
Lenhao menghunuskan pedangnya ke arah Xinglau, tetapi dengan mudah di tepis oleh Xinglau. Semua jurus yang digunakan Lenhao adalah jurus-jurus yang dia pelajari dari Xinglau, sehingga Xinglau dengan mudah memberikan serangan balik kepada Lenhao.
"Nak Lenhao, jika kamu terus begini, aku takut akan membuatmu menjadi orang cacat seumur hidup"
Setelah memukul mundur dan menyarangkan banyak serangan di tubuh Lenhao, Xinglau menjadi sangat senang, dia berpikir akan membuat cacat Lenhao dan membuat Xingjiang anaknya, menjadi wakil pemimpin perguruan.
"Coba saja kalau bisa!!"
Lenhao tidak menyerah, meski kini banyak luka yang bersarang di tubuhnya, dan hanya sedikit serangannya yang berhasil melukai Xinglau, Lenhao tetap melawan.
Lenhao menerjang maju dan menyerang dengan jurus-jurus pedangnya,
*Trang*
*Trang*
Setiap serangan Lenhao ditepis oleh Xinglau.
Ratusan pertukaran serangan kemudian, Lenhao terkena tendangan Xinglau, saat dia menghindari serangan tebasan pedang Xinglau. Dia terpukul mundur dan jatuh jauh ke sudut arena.
Xinglau dan kelompok pendukungnya tertawa senang melihat keadaan Lenhao yang kini jatuh jauh ke sudut arena, beberapa dari mereka meneriaki agar Lenhao menyerah dan menyerahkan posisi Mahaguru kepada Xinglau.
"Kak, kamu tidak boleh kalah...! Kakek kemungkinan diracuni olehnya. Kamu harus menyelamatkan trah Len dan perguruan dari orang seperti itu"
Bisik Lenchan, ketika melihat kakaknya terpukul mundur dan jatuh di sudut arena.
Lenchan yakin kakaknya belum mengeluarkan semua kemampuan bela dirinya, jika tidak, mengapa kakaknya bisa dikenal sebagai Raja Gelap di dunia bela diri.
"Apa!? Kakek di racuni? Kurang ajar !!"
Sahut Lenhao berbisik dengan sedikit nada sangat marah. Lenhao baru mengetahui tentang hal itu.
Lenhao mempercayai kata-kata Lenchan, karena dia mengenal betul karakter adiknya itu. Jika itu terkait dengan kebenaran, adiknya tidak akan pernah menutup-nutupi hal itu.
Lenhao bangkit dan membuang pedang yang ada di tangannya,
*Klentang*
Pedang itu jatuh ke luar arena.
Xingjiang dan Xingniu tersenyum tipis, mereka mengira Lenhao telah menyerah, karena melempar pedangnya keluar arena.
"Hehehe, Lenhao, apa kamu menyerah?... Tapi sayang sekali jika kamu menyerah sekarang, tidak akan aku biarkan, mari lanjutkan sedikit lagi"
Ucap Xinglau dengan sumringah.
Xinglau juga mengira hal yang sama, melihat Lenhao melempar pedangnya keluar arena, dia berpikir Lenhao telah menyerah.
Lenhao hanya berdiri dan diam, dia kini memandang Xinglau dengan tatapan penuh kebencian. Lenhao tidak menanggapi apa yang dikatakan oleh Xinglau dan para pendukungnya.
Xinglau memanfaatkan kesempatan saat Lenhao berdiri diam tanpa senjata untuk melancarkan serangan. Xinglau menghunuskan pedang miliknya ke arah Lenhao.
"Ayunan Pedang Raksasa"
Jurus pedang ini membuat Xinglau terlihat seperti menyerang dengan sebuah pedang raksasa, tenaga dalamnya melapisi seluruh pedang dan membuat kekuatan pedang menjadi berkali-kali lipat lebih kuat, ini membuat pedang itu tampak sangat besar, seperti sebuah pedang raksasa.
*Crash*
*Grep*
Pedang tepat menebas pundak kanan Lenhao, namun serangan pedang Xinglau tidak bisa melukai pundak Lenhao, karena tangan kanan Lenhao menahan serangan pedang itu.
*Tes*
*Tes*
Darah mengucur dari tangan kanan Lenhao yang menahan serangan tebasan pedang Xinglau.
