
“Apa semua makhluk yang menjadi Penjaga Pilar di Menara ini juga sama sepertimu? Mereka juga akan mati jika keluar dari Menara ini?” Tanya Gofan.
“Tidak semua, hanya dua di antara kami. Aku dan si Kura-kura tua. Sisanya memang mengabdi kepada si pembuat Menara Enam Pilar Binatang ini.” Gu Rong membentuk sebuah segel tangan dan sebuah Trisula yang terbuat dari es muncul dihadapannya.
“Sudah cukup tanya jawabnya. Keluarkan tongkatmu itu dan hadapi Trisula Glasion milikku ini!” Gu Rong melesat maju menerjang ke arah Gofan.
Gofan sedikit tersentak kaget, dia bahkan belum mempersiapkan ancang-ancang untuk menghadapi serangan cepat Gu Rong. Sebenarnya dia merasa kasihan pada Gu Rong. Gu Rong terpaksa harus menjadi Penjaga Pilar dan terkurung di dalam Menara. Terlebih itu bukan keinginannya, jika Gofan harus membunuhnya karena harus melewatinya, bukankah itu akan menjadi akhir yang sama menyedihkannya drngan dia keluar dari Menara?, tidak ada bedanya, mati di dalam Menara atau pergi keluar dari Menara. Dia dipaksa mencari kematiannya sendiri.
*Trang* Tongkat Emas Naga Kembar muncul dan menahan serangan Trisula Glasion milik Gu Rong. Bagaimanapun Gofan harus menahan serangan Trisula itu, meski dia tidak ingin membunuh Gu Rong.
“Nona Gu Rong. Apa kamu yakin ingin melanjutkan pertarungan ini?” tanya Gofab sembari mengayunkan Tongkat Emas Naga Kembar yang berselimutkan kobaran Api biru.
*Trang* Gu Rong tidak menjawab. Dia masih terus menghujani Gofan dengan serangan Trisula esnya.
“Rule” ucap pelan Gu Rong, saat tiba-tiba Trisula Glasion miliknya berubah menjadi semakin besar.
BANG!!!
Duaaaghhh!!!
Gofan dihempaskan mundur puluhan kaki. Gofan segera mengaktifkan Tubuh Emas miliknya untuk meredam serangan Trisula besar itu. Berkat itu, dia hanya terhempas mundur, tidak terluka sedikit pun.
“Sepertinya sudah tidak ada lagi jalan bagi kita untuk membahas ini. Baiklah... Aku akan serius mulai sekarang. Nona Gu Rong, maafkan aku.... HYAAAAA!!!” Gofan mengerahkan semua kekuatannya.
Untuk mengahadapi makhluk sekelas Gu Rong, dia tidak bisa setengah-setengah.
Kali ini tiga Jiwa Bintang muncul mengelilingi Gofan. Tidak lama setelah keriga Jiwa Bintang menyatu dengan tubuh Emas miliknya, Jiwa Binatang 'Gajah Naga' juga muncul, dan itu sangat solid, tampak seperti mahkluk hidup yang nyata.... RROOOOAARRR!!!.
Setelah kemenangan pertarungan di lantai pertama, kekuatan Jiwa milik Gofan telah berkembang lebih kuat lagi. Semua berkat Inti Jiwa Kelabang Seratus Mata.
“Jika hanya itu, jangan berharap mengalahkanku.” ucap dingin Gu Rong, saat armor es membungkus pundak dan sebagian besar badannya.
Zyuuutt... Gu Rong kembali menghilang.
Gofan sudah tahu betul mengenai serangan diam-diam Gu Rong itu, setelah menahan sekali serangan menghilang semacam itu, kedua kalinya akan lebih mudah.
“Ini belum semua, jangan menganggapku mudah...” sahut Gofan saat tangan kirinya mrmbentuk segel tangan.
Blazh... Cahaya biru redup muncul dari dahi Gofan, di tengah-tengah kedua alis matanya. Itu Mata Ilahi, hanya saja, tidak terbuka sempurna, hanya sebagian kecil yang terbuka. Meski demikian, itu cukup untuk mengalahkan Gu Rong.
Setelah menyerap Inti Jiwa Kelabang Seratus Mata, Gofan mampu meningkatkan penggunaan Mata Ilahinya hanya saja, itu belum membangkitkan semua kekuatannya dan Gofan tidak bisa lama untuk menggunakan kekuatan Mata itu.
Tawa Gu Rong terdengar, “Jadi begitu... Mata Ilahi? Hahaha... Jika hanya itu, aku tidak akan kalah dengan mudah!”
