
Gofan memeriksa keadaan sekitar, dan mendapati dirinya berada di sebuah tempat yang dia ingat sebagai halaman latihan, Perguruan Tanah Terlarang.
Gofan melihat banyak murid yang dia kenali sepuluh tahun lalu, kini terbujur kaku di berbagai tempat di halaman latihan tersebut.
' Ini... ini kan sepuluh tahun yang lalu,...' Gofan akhirnya menyadari bahwa dirinya telah dibawa ke sepuluh tahun yang lalu oleh lorong masa Haiwa, tepatnya kembali ke saat penyerangan oleh trah darah murni terjadi.
Gofan melihat pedang di genggaman tangannya, masih meneteskan darah dari murid yang baru saja dibunuh oleh Xingmou, sesaat sebelum tubuh Xingmou diambil alih Gofan, ' Paman Xingmou membunuh semua murid-murid ini?... Kenapa dia mengkhianati perguruan? '
" Xingmou!! Ayo....!! " Orang yang berpakaian serba hitam itu, menaikkan sedikit nada suaranya saat kembali memanggil Gofan.
Panggilan itu menyadarkan Gofan, saat dia masih melamun karena tidak mempercayai apa yang sedang dia alami. Xingmou, orang yang sangat dipercayai oleh ayah dan pamannya, ternyata adalah pengkhianat. Orang yang bekerja sama dengan para keturunan trah darah murni.
" Ba-baik... "
' Entah apa maksud Haiwa menunjukkan ini kepadaku, ini asli atau ilusi?,...Apa pun ini, aku harus mencari tahu apa yang terjadi ' Gofan pergi melangkah cepat mengikuti pria yang berpakaian serba hitam itu.
Gofan tidak menyangka dirinya akan dibawa kembali ke masa lalu oleh lorong masa Haiwa. Gofan sempat berpikir, bahwa semua yang dia lihat sekarang adalah sebuah ilusi. Tetapi ketika dia melihat sekelilingnya dan berkali-kali memikirkan kembali, semua yang ada di hadapannya kini terasa terlalu nyata.
Gofan masih mengingat betul, seragam murid Perguruan Tanah Terlarang, aula yang sekarang sedang dia lewati, ruang perpustakaan perguruan, serta bangunan-bangunan lain yang terlihat sama persis dengan sepuluh tahun lalu.
Hanya saja sekarang ini, di sekelilingnya dipenuhi oleh bau amis darah dari pertempuran. Suara senjata yang saling beradu terdengar jelas. Suara teriakan dan ledakan sesekali juga akan terdengar. Perguruan Tanah Terlarang sedang diserang oleh keturunan trah darah murni.
" Saudaraku, siapakah para pendekar yang berseragam merah dan hijau itu? " Tanya Gofan kepada pria yang berpakaian serba hitam. Ketika mereka sedang berlari beriringan menuju ke suatu tempat.
" Kenapa kamu memanggilku 'Saudara'? Bukankah kamu tahu namaku, ini aku.. Huangkong,... Apa kamu lupa? "
" Mereka itu Pasukan Phoenix, dari Perguruan Awan Langit,... kalau yang berseragam hijau itu dari Perguruan Dunia Gelap,... Pasukan Kura-Kura Hitam, kamu lupa itu juga? " Sahut Huangkong, dengan tatapan heran.
Huangkong memperhatikan bahwa Xingmou, terlihat sedikit berbeda dari biasanya.
Kedua perguruan yang disebutkan oleh Huangkong adalah perguruan tingkat darah murni, perguruan terkuat di Benua Penda.
Perguruan Awan Langit adalah perguruan yang didirikan oleh suku langit cahaya ketururan Dewa Cahaya, sementara Perguruan Dunia Gelap merupakan perguruan yang didirikan oleh suku langit gelap keturunan Dewa Gelap.
" Oh... Iya. Aku lupa, mungkin karena tadi kepalaku sempat terbentur, aku jadi lupa banyak hal, maafkan aku " Gofan mencoba mencari alasan untuk menutupi kenyataan bahwa dia sama sekali tidak memiliki sedikit pun ingatan Xingmou.
Meski Gofan mengetahui bahwa trah darah murni yang telah menyerang perguruannya, namun dia belum pernah bertemu dengan mereka, sehingga dia tidak mengetahui secara jelas bagaimana penampilan mereka.
Sekarang, setelah melihat langsung, barulah Gofan menyadari siapa dan bagaimana trah darah murni yang telah membunuh keluarganya.
' Kemana ini? Ini kan menuju ke kamar ibu...Apa yang mereka lakukan!?...Ibu! ' Batin Gofan.