"Kamu...!? Bagaimana kamu bisa menahan serangan ini !?"
Xinglau terkejut.
Xinglau yakin dengan serangan pedangnya, seharusnya dia akan memotong lengan kanan Lenhao dan membuat Lenhao cacat. Tapi ternyata Lenhao mampu menahan serangan pedang itu, bahkan hanya dengan satu tangan.
Saat Xinglau memperhatikan lengan kiri Lenhao, ternyata lengan kirinya, sudah membentuk sebuah segel tangan. Lenhao menyerap energi langit dan bumi yang ada di sekitarnya dengan amat sangat cepat.
"Apa-apaan ini? Bagaimana kamu bisa berbudidaya dengan tingkat penyerapan secepat ini ?"
Xinglau sekarang menyadari bahwa tenaga dalam yang dia alirkan ke dalam serangan pedangnya diserap habis oleh Lenhao.
-Budidaya energi apa ini? Ini bukan tingkatan Kitab Raja, bukannya dia mengolah budidaya energi dengan Kitab Raja Awan Hitam ?-
Pikir Xinglau.
Bisa dibilang bahwa Xinglau adalah guru tidak langsung dari Lenhao. Dia ingat, Lenming memberikan Lenhao Kitab Raja Awan Hitam untuk mengolah budidaya energi di Kitab Raja itu. Xinglau sendiri yang mengajari Lenhao cara berbudidaya dengan kitab itu, atas perintah dari Lenming.
Xinglau menarik kembali pedangnya dan mundur menjauh dari Lenhao, tenaga dalamnya sudah banyak yang diserap oleh Lenhao.
-Ada apa ini? Kenapa penyerapan energinya secepat itu ?-
Para penatua dari kedua kelompok heran dengan budidaya energi Lenhao yang dapat menyerap energi langit dan bumi sepuluh kali lipat lebih cepat daripada budidaya energi mereka.
__ADS_1
Karena itu, para penatua itu akhirnya menyadari mengapa Lenhao bisa mencapai ranah budidaya yang tinggi di usia yang lebih muda daripada mereka.
Rata-rata usia penatua di Perguruan Tanah Terlarang adalah 60an tahun ke atas, tidak termasuk Lenhao yang berhasil mencapai ranah Human God di usia 47 tahun, sehingga dia dianggap masih agak muda untuk menjabat sebagai penatua, jika bukan karena tingkat budidayanya mungkin Lenhao tidak akan menjabat sebagai Penatua.
Sementara Xingniu dan Gumong yang sedikit lebih tua dari Lenhao, diangkat oleh Xinglau dengan berbagai alasan, setelah dua orang penatua dari trah Len meninggal secara misterius dalam sebuah perjalanan misi tugas.
-Pasti ini yang menyebabkannya bisa naik tingkat satu tahap hanya dalam dua tahun... Apa yang dilakukannya sekarang ?-
Pikir Lenhufei, salah seorang pendukung Lenhao yang kini berusia 61 tahun.
Lenhufei adalah penggagas kompetisi perebutan posisi Mahaguru itu. Lenhufei menduga Lenhao pasti memiliki sebuah kemampuan rahasia yang bisa dia andalkan untuk memenangkan kompetisi. Hal ini karena Lenhufei melihat tingkat budidaya Lenhao yang meningkat cepat hanya dalam waktu dua tahun saja, peningkatan seperti itu tidak akan terjadi begitu saja tanpa alasan, pasti ada sesuatu di balik peningkatan itu.
-Ini!?, Sepertinya Lenhao ingin meningkatkan tingkat budidayanya lagi...!?-
Pikir Lenhufei.
Sekarang Lenhufei melihat dengan mata kepalanya sendiri, bukti kekuatan Lenhao, penyerapan energi langit dan bumi yang dilakukan Lenhao berada di luar batas yang bisa dia capai.
-Penatuan sekalian, cepat menjauh, sepertinya Lenhao akan meningkatkan tingkat budidayanya ke tahap akhir-
Lenhufei mengirimkan pesan suara melalui pikirannya kepada 30 orang penatua lain yang juga mendukung Lenhao.
Ada 66 orang penatua yang menjabat di Perguruan Tanah Terlarang, jumlah tersebut sudah termasuk Lenhao dan Xinglau. Para penatua ini dikelompokkan menjadi beberapa bagian yaitu, enam Penatua Inti, 20 Penatua Area Dalam dan 40 Penatua Area Luar. Xinglau dan Xingjiang adalah Penatua Inti sementara Lenhao, Lenhufei, Xingniu dan Gumong adalah Penatua Area Dalam.
