Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 233. Apa Ujian Ini Hanya Sebuah Lelucon?


__ADS_3

Di Area Kekacauan Bintang...


Seperti namanya, Area Kekacauan Bintang adalah area terkacau dan paling berbahaya yang ada di dalam Kehampaan Alam Besar. Tidak banyak makhluk hidup yang bisa kembali hidup-hidup setelah memasuki Area tersebut, kebanyakan dari mereka akan mati atau menghilang tanpa jejak.


Area Kekacauan Bintang, terbentuk karena ledakan besar yang terjadi saat Perang Para Dewa berlangsung. Hingga kini, tidak ada yang tahu bagaimana cara menanggulangi area kekacauan tersebut.


Ada berbagai fenomena misterius yang membahayakan nyawa yang sering terjadi di Area Kekacauan Bintang, salah satunya yang paling berbahaya adalah kemunculan secara acak Lubang Hitam dengan beragam ukuran. Lubang Hitam itu akan menghisap apa pun yang muncul di dekatnya, jika itu makhluk hidup, entah akan mati terkoyak oleh daya hisapnya atau menghilang tanpa jejak.


Saat ini, di dalam Area Kekacauan itu, dua orang tengah berdiri di atas sebuah pecahan batuan Bintang. Itu seorang Gadis buta dan seorang Pria berwajah garang dengan bekas luka di wajahnya. Keduanya mengamati kehampaan, seperti tengah mencari-cari sesuatu.


“Lengyue. Kita sudah menunggu di sini selama dua kali batang dupa, tapi tidak ada satu pun orang yang bisa kita temukan di sini. Apa kamu yakin dengan pengelihatanmu kali ini?” tanya Pria dengan bekas luka di wajahnya.


Gadis buta bernama Lengyue itu, menatap kosong ke kehampaan. Rongga kosong di kedua matanya ditutupi dengan selembar kain putih. Jika Gofan berada di tempat yang sama, dia akan mengenali Gadis buta itu. Tentu saja Gadis buta itu adalah Lengyue, si Gadis Cenayang.


Sementara Pria dengan bekas luka di wajahnya adalah mantan Raja Neraka. Mantan Dewa Malam yang kini menamai dirinya Ye Wuxian.


“Tuan Ye. Apakah kamu masih meragukan kemampuanku setelah aku membantumu kabur dari cengkeraman Gumulryong?.” sahut Lengyue, sebuah tongkat yang terbuat dari tanduk Binatang Langit terlihat menuntunnya berjalan.


“Jangan lupa, aku juga membantumu lepas darinya. Jika aku tidak membantumu, mungkin kamu akan jadi budaknya untuk selama sisa akhir hidupmu.” Ye Wuxian berjongkok di pinggiran pecahan batuan Bintang, “Lengyue... Apa kamu yakin, orang yang akan kita temui akan bisa membantu kita membunuh Gumulryong?.”


“Bukan dia, tapi orang ini adalah seseorang yang akan mengantar kita bertemu dengan orang yang akan membunuh Gumulryong.” Lengyue mengacungkan tongkat penuntunnya ke arah tenggara Area Kekacauan Bintang, “Di depan kita akan muncul Lubang Hitam, putar batuan ini menuju arah tenggara.”


Ye Wuxian bangkit berdiri, dia membentuk sebuah segel tangan, lalu dengan Energi miliknya dia mengendalikan pecahan batuan Bintang untuk berputar arah menuju ke arah yang ditunjuk Lengyue.


Begitulah cara keduanya bisa bertahan selama lebih dari dua batang dupa di dalam Area Kekacauan Bintang. Berulang kali mereka bergerak berpindah lokasi jika kemunculan tiba-tiba Lubang Hitam telah diprediksi Lengyue. Dengan kemampuan pengelihatan masa depan miliknya, dia bisa mengetahui, dimana dan kapan Lubang Hitam itu akan muncul.


Selang beberapa hela napas.


“Ketemu... Terus ke depan, kita akan menemukannya.” Ucap Lengyue sesaat setelah dia memperoleh pengelihatan mengenai orang yang dia cari.


“Hahaha... Akhirnya... Baik. Ayo maju!!” nada suara Ye Wuxian terdengar begitu lega, seperti dia sudah muak berada di tengah area kekacauan itu.


