
Huangkong muncul di hadapan Quila dan Cangu yang masih dirasuki jiwa Gofan, dia melemparkan tubuh Lenchan yang tidak sadarkan diri, ke arah mereka berdua.
Huangkong terlihat kesal, alis matanya sedikit mengernyit, dan bibir bagian kanannya sedikit terangkat terkesan seperti meremehkan kedua orang yang ada di hadapannya, meremehkan Quila dan Cangu.
"Dasar tidak becus!!, Aku dan yang lain sampai selesai memadamkan api, bahkan berhasil menangkap Lenchan, tapi kalian justru asik bercengkrama..."
"Kamu... Cangu, kenapa kamu terlihat seperti habis menangis? Kamu itu anggota pasukan bayangan. Jangan buat kami malu karena telah merekrutmu..."
"Kamu... Quila, kenapa kamu justru mengajaknya bercerita panjang lebar? Bahkan dari jauh, aku bisa mendengar suaramu bercerita..."
"Ikat dia!! Dia sudah ku buat pingsan. Sisanya, kalian urus, jangan sampai lalai lagi, cepat ikat!!"
Bentak Huangkong setelah memberi sedikit wejangan kepada Quila dan Gofan. Huangkong memerintahkan kedua orang itu untuk mengikat Lenchan yang baru saja berhasil ditangkapnya.
"Maafkan kami. Tadi ada han... Maksudku, ada hal mendesak yang harus ku ingatkan kepada Cangu, dia lupa beberapa hal penting"
-Sebaiknya tidak ku ceritakan hantu Buiyan itu. Dia pasti akan tertawa dan menganggapku berhalusinasi...-
Pikir Quila setelah memberikan alasan kepada Huangkong. Quila mengurungkan niatnya untuk menceritakan tentang kedatangan hantu Buiyan.
"Sudahlah... Aku tidak mau tahu apa yang kalian lakukan, yang penting, cepat ikat dulu orang ini. Kita harus segera membawanya kehadapan para Ketua"
Huangkong membalas dengan sedikit acuh.
"Baik. Aku akan mengikatnya"
Sahut Cangu, alias Gofan.
Gofan mengeluarkan seutas tali dari dalam kantong ruang milik Cangu, dan mengikat Lenchan dengan longgar, bahkan Gofan sengaja membuat ikatan tali akan mudah dilepaskan oleh Lenchan.
"Mari ku bantu"
Ucap Quila hendak membantu Cangu mengikat Lenchan.
"Tidak perlu, ini sudah hampir selesai, kamu tunggu saja"
Sahut Gofan, menolak bantuan Quila. Akan jadi masalah jika Quila menyadari bahwa ikatan Gofan sangat mudah untuk dilepaskan.
Sembari mengikat, Gofan juga menyempatkan diri untuk mengalirkan tenaga dalam Cangu ke dalam tubuh Lenchan, berharap Lenchan akan segera sadar. Sementara Quila dan Huangkong hanya berdiri menunggu, Gofan selesai mengikat Lenchan.
"Sudah, selesai..."
Ucap Gofan dan berdiri sambil memikul tubuh Lenchan di pundaknya, bagi orang bertubuh gempal dan besar seperti Cangu, tidaklah sulit untuk memikul orang sekurus Lenchan.
"Bagus, Ayo berangkat...! Ketua Tungdie dan Ketua Guxiu, sudah menunggu "
__ADS_1
Kata Huangkong saat berjalan melangkah menuju ke arah timur, ke arah sebuah ruangan yang masih utuh di Perguruan Tanah Terlarang.
-Guxiu? pengkhianat trah Gu?-
Pikir Gofan sembari berjalan memikul Lenchan mengikuti Huangkong dan Quila.
Gofan ingat, dulu ketika dia tinggal selama dua tahun di kediaman keluarga Gu, dia pernah bertemu dengan seorang tetua di keluarga itu. Tetua itu adalah Guxiu, si punuk tua beracun. Saat itu, Guxiu memanfaatkan Gofan untuk mencuri sebuah kitab teknik budidaya energi api dari kediaman keluarga Gu.
"Quila, ada yang ingin aku tanyakan. Apa Guxiu yang dimaksud Huangkong itu, adalah pendekar punuk tua beracun ?"
Bisik Gofan kepada Quila saat mereka berdua berjalan mengekor di belakang Huangkong.
"Iya. Benar. Ketua Guxiu adalah punuk tua beracun, kamu ingat dia?"
Quila berbisik menjawab pertanyaan itu.
"Hanya sekilas..."
-Kenapa punuk tua itu ada di sini?, bukankah dia sudah dihukum mati oleh Kepala pemimpin trah Gu-
Sahut Gofan singkat sembari mengangguk.
Beberapa puluh hela napas kemudian, mereka sampai di depan sebuah ruangan. Ruangan ini adalah ruangan khusus bagi Mahaguru untuk berbudidaya, sehingga banyak unsur energi yang terasa dari dalam ruangan itu.
"Salam Ketua, kami sudah menangkap Lenchan"
"Bawa kemari..."
Sahut Tungdie dari meja tempatnya duduk.