Setelah beberapa saat berlari mengikuti langkah Huangkong. Gofan menyadari bahwa mereka sedang berlari menuju ke kamar ibunya. Gofan menjadi khawatir dan berlari mendahului Huangkong, melesat kencang menuju ke kamar ibunya.
" Hei... Xingmou, Pelan-pelan... Tunggu aku " Teriak Huangkong.
Huangkong merupakan salah satu dari 40 orang Pasukan Bayangan yang datang bersama dengan Tianfuzi.
Pada saat Huangkong tengah sibuk mencari keberadaan batu reinkarnasi, dia mendapat perintah dari salah satu Ketua kecil Kultus Abu-Abu untuk mencari dan memanggil Xingmou, agar menghadap kepadanya.
Dalam organisasi Kultus Abu-Abu, ada dua tingkatan kepemimpinan, yaitu Kepala Kultus dan Ketua kecil. Kepala Kultus hanya terdiri dari dua orang saja, yang masing-masing merupakan perwakilan dari suku langit cahaya dan suku langit gelap.
Kedua suku itu, secara rahasia bekerja sama dan membangun Kultus Abu-Abu untuk menelusuri semua jejak keberadaan keturunan trah naga yang tersisa.
Gofan tidak mempedulikan teriakan Huangkong. Gofan ingin secepatnya sampai ke kamar ibunya dan memastikan bahwa ibunya baik-baik saja.
" Loh... Kenapa kamu menangis? " Tanya Huangkong.
Huangkong menambah kecepatan larinya dengan menggunakan ilmu meringakan tubuh yang dia miliki, hingga akhirnya dia berhasil menyusul Gofan.
Tanpa disadari Gofan, kekhawatiran akan keadaan sang ibu, membuatnya meneteskan air mata. Kenangan saat masih bersama ibunya terlintas begitu saja, itu membuat Gofan sangat merindukan sang ibu.
" Mataku sakit, jadi terkadang akan seperti ini. Bukan apa-apa... " Sahut Gofan yang saat ini merasuki tubuh Xingmou. Gofan menghapus air mata dari wajah Xingmou.
" Oh... Begitu. Aku pikir kamu kenapa?... Oh ya, kamu tunggu di sini dulu, kebetulan kita sudah sampai, aku akan menyampaikan kedatanganmu kepada ketua... "
" Diam dan tunggu, Ketua tidak suka dengan orang yang tidak mengikuti aturannya " Huangkong berbisik kepada Gofan, sesaat sebelum mereka sampai di depan kamar ibunya, Qimoruong.
Seperti dugaan Gofan, memang kamar ibunya, Qimoruong yang dituju oleh Huangkong.
Gofan ingin segera masuk dan memeriksa keadaan Qimoruong, namun dia tidak berani gegabah, dia masih penasaran mengenai pengkhianatan yang dilakukan oleh Xingmou, sehingga dia memutuskan untuk bersabar dan mengikuti kata-kata Huangkong.
" Baik, cepatlah " Ucap Gofan membalas perkataan Huangkong dan diam berdiri tepat di depan kamar Qimoruong.
*Krieet*
" Lapor Ketua, Xingmou sudah menunggu di luar " Huangkong memasuki kamar dan berlutut dengan satu kaki, sembari memberi hormat kepada seorang perempuan bergaun merah.
" Bagus,... Suruh dia masuk dan kau lanjutkan mencari anak itu bersama Cangu dan Quila " Sahut perempuan bergaun merah, yang dipanggil oleh Huangkong dengan sebutan ketua.
__ADS_1
" Baik Ketua " Sahut Huangkong.
Huangkong kemudian keluar dari kamar tersebut dan menghampiri Gofan.
" Masuklah... Ketua sudah menunggumu... "
" Tunggu... sebentar, barangkali kamu tahu, dimana anak Raja Gelap berada? Sepertinya Batu Reinkarnasi ada di tangannya... Kamu lihat anak itu? " Tanya Huangkong.
Dari awal tiba, Huangkong sudah ditugaskan secara khusus untuk mencari batu reinkarnasi, yang saat ini diduga berada di tangan Lenfan, sebab setelah memeriksa seluruh isi kamar Qimoruong, tidak juga ditemukan batu bertuah itu.
' Mereka mengincar Batu Reinkarnasiku juga? ' Mendengar ucapan Huangkong, Gofan baru menyadari bahwa selain ingin memusnahkan trah Len, mereka juga menginginkan batu bertuah miliknya.
