Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 145. Pertapa Gunung Indrakila


__ADS_3

[Benua Penda-Puncak Gunung Indrakila]


Puluhan hela napas setelah merobek celah ruang dimensi, Vasudev tiba di puncak sebuah gunung. Gunung Indrakila namanya. Merupakan Gunung tertinggi di Benua Penda. Bagian atas gunung ini tidak pernah dingin, sehingga sering kali disebut sebagai Gunung Api Abadi.


Cerita lokal berkata, bahwa Dewa Matahari yang berjuluk Indrakila, bertapa di puncak gunung ini, hingga melelehkan semua es yang dulu pernah melapisi puncaknya. Semenjak saat itu, tidak pernah lagi ada es atau pun angin dingin yang berhembus di puncak gunung. Hanya ada udara panas yang mengelilingi puncak gunung ini.


Pada akhirnya, tumbuhan dan binatang serta Makhluk Buas yang mendiami puncak gunung ini mengalami proses evolusi. Mereka menjadi tumbuhan, binatang, dan Makhluk Buas dengan Elemen Api. Salah satu Makhluk buas yang paling terkenal di gunung ini adalah Sanca Ekor Api. Seekor Ular berukuran besar dengan bagian ujung ekor berisi api yang menyala-nyala.


Saat ini, Vasudev sedang berdiri di hadapan ular besar tersebut, “Senior! Turunlah... Aku datang mengunjungimu. Ada hal mendesak yang perlu ku tanyakan.” Teriak Vasudev ke arah atas kepala Sanca Ekor Api.


Di atas kepala Sanca Ekor Api, seorang pria tua berambut merah menyala sedang duduk bersila. Meski wajahnya terlihat tua dan dipenuhi kerutan, tetapi tubuhnya justru terlihat kekar dan bugar. Dengan hanya mengenakan sebuah bawahan yang terlihat usang, pria tua itu bertapa di atas kepala Sanca Ekor Api.


“Senior! Turunlah... Aku datang mengunjungimu. Ada hal mendesak yang perlu ku tanyakan.” Teriak Vasudev mengulangi panggilannya. Namun pria tua itu tidak menggubris panggilan Vasudev.


‘Panggil saja dia Lanshushu, dia pasti akan langsung turun menemuimu.’ Ucap Haiwa.


‘Tentu saja dia akan turun, dan akan langsung membakarku hingga mati... Haih...’ Sahut Vasudev melalui batinnya.


Senior Vasudev ini merupakan salah satu dari Tujuh Pendekar Keajaiban, seorang pengolah Sihir Api, seorang Penyihir Api. Nama aslinya Lanshushu, terdengar seperti nama perempuan, karena itu, ketika ada orang yang memanggilnya dengan nama Lanshushu, dia akan marah. Semenjak menjadi Penyihir Api, Lanshushu mengganti namanya menjadi Bharaman.


Setelah diam beberapa saat, sebuah ide muncul di kepala Vasudev, “Senior! Senior Xiolingling sudah keluar dari pengasingannya... Saat ini, dia ada di Ibu Kota. Aku berjanji akan berusaha memujimu sebanyak-banyaknya di hadapannya... Jadi, turunlah.. Hal ini sangat mendesak.. Mohon bantu aku!.”


Alis mata kiri Bharaman naik sedikit, mata kirinya sedikit mengintip ke bawah, ke arah Vasudev, “Vasudev! Ingat janjimu... Aku tidak bisa turun, katakan saja, apa yang kamu perlukan?.”


‘Oh.. Ternyata dia masih menyukai nenek tua itu, ide mu boleh juga.’ Haiwa tertawa dari dalam Payung Tangisan Surga melihat cara Vasudev membujuk seniornya itu.


“Senior... Tolong beritahu aku cara menghancurkan Formasi Sembilan Kutukan Langit.” Sahut Vasudev.


Bharaman adalah seorang ahli Formasi, terutama Formasi yang berhubungan dengan Api. Hal itulah yang membuat Vasudev datang ke puncak Gunung Indrakila dan menemui Bharaman.

__ADS_1


“Hmm... Formasi Sembilan Kutukan Langit ya?... Formasi yang dibuat oleh Dewa.. Tapi, sudah lama tidak ada Dewa yang hidup di Alam Kecil... Dimana kamu menemukan Formasi ini?”


“Di Markas bawah tanah sebuah kelompok Bandit.” Sahut Vasudev.


“Formasi Dewa melindungi markas sekelompok Bandit... Kenapa ada Dewa yang bekerja untuk Bandit?....” Masih memejamkan matanya, Bharaman melanjutkan ucapannya, “Formasi itu, dibuat dengan mengkuti sembilan arah mata angin, arah utara, arah timur laut, arah timur, tenggara, selatan, barat daya, barat, barat laut, dan arah tengah. Biasanya Formasi semacam itu, akan memiliki semacam alat yang terhubung di arah tengah Formasi itu. Alat itu adalah kunci dari aktifasi Formasi...”