“Bagaimana dengan ini?” Gofan mengerahkan Samudra Kesadarannya untuk menggabungkan darah milik Gu Bai dan semua kemampuan Iblis milik Gu Bai dengan tubuh dan kesadarannya.
__ADS_1
Wuzz.... Wuzz... Wuzz... Aura merah kehitaman tampak memancar dari tubuh emas Gofan. Bayangan dua tanduk hitam muncul di dahinya.
RRROOOAAAARRRR!!! Jiwa Binatang miliknya juga mengalami perubahan... Itu berubah menjadi Jiwa Iblis Gajah Naga Emas. Terlihat semakin membesar dan semakin buas!!.
Zyyuutt... Gofan menghilang!!
Pertarungan keduanya terus berlanjut, dari luar hanya tampak kilatan-kilatan cahaya yang saling bertabrakan. Puluhan serangan cepat saling bergantian terjadi.
Trang!
Trang!
Bang!!
Bang!!
BOOOMMM!! ledakan terjadi.
“Uhk....!” Gu Rong muncul sembari memegang dadanya yang kesakitan terkena hantaman serangan cepat Gofan. Dia muntah dua suap darah.
“Apa sekarang kamu masih ingin melanjutkan pertarungan ini?” Gofan menodongkan Tongkat Emas Naga Kembar tepat di depan wajah Gu Rong yang tengah menahan sakit dari kekalahannya.
Trisula Glasion milik Gu Rong bertengger di mulut Jiwa Binatang milik Gofan. Selama pertarungan cepat tadi, Gu Rong kewalahan mengahadapi serangan Gofan dan Jiwa Binatangnya.
“Cih... Betapa curangnya! Kamu menggunakan makhluk itu untuk menahan semua seranganku! dua lawan satu... sungguh pengecut! CURANG!!” keluh Gu Rong.
“Apa?!” Gu Rong menatap heran ke arah Jiwa Binatang milik Gofan, “Itu bukan Makhluk hidup tapi Jiwa Binatang? lalu tiga Jiwa Bintang itu? Bagaimana dia bisa memiliki dua jenis Jiwa? Tidak... Bukan dua, ditambah darah Re-demonnya, dia mungkin memiliki tiga... Mata Ilahi itu juga.. Siapa sebenarnya Mo Fan ini?”
“Baik.. Baik... Aku menyerah. Aku mengaku kalah.” Gu Rong membalik badannya dan seketika penampilannya berubah.
Alis Gofan sedikit mengernyit ketika melihat Gu Rong kini terlihat lebih manusiawi. Meski wajahnya tidak banyak berubah, tapi matanya kini bukan lagi menyerupai mata Naga, kedua tanduknya juga menghilang dan pelindung tubuh esnya berubah menjadi pakaian berwarna biru cerah.
“Kura-kura tua! Mau sampai kapan kamu mau menguping di sana?!” Teriak Gu Rong.
Sebuah bayangan muncul dari tumpukan salju tidak jauh dari dinding area pembatas, “Rongrong... Kamu tahu aku tidak suka dengan area dingin ini, tidak bisakah kamu hentikan dulu badai ini?” pinta bayangan itu, suaranya terdengar mirip seorang Pria tua, agak serak.
“Apa bayangan itu si Kura-kura tua yang kamu maksud? dan kenapa kamu merubah wujudmu sekarang?” Gofan kembali ke keadaan normalnya. Semua kekuatan Jiwa miliknya kembali menghilang.
Gu Rong menjentikkan jarinya ketika badai salju di seluruh area itu mengilang, hanya menyisakan desiran angin yang tidak begitu kencang.
“Dia bisa menghentikan badai salju ini dengan mudah!? Lalu kenapa dia menyerah dengan begitu mudah?” Meski dengan semua kekuatan Mata Ilahi miliknya, Gofan tidak akan bisa mengendalikan badai salju itu dengan mudah, seperti yang dilakukan Gu Rong. Bukankah itu artinya, hasil pertarungan tadi sebenarnya belum pasti?.
“Benar. Dia Si Kura-kura tua... Bukankah penampilan ini lebih enak kamu pandang...” Gu Rong menoleh ke arah dinding cahaya pembatas area....“Kakek tua! keluarlah! Aku sudah menghentikan badainya.” ucap Gu Rong.
Tidak lama setelah itu, seorang Pria tua dengan tempurung Kura-kura di punggungnya muncul dari dinding cahaya pembatas area.
