Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 62. Pewaris Baru Telah Muncul


__ADS_3

Pemuda Desa itu memacu kencang lari kudanya, agar dapat segera menyampaikan pesan dari si Kepala Desa kepada seorang Ketua sebuah Partai Bela diri. Pemuda itu mengendarai kudanya ke arah selatan Desa, menuju ke sebuah perbukitan tempat Partai Bela diri bernama Partai Tongkat Sakti berada.


Pemuda itu bernama Wuling, dia berasal dari sebuah Desa yang berada di dekat Hutan Bambu Kemarau. Desa tempat tinggal Wuling bernama Desa Seribu Satu Malam. Desa itu dinamai seperti itu bukan tanpa alasan, nama itu telah ada dari semenjak Hutan Bambu Kemarau belum ada di Benua Penda.


Desa itu sudah berumur hampir 800 tahun. Meskipun sudah berumur setua itu, Desa Seribu Satu Malam, tidak juga berkembang menjadi sebuah Kota. Hal itu disebabkan karena kemunculan Hutan Bambu Kemarau yang menghilangkan Hutan Tanpa Malam dari Benua Penda.


Dahulu, saat Hutan Tanpa Malam belum dikutuk menjadi Hutan Bambu Kemarau, ada banyak sekali penduduk Benua Penda, terutama pedagang, pemburu siluman, pendekar dan para bangsawan yang akan melintasi Hutan Tanpa Malam untuk menuju ke Kota Langit Cahaya, Ibu Kota Kerajaan Penda.


Itu karena di dalam Hutan Tanpa Malam mereka akan menemukan sebuah portal dimensi alami yang akan mengantar mereka langsung ke Kota Langit Cahaya dengan hanya beberapa puluh hela napas. Jika tidak melalui portal dimensi alami itu, mereka harus menempuh perjalanan selama kurang lebih dua minggu perjalanan, satu minggu di darat dan satu minggu lagi di Sungai Kuning.


Hutan Tanpa Malam, dinamai demikian karena di dalam hutan itu ada banyak sekali makhluk buas dan siluman jahat yang aktif di malam hari. Makhluk buas dan siluman yang beraktivitas di malam hari akan menyerang serta membunuh siapa saja yang memasuki hutan dan bermalam di sana, oleh karena itu tidak ada seorang pun yang akan melewati hutan itu pada saat malam hari.


Bagi orang biasa yang melewati hutan itu, tidak ada istilah bermalam di dalam hutan, bagaimana pun caranya mereka harus mencapai Kota Langit Cahaya sebelum malam tiba, karena itulah, hutan itu dinamai Hutan Tanpa Malam, hutan yang tidak mengenal istilah malam bagi para manusia. Jika berani bermalam, maka mereka akan dihujani oleh serangan berbagai makhluk buas dan siluman jahat.


Mereka yang tidak berani melewati hutan saat malam, akan menghabiskan malam mereka dengan menginap di sebuah Desa di dekat Hutan Tanpa Malam. Saking banyaknya pengunjung yang mengunjungi Desa saat malam hari tiba, membuat Desa itu selalu ramai hanya saat malam hari.


Rata-rata kegiatan Desa hanya akan ramai di malam hari, untuk menyambut Orang-orang yang memutuskan untuk menunggu pagi tiba di Desa itu. Desa itu adalah Desa tempat tinggal Wuling berada, yang dulunya selalu ramai di malam hari sehingga dinamai Desa Seribu Satu Malam.


"Hyaahh"


Wuling memacu kudanya selama dua setengah hari perjalanan, sebelum akhirnya dia tiba di Partai Tongkat Sakti.


Wuling tiba di sebuah bangunan megah yang berdiri di sebuah kaki bukit. Bangunan megah itu dikelilingi oleh sebuah dinding yang menjulang tinggi mirip dengan bentuk sebuah benteng. Ada sebuah gerbang yang menjadi pintu keluar masuk Partai Bela diri itu.


"Hii"


Wuling menghentikan laju kuda dan turun dari kuda itu. Dia kemudian berjalan memhampiri seorang penjaga yang berdiri di depan pintu gerbang masuk Partai Tongkat Sakti.


Wuling merogoh saku bajunya dan mengeluarkan sebuah token. Wuling memperlihatkan token itu kepada si penjaga pintu. Setelah memastikan token Wuling, si penjaga pintu membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan Wuling masuk.


Wuling berjalan masuk dan kemudian diantarkan oleh seorang gadis, murid partai, menuju ke sebuah ruangan yang memang khusus disediakan untuk para tamu yang datang berkunjung ke Partai Bela diri tersebut.


"Tuan, mohon tunggu di sini, Ketua akan segera datang dan menemui tuan. Silahkan diminum dulu teh ini sembari menunggu"


Ucap si gadis itu yang kemudian undur diri meninggalkan Wuling. Wuling mengangguk dan mengucapkan terima kasihnya kepada si gadis, murid Partai Tongkat Sakti itu.


Wuling tiba saat pagi hari, dan kini dia sudah menunggu hingga tengah hari, namun si Ketua Partai belum juga muncul.


-Kemana Ketua Suezilu? Kenapa dia lama sekali... -


Pikir Wuling ketika teko teh yang disediakan untuknya telah habis dia minum akibat lamanya menunggu.


Wuling yang tidak sabaran lagi, memutuskan untuk berkeliling bangunan partai itu sembari meregangkan badannya yang pegal karena terlalu lama duduk.


-Eh... Suara apa ini?-


Tiba-tiba suara mendesah terdengar di telinga Wuling, saat dia melewati sebuah ruangan yang terlihat paling bagus di antara semua ruangan yang ada di bangunan partai itu.


-Ini masih siang... dan siapa yang berani berbuat macam-macam di dalam wilayah Partai Tongkat Sakti?-


Wuling yang penasaran mengendap-endap menyelidiki sumber suara desahan tersebut.


Saat itu suasana di sekitar ruangan yang sedang dilewati Wuling memang sangat sepi. Tidak ada murid partai yang terlihat lalu lalang di sekitar area ruangan itu, kebanyakan dari para murid akan berada di sisi lain bangunan, yaitu di arena latihan. Sehingga tidak ada yang melihat Wuling mengendap-endap mencari sumber suara desahan.


Wuling mulai melihat kejadian di dalam ruangan melalui sebuah celah yang dia buat di jendela ruangan itu.


-Apa-apaan ini? I-itu Nyonya Qingyue!... Siapa pria itu? -


"Siapa di sana?!"

__ADS_1


Teriak si Pria ketika dia merasakan keberadaan Wuling yang sedang berdiri, mengintip dari luar jendela.


*Zyuut*


Sebuah pisau terbang melayang menembus dinding jendela ruangan dan melesat tepat ke arah Wuling. Namun Wuling berhasil menghindari serangan pisau terbang yang dilemparkan si Pria.


-Celaka! Aku ketahuan... Bagaimana ini?-


Wuling tidak ingin dirinya ketahuan mengintip sepasang kekasih itu, jadi dia mengeluarkan sebuah jubah dari dalam kantong ruang dan menyelimuti dirinya.


*Gedubrag*


*Kriieet*


Pria itu menendang pintu ruangan dan keluar dari dalam ruangan dengan bertelanjang dada, sementara si Wanita bernama Qingyue bergegas mengenakan kembali pakaiannya.


"Kurang ajar!! Siapa yang berani mengintip di sini? Keluarlah...!!"


Teriak si Pria sembari menoleh ke kanan dan ke kiri, namun tidak menemukan siapa pun.


"Tenanglah... Kak Xiongmeng, aku rasa orang itu sudah pergi... Aku tidak bisa merasakan keberadaannya lagi"


Ucap Qingyue kepada si Pria yang ternyata bernama Xiongmeng.


Qingyue menghampiri Xiongmeng dan mengenakan sebuah jubah kepada kekasih rahasianya itu. Xiongmeng masih saja mencari-cari ke kanan dan ke kiri ruangan, namun nihil, tidak ada siapa pun yang terlihat.


"Sudahlah Kak, jangan dipikirkan lagi, jika kakak terus begini, akan makin banyak orang yang datang... Ayo... Kita pergi dan temui Kakak Suezilu dulu!"


Imbuh Qingyue yang kemudian menggandeng tangan Xiongmeng menuju ke sebuah ruangan lain.


-Hampir saja, untung aku punya jubah gaib ini, kalau tidak, mereka pasti akan menemukanku-


Wuling duduk kembali di tempatnya semula duduk ketika sampai di ruangan tamu itu. Dia mulai menunggu lagi.


Kali ini Wuling hanya menunggu kira-kira puluhan hela napas, sebelum tiga orang datang menemuinya di ruangan khusus tamu.


Ketiga orang itu adalah Xiongmeng, Qingyue dan si Ketua Partai, Suezilu.


"Tuan muda Wuling, maaf membuatmu lama menunggu... Beberapa hari ini kegiatan partai sedang sibuk-sibuknya"


Ucap Suezilu.


Suezilu duduk di sebuah kursi yang memang ada khusus untuknya. Kursi itu lebih mewah dan terletak di tengah ruangan, sehingga sangat menonjol di antara kursi-kursi biasa lainnya.


"Salam Ketua... Salam...?"


Ucap Wuling yang berdiri sebentar untuk memberi salam kepada Suezilu dan kedua kekasih rahasia tersebut.


"Oh, aku sampai lupa memperkenalkan... Pria yang gagah ini adalah adik angkatku, Xiongmeng. Dan perempuan cantik ini, adalah Nyonya Qingyue istri dari Ketua Partai Gunung Angkasa"


Suezilu memperkenalkan Xiongmeng dan Qingyue kepada Wuling yang berpura-pura tidak mengenali keduanya.


"Salam Tuan, Salam Nyonya, Aku Wuling dari Desa Seribu Satu Malam"


Sahut Wuling sembari duduk di kursinya setelah Xiongmeng dan Qingyue membalas salamnya.


Wuling baru saja mengetahui identitas Xiongmeng, namun dia sudah lama mengetahui sosok Qingyue, sebab Qingyue sangat terkenal karena kecantikan yang dimilikinya.


"Langsung saja... Ada apa Tuan muda Wuling datang kemari?"

__ADS_1


Tanya Suezilu ketika semua orang sudah duduk di tempatnya masing-masing.


"Kepala Desa ingin aku memberitahukan kepada Ketua bahwa pewaris baru telah muncul, segel kutukan Hutan Bambu Kemarau sudah di hancurkan. Kemungkinan besar Hutan Tanpa Malam sudah muncul kembali di Benua Penda"


Sahut Wuling tanpa basa-basi.


Ketiga orang itu tiba-tiba terdiam, terutama Suezilu yang terlihat mengerutkan alisnya saat memikirkan berita yang baru saja disampaikan Wuling.


-Pewaris baru telah muncul? Bagaimana ini? Apa yang akan terjadi kepada Partaiku ini?-


Pikir Suezilu yang masih diam, tidak menanggapi perkataan Wuling.


"Ketua?"


Tanya Xiongmeng beberapa hela napas kemudian dan membuyarkan lamunan Suezilu.


"Ah... Iya, Bagus...! Bagus jika memang Hutan Tanpa Malam sudah kembali, berarti kita harus segera menemukan pewaris itu"


Suezilu yang baru saja disadarkan oleh Xiongmeng segera menanggapi perkataan Wuling.


"Adik Xiongmeng, tolong kamu persiapkan keberangkatan menuju ke Hutan Bambu Kemarau... mm... maksudku Hutan Tanpa Malam"


"Nyonya Qingyue, hal yang Nyonya minta juga sudah selesai aku buat. Aku akan menyuruh anak muridku mengirimkannya ke partai Nyonya"


Imbuh Suezilu yang terlihat sedikit cemas.


"Baik Ketua"


Sahut Xiongmeng.


"Terima kasih Ketua Suezilu. Jika Ketua tidak keberatan, bolehkah aku ikut pergi ke Hutan Tanpa Malam? Aku ingin melihat wujud hutan yang menghilang 700an tahun lalu itu"


Tanya Qingyue ketika Xiongmeng beranjak pergi menuju ke aula utama Partai Tongkat Sakti untuk mempersiapkan perjalanan menuju ke Hutan Tanpa Malam.


"Maaf Nyonya, bukannya aku menolak, hanya saja, aku takut Ketua Lengjing akan cemas menanti kepulangan Nyonya... jadi sebaiknya Nyonya pulang dulu"


Suezilu menolak secara halus permintaan Qingyue. Suezilu takut akan menimbulkan masalah jika mengajak istri Lengjing itu pergi tanpa meminta izin dari si Ketua Partai Gunung Angkasa itu.


"Seharusnya suamiku akan memaklumi hal ini, tetapi jika Ketua menolak, tidak apa-apa. Aku akan pulang dan mungkin menyusul ke hutan itu bersama suamiku, bolehkah seperti itu Ketua?"


Sanggah Qingyue, dia masih bersikeras ingin pergi ke Hutan Tanpa Malam meskipun dia tidak memiliki sangkut paut dengan kemunculan pewaris baru yang disebutkan Wuling.


"Boleh... Tentu boleh, Aku sangat senang jika Ketua Lengjing akhirnya mau bekerja sama dengan kami menemukan si pewaris baru"


"Ketua, karena sudah diputuskan, aku akan kembali ke Desa dan menyampaikan hal ini kepada Kepala Desa, aku akan menunggu kedatangan Ketua di Desa kami"


Wuling beranjak bangun dan menghaturkan salam perpisahan kepada Suezilu dan Qingyue.


"Tentu, aku pasti akan datang, sebab kita memang harus segera menemukan si pewaris baru sebelum dia pergi meninggalkan hutan itu"


"Mari, biar aku antar ke gerbang depan"


Suezilu sebenarnya tidak ingin menemukan si pewaris baru, namun karena itu sebuah kewajiban, dia terpaksa mengikuti alur yang terjadi.


-Setelah 700an tahun, siapa yang menyangka, seorang pewaris baru muncul dan menghancurkan kutukan itu... aih.. -


Pikir Suezilu yang menggeleng-gelengkan kepala saat melihat Wuling sudah memacu jauh laju kudanya, pergi menuju ke Desa Seribu Satu Malam.


Pewaris yang dimaksud dalam pembicaraan itu, tentu saja adalah Gofan, yang telah berhasil menghancurkan segel kutukan Tongkat Emas Naga Kembar.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2