“Temukan alatnya, maka Formasinya pasti bisa kamu atasi.”


“Senior... Apa Senior tahu tentang alat yang terhubung dengan Formasi Sembilan Kutukan Langit? Alat apa itu?.” Tanya Vasudev


“Aku pernah membaca, ada sebuah piringan yang disebut sebagai Kompas Langit. Kompas ini mampu menandai arah di kesembilan mata angin. Mungkin itu adalah alat yang harus kamu cari....”


“Tapi... Vasudev. Sejak kapan kamu terlibat urusan dengan kelompok Bandit? Apakah Kerajaan sedang ada pertikaian dengan kelompok Bandit ini?.” Tanya Bharaman.


“Masalah ini tidak ada kaitannya dengan Kerajaan. Justru dalam sepuluh tahun terakhir, Kerajaan Penda menjalin hubungan baik dengan kelompok Bandit ini.”


“Benarkah? Bagaimana mungkin?.” Bharaman terkejut mendengar jawaban Vasudev. Sudah lebih dari 20 tahun Bharaman mengasingkan diri untuk bertapa di puncak Gunung Indrakila, sehingga tidak mengetahui perkembangan dunia luar.


“Lalu, bagaimana dengan kehidupan rakyat?.”


“Perbudakan, Pelacuran, Pertambangan, dan semua bisnis terkait kelompok Bandit ini telah menimbulkan kesengsaraan bagi rakyat... Meski demikian, Mahaguru Suddha melarang kita untuk campur tangan. Kita dilarang menentang perintah Raja.”


Bharaman diam sesaat, dia menggeleng pelan sebelum kembali berucap, “Lalu... Untuk apa sekarang kamu menentang kelompok Bandit ini?.”


“Aku tidak menentang mereka. Aku hanya ingin mencuri beberapa barang mereka, tapi Formasi Dewa itu mengacaukan semuanya...”


“Barang apa yang membuatmu menjadi pencuri seperti sekarang?.” Tanya Bharaman lagi.


“Kunci Gerbang Dewi Ruyi.”

__ADS_1


“Haih... Benda bertuah itu ternyata telah ditemukan lagi...Sekali pun kamu mendapatkan dua kunci lainnya, Kunci Emas mustahil untuk ditemukan.” Ucap Bharaman.


“Tidak. Menemukan Kunci Emas bukan lagi hal yang mustahil. Keberadaan Kunci itu telah diketahui oleh Mahaguru kita...”


“Senior. Aku akan pergi sekarang... Sepertinya aku harus menemui pemilik Markas Bandit itu untuk menemukan Kompas Langit.” Vasudev membungkuk hormat, sebelum dia merobek celah ruang dimensi menuju ke Markas Divisi II Bandit Serigala Biru.


“Raja bersekutu dengan Bandit, menyengsarakan Rakyat. Para Pendekar mengejar keabadian, melupakan Rakyat... Aiya... Apakah aku sudah harus turun gunung?.” Gumam Bharaman sesaat setelah Vasudev pergi.


Bharaman mengasingkan diri dalam pertapaannya untuk mendapatkan tubuh awet muda. Seperti halnya Xiolingling yang berhasil menjadi muda kembali, seperti itulah yang diharapkan Bharaman sekarang. Jika ingin bersanding dengan wanita pujaannya itu, tentu dia harus menjadi semuda Xiolingling.


***


[Markas Bawah Tanah Divisi II Bandit Serigala Biru]


Ziyishi dengan semangat mengerahkan ke-187 Mayat Hidup di dalam ruangan itu untuk menyerang Gofan.


Ziyishi mengendalikan mereka melalui piringan bundar yang berada di tangannya. Piringan bundar itulah yang dimaksud Bharaman sebagai Kompas Langit.


“Grooaahh!!.”


“Grooaahh!!.”


Satu demi satu para Mayat Hidup itu saling tindih menindih membentuk tumpukan tubuh Mayat Hidup. Tumpukan tubuh itu terus meninggi, hingga mencapai atap ruangan tersebut.


‘Sial... Sejak kapan Mayat-mayat ini menjadi sepintar ini? Seseorang pasti telah mengendalikan mereka’ Gofan terkejut, tumpukan Mayat Hidup itu sedikit lagi menjangkau tempatnya bertahan.


‘Tanpa tenaga dalam, aku tidak bisa menggunakan mata ilahi... Aku juga tidak bisa menggunakan Harta Rahasia...’ Setelah memikirkan segala kemungkinan yang tidak memungkinkan, Gofan akhirnya memutuskan untuk terjun, melompat dan mengahadapi para Mayat Hidup tersebut.


Setelah berhasil menghindar, Gofan berlari ke arah pintu batu yang masih tertutup, “Sini... Kemari! Akan ku hadapi semua bonekamu ini!” Gofan menantang si pengendali para Mayat Hidup.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2