar, dia terhuyung mundur di udara, bahu kanannya terluka oleh cakaran Serigala Mata Biru.
“Seni Tiga Api Aneh: Pembentukan Api.”
Ini adalah tahap kedua dari Seni Tiga Api Aneh. Gofan langsung membakar tubuhnya dengan Api Merah. Kini dia terlihat seperti manusia api berwarna merah ungu. Tahap pertama, disebut Permulaan Api, ini berwarna kuning dan di tahap ketiga, disebut Pembakaran Inti Api, berwarna biru. Dari ketiganya, yang paling tepat digunakan Gofan saat ini adalah tahap kedua. Sementara tahap pertama akan terlalu lemah untuk memukul mundur Gumulryong dan Serigalanya.
“Hanya jurus Elemen Api remeh!.” Gumulryong tersenyum senang saat Gofan menghadapinya dengan kekuatan Elemen, ini adalah keuntungan baginya.
“Air Terjun Indah Dibawah Sinar Rembulan”
Air dari dalam tanah merambat keluar ke permukaan tanah dan terbang melayang mengikuti Gumulryong. Air tanah melayang-layang dibelakangnya dan Serigala Mata Biru. Percikan air dan hawa panas Api membuat asap mengepul di antara keduanya.
*Tep* Gumulryong dan Serigalanya melompat mundur dan berdiri di atas air yang memancar dari dalam tanah tersebut.
Gofan menerjang dengan tinju dan tendangan api. Gumulryong membalas dengan tinju dan pukulan air.
Bang!
Bang!
*Crashh!!* Sekali lagi, Serigala Mata Biru memanfaatkan celah dan menyerang Gofan. Cakarannya berhasil melukai Gofan di tempat yang sama.
“Ukh..!.” Darah mengalir di sudut bibir Gofan. Serangan kedua yang mengenainya, melukai organ dalamnya. Tapi setidaknya, lengan Serigala itu juga sedikit terbakar.
“Haiwa!.” Teriak Gofan saat tangannya membentuk gerakan seperti mencengkram... Tongkat Emas Naga Kembar melesat keluar dari telinga Gofan dan langsung muncul di tangannya itu.
Sekali lagi, senyum terbentuk di bibir Gumulryong, “Aku juga punya.” Ucapnya pelan saat dia menengadahkan telapak tangannya.
*Zyuut* Gada Penghancur Bumi muncul di telapan tangannya. Gada seukuran jempol itu, perlahan membesar hingga sepanjang lima kaki.
Tidak ada ukiran khusus pada Gada itu, itu hanya terbuat dari batu hitam pekat, polos, tetapi memancarkan aura kehancuran. Udara di sekitarnya berderak seperti kaca retak, saat Gumulryong mengayunkannya pelan.
Semua ini terjadi dalam hitungan beberapa hela napas, tetapinpwrlu waktu untuk menjelaskannya. Keduanya melesat maju, Tongkat Api dan Gada Air saling beradu.
__ADS_1
*Trang!*
Bang!
*Trang!*
Bang!
Perpaduan dentuman tongkat dan gada serta ledakan asap terus terjadi.
Sementara itu, kilatan kilauan kematian terpancar dari kedua mata Xiongmeng. Dia sudah menghisap lebih dari 4000 Roh Jahat, kedua tanduk di kepalanya kini semakin panjang dan melengkung ke belakang. Asap hitam di antara kedua tanduk itu memadat menjadi Api Hitam.
Xiongmeng menatap dingin ke arah Gofan. Gofan merasakan sensasi kematian mengalir dari tatapan itu saat dia menangkis serangan Gada air Gumulryong.
“Dia bertransformasi lagi....” Keringat dingin mulai membasahi dahi Gofan saat dia memikirkan cara melenyapkan ketiganya, Gumulryong, Serigala Mata Biru, dan Transformasi Xiongmeng.
Xiongmeng meraung, melesat menyerang dengan cakarnya yang merah seperti darah. Gumulryong, Serigala Mata Biru, dan Xiongmeng bergiliran menyerang Gofan. Mereka bolak-balik maju mundur menyerang Gofan. Setelah ratusan ronde selanjutnya, Gofan terpukul mundur di udara, seperti layangan putus tanpa tali, dia membentur dinding pembatas Formasi Roh Air Kuning, Bang! ledakan muncul saat benturan itu terjadi.
Antara tiga sampi empat anggota dua Perguruan yang menjaga Formasi Roh Air Kuning terkena dampak ledakan itu, mereka muntah seteguk darah. Cahaya dinding pembatas berkedip meredup.
Cahaya ungu melintas di mata Gofan saat menyaksikan dinding Formasi yang mulai meredup. Dia menyeka darah di sudut bibirnya dan melambaikan tangan menantang ketiganya. “Akan ku gunakan pertarungan ini untuk menghancurkan Formasi Roh Air Kuning.”
Di saat itu, Kepompong hitam telah terwujud sempurna, di dalamnya ada Dewa Gelap yang tengah menyatu dengan pecahan dirinya yang lain, Litaihwang. Suara dentuman detak jantung mulai terdengar menggema di sekitarnya.
Dum Dum!
Dum Dum!
Dum Dum!
“Kepompong apa itu?.” Perhatian mereka yang tengah bertarung mulai mengarah sesaat ke arah Kepompong Hitam. Suara dentuman detak jantung dari dalamnya membuat mereka merasakan sensasi kengerian yang pekat.
Di bawah Kepompong Hitam mulai muncul sebuah pusaran angin kecil, itu mirip lubang dimensi tapi sangat kecil, sebesar kepalan tangan bayi. Dalam hitungan puluhan napas, pusaran angin lain muncul satu demi satu. Ada 13 Pusaran seperti itu yang mengelilingi Kepompong Hitam.
“Apa itu!?...Da-darahnya!! Darah itu melayang!.”
Seorang murid Perguruan Yin Biru terkejut melihat genangan darah di sekitar kakinya perlahan melayang naik menuju ke atas ke arah Kepompong Hitam. Hal serupa terjadi di semua tempat genangan darah di dalam Formasi Roh Air Kuning. Darah-darah itu melayang dan berkumpul membentuk gumpalan merah padat yang kemudian diserap masuk ke dalam 13 lubang angin kecil.
“Kepompong Hitam itu menyerap darahnya!.” Xunialiang terperangah, Otaknya berputar hingga sampai pada kesimpulan, “Jadi, Ini tujuan semua ini... Dewa Gelap mencari kebangkitannya!.”
Bau amis darah menyelubungi Formasi, genangan darah melayang meresap ke dalam pusaran angin kepompong. Sementara semua kebingungan, Xunialiang ragu untuk melanjutkan menyerang. Dia tahu, semakin banyak darah semakin cepat proses kebangkitan Dewa Gelap. Saat dia ragu, hampir semua darah di permukaan Area Turnamen telah lenyap, dan kini darah di dalam tubuh para mayat mulai terhisap naik. Satu demi satu, mayat-mayat itu mulai layu dan membusuk. Ketika darah di dalam tubuh mereka habis terhisap, mereka berubah menjadi abu putih yang menghilang diterpa angin.
__ADS_1
“Dewa Gelap mencari kebangkitannya!.” Teriak Xunialiang membuyarkan kebingungan yang lainnya, termasuk Gofan. “Saat Kepompong itu pecah, dia akan bangkit... Hentikan pertumpahan darah ini!!!!.”
Bersambung...