Seperti yang diperkirakan Lengyue, seseorang benar-benar ada di Area Kekacauan Bintang itu. Itu adalah seorang Gadis, Gadis yang sebelumnya dikejar oleh Li Qing dan empat anggota Aliansi Pendalaman Musim.


Gadis itu terlihat melayang tidak sadarkan diri di atas sebuah pecahan batuan Bintang. Sepertinya Gadis itu baru saja tersambar banyak sekali pecahan batuan langit, tubuhnya penuh dengan memar.


Lengyue dan Ye Wuxian melangkah mendekat ke arah Gadis yang tidak sadarkan diri itu. Meskipun matanya buta, pandangan Lengyue terlihat menatap jelas ke arah tubuh Gadis yang masih tidak sadarkan diri itu.


“Tuan Ye. Lakukan sesuatu, jika tidak, dia akan kehilangan nyawanya.” ucap Lengyue.


Ye Wuxian mengeluarkan sebuah botol obat, kemudian dia meminumkan cairan obat di dalamnya kepada Gadis itu, “Siapa Gadis ini?” tanyanya.

__ADS_1


“Namanya Yubing. Dia berasal dari Alam Kecil sama sepertiku....” *Deg!!* Tiba-tiba Lengyue bertingkah seperti melihat sesuatu yang mengerikan mendekat ke arahnya, “Tu-Tuan Ye... Cepat... Kita harus segera pergi dari tempat ini. Sekarang!!” ucapnya dengan nada sedikit meninggi.


“Apa dia telah mengetahui tempat keberadaan kita?”


Lengyue mengangguk. Dia terlihat gelisah.


Melihat itu, Ye Wuxian segera menggendong tubuh Yubing dengan satu tangan. Sementara tangan lainnya segera membentuk segel tangan dan menggerakkan pecahan batuan Bintang pergi secepat mungkin, menjauh dari Area Kekacauan Bintang.


**


Di lantai terakhir, Menara Enam Pilar Binatang.


Berkat bagian Inti Jiwa dari Gu Rong dan Kakek Jo, Gofan berhasil mengatasi lantai ketiga hingga kelima dengan mudah.


Di lantai Ketiga, dia berhadapan dengan kawanan Serigala Bulan Perak dan Harimau Taring Petir. Meskipun kedua jenis Binatang Langit itu menang dalam jumlah, Gofan dapat memberantas semua kawanan tersebut.


Di lantai Keempat, Gofan bertemu dengan kawanan Tikus Sayap Perak dan seekor Kucing Kepala Tiga. Karena sudah mengetahui kelemahan Tikus Sayap Perak, Gofan dengan mudah mengatasi kawanan Tikus tersebut. Meskipun dia agak tersendat ketika harus berhadapan dengan kelincahan Kucing Kepala Tiga.


Di lantai Kelima, Gofan bertarung menghadapi dua ekor Beruang Batu Hitam. Meski keduanya kuat dan besar, tapi tidak cukup kuat untuk menggores tubuh emas milik Gofan.


Kini dia di lantai terakhir, di lantai keenam. Gofan sekarang berada di dalam sebuah Gua. Lorong Gua yang kini dia lewati, mengingatkannya pada penampakan Gua yang pernah dia tempati.


“Gua ini... Kenapa ini mirip dengan Gua tempat tinggal para Slime?” gumam Gofan ketika dia masuk lebih dalam ke dalam Gua tersebut. Semakin dia menjelajah ke dalam Gua, semakin dia merasa bahwa dia sedang berada di dalam Gua tempat tinggal para Slime.


Di ujung Gua itu, Gofan melihat seorang Pria muda tengah duduk dengan kepala menunduk, di sebuah singgasana kayu di tengah Altar dengan enam pilar besar di sekelilingnya.


Ketika Gofan semakin mendekat, Pria muda itu menengadah dan melihat ke arah Gofan, “Selamat sudah mencapai lantai ini.” ucapnya sembari tersenyum ramah. Tidak ada tanda-tanda bahaya yang nampak dari sikap Pria muda tersebut.


Gofan berhenti dan berdiri diam, tidak menjawab ucapan Si Pria Muda.


“Apa kamu penasaran 'Siapa aku?'... Kenapa tidak kamu tanyakan pada dua teman baru mu itu? Sepertinya mereka sudah siuman.” tunjuk Pria muda itu ke arah Gofan. Jelas itu mengarah pada Gu Rong dan Kakek Jo yang berada di dalam Sangkar Gaib.