" Setahuku, dia pergi bersama ayahnya beberapa hari yang lalu,... Mm... Tapi kemungkinan besar, anak itu tidak akan kembali kemari " Sahut Gofan kepada Huangkong dengan sedikit kebohongan.
Gofan melakukan itu, tentu saja untuk melindungi dirinya sendiri, melindungi Lenfan kecil yang sedang bersembunyi di dalam lorong rahasia perguruan.
" Apa maksudmu? Dia tidak akan kembali kemari? " Huangkong bertanya dengan penuh rasa kecemasan, dia cemas jika anak yang dia cari, memang sedang tidak berada di perguruan itu.
" Iya... Anak itu sangat nakal, jadi Raja Gelap berencana untuk mengirimnya belajar di perguruan lain... "
" Tapi aku tidak tahu, perguruan mana yang akan dititipkan anak nakal itu " Sahut Gofan.
Di dalam hatinya, maksudnya di dalam hati Xingmou, Gofan tertawa terbahak-bahak melihat perubahan ekspresi di wajah Huangkong setelah mendengar kebohongan yang dia buat. Gofan berharap Huangkong akan gagal menemukan Lenfan kecil.
Pada akhirnya, memang Huangkong, Cangu, dan Quila tidak berhasil menemukan Lenfan. Sehingga setelah penyerbuan Perguruan Tanah Terlarang berakhir, mereka diutus khusus untuk pergi menemukan batu reinkarnasi, untuk menemukan Lenfan.
Bermodalkan pengetahuan bahwa batu reinkarnasi itu adalah sebuah batu berwarna merah seperti darah, mereka pergi menyamar dan mencari jejak keberadaan Lenfan. Huangkong memutuskan untuk menyamar menjadi seorang murid di sebuah perguruan bela diri, sementara Cangu dan Quila, menyamar sebagai orang biasa, sebagai pedagang keliling.
' Ternyata mereka juga mengincarku, menginginkan Batu Reinkarnasiku. untung saja mereka tidak mengetahui keberadaanku, jika tidak, aku tidak akan berada di sini sekarang ' Pikir Gofan.
Saat melihat Huangkong pergi dengan langkah sedikit tidak bersemangat, Huangkong pergi tanpa mengucapkan apa-apa setelah mendengar jawaban Gofan. Gofan pun melangkah masuk ke dalam kamar Qimoruong.
Di kamar Qimoruong saat ini terdapat empat orang dan satu mayat. Keempat orang itu yaitu, Gofan yang saat ini berlakon sebagai Xingmou, Qimoruong yang sedang terikat tali bersimpuh di depan sebuah meja, perempuan bergaun merah yang dipanggil sebagai ketua oleh Huangkong serta seorang gadis kecil, berusia sekitar delapan tahun yang duduk di atas sebuah kursi kecil.
Sementara mayat yang terbujur kaku itu adalah pelayan Qimoruong, dari pelayan itulah Huangkong mengetahui bahwa kemungkinan batu bertuah, batu reinkarnasi ada di tangan Lenfan.
" Salam Ketua " Gofan memberi hormat kepada perempuan bergaun merah.
Gofan menebak bahwa perempuan itu adalah Ketua kecil yang dimaksud Huangkong, sebab tidak ada orang lagi selain gadis kecil dan ibunya yang mungkin dianggap sebagai ketua di kamar tersebut.
' Gadis kecil ini...Kenapa wajahnya agak mirip dengan Yubing? ' Pikir Gofan ketika melihat gadis kecil yang duduk dengan tenang, meskipun ada mayat dan darah di sekitarnya.
" Senior, sudah hampir tujuh hari kita di sini, dan kita juga sudah sembuh total, kenapa kita tidak kembali saja ke perguruan? " Tanya Nian, seusai berlatih tanding bersama Yubing di halaman sebelah gubuk Gofan, di dalam ruang dimensi.
" Tunggu Gofan kembali, lagi pula tidak ada keharusan bagi kita untuk terburu-buru kembali... "
" Selain itu, kita juga belum berterima kasih kepadanya karena sudah berhasil menyembuhkan kita " Ucap Yubing sembari menyandarkan punggungnya ke sebuah batang pohon, Yubing dan Nian duduk bersandar di batang pohon itu.
" Kita hanya akan dianggap seperti pencuri, tidak berbudi, karena tidak berterima kasih pada orang yang telah menolong kita... "
" Bukankah mendiang guru pernah berkata, hutang budi lebih susah dilunasi daripada hutang harta " Imbuh Yubing saat mengingat kata-kata dari salah seorang guru di Perguruan Lembah Bunga Kamboja.
