Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 84. Payung Tangisan Surga


__ADS_3

Membekunya ruang dan terhentinya waktu, dikarenakan oleh jurus yang dikeluarkan oleh Vasudev.


Vasudev akhirnya mengambil keputusan. Bukan untuk mengembalikan atau memutar waktu. Melainkan untuk membantu Gofan dan Mouhuli melarikan diri.


Beberapa saat sebelum Meiling diketahui telah menghilang, pertarungan di antara guru dan murid itu benar-benar memporak-porandakan area timur Ibu Kota tersebut.


Vasudev ingin membiarkan salah satu di antara Gofan dan Mouhuli tumbang. Tetapi setelah beberapa hela napas menunggu, ternyata tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang di antara keduanya.


*Duuaarr*


Lagi-lagi bola api biru dimuntahkan Mouhuli ke arah Gofan. Gofan menangkisnya dan segera menyerang balik, begitu terus menerus.


Pertarungan terus berlanjut, hingga membuat Vasudev menghela napas panjang.


" Haih... Kalian bahkan tidak memperhatikan dengan siapa kalian bertarung... Benar-benar sudah lepas kendali " Ucap Vasudev.


Vasudev menggeleng-gelengkan kepala dan membuka payung putih yang dibawanya.


Saat payung tersebut dibuka, tiba-tiba saja hujan turun dari tempat Vasudev berdiri, hingga ratusan langkah kaki ke area sekitarnya.


" Payung Tangisan Surga !? " Ucap Suezilu kaget ketika melihat payung milik Vasudev dari tempat persembunyiannya.


" Dia... Bukankah dia Pria yang membawa Wuling ke Perguruan kita ? " Tanya Suezilu kepada Duan Tianlang.


" Benar. Itu dia. Namanya Vasudev, salah satu dari Tujuh Penyihir Keajaiban, pria yang menitipkan Wuling kepadaku puluhan tahun silam " Sahut Duan Tianlang.


" Apa yang dia lakukan Kak? Apakah dia juga hendak menangkap si Pewaris? " Tanya Suezilu sembari menatap ke arah payung Vasudev.


" Sepertinya begitu. Setahuku dia salah satu anggota Pasukan Lieren. Dia pasti datang karena yang mengacau adalah kaum siluman " Duan Tianlang melihat ke arah ratusan anggota Tongkat Sakti yang berada di belakangnya. Bersembunyi di berbagai tempat.


" Dimana Wuling? " Tanya Duan Tianlang, setelah memastikan tidak ada Wuling di antara anggota yang bersembunyi.


" Dia sedang mempersiapkan upacaranya " Sahut Suezilu yang dibalas dengan anggukan oleh Duan Tianlang.


" Kak. Kenapa dia justru menurunkan hujan di saat seperti ini ? " Suezilu dari tadi sangat penasaran dengan kelakuan Vasudev.


Vasudev tidak menghentikan pertarungan Gofan dan Mouhuli. Vasudev juga tidak ikut bertarung. Dari awal Vasudev datang, dia hanya berdoa, dan sekarang dia justru menurunkan hujan dengan payung saktinya.


" Bukannya kamu sudah tahu ! " Sahut Duan Tianlang.


Suezilu mengernyitkan alisnya di balik topeng hitam dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


" Ck.. Itu Payung Tangisan Surga ! Semua yang terkena air hujan dari payung itu akan merasakan depresi dan kesedihan yang teramat sangat. Lihatlah mereka yang terkena guyuran hujan itu ! " Sahut Duan Tianlang sembari menunjuk keadaan di dalam area guyuran hujan dari Payung Tangisan Surga.


Setelah hujan turun membasahi area pertarungan tersebut, perlahan suasana di dalam area guyuran hujan menjadi bernuansa amat sedih.


Semua makhluk hidup yang terkena hujan mendadak merasakan depresi dan kesedihan yang mendalam. Penyesalan dan kenangan sedih terlintas di pikiran mereka.


Semua Pasukan Taizongbudui yang terkena guyuran hujan mendadak menangis sejadi-jadinya. Para Binatang juga tidak ketinggalan, mereka juga menangis melalui cara mereka masing-masing.