Sekarang di dalam ruangan terdapat empat orang, yaitu Huangkong yang baru saja masuk untuk melapor, Tungdie dan Tianfuzi yang sedang duduk berbincang di sebuah meja dan Guxiu yang tengah mengolah energi di atas sebuah altar khusus yang terbuat dari batu darah.
"Baik Ketua"
Huangkong bangkit dan pergi keluar ruangan untuk memanggil Quila dan Cangu. Kedua orang itu diminta Huangkong untuk menunggu sebentar di luar ruangan.
"Kalian, bawa dia masuk... Ayo!"
Setibanya di depan Quila dan Cangu, Huangkong langsung memberikan perintah untuk ikut masuk bersamanya menghadap para Ketua kecil.
Mereka bertiga memberi hormat ketika sampai di dalam ruangan. Gofan meletakkan tubuh Lenchan yang tidak sadarkan diri di dekat pintu keluar, dia sengaja melakukannya agar nanti, jika Lenchan sadar, dia bisa kabur dengan cepat.
-Ternyata benar, Tungdie masih hidup.... itu... Guxiu... gara-gara si bungkuk itu, aku terpaksa di usir keluar dari kediaman keluarga Gu-
Pikir Gofan ketika melihat Tungdie dan Guxiu ada di dalam ruangan itu. Satu-satunya orang yang tidak diketahui Gofan, hanyalah Tianfuzi.
__ADS_1
Tungdie menggunakan energi mentalnya untuk menyadarkan Lenchan. Serangan energi mental itu membuat Lenchan tersadar dan memuntahkan seteguk darah. Gofan geram melihat hal itu, namun dia hanya bisa diam dan mengamati lebih jauh.
"Tuan tabib. Lama tidak bertemu "
Kata Tungdie setelah Lenchan tersadar dan melihat ke sekelilingnya.
"Nona Tungdie!?.. Ukh... kamu? Kamu juga bagian dari mereka?"
Sahut Lenchan dengan ekspresi wajah sedikit terkejut, dia mengenali perempuan bergaun merah yang duduk agak jauh di hadapannya.
Tungdie berdiri dari tempatnya duduk dan berjalan mendekati Lenchan yang duduk bersandar di dinding dekat pintu ruangan budidaya itu.
Tungdie tertawa kecil dan membalas perkataan Lenchan,
"Benar. Aku adalah Ketua mereka... berkat pertolonganmu, aku bisa menjadi seperti sekarang..."
"Dulu... Aku sudah bilang, kamu akan menyesal telah memilih perempuan bunga kamboja itu... Hahaha... Lenchan, kalau kamu masih mau hidup katakan, dimana Tablet Dewa Naga berada?"
*Triuung*
Tungdie menarik keluar pedangnya dan meletakkan bilah pedang itu di leher Lenchan usai mengatakan hal tersebut.
Dulu, saat Lenchan berkelana di Benua Penda, dia pernah menolong Tungdie yang terluka parah akibat sebuah pertarungan. Selama hampir tiga bulan, Lenchan mengobati Tungdie yang terluka parah, tanpa menanyakan asal-usul Tungdie. Entah bagaimana, akhirnya Tungdie pun jatuh hati kepada Lenchan.
Namun cinta Tungdie ditolak mentah-mentah oleh Lenchan yang pergi meninggalkannya begitu saja. Itu membuat Tungdie sedikit kesal, namun karena cintanya pada Lenchan, dia tidak menyerah. Tungdie mengikuti Lenchan dan mencari tahu identitas asli, pria bertopeng yang sudah membuatnya jatuh hati itu.
Tungdie berhasil mengikuti dan mengetahui identitas asli Lenchan, namun karena hal itu juga, cinta Tungdie berubah menjadi benci.
Ketika Tungdie mengikuti Lenchan, dia melihat Lenchan justru jatuh hati kepada gadis lain yang juga merupakan pasiennya. Tungdie tidak bisa menerima hal itu, apalagi gadis yang dicintai Lenchan adalah seseorang yang sudah dikenal Tungdie sedari kecil.
"Maafkan aku Tungdie, aku tidak bisa membohongi perasaanku... "
"dan untuk tablet itu juga... Aku tidak akan mengatakannya kepada kalian... Sudahlah, kalau mau bunuh, bunuh saja!"
Lenchan dengan tegas menjawab pertanyaan Tungdie, dia kemudian menutup mata dan diam tidak berkata apa-apa lagi.
Tianfuzi berdiri dan menghampiri Tungdie serta Lenchan. Tianfuzi berjongkok di hadapan Lenchan,
"Tabib Lenchan. Kamu hanya tahu ilmu pengobatan, bukan? Mari lihat, seberapa hebat kamu akan mengatasi rasa sakit dari racun ini. Minum ini...!!"
Tianfuzi memaksa Lenchan untuk meminum sebotol racun, racun itu berupa cairan berwarna merah dengan aroma yang sangat amis.
"Racun darah!?"
Gumam Huangkong, ketika dia sedikit terkejut melihat racun yang diminumkan Tianfuzi kepada Lenchan.
__ADS_1
Bersambung...