
" Gofan, hari sudah malam, sekarang aku akan kembali, besok saat tengah hari, aku akan datang dan menukarkan dua herbal ini dengan sup buatanmu " Ucap Mouhuli.
*Zyuut*
Mouhuli yang sudah merasa cukup mengerti dengan pembicaraan Gofan dan Julala, memutuskan untuk pergi.
Mouhuli tidak mengatakan apa-apa lagi selain akan menukarkan madu dari Lebah Ekor Panjang dan akar dari Teratai Dua Warna dengan sup nitrisi tenaga.
Gofan hanya bisa diam melihat kepergian Mouhuli, dia tidak sempat mengatakan apa-apa, sebab Mouhuli sudah terlanjur pergi, 'Sudahlah, besok saja obat penawarnya ku racik'
*Xiashe, kenapa kamu mengganti namamu menjadi Julala ?* Tanya Gofan dalam bahasa Makhluk buas.
Gofan melanjutkan percakapannya dengan Xiashe setelah menghela napas pelan melihat kepergian Mouhuli.
'Fanfan, apa yang kalian bicarakan? Ular betina ini punya banyak Mutiara Jiwa dan juga pertemuan beruntung lainnya, cobalah kamu minta beberapa !'
Xionan menghampiri Gofan setelah Mouhuli yang ada di sebelahnya pergi dengan sangat cepat.
*Aku tidak mengganti nama, Julala adalah nama asli pemberian orang tuaku, Xiashe adalah nama manusia pemberian Tabib Len. Aku belum bisa menggunakan nama manusia untuk saat ini, tidak, sebelum aku bisa berubah wujud menjadi seorang manusia * Julala menjawab pertanyaan Gofan.
Saat ini budidaya Julala masih jauh dari tahap akhir untuk menjadi manusia. Bagaimana pun Julala masih terhitung muda, dia baru sebelas tahun, usia yang sangat muda bagi makhluk buas sebangsa ular.
Budidaya makhluk buas yang dipelajari Julala adalah budidaya yang dipelajari oleh para makhluk buas sebangsa ular, yang disebut sebagai Ilmu 36 Perubahan Abadi. Ilmu yang membudidayakan pengolahan energi sihir.
Meski terhitung muda, sisik Julala sangatlah kuat, selain karena usianya yang terus bertambah, ini juga karena telur Burung Api yang dia konsumsi. Terkadang sisik Julala akan mengeluarkan api yang panas jika diserang terus menerus.
'Nanti akan ku beritahu apa yang kami bicarakan dan masalah pertemuan beruntung itu, nanti kita bicarakan lagi' Sahut Gofan kepada Xionan melalui pikirannya, sebelum mengangguk mendengarkan jawaban Xiashe.
'Baiklah, pastikan saja kamu akan mendapatkan beberapa mutiara jiwa untukku, dia punya banyak yang berwarna kuning'
Xionan kemudian melesat pergi ke dalam gubuk, meninggalkan Julala dan Gofan, setelah melihat Gofan mengangguk pelan kepadanya.
Julala mengikuti Gofan yang pergi menuju ke halaman di sebelah gubuk, sambil menceritakan kisahnya yang kini menjadi anak buah Mouhuli, tentang gelang jiwa yang membuat dia harus menuruti apapun perintah Mouhuli.
*Kenapa siluman tua itu memanggilmu Gofan? Bukannya kamu bilang kamu adik Lenfan? Lalu dimana Lenfan ?*
Di tengah ceritanya, Julala berhenti dan bertanya tentang nama Gofan yang dia rasa aneh, seharusnya jika Gofan keturunan keluarga Len, namanya seharusnya berawalan Len.
*Aku mengganti namaku menjadi Gofan dan kakak Lenfan sudah meninggal, ceritanya panjang, intinya, sekarang hanya tinggal aku yang tahu rahasia pembantaian keluarga Len*
Kata Gofan dengan tatapan penuh amarah, dia mengingat betul kejadian yang membuatnya menjadi yatim piatu.
__ADS_1
*Apa yang sebenarnya terjadi saat itu? Saat aku tiba di Perguruan Tanah Terlarang, Aku hanya mendapati Tabib Len dalam keadaan kritis dan menitipkan warisannya kepadaku, bisakah kamu menceritakannya kepadaku?*
Sepuluh tahun lalu, semalam sebelum pembantaian keluarga Len, Julala diutus pergi oleh Lenchan untuk mencari herbal obat Buah Bunga Matahari.
Semalam kemudian, setelah mendapatkan Buah Bunga Matahari Julala kembali ke kediaman Lenchan, dia mendapati seluruh kediaman telah porak poranda, bahkan Lenchan hanya tinggal seutas napas terakhir.
Julala tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi, dia hanya menuruti permintaan terakhir Lenchan untuk menjaga harta berharganya. Julala terus berpindah-pindah tempat sambil mencari penerus keluarga Len. Tujuh tahun kemudian, Julala mendapat kabar, ada warisan Raja Gelap yang disembunyikan di Hutan Bambu Kemarau.