" Benar. Andai saja guru berumur panjang, mungkin saat ini, kita tidak akan seperti ini " Nian menghela napas panjang, dia mengingat beberapa hal yang telah terjadi di perguruan mereka.
" Lagi pula... Turnamen Pulau akan segera diadakan, akan menghemat waktu untuk langsung ke turnamen itu daripada harus kembali dulu ke perguruan " Yubing menutup kedua matanya dan memeluk pedang yang baru saja dia gunakan untuk berlatih tanding.
Turnamen Pulau adalah sebutan untuk sebuah kompetisi bela diri yang diadakan setiap tiga tahun sekali di pulau-pulau yang berada di Benua Penda.
Setiap tiga tahun sekali, turnamen itu akan diadakan di lokasi pulau yang berbeda, di antara tujuh pulau besar yang ada di Benua Penda.
Turnamen Pulau ini merupakan ajang unjuk gigi bagi para pendekar muda baik itu yang berasal dari perguruan atau pun tanpa perguruan.
Selain itu, para pemenang akan mendapatkan banyak hadiah berupa pertemuan beruntung serta tiga hak khusus dari Kerajaan Penda selaku penyelenggara acara tersebut.
" Turnamen Pulau tahun ini mungkin akan berbeda, Kerajaan Meghalaya diundang hadir sebagai tamu kehormatan... "
" Mereka akan membawa pendekar muda Benua Meghalaya untuk ikut berkompetisi... Senior. Apa benar Kerajaan Penda sudah akan ditaklukkan oleh Kerajaan Meghalaya? " Nian sempat mendengar kabar ada sengketa kecil antara kedua kerajaan tersebut.
Banyak rumor yang mengatakan karena sengketa itu, Kerajaan Meghalaya akan menyerang dan menaklukkan Kerajaan Penda.
" Sudahlah... Benar tidaknya hal itu, itu urusan politik kaum bangsawan, tugas kita hanya membela yang lemah, menegakkan keadilan bagi rakyat... Aku hanya berharap Raja akan mengambil keputusan yang bijak untuk sengketa itu " Yubing membuka matanya dan berdiri setelah mengucapkan hal tersebut.
" Ayo kita latihan lagi, Turnamen Pulau menanti kedatangan kita! "
*Triung*
Yubing menghunuskan pedangnya dan menantang Nian bertarung, untuk kembali berlatih tanding.
" Baik. Ayo! "
__ADS_1
*Triung*
Nian berdiri dan menghunuskan pedangnya, menerima tantangan latih tanding dari Yubing.
[Benua Meghalaya-Paviliun Lumbung Parta]
" Raja sudah mengizinkan, Bersiaplah...! Kita akan segera berangkat ke Benua Penda, jika menunda lagi, kamu mungkin akan kehilangan kesempatan pergi ke benua itu " Ucap seorang pemuda yang memakai pakaian kebesaran kaum bangsawan Meghalaya.
" Terima kasih Pangeran, aku pasti akan membalas budi ini dengan kesetiaanku melayanimu " Sahut seorang pemuda lainnya, yang terlihat sedikit lebih tua dari Gofan.
" Bukan masalah... Membantumu juga sama dengan membantu diriku, sembari kamu mencari pembunuh kakakmu. Aku perlu kamu untuk mencari jejak keberadaan adik ketigaku di benua itu "
Pemuda yang dipanggil pangeran ini, adalah anak pertama dari Raja Meghalaya, namanya Goyige.
Raja Meghalaya, Goixian, hanya memiliki seorang putra dari mendiang Permaisurinya, itu pun setelah Selir Keempat dan Selir Ketujuh melahirkan putra jauh lebih dahulu sebelum mendiang Permaisuri bisa memiliki keturunan.
Oleh karena putra Selir Keempat, lahir pertama, maka dianugerahi gelar sebagai Pangeran Pertama. Putra Selir Ketujuh, lahir lima tahun kemudian setelah Pangeran Pertama, maka dianugerahi gelar sebagai Pangeran Kedua. Sementara putra dari mendiang Permaisuri, dianugerahi gelar sebagai Pangeran Ketiga.
Goyige adalah putra dari Selir Keempat, meski disebut sebagai Pangeran Pertama, dia belum juga dinobatkan sebagai Putra Mahkota oleh Goixian. Terlebih lagi, setelah putra dari mendiang Permaisuri mendadak menghilang dari istana, membuat Goixian memutuskan, baru akan menentukan Putra Mahkota setelah Pangeran Ketiga diketemukan dan kembali ke istana.
" Tentu pangeran, saya pasti akan menemukan keberadaan Pangeran Ketiga " Sahut pemuda lain itu kepada Goyige.
