Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 211. Lumpur Pemakaman Dewa bg. 1


__ADS_3

Menara Harta Ilahi. Kediaman Tian Duoduo.


Tang Lang berlari menuju arah kamar Tian Duoduo, dia mengetuk pintu berkali-kali, *Tok* *Tok* *Tok* “Tuan. Tuan... Gawat Tuan... Gawat Tuan.” napasnya terengah-engah saat dia berdiri di luar pintu kamar Tian Duoduo.


Tian Duoduo tengah bermain dengan sempoa di meja kerjanya, saat suara ketukan dan kata-kata Tang Lang, mengusik konsentrasinya. Dia bangkit dan membuka pintu.


“Apa yang gawat Paman? Katakanlah pelan-pelan.”


“Begini Tuan. For-formasi pelindung di Gua Mo Fan hancur, sepertinya seseorang benar-benar berencana membunuhnya.” sahut Tang Lang masih sedikit terengah-engah.


“Itu Formasi Lima Elemen. Seorang Mighty Star tahap puncak tidak akan bisa menghancurkannya... Jangan-jangan orang yang ingin membunuh Mo Fan ini, berada di ranah Immortal Realm?!.. Siapa sebenarnya yang dia singgung.” batin Tian Duoduo.


Sebelum ini, karena Gofan meminta Tempurung Siput Awan Barat, Tian Duoduo telah mengira bahwa Gofan sedang berada dalam sebuah pengejaran. Dia menebak bahwa Gofan adalah seorang buronan.


Para buronan di Alam Langit, biasa menggunakan item Harta Ilahi itu untuk mengaburkan jejak keberadaan mereka. Oleh karena itu, Tian Duoduo memberi Gofan sebuah Gua dengan formasi yang bisa mengelabui aura dan menahan serangan dari pendekar di ranah Mighty Star puncak, tapi siapa sangka, sekarang formasi itu hancur.


“Bagaimana dengan Tetua Chen? Bukankah kita menugaskannya berjaga di sekitar sana?.” tanya Tian Duoduo.


“Hua Chen yang mengabari kita, dia dan Hua Rong sudah menyusul dua orang yang terlihat keluar dari Gua itu... dan... dan mereka membawa Mo Fan.”


“Paman Lang. Panggil Tetua Yuan. Kita akan menyusul untuk membantu mereka menyelamatkan Mo Fan.”


“Baik Tuan.”


**


Di Hamparan Kehampaan, Langit Violet.


“Di timur... Jejak darah yang kita ambil di dalam Gua mengarah ke arah timur!.” tunjuk Li Han ke arah timur, saat dia dan dua lainnya melaju kencang mengikuti aliran darah yang melayang membentuk benang-benang tipis.


Mo Xiefeng berkata dengan ragu, “Arah ini!? Bukankah ini menuju ke Lumpur Pemakaman Dewa?.”


“Benar. Sepertinya mereka mau mengarah keluar perbatasan.” sahut Jiang Ruo.


Ketiganya tiba tidak lama setelah Gu Bai dan Raja Iblis pergi meninggalkan Gua budidaya Gofan. Dengan teknik pengikat darah, Li Han menggunakan darah Gofan untuk melacak keberadaannya.


Beberapa hela napas kemudian, tepat di atas tanah lumpur berwarna merah seperti darah, empat sosok bertarung maju mundur. Itu, dua Tetua dari Menara Harta Ilahi, Hua Chen dan Hua Rong, keduanya bertarung melawan Gu Bai dan Raja Iblis.

__ADS_1


Trang! Trang!


DOOOMMM! DOOOMMM!!


“Raja... Tiga sosok lain sedang mendekat kemari... Dengan kondisi kita sekarang, kita tidak sebanding dengan ketiganya.” ucap Gu Bai sembari memukul mundur serangan dari Hua Chen.


Gu Bai baru saja bangkit dari tidur panjangnya, ranah budidayanya masih belum stabil. Hal serupa juga dialami Raja Iblis, belum lagi, tubuhnya terkena racun, melawan dua Tetua Menara Harta Ilahi ini, mereka hanya bisa menyeimbangkan keadaan. Belum lagi, tiga sosok dengan kemampuan di ranah Immortal Realm terasa semakin mendekat ke arah mereka.


Raja Iblis mengangguk pelan, dia juga bisa merasakan tiga sosok kuat yang mendekat ke arah mereka. Dia masih bertahan, bertarung melawan Hua Rong.


“Kakak... Mari gunakan penggabungan, salah satu dari mereka tampaknya sedang keracunan, kita bisa menyerangnya terlebih dahulu!.” Hua Rong mendorong serangan pedangnya dan membuat Raja Iblis terpukul mundur beberapa langkah di udara.


Mata Raja Iblis memerah, selain harus mempertahankan bentuk tubuh yang belum sempurna, dia juga harus menahan racun sekaligus bertarung, itu membuat Hua Rong dengan mudah mendorongnya mundur beberapa kali.


“Baik... Kita serang bersama!.” sahut Hua Chen.


Kedua Tetua Menara Harta Ilahi itu, berdiri berdampingan mengatur jarak dan menyamakan gerakan. Keduanya membentuk segel tangan tertentu sebelum pedang keduanya bergetar bersamaan. Di bawah cahaya bulan, kedua pedang mereka tampak memancarkan cahaya perak yang menyilaukan.


“Sabit Pedang Bulan Kembar!.”


*Blazzhhh*


DUUUUAAARRR!!!!


Asap kelabu membumbung di udara, ledakan besar terjadi saat serangan pedang kembar Hua Chen dan Hua Rong mengenai sasaran. Tapi yang terkena serangan itu bukan Raja Iblis, itu... Gofan!


Gu Bai melesat tepat di saat serangan pedang cahaya sabit kembar itu hampir mengenai Raja Iblis. Dia menggunakan tubuh Gofan yang tidak sadarkan diri sebagai perisai!! Kemudian, dia segera menarik Raja Iblis dan melesat pergi meninggalkan lokasi pertarungan, menghilang menembus perbatasan Alam Langit Pertama.


“Dia!!??....” saat asap ledakan menipis tubuh Gofan perlahan terlihat, terjatuh ke arah lumpur merah di bawahnya. Mata Hua bersaudara terkejut bukan main, mereka melupakan kenyataan bahwa Gofan masih berada di tangan musuh.


Mereka hanya tidak bisa memikirkan bahwa Gu Bai akan dengan mudahnya menggunakan Gofan sebagai perisai, bukankah mereka menginginkannya hidup-hidup?!


Semua terjadi dalam hitungan beberapa hela napas, terlalu cepat, namun butuh waktu untuk menjelaskannya. Saat melihat tubuh Gofan melayang jatuh, Hua Chen dan Hua Rong melesat sekencang yang mereka bisa untuk meraihnya. Tapi akibat ledakan serangan pedang mereka, tubuh Gofan terpelanting cukup jauh, sehingga mereka tidak sempat untuk meraihnya...


Byuurr!!! Tubuh Gofan jatuh, masuk ke dalam lumpur berwarna merah darah.


'Hiyaaaa.... Hiyaaaa.... Hiiyaaaa...' Teriakan-teriakan tangis menyedihkan menyayat hati muncul terdengar dari dalam lumpur merah tersebut.

__ADS_1


Sosok-sosok mirip hantu, melayang keluar berputar-putar di atas lumpur merah. Ada banyak dari mereka, dan beberapa di antara mereka menyeret Gofan, semakin dalam, masuk ke dalam lumpur merah.


“Kak... Awas!!! Itu... Hantu pemakaman Dewa?!.” Hua Rong mengayunkan pedangnya dan *Blazh* beberapa sosok hantu yang mencoba menyerang Hua Chen musnah terkena serangan Hua Rong.


Hua Chen berputar dan berbalik arah, begitu juga dengan Hua Rong. Keduanya melayang di atas lumpur merah berhantu. Mereka melayang, menjaga jarak aman dari jangkauan sosok-sosok hantu itu.


“Lumpur Pemakaman Dewa... Ternyata memang benar ada banyak Jiwa Penasaran yang menghantui tempat ini.” gumam Hua Chen mengatur kembali napasnya.


*Wuussss* *Wuuussss* *Wuusss*


Tiga Tetua Agung Sekte Pendalaman Musim akhirnya tiba di tempat yang sama dimana Hua bersaudara berada.


“Sepertinya orang yang kita cari jatuh ke dalam Lumpur Pemakaman Dewa.” ucap Li Han saat aliran darah yang mereka ikuti jatuh masuk ke dalam lumpur merah.


Mo Xiefeng dan Jiang Ruo menampakkan raut wajah kekecewaan. Mereka tidak tahu betul siapa yang mereka cari, tapi dari kilasan ingatan yang diberikan Ketua Aliansi, mereka yakin bahwa orang yang jatuh ke dalam lumpur merah adalah orang yang penting bagi Ketua Aliansi.


“Salam Tetua Agung.” hormat Hua Chen dan Hua Rong saat melihat ketiganya muncul.


“Kalian?.” tanya Mo Xiefeng.


“Kami Hua bersaudara dari Menara Harta Ilahi.” sahut Hua Chen.


“Apa yang terjadi? Dan siapa orang yang terjatuh ke dalam lumpur ini? Apakah dia orang dari Menara Harta Ilahi kalian?.” tanya Mo Xiefeng lagi.


Hua Chen dengan lugas menjawab bahwa orang yang terjatuh bernama Mo Fan. Seorang mitra bisnis dengan prospek besar bagi Menara Harta Ilahi, tapi sayang kini dia masuk ke dalam Lumpur Pemakaman Dewa.


“Dua sosok aneh dengan telinga runcing dan kulit berwarna merah serta tanduk di kepala mereka yang melakukan semua ini... Mereka menculik Tuan Muda Mo Fan dan saat mereka terdesak, mereka menjatuhkannya ke dalam Lumpur Pemakaman Dewa.” imbuh Hua Rong menjelaskan.


Lumpur Pemakaman Dewa, seperti namanya, itu adalah tempat yang mematikan, sebuah pemakaman massal. Bahkan seorang Dewa yang telah mencapai ranah Immortal Realm akan tetap mengalami kematian jika masuk ke dalam lumpur merah tersebut.


Itu sesungguhnya bukan lumpur, tapi genangan darah dalam jumlah besar. Dulu, saat Perang para Dewa terjadi, darah mereka menggenang dan berubah menjadi lumpur berwarna merah. Lumpur itu memancarkan aura kematian, itu menyerap jiwa-jiwa para Dewa yang mati di dalam peperangan dan mengubah mereka menjadi para hantu yang menjaga lumpur merah tersebut. Siapa pun yang berada dalam jarak sepuluh kaki dari lumpur merah, akan diseret masuk oleh para hantu dan dimakamkan di sana untuk menemani mereka.


Mo Xiefeng menggeleng pelan, dia tidak mengenal siapa Mo Fan itu. Tapi, jika saja Mo Fan itu berhasil mereka selamatkan, itu pasti akan menjadi kebanggaan bagi Klan Suci Mo. Seseorang dari Klan Mo berhasil membuat Ketua Aliansi mengirimkan mereka untuk melindunginya, seberapa pentingkah Mo Fan itu?!.


Kelimanya juga memikirkan tentang dua sosok aneh yang dijelaskan Hua Rong. Siapa dua sosok aneh itu? dan kenapa mereka melakukan ini pada orang bernama Mo Fan itu?!


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2