Hal itu membuat Julala memutuskan untuk pergi ke Hutan Bambu Kemarau dan menunggu pewaris keluarga Len datang ke hutan itu. Akhirnya, setelah menunggu selama tiga tahun, dia bertemu dengan Gofan yang dia kira adalah adik Lenfan.
*Malam itu, aku dan ayahku baru saja pulang dari mengunjungi seorang penatua di Perguruan Tunjung Putih, ketika hampir tiba di rumah, kami melihat sekelompok besar pendekar berpakaian serba hitam, menyerang dan menghancurkan rumah kami, menyerang Perguruan Tanah Terlarang. Ayahku, menyuruhku bersembunyi di lorong rahasia perguruan, dia kemudian pergi dan ikut bertarung melawan para pendekar itu....*
Gofan menceritakan kejadian yang dia alami saat itu kepada Xiashe.
Malam itu, Julala alias Xiashe mendengarkan Gofan yang duduk di halaman di sebelah gubuk, menceritakan kisah yang terjadi sepuluh tahun lalu.
[Sepuluh Tahun Lalu]
Di sebuah Kota yang kini dikenal sebagai Kota Hantu, pernah berdiri sebuah perguruan bela diri tingkat bintang perak, bernama Perguruan Tanah Terlarang.
Sepuluh tahun sebelumnya, Kota Hantu itu bernama Kota Larangan, dan Perguruan Tanah Terlarang adalah perguruan paling jaya di kota itu. Kejayaan perguruan ini, membuat namanya terkenal di seluruh Benua Penda, bahkan perguruan di tingkat bintang emas salut dengan prestasi dari perguruan tingkat bintang perak ini.
Dari tingkatan yang paling kuat, yang disebut sebagai perguruan tingkat darah murni, diikuti oleh perguruan tingkat bintang emas, kemudian perguruan tingkat bintang perak, lalu perguruan tingkat bintang perunggu, perguruan kelas bintang tiga, perguruan kelas bintang dua, dan yang terlemah adalah perguruan kelas bintang satu.
Sebagai perguruan tingkat bintang perak, Perguruan Tanah Terlarang memiliki empat orang pendekar di ranah Human God, salah satunya adalah Lenhao.
Sepak terjang Lenhao yang dijuluki sebagai Raja Gelap, semakin terkenal empat tahun belakangan setelah dia dengan cepat mencapai ranah Human God tahap awal. Dua tahun setelahnya, budidaya Lenhao meningkat lagi ke ranah Human God tahap pertengahan, hal ini membuat Lenhao diangkat sebagai penatua, meski pun usia Lenhao masih dianggap muda, yaitu 47 tahun.
Dua orang lain yang berada di ranah Human God adalah seorang pria tua berusia 108 tahun bernama Xinglau, dan seorang lagi adalah Xingjiang yang berusia 73 tahun, keduanya berada di ranah Human God tahap pertengahan.
Mereka berdua adalah ayah dan anak, mereka sudah lama mencapai ranah Human God tahap pertengahan dan mengalami kebuntuan dalam budidaya mereka. Satu orang lainnya yang juga berada di ranah Human God adalah Lenming, kakek Lenhao, yang berada di ranah Human God tahap akhir.
Lenming adalah Mahaguru dari Perguruan Tanah Terlarang. Mahaguru merupakan sebutan bagi seseorang pemimpin di sebuah perguruan bela diri. Sementara Xinglau adalah Guru besar dari Perguruan Tanah Terlarang, yaitu sebutan untuk wakil pemimpin sebuah perguruan bela diri.
Lenming adalah teman sebaya Xinglau, dulu saat mereka masih berusia 34 tahun dan memiliki kemampuan yang sama, sama-sama berada di ranah Grand Master tahap akhir, Lenming dipilih menjadi Mahaguru menggantikan ayahnya yang meninggal dalam pertarungan. Saat itu perguruan mereka masih merupakan sebuah perguruan kelas bintang tiga.
Ayah Xinglau, Xingping, adalah Guru besar saat itu, dia memilih untuk tetap di posisinya dan tidak menjadi Mahaguru untuk mendukung kepemimpinan Lenming. Hal itu karena Xingping sangat menghormati leluhur pendiri peguruan yang merupakan seorang keturunan trah Len.
Hal ini sebenarnya ditentang oleh Xinglau, dia berharap ayahnya yang menjadi Mahaguru, namun ayahnya sama sekali tidak berambisi pada jabatan itu. Selain itu, kebanyakan posisi dengan jabatan tinggi masih dikuasai oleh keturunan trah Len.
Xinglau merasa ketidakadilan telah menimpa dirinya dan juga ayahnya, sehingga dia berambisi untuk mengambil alih puncak kekuasaan perguruan.
__ADS_1
Setelah 52 tahun menjabat, Lenming memilih Xinglau untuk menjadi Guru besar, menggantikan ayahnya yang meninggal karena usia. Semenjak saat itu, Xinglau mulai menjalankan rencananya, dia memberikan banyak porsi bagi keturunan trah Xing untuk menjabat posisi penatua, termasuk anaknya sendiri, Xingjiang.