Kebanyakan pendukung Xinglau berasal dari para penatua area luar, sebab mereka lebih didominasi oleh para pendekar yang direkrut dari trah Xing.
Adapun yang mendukung Xinglau terdiri dari dua orang Penatua Inti, tujuh orang Penatua Area Dalam, dan 24 orang Penatua Area Luar. Sementara yang mendukung Lenhao terdiri dari tiga orang Penatua Inti, 12 Penatua Area Dalam dan 16 orang Penatua Area Luar.
Penatua Area Luar yang mendukung Lenhao kebanyakan adalah para pendekar yang pernah mendapatkan pertolongan dari kakeknya, meskipun beberapa di antara mereka merupakan keturunan trah Xing, mereka lebih memilih mengikuti wasiat Lenming dan mendukung Lenhao.
Kembali lagi ke arena, saat ini tubuh Lenhao tampak dibalut pusaran angin yang cukup besar berwarna biru seperti warna langit. Tubuh Lenhao terangkat terbang, setinggi tinggi seorang pria dewasa, mata Lenhao tampak bercahaya biru terang.
Setelah berselang puluhan hela napas, tubuh Lenhao menggembung dan seakan-akan hendak meledak, saat melihat itulah Lenhufei menyarankan kepada ke-30 orang penatua lain untuk menjauh sedikit dari arena.
*Blazhh*
Cahaya biru cerah bersinar terang dari sekujur tubuh Lenhao bersamaan dengan darah hitam mirip lendir yang dimuntahkan oleh tubuh Lenhao. Cipratan darah hitam yang lengket itu mengenai beberapa pendukung Xinglau yang tidak sempat menghindar.
"Ini!? Naik satu tahap lagi?"
Semua penatua yang hadir di tempat itu terkejut melihat Lenhao yang baru saja berhasil menembus tahap akhir dari ranah Human God.
"Hueft... Sial, kamu!? Ba-bagaimana mungkin hanya dalam dua tahun kamu naik tingkat lagi? Bau ini, ikh... Hueft"
Xingniu yang terkena cipratan kotoran tubuh Lenhao benar-benar tidak habis pikir, dia tidak menyangka Lenhao mampu melakukan hal semacam itu.
"Ayah...!? Ke-kenapa ayah tidak kena?"
Xingjiang hanya menaikkan alisnya dan diam menatap tajam ke arena pertarungan, tidak menghiraukan Xingniu. Dia berhasil lolos dari cipratan dengan melapisi seluruh tubuhnya dengan tenaga dalam miliknya, membuat tenaga dalam itu menjadi perisai yang mementalkan kotoran tubuh Lenhao.
"Gumong...!!! Ayo pergi, Hueft... Aku ingin membersihkan diri, persetan dengan pertarungan ini"
Akhirnya karena tidak tahan dengan bau, Xingniu memutuskan untuk pergi dan menyeret Gumong pergi bersamanya.
Gumong sebenarnya bisa menghindari cipratan itu, saat dia melihat kelompok Lenhufei menjauh, Gumong juga akan menjauh, tetapi Xingniu menahannya untuk tetap duduk di kursi tempat duduknya.
Lenhao mendarat kembali ke arena dan kini dia jelas-jelas sudah berada di ranah Human God tahap akhir. Hanya dalam empat tahun, Lenhao mencapai tahap akhir dari ranah Human God yang bahkan tidak bisa dilakukan oleh Lenming. Lenming mencapai tahap akhir dari ranah Human God setelah berbudidaya selama 16 tahun dari ranah Human God tahap pertengahan.
"Kak, Selamat atas peningkatanmu"
Lenchan mengatupkan kedua tangannya dan mengucapkan selamat atas kenaikan tingkat budidaya Lenhao.
Lenchan tidak terkena cipratan kotoran tubuh Lenhao, sebagai seorang tabib dia mengetahui tanda-tanda zat kotor itu akan keluar dari tubuh seseorang, Lenchan sudah mencium aromanya sesaat setelah tubuh Lenhao menggembung.
"Selamat Penatua Lenhao, Selamat, Selamat"
Satu demi satu para penatua yang mendukung Lenhao mengucapkan selamat. Lenhao hanya mengangguk pelan tanpa berucap apapun.
Kini tampak kegetiran di mata setiap pendukung Xinglau, beberapa dari mereka memutuskan pergi karena tidak tahan dengan bau yang menempel di tubuh mereka setelah berpamitan kepada Xingjiang.
-Ini pasti budidaya energi dari Kitab Dewa atau Kitab Surga, kecepatan budidaya ini, benar-benar menakjubkan-
Sementara yang masih berada di sekitar arena itu, terlihat mulai ragu untuk tetap mendukung Xinglau, setelah melihat peningkatan budidaya Lenhao.
Mereka sadar bahwa Lenhao pasti mempelajari Kitab Dewa atau Kitab Surga untuk bisa melakukan penyerapan energi langit dan bumi, sekencang dan secepat itu.
Sekarang giliran Xinglau yang berdiri dan diam, pikirannya berkecamuk, dia tidak habis pikir bahwa Lenhao akan membudidayakan energi dengan Kitab Dewa atau Kitab Surga.
-Mustahil ini kitab dewa, belum pernah terdengar satu pun dari kitab itu yang muncul, lalu... Apakah ini salah satu dari tiga kitab surga? tunggu dulu.... Pendekar Sembilan Langit, itu, lima tahun lalu aku melihatnya mengunjungi Lenming. Apa pendekar itu memberikan Kitab Surga Sembilan Langit kepada Lenming ?-
Pikir Xinglau.
Xinglau mengingat kembali kemungkinan kitab yang diolah oleh Lenhao hingga dalam waktu empat tahun, Lenhao mampu mencapai tahap akhir dari ranah Human God.
-Benar... Ini pasti kitab itu, hanya Pendekar Sembilan Langit yang tampak dekat dengan trah Len, dari ketiga pendekar kitab surga itu-
Setelah berpikir banyak hal, Xinglau akhirnya mengambil kesimpulan bahwa peningkatan Lenhao itu karena Kitab Surga Sembilan Langit.
"Xinglau !!... Mari lanjutkan lagi, sekarang giliranku yang menyerang... Bersiaplah...!"
Budidaya Lenhao kini berada di atas Xinglau, sehingga dia tidak perlu lagi menyebut Xinglau dengan sebutan Senior.
__ADS_1
Justru sekarang Lenhao, bisa dianggap lebih senior daripada Xinglau, karena tingkat budidayanya yang lebih tinggi, meskipun usia mereka berselisih jauh.
Lenhao melakukan segel tangan dan energi mentalnya berubah menjadi asap hitam pekat yang menutupi seluruh arena pertarungan seperti sebuah kubah.
"Kubah Kegelapan"
Ini adalah jurus ciptaan Lenhao sendiri. Dulu saat baru mencapai ranah Saint Master, Lenhao bertemu pertemuan beruntung yang meningkatkan energi mentalnya menjadi berkali-kali lipat.
Lenhao kemudian menggabungkan energi mentalnya itu dengan dengan Jurus Awan Gelap yang dia miliki, membuat energi mentalnya berubah menjadi asap hitam, yang setelah dia kembangkan lagi berhasil merubah asap itu menjadi semakin padat hingga menjadi sebuah kubah hitam.
Jurus inilah yang pada akhirnya membuat Lenhao dijuluki Raja Gelap. Kini setelah berada di ranah Human God tahap akhir, kubah yang tercipta tampak lebih solid dan lebih kokoh.
"Kubah kegelapan!? Celaka... Ayah dalam bahaya..!!"
*Zyuut*
Xingjiang melesat maju menyerang ke arah kubah hitam yang kini menutupi seluruh arena pertarungan, dia mengayunkan gadanya untuk menghancurkan kubah itu.
"Penatua Le...!!"
"Tunggu... !! Biarkan saja, Xingjiang tidak akan bisa menghancurkan kubah itu"
Lenhufei menghalangi langkah salah satu penatua yang hendak maju membantu Lenhao menahan serangan gada milik Xingjiang.
Lenhufei sadar kubah yang tampak sangat hitam itu, pastilah memiliki kekuatan yang sangat kokoh. Jadi, dia tidak berpikir untuk menghalangi apa yang dilakukan Xingjiang. Lagipula, jika dia atau penatua lain yang mendukung Lenhao ingin mengalahkan Xingjiang, itu adalah hal yang mustahil.