__ADS_1


Para anjing melolong, para tikus mendecit, para kucing mengeong-ngeong, semua binatang itu menangis setelah terkena guyuran air hujan dari Payung Tangisan Surga.


" Eh.. Sejak kapan mereka jadi seperti itu !? " Setelah mendengar jawaban Duan Tianlang, barulah Suezilu memperhatikan perubahan yang terjadi di dalam area guyuran hujan.


Tubuh Suezilu mendadak merinding melihat fenomena hujan kesedihan itu. Dalam benaknya, Suezilu membayangkan bahwa dia pasti mati jika melawan Vasudev.


Suezilu membayangkan, jika dia yang diguyur hujan itu, dia pasti akan depresi, tertunduk sedih, niat bertarung menghilang, dan dalam keadaan seperti itu akan mudah bagi Vasudev untuk membunuhnya.


' Untung saja hujan itu tidak sampai kemari ' Batin Suezilu.


" Sekarang kamu sudah mengerti, bukan? " Tanya Duan Tianlang.


" Sudah " Sahut Suezilu singkat sembari menganggukkan kepalanya.


Kemudian pandangan Suezilu dan Duan Tianlang terarah kepada Gofan dan Mouhuli. Sekarang mereka melihat Gofan dan Mouhuli telah mendarat ke tanah.


Gofan bersimpuh dan menangis kencang, sementara Mouhuli telah kembali ke wujud manusianya, Mouhuli menangis terisak-isak.


Pertarungan terhenti, amukan dan amarah menghilang, penyesalan serta kesedihan muncul menghantui Gofan dan Mouhuli. Guru dan murid itu perlahan mulai kembali ke kesadaran mereka masing-masing.


" Tidak ada tobat yang paling tulus selain menyesali kesalahan. Bertobatlah... Berhenti membuat kekacauan " Ucap Vasudev sembari melangkah ke arah Gofan.


' Vasudev. Ini aku Tianlang. Bocah itu adalah pewaris Dewa Perang, pemilik Tongkat Emas Naga Kembar. Mohon ampuni dia untuk kali ini, mohon bantulah aku ' Duan Tianlang mengirimkan suaranya melalui pikiran kepada Vasudev.


' Oh... ternyata Kakak Tianlang. Pantas saja dari tadi aku merasakan ada banyak pasukan yang mengintai tempat ini '


" Gawat Kak. Dia akan menangkap si Pewaris ! " Ucap Suezilu dengan wajah pucat ketika melihat Vasudev mendekati Gofan.


" Tenanglah. Dia bukan ingin menangkapnya "


" Kembalilah dulu bersama yang lain, biar aku yang mengurus masalah ini dengan Vasudev. Pergilah ! " Seru Duan Tianlang kepada Suezilu.


Suezilu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal dan masih diam melihat ke arah Vasudev.


" Kenapa belum pergi? Sudah ku bilang, tenang saja. Aku dan Vasudev yang akan mengurus si Pewaris... Sudah... Pergilah ! " Seru Duan Tianlang sekali lagi.


" Ba-baik Kak " Suezilu dengan wajah bingung, pergi bersama dengan ratusan Anggota Tongkat Sakti, kembali ke kediaman Taofu.


' Saudaraku.. Bisakah kamu membantu si Pewaris baru ini dan teman-temannya menyelinap pergi dari kekacauan ini? ' Ucap Duan Tianlang kepada Vasudev.


Vasudev telah tiba di hadapan Gofan. Vasudev memperhatikan cahaya hijau dan ungu yang memancar dari tubuh Gofan perlahan menghilang.


Vasudev tahu bahwa cahaya ungu yang terpancar dari tubuh Gofan adalah pancaran Energi Surga, karena itu dia berkata bahwa Gofan memiliki banyak keberuntungan Surga.


' Tidak masalah. Kakak Tianlang pulang saja dulu ke Perguruan Tunjung Putih. Aku akan membawanya ke sana sekarang juga ' Sahut Vasudev.


' Terima kasih saudaraku... kalau begitu, tunggulah aku sampai ke perguruanku. Aku akan mengirimkan kabar, bahwa kamu akan datang berkunjung ' Ucap Duan Tianlang ketika sebuah boneka burung, dia keluarkan dari Cincin Dimensinya.