Xinglau juga sempat memanfaatkan cucu perempuannya, Xingniu, untuk merayu Lenhao agar mereka bisa menikah, namun semua itu gagal. Lenhao menolak Xingniu dan menikah dengan seorang perempuan bernama Qimoruong, yang dia temui ketika dia turun gunung. Turun gunung adalah istilah bagi pendekar untuk turun berkelana ke dunia bela diri, dan mengamalkan kemampuan bela diri yang dimiliki.
Xingniu menjadi begitu membenci Lenhao karena menolak dirinya. Xingniu kemudian menikahi seorang pendekar bernama Gumong. Gumong adalah seorang pendekar ahli racun, dari sanalah, Xingniu mulai menyarankan kakek dan ayahnya untuk meracuni Lenming secara diam-diam.
Akumulasi racun yang lama dan dalam jumlah yang banyak akhirnya membuat Lenming menghembuskan napas terakhirnya di usia 108 tahun. Sebelum kematiannya Lenming mewasiatkan agar mengangkat Lenhao menjadi Mahaguru. Akan tetapi, Xinglau melobi para penatua lain untuk mendukung dirinya menjadi Mahaguru.
Tindakan Xinglau itu membuat terjadinya perpecahan di dalam perguruan. 51% suara mendukung trah Xing, dengan Xinglau sebagai kandidat dan 49% sisanya mendukung trah Len, dengan Lenhao sebagai kandidat. Meski mendapatkan 51% suara, tidak serta merta menjadikan Xinglau sebagai Mahaguru, akibat selisih suara terlalu sedikit.
Kelompok yang mendukung Lenhao mengajukan tantangan kepada Xinglau, jika Xinglau menang menghadapi Lenhao, maka mereka akan tunduk dan mengakui Xinglau sebagai Mahaguru. Begitu juga sebaliknya, jika Xinglau kalah, dia harus merelakan jabatan Mahaguru untuk dipegang Lenhao. Setelah terjadi kesepakatan, akhirnya dilaksanakanlah kompetisi untuk menduduki jabatan Mahaguru.
" Nak Lenhao, Kamu baru saja mencapai tahap pertengahan, sebaiknya kamu mundur saja dan biarkan Senior ini yang memimpin " Ucap Xinglau.
Xinglau saat ini berdiri di sebuah arena pertarungan berhadapan dengan Lenhao, dia sangat percaya diri mampu mengalahkan Lenhao, karena itulah dia menyetujui kompetisi itu.
" Maaf Senior Xinglau, Aku tidak bisa mundur, ini wasiat terakhir kakekku, jika bukan karena kalian menolak wasiatnya, hal seperti ini tidak akan terjadi "
Lenhao menggeleng-gelengkan kepala menyayangkan perpecahan yang terjadi di dalam perguruannya.
" Kak, kamu harus berhati-hati, aku yakin orang tua ini punya siasat licik jika terdesak, telan ini, ini pasti akan membantumu "
Lenchan menghampiri Lenhao, dan memberikan sebuah pil berwarna kuning keemasan.
Setelah memeriksa mayat kakeknya, Lenchan mengetahui bahwa kakeknya meninggal karena diracuni. Hal itu membuat Lenchan sangat sedih, meskipun beberapa tahun belakangan dia terkenal sebagai Tabib Ajaib, tetapi dia bahkan tidak bisa menyembuhkan kakeknya sendiri.
" Tenang saja, Aku pasti akan mengalahkannya " Sahut Lenhao penuh percaya diri sebelum menelan pil yang diberikan adiknya itu.
'Aku menyesal pulang terlambat dan baru bisa memeriksa kesehatan kakek setelah kakek meninggal, ku harap kamu menang Kak, agar kakek bisa tenang di alam sana' Pikir Lenchan saat menatap kakaknya yang saat ini telah mulai bertarung dengan Xinglau.
Hubungan Lenchan dengan Lenming tidak sebaik hubungan Lenhao dengan Lenming. Lenming berharap Lenchan dapat lebih fokus pada peningkatan budidaya bela diri dan bukannya fokus pada ilmu pengobatan. Itu membuat Lenchan memutuskan untuk pergi dari perguruan dan berkelana mempelajari ilmu pengobatan.
Lenchan baru kembali setahun yang lalu, di saat dia mendengar kesehatan kakak iparnya memburuk. Lenchan pulang untuk membantu mengobati kesehatan kakak iparnya itu.
Meski telah berada satu tahun di perguruan, Lenchan tidak pernah sekali pun bertemu langsung dengan Lenming, hal itu karena kunjungannya selalu dihalangi oleh siasat jahat Xinglau,
'Pantas saja Kakak ipar mengidap racun yang begitu mematikan, aku yakin ini juga ulah trah Xing'
Saat ini, Xingjian, Xingniu dan Gumong duduk di kursi penatua untuk mendukung Xinglau, mereka menyaksikan sambil tersenyum tipis, mereka yakin bahwa Lenhao pasti kalah.
Bersambung...
__ADS_1