"Genderang Perang Tentara Kematian"
Xingjiang mengeluarkan satu buah gada lagi, kini kedua tangannya memegang gada. Dia memukul kubah kegelapan seperti memukul genderang, suara benturannya memekakan telinga para penatua lain yang berada di dekat Xingjiang.
*Dug jedug dug dug*
*Dug jedug dug dug*
Tidak henti-henti Xingjiang memukulkan kedua gadanya ke arah kubah Lenhao. Semua tenaga dalam, dia kerahkan untuk menghancurkan kubah itu, tetapi semua nihil. Tidak ada yang terjadi, kubah itu masih sama seperti sebelumnya, retakan pun tidak ada.
"Mustahil... Tidak mungkin kubah ini lebih kuat dari Gada Ganda milikku, Tidak mungkin!!"
Xingjiang tidak percaya bahwa dia tidak bisa menghancurkan kubah itu.
Xingjiang kini bergerak mengitari seluruh kubah, memukul kubah dari segala arah. Tetapi sekali lagi semua nihil, tidak ada yang terjadi.
"Kalian... !! Apa kalian akan diam saja melihat cara curang seperti ini? Tidak ada yang tahu apa yang bocah kemarin sore itu lakukan pada Senior Xinglau... Maju sini, Hancurkan kubah ini!!"
Kedua tangan Xingjiang masih terus memukul kubah kegelapan, saat dia berteriak kencang kepada semua pendukung ayahnya agar ikut menghancurkan kubah kegelapan milik Lenhao.
"Senior Xingjiang, Siapa yang kamu bilang curang? Ini jurus ciptaan kakakku sendiri, dia bertarung dengan jurusnya sendiri, lalu apanya yang curang?"
Teriak Lenchan kepada Xingjiang.
Lenchan sudah tidak tahan melihat aksi curang yang dilakukan oleh Xingjiang. Bukannya berhenti, tetapi justru Xingjiang meneriaki Lenhao sebagai orang yang curang dalam kompetisi itu.
"Bocah tengik, Jangan ikut campur, Pergi sana!!!"
Xingjiang marah diteriaki seperti itu oleh Lenchan. Dia kemudian melempar salah satu gadanya ke arah Lenchan. Gada itu melesat kencang, tepat menuju ke arah Lenchan.
"Ini sudah melewati batas!!"
*Zyuut*
Seorang Penatua Inti yang mendukung Lenhao maju, menangkis gada yang dilempar Xingjiang menggunakan tenaga dalamnya.
"Pukulan Tinju Besi"
Penatua itu memukul Gada Xingjiang hingga terpental jatuh ke tanah.
"Kau!? Xingmou, Dasar pengkhianat!, Kamu lupa darahmu? Kamu mengkhianati trah Xing"
Xingjiang semakin naik pitam setelah lemparan gadanya berhasil ditangkis oleh Xingmou, seorang Penatua Inti yang memilih mendukung wasiat Mahaguru sebelumnya.
"Sadarlah Xingjiang... Kamulah yang telah mengkhianati trah kita. Ingatlah dulu, jika bukan karena leluhur trah Len, trah kita sudah pasti binasa"
Itulah kenyataan yang sebenarnya, seperti yang dikatakan Xingmou.
Trah Xing sudah pasti akan musnah jika dulu tidak diselamatkan oleh leluhur trah Len dan diajarkan ilmu bela diri di Perguruan Tanah Terlarang.
"Omong kosong!! yang aku tahu, kita sudah cukup menjadi yang nomor dua, perguruan ini milik kita, trah Xing"
*Zyuut*
Xingjiang berhenti memukul kubah dan melesat maju menyerang Xingmou.
*Duuaarr*
Belum sampai di tempat Xingmou, Xingjiang terpental mundur cukup jauh setelah terkena hempasan ledakan yang terjadi dari dalam kubah.
Kubah itu kini menghilang, Lenhao terlihat berdiri dengan banyak luka sayatan pedang di tubuhnya, sementara Xinglau terkapar tidak sadarkan diri di lantai arena.
"Lenhao menang ?"
Xingjiang yang baru saja kembali setelah terpental cukup jauh, tidak mempercayai apa yang dilihatnya.
__ADS_1
Bersambung...