Duan Tianlang bergegas pergi ke kediaman Taofu untuk mempersiapkan perjalanannya kembali ke Perguruan Tunjung Putih.

__ADS_1


Duan Tianlang adalah Mahaguru di perguruan tersebut. Dialah Mahaguru yang dulu ditemui oleh Lenhao sebelum Perguruan Tanah Terlarang di serang.


Vasudev mengangguk ketika merasakan keberadaan Duan Tianlang dan anggotanya telah menghilang dari sekitar area pertarungan.


Beberapa saat kemudian, tangan kiri Vasudev membentuk segel tangan dan kaki kanannya menghentak tanah sebanyak tiga kali.


" Rule "


Awan mendung berkumpul tepat di atas Payung Tangisan Surga. Petir menyambar-nyambar saat langit memunculkan kilatan cahaya sesaat yang menyilaukan. Beberapa saat kemudian disusul dengan suara menggelegar.


*Gedublar Gedublar*


Vasudev melakukan gerakan segel tangan lainnya, tepat setelah awan mendung yang terkumpul di atas kepalanya telah berkumpul hingga menyelimuti seluruh area pertarungan tersebut.


" Rule Brekdetiid Magy "


*Blazh*


Sebuah cahaya berkilau bagaikan emas memancar dari Payung Tangisan Surga. Cahaya berkilauan emas itu merambat hingga menyelimuti seluruh Ibu Kota.


Setiap kali cahaya emas itu melintasi sebuah tempat, ruang dan waktu di tempat itu terhenti. Makhluk hidup yang terkena pancaran cahaya emas itu membeku seketika.


Pada saat itulah, Burka, Shadev, Rajhu, Shingha dan semua orang di dalam Ibu Kota membeku, terdiam dalam waktu yang terhenti.


Tetesan air hujan melayang terhenti di dalam waktu ketika Vasudev melangkah dan merobek udara. Dari robekan udara tersebut, tercipta celah dimensi ruang yang menghubungkan tempat tersebut dengan Perguruan Tunjung Putih.


Vasudev melempar tubuh Gofan dan Mouhuli yang masih membeku ke dalam celah itu sebelum dia masuk dan menutup celah di udara tersebut.


Hujan berhenti di saat Vasudev, Gofan, dan Mouhuli menghilang di dalam kekosongan. Waktu pun berjalan kembali seolah-olah tidak pernah terhenti.


Tidak ada satu pun orang yang menyadari bahwa ruang dan waktu sempat terhenti sesaat, kecuali seorang Pria tua berjanggut putih yang tengah duduk di sebuah kursi goyang, di salah satu ruangan mewah di dalam Markas Pasukan Taizongbudui.


" Hahaha... Bagus ! Tidak ku sangka akan ada pengkhianat di saat seperti ini Hahaha " Tawa Pria tua berjanggut putih tersebut.


" Kek. Ada apa? Kenapa kakek tiba-tiba tertawa? " Tanya Lixiayo yang berada di ruangan itu bersama dengan si Pria tua berjanggut putih.


" Bocah berambut putih itu berhasil kabur. Ini sesuai dengan rencana "


" Lixiayo. Pergilah dan dapatkan dulu setengah Batu Mahkota, masalah keberadaan Kambing Hitam kita itu, biar Kakek yang tangani Hahaha " Tawa si Pria tua berjanggut putih sembari mengayun-ayunkan kursi goyangnya.


" Baik Kek. Aku permisi " Sahut Lixiayo.


Hari sudah senja ketika Lixiayo meninggalkan ruangan tersebut untuk menjemput Meiling yang telah berhasil diculik oleh Xiong Ma beserta anak buahnya.


' Setelah Batu Mahkota berada dalam genggaman tanganku... Hahaha... Siluman Tengkorak Putih, akan kembali berjaya Hahaha ' Batin si Pria tua berjanggut putih saat menghilang menjadi butiran-butiran debu berwarna putih.


Kursi goyang itu masih berayun-ayun ketika butiran debu berwarna putih melayang keluar dari ruangan mewah tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2