“Keluarlah!” ucap si Pria muda sembari tangan kanannya terlihat seperti mencengkeram dan menarik sesuatu.


*Blazh* Seekor Kadal kecil bersayap dan seekor Kura-kura muncul keluar, melayang di hadapan Gofan.


Gofan terkejut, tanpa perintah darinya, Gu Rong dan Kakek Jo dipaksa keluar dengan mudahnya dari dalam Sangkar Gaib miliknya. Harusnya hanya yang memiliki Sangkar Gaib yang bisa melakukan hal seperti itu... Gofan memasang kuda-kuda, dia bersikap waspada terhadap Pria muda di singgasana kayu tersebut.


“Jangan khawatir. Aku tidak akan membunuh mereka.” imbuh si Pria Muda ketika melihat Gofan yang bersikap waspada, “Aku hanya akan mengujimu. Jika kamu berhasil, mereka akan bebas dan Orb Jiwa Totem Formasi ini bisa menjadi milikmu...” sebuah bola bercahaya biru melayang di atas telapak tangan Pria muda tersebut.


“Siapa dia?” bisik Gofan, bertanya kepada Kakek Jo.

__ADS_1


“Perwujudan Sisa Jiwa dari Dewa Sastra.” Kura-kura kecil itu melayang dan mendarat di pundak kanan Gofan, “Jangan khawatir. Seperti yang dia katakan. Jika kamu lulus dalam ujian terakhirnya, kamu akan berhasil mendapatkan Orb Jiwa itu.”


“Yaa... Dewa tua keparat! Berhentilah bermain-main seperti ini... Segera mulai ujian keenam Pilarnya... Kandidat kali ini pasti akan menang dengan mudah dari enam Pilar milikmu itu!.” teriak keras Gu Rong dalam wujud kadal bersayapnya, nadanya sedikit bersemangat.


Dewa Sastra tertawa pelan, “Gadis kurang ajar. Mulutmu masih saja tajam seperti biasanya... Sepertinya terkurung di dalam sini, tidak bisa mengubah perilakumu... Baik... Mari kita mulai ujiannya...”


“Cih... Cepatlah mulai, aku tidak sabar melihat Mo Fan meruntuhkan semua keenam Pilar milikmu.” gumam Gu Rong sesaat sebelum Dewa Sastra menjentikkan jari tangan kirinya.


*Blazh* Dua ekor Slime dengan tubuh sebesar buah kelapa muncul di dekat Dewa Sastra. Satu Slime berwarna pelangi, sedangkan yang lainnya berwarna kebiruan.


Gu Rong dan Kakek Jo tampak terkejut melihat kemunculan kedua Slime, ada sedikit ketakutan yang terpancar di mata keduanya.


“Namamu Mo Fan bukan? Ujianmu adalah bertarung dengan kedua Slime ini. Jika kamu menang melawan mereka. Aku akan dengan senang hati membebaskan mereka dan menyerahkan Orb Jiwa ini padamu.” kata Dewa Sastra.


“Dewa tua keparat! Dasar curang! kedua Slime itu tidak bisa dikalahkan, jelas-jelas keduanya kebal dari segala bentuk serangan... Kamu benar-benar berniat mempersulit Mo Fan. Jika kamu memang ingin mengujinya, setidaknya biarkan dia mengikuti ujian dari keenam Pilar seperti para kandidat sebelumnya!.” protes Gu Rong. Ketika melihat kemunculan kedua Slime, tubuhnya tampak sedikit gemetaran.


“Dewa Sastra... Bukankah seharusnya ujian untuk tahap akhir ini adalah ujian dari keenam Pilar? Kenapa sekarang kamu mempersulit Mo Fan dengan ujian bertarung menghadapi kedua Slime itu?” tanya pelan Kakek Jo.


“Itu benar! Bukankah semua kandidat lain sebelum Mo Fan hanya perlu melewati ujian dari keenam Pilar, tapi kenapa sekarang Mo Fan harus bertarung menghadapi kedua Slime itu?!” imbuh Gu Rong menegaskan pertanyaan Kakek Jo, nadanya lebih tinggi, hampir seperti berteriak.


“Hahaha... Mana mungkin aku akan mengujinya hanya dengan ujian dari keenam Pilar. Dia memiliki Samudra Kesadaran. Jika hanya ujian dari keenam Pilar, dia akan dengan mudah memenangkan Orb Jiwa ini... