
*Tyuung*
Sekali lagi, sebuah bola api pijar terbang menuju ke arah Gofan yang pingsan.
*Duuaarr*
Gofan yang tidak sadarkan diri, terkena serangan bola api pijar dan terpental sekali lagi akibat ledakan itu, Gofan terguling-guling lagi, jatuh semakin jauh ke bawah bukit.
" Arrggh... Aduh, auw, Sial... ukh... !! " Gofan yang tersentak, tersadar, dan mulai berusaha bangun.
Gofan berusaha keras, bangun, dia tidak ingin pingsan lagi, Gofan berjalan melangkah menuju ke atas, ke arah gubuk, setelah benar-benar tersadar, dia ingin segera menyelesaikan tugas-tugasnya agar tidak lagi diserang oleh bola api pijar, meski kelelahan dan kesakitan, serta sedikit pusing, Gofan berusaha bertahan.
' Hesh.. hesh..., Sudah kuduga, selama aku bisa melanjutkan ini, leluhur tidak akan menyerangku lagi dengan bola api pijar....ukh....Aku harus bertahan, kalau aku pingsan lagi, bola api sebesar apa yang akan dia lemparkan padaku ' Setelah berjalan beberapa ratus langkah, Gofan kembali ketempatnya semula.
Api unggun yang dia buat sebelumnya kini sudah hilang, terkena hempasan ledakan bola api pijar. Pohon yang belum selesai ditebangnya bahkan sudah roboh, serangan bola api pijar itu merobohkan pohon tersebut, membantunya menumbangkan pohon itu.
' Entah... Apa aku harus bersyukur atau tidak, pada bola api pijar itu? Setidaknya sekarang aku tinggal memotong sebagian batang pohon ini, untuk kayu bakar '
Hari sudah benar-benar malam ketika Gofan menyelesaikan memotong sebagian batang pohon menjadi potongan-potongan kayu.
Setelah selesai merapikan kayu-kayu yang berhasil dipotong-potongnya untuk persediaan kayu bakar, Gofan membasuh muka, dan mengobati luka-lukanya, dia juga mengganti pakaian dengan yang sudah tersedia di gubuk.
Beberapa hela napas kemudian, dia pergi ke dapur, bersiap untuk makan malam.
' Aneh, *kenapa sup buatanku tinggal semangkuk ini? aku rasa, aku membuatnya cukup banyak, apa panci perunggu ini bocor ? tampaknya besok aku harus membuat lebih banyak lagi* ' Pikir Gofan.
Gofan yakin bahwa sup buatannya lebih dari cukup untuknya makan beberapa kali, tapi baru saja dia hendak memakan sup itu lagi, ternyata hanya tersisa satu porsi mangkuk lagi, dia berpikir panci perunggu yang digunakannya membuat sup mungkin saja bocor.
Gofan membawa mangkuk sup masuk ke dalam gubuk, dia duduk di meja di dalam gubuk dan mulai menyantap sup nutrisi tenaga buatannya itu.
*Sruput*
" Untung saja, masih sisa semangkuk, ini sudah cukup untuk memulihkan staminaku, sekarang aku sudah merasa lebih baik, saatnya untuk mengolah Kitab Surga Sembilan Langit " Gumamnya pelan.
Gofan meletakkan mangkuk sup yang kosong di atas meja, lalu melangkah ke sebuah dipan kecil di sebelah meja.
Dipan itu adalah tempat dia tidur semalam, ada sebuah bantal kayu dan sebuah selimut lusuh di atas dipan itu. Gofan duduk bersila, memejamkan kedua matanya dan mulai mengolah tahap pertama dalam Kitab Surga Sembilan Langit.
Kitab Surga Sembilan Langit adalah kitab pengolah energi tenaga dalam, energi intisari, kitab itu tidak mencantumkan jurus-jurus khusus, hanya teknik budidaya energi intisari. Energi intisari adalah energi yang akan menjadi sumber tenaga dalam, tenaga dalam yang akan digunakan untuk mengerahkan jurus-jurus dan teknik bela diri.
__ADS_1
Kepadatan dan kemurnian energi intisari sangat berpengaruh pada penggunaan jurus dan teknik bela diri. Semakin murni dan semakin padat energi intisari seorang pendekar, maka semakin murni dan semakin padat pula tenaga dalam yang dimilikinya.
Hal itu akan memudahkannya dalam melakukan penyerangan dan pemanfaatan dari jurus dan teknik bela diri miliknya di dalam pertarungan.
Pendekar dengan energi intisari yang lebih murni dan lebih padat memiliki peluang menang yang lebih besar daripada pendekar dengan energi intisari yang tidak murni dan kurang padat.
Dalam golongan kitab budidaya energi, Kitab Surga Sembilan Langit termasuk dalam golongan jenis Kitab Surga, yaitu kitab yang berada di tingkat kedua setelah Kitab Dewa.
Di dunia ini dikenal hanya ada lima golongan jenis kitab budidaya energi, dimulai dari kitab yang sangat langka dan dikatakan mencantumkan teknik budidaya abadi, yaitu Kitab Dewa.
Seseorang yang mengolah cara budidaya energi di dalam Kitab Dewa, memiliki peluang sangat besar untuk menjadi Dewa daripada orang yang mengolah cara budidaya energi dari kitab-kitab lain, tetapi jenis kitab ini belum pernah muncul setelah Era Dewa Jatuh.
Kitab Surga, adalah yang kedua, kitab yang dipelajari Gofan adalah salah satunya, Kitab Surga juga bisa membuat pemiliknya memiliki peluang besar untuk menjadi Dewa, namun masih harus berusaha lebih keras daripada mereka yang mempelajari Kitab Dewa.
Saat ini ada tiga Kitab Surga yang sudah muncul semenjak era dewa jatuh, selain kitab milik Gofan ada Kitab Surga Sembilan Matahari dan Kitab Surga Halilintar.
Golongan kitab ketiga hingga kelima, masing-masing yaitu Kitab Suci, Kitab Raja, dan Kitab biasa. Ketiga jenis kitab itu lumayan banyak jumlahnya, dan merupakan kitab yang umum digunakan oleh para pendekar di Benua Penda dan lima benua lain.
Bisa dikatakan, Kitab Surga Sembilan Langit adalah kitab yang langka dan sangat berharga, Gofan termasuk beruntung bisa mempelajarinya. Namun jika kita melihat kembali ke masa lalu, kitab inilah yang membawa petaka pada Lenhao dan keluarganya.
' Pertama alirkan semua energi di dalam diri ke titik pusat jiwa, lalu bentuk dan padatkan energi ini... '
Titik pusat jiwa ini adalah ruangan tidak kasat mata yang ada di atas pusar dan di bawah kantung empedu, ada atau tidaknya titik pusat jiwa inilah yang membedakan seorang pendekar dan orang biasa.
Kebanyakan orang biasa tidak bisa menemukan atau tidak memiliki titik pusat jiwa ini sehingga tidak bisa menjadi seorang pendekar.
Gofan terus menyerap energi langit dan bumi yang ada di sekitarnya, helai demi helai untaian energi langit dan bumi dimurnikannya, memadatkan dan mengumpulkannya menjadi energi intisari di dalam titik pusat jiwanya.
Setelah puluhan napas tiba-tiba tubuh Gofan terlihat bergetar, keringat mengucur deras dari seluruh pori-pori kulitnya, napasnya tiba-tiba memburu dan tidak teratur, dia masih dalam posisi bersila dengan mata yang masih terpejam.
' Kenapa ini? Kenapa tiba-tiba energi mentalku bergejolak?! '
Saat ini, energi mental dari Ilmu Raja Siluman yang dipelajari Gofan tiba-tiba bergejolak dan mulai melahap energi intisari di dalam titik pusat jiwanya.
' *Seharusnya kekuatan mata iblis masih dalam kendaliku, Kenapa ini*?! ' Gofan kebingungan, tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi pada dua energi di dalam tubuhnya.
Energi mentalnya melahap dan menyatu dengan energi intisari yang terkumpul di dalam titik pusat jiwa, lalu dua energi yang sudah bersatu itu, berputar-putar membentuk sebuah pusaran, yang dengan cepat menyerap energi langit dan bumi yang ada di sekitar Gofan.
' *Kenapa ini? Kenapa justru kecepatan pengolahan energiku meningkat cepat*? '
__ADS_1
Sambil tetap bersila, Gofan berusaha mengatur kembali napasnya dan memperhatikan baik-baik, apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan energi-energi di dalam tubuhnya.
Kini kecepatan penyerapan energi langit dan bumi meningkat tiga kali lipat, membuat energi intisari Gofan semakin padat, tetapi tidak sembarang padat, energi yang diserap ternyata lebih murni daripada yang bisa dibayangkan Gofan, bahkan energi mentalnya pun ikut meluas menjadi semakin kuat.
' *Apa ini? Energi merah keemasan ini?...Apa ini karena energi dari batu bertuah*? '
Gofan mengamati dan mendapati energi merah keemasan dari batu reinkarnasi ternyata menyatukan energi mental dan energi intisari di dalam tubuhnya, dan membuat kemajuan yang pesat dalam budidaya energinya.
' Apa ini yang disebut leluhur itu dengan energi surga?..Kenapa lagi ini...Kenapa sepertinya ketiga energi ini akan meledak?...ukh... '
Energi surga, energi mental dan energi intisari di dalam titik pusat jiwa Gofan berputar semakin cepat dan terus menerus membesar, memenuhi seluruh ruang titik pusat jiwa miliknya.
Dari luar, tubuh Gofan tampak mengembung, sedikit demi sedikit semakin membesar, darah hitam mulai keluar dari telinga, mata, hidung dan mulutnya, pori-porinya yang semakin membesar juga mengeluarkan darah hitam yang tampak lengket seperti ingus.
" Arrgghhh....!! " Teriak Gofan.
Gofan yang sudah hampir meledak, tidak tahan lagi dan akhirnya berteriak kencang ketika membuka kedua matanya, hanya saja setelah itu dia kehilangan kesadaran dan jatuh pingsan di atas dipan, tubuhnya kini dipenuhi cairan darah hitam yang lengket seperti ingus, namun Gofan belum menyadari hal itu.
*Zyuut*
Mouhuli mendadak muncul di hadapan Gofan yang tidak sadarkan diri, setelah mendengar teriakan kesakitan Gofan.
" Anak ini, Apa pingsan sudah menjadi hobinya? Aku kira kenapa, ternyata dia berhasil menembus tingkat pertama " Ucap Mouhuli.
Mouhuli tidak mengira bahwa hanya dalam waktu semalam Gofan sudah berhasil mencapai tingkat pertama dalam budidaya bela diri, tingkat Body Binding tahap awal, dengan ini Gofan sudah bisa dinyatakan resmi menjadi seorang pendekar.
" Baik sebagai hadiah ucapan selamat, aku akan memberikan kitab jurus ini untukmu... mm... Kitab ini juga, karena sup enak buatanmu, semoga kau berhasil nak, sampai jumpa "
*Zyuut*
Mouhuli terbang dan menghilang setelah berbicara pada Gofan yang tidak sadarkan diri, sebelum pergi, Mouhuli meninggalkan dua buah kitab di atas meja.
Kitab yang pertama adalah kitab jurus, yang diberikan Mouhuli sebagai ucapan selamat karena Gofan sudah berhasil mencapai tingkat Body Binding.
Sementara kitab yang kedua adalah ucapan terima kasih untuk sup buatan Gofan yang enak, ternyata Mouhuli lah yang hampir menghabiskan sup buatan Gofan, dan bukan pancinya yang bocor.
Gofan belum menyadari hal ini, kelak suatu hari dia baru akan mengetahuinya, dia akan mendapati Mouhuli yang tengah asyik memakan sup buatannya.
Bersambung...
__ADS_1