__ADS_1
“Nak. Jangan begitu sombong, Rongrong belum menunjukkan semua kebolehannya. Jika pertarungan tadi berlanjut, kalian hanya akan berakhir dengan saling membunuh.... Haih... sungguh sia-sia...” Ucap Pria tua itu, kakinya tampak gemetaran, dia berjalan begitu lambat.
Gu Rong mengangguk menyetujui ucapan Pria tua itu.
“Aku tidak... Apa aku terlihat sombong di mata Kakek ini?”
“Namaku Kakek Jo. Kamu bisa memanggiku Kakek Jo.” ucap Pria tua itu, dia masih berjalan dengan begitu lambat.
“Aku tahu kamu seorang Kakek-kakek, apa perlu kamu menegaskan itu sebagai namamu?”
“Namaku... Mo Fan.” sahut Gofan singkat.
“Mo Fan... Benarkah itu nama aslimu?... Sudahlah, itu hanya sekedar nama. Bagaimana jika aku memanggilmu Fanfan, itu terdengar lebih akrab bukan?”
“Fanfan? Kakek ini mengingatkanku pada masa lalu... Sepertinya dia tidak berniat untuk bertarung.”
“Baik. Kakek Jo. Mulai sekarang panggillah aku dengan Fanfan, aku berharap kita bisa semakin akrab ke depannya.” senyum muncul di wajah Gofan, “Jadi, dengan ini bisakah aku melanjutkan ke lantai selanjutnya?”
“Itulah masalahnya, kamu tidak bisa melewati lantai ini tanpa mengalahkan kami.” Gu Rong menggeleng pelan.
“Jadi kita tetap harus bertarung sampai mati?” Baru saja Gofan merasa lega, kini dia harus berhadapan dengan keduanya demi melewati lantai kedua. Kakek Jo itu, juga tidak bisa dianggap enteng bukan?.
“Tidak perlu. Kita tidak perlu bertarung lagi, masih ada cara lainnya. Maukah kamu bekerja sama dengan kami?” tanya Kakek Jo, dari tadi dia hanya berjalan beberapa langkah dari dinding pembatas area. Sungguh begitu lambat langkah kakinya.
“Rongrong juga tidak bersungguh-sungguh ingin bertarung denganmu, dia hanya ingin menguji seberapa kuat dirimu, sebelum menawarimu kerja sama. Bukan begitu Rongrong?” imbuh Kakek Jo.
“Benar. Aku tidak akan menempatkan nyawaku di tangan orang yang lemah... Aku juga mengeluarkan teman-temanmu agar mereka tidak menjadi penghalang perjalananmu ke lantai selanjutnya nantinya.” sahut Gu Rong.
“Menempatkan nyawamu di tanganku? Maksudnya?” Jadi, selama ini Gu Rong telah berencana untuk melakukan kerja sama dengan Gofan dan pertarungan sebelumnya hanya untuk menguji seberapa kuat Gofan sebenarnya.
“Fanfan.... sebelum itu, jawablah pertanyaan Kakek tua ini... Maukah kamu bekerja sama dengan kami?” tanya Kakek Jo.
Bersambung...
“Yo... Nona Cantik. Kenapa kita tidak langsung menyerang kelompok mereka? dan kenapa kita justru menuju ke arah luar Pulau?” tanya Mo Zhi.
Mo Zhi dan Ning Rui sebelumnya telah berhasil melacak keberadaan kelompok Chen Feng. Tetapi karena tidak menemukan Gofan di antara semua kelompok Chen Feng, Ning Rui memutuskan untuk menunda penyerangan.
“Kita akan mencari seseorang. Dia akan membantu kita menghancurkan mereka.” sahut Ning Rui saat keduanya berlari kencang ke arah luar Pulau.
“Siapa? Apakah dia seseorang yang kuat?” tanya Mo Zhi penasaran.
“Mo Yun. Kamu pasti tahu seberapa kuat dia bukan? Tuan Muda Mo Zhi....”
“Yo..!? Mo... Mo Yun?!... Di-dia bukan apa-apa dibandingkan Tuan Muda ini... hehehe.... Jadi, bisakah kita tidak mencarinya?”
__ADS_1
Ning Rui mendengus marah dan menatap tajam ke arah Mo Zhi. Keputusannya sudah bulat, tidak bisa diganggu gugat.
Mo Zhi hanya bisa menelan ludahnya, sepertinya dia punya semacam masa lalu yang tidak baik dengan Mo Yun. Dia tampak sangat enggan untuk bertemu muka dengan Mo Yun.