*Kriieet*
" Burka, ku harap kamu akan menemukannya lebih dahulu daripada orang-orang suruhan adik keduaku " Goyige membuka jendela ruangan tempat dia sedang berbincang dengan pemuda bernama Burka itu.
Burka adalah adik kandung Bulga, dua minggu lalu, dia mendengar kabar mengenai kematian kakaknya.
Agar dapat pergi secepatnya ke Benua Penda, Burka mencari kesempatan pergi ke Benua Penda dengan menawarkan diri mengikuti seleksi sebagai peserta Turnamen Pulau.
Raja Meghalaya melakukan seleksi kepada pendekar muda di seluruh benua untuk mengikuti Turnamen Pulau di Benua Penda, namun hanya empat orang pendekar muda yang telah dipilih dan salah satunya adalah Burka.
" Sepertinya, persiapan sudah selesai, ayo kita ke gerbang dimensi " Imbuh Goyige saat melihat keluar dari jendela ruangan itu.
Di depan pandangan Goyige terlihat sebuah gerbang dengan tinggi sebesar sebuah rumah satu lantai, dijaga dengan ketat oleh puluhan pasukan kerajaan.
Gerbang itu disebut Gerbang Dimensi, dengan menggunakan gerbang itu, perjalanan ke Benua Penda yang seharusnya memakan waktu selama lebih dari enam bulan melalui laut, hanya akan menghabiskan waktu selama satu minggu.
" Baik Pangeran" Gerbang Dimensi itulah yang membuat Burka memutuskan untuk mengikuti seleksi peserta.
***
Di dalam dimensi Lorong Masa...
" Xingmou, katakan padaku, dimanakah Tablet Dewa Naga disimpan?, Wanita tua ini masih saja diam tidak mau berbicara.... " Tunjuk perempuan bergaun merah itu ke arah Qimoruong. Perempuan bergaun merah ini bernama Tungdie, salah satu dari tujuh Ketua kecil Kultus Abu-Abu.
' Tablet Dewa Naga!?... Apa maksudnya?, Bukankah mereka menyerang untuk memusnahkan trah Len dan demi batu reinkarnasiku... Tablet Dewa Naga? Apalagi itu..?' Batin Gofan.
Gofan mengira bahwa penyerangan yang dilakukan oleh trah darah murni adalah semata-mata karena ingin memusnahkan semua keturunan Dewa Naga, tetapi ternyata ada beberapa hal lain yang juga menarik kedatangan mereka.
" Ketua, saya juga tidak tahu dan percuma saja menanyainya... Mengenai hal ini, sepertinya hanya Mahaguru yang tahu, hanya Raja Gelap yang mungkin mengetahuinya " Sahut Gofan.
Gofan ingin mengalihkan perhatian Ketua kecil itu agar beralih mengincar ayahnya, sebab dia yakin ayahnya akan mampu mengatasi perempuan bergaun merah itu.
" Cih... Percuma saja kamu menjabat sebagai Guru besar, ku pikir kamu tahu dimana tablet itu... Kamu bunuh dia! Aku akan pergi mencari Raja Gelap "
" Meiling. Kamu pergilah, cari ayahmu! Aku tidak bisa menjagamu terus sambil bertarung " Ucap Tungdie saat melangkah keluar meninggalkan kamar Qimoruong.
" Baik bibi Tungdie... " Sahut gadis kecil itu, sebelum pergi mengikuti Tungdie keluar dari kamar Qimoruong.
Gofan membungkuk hormat melihat kepergian bibi dan keponakannya itu, dia tidak membalas perintah Tungdie untuk membunuh ibunya, dia hanya mengangguk pelan.
*Kriieet...Tep*
Gofan menutup pintu kamar, setelah memastikan Tungdie dan Meiling benar-benar sudah pergi jauh.
Gofan berjalan mendekat ke arah Qimoruong dan melepaskan ikatan tali yang melilit di tubuh ibunya, " Tenang... Aku akan membebaskanmu. Aku akan mengantarmu berte.... Ukh... "
*Jleb*
' I-ibu, I-ni Aku... Lenfan bu.. Ukh... ' Gofan belum sempat menyelesaikan ucapannya, ketika sebuah pisau kecil menancap di perut Xingmou.
Ibunya baru saja membunuhnya, lebih tepatnya membunuh Xingmou.
" Dasar pengkhianat! " Ucap Qimoruong.
Setelah ikatan tangannya terlepas, Qimoruong menikam perut Xingmou, hingga akhirnya Gofan harus pergi meninggalkan tubuh itu.
Bersambung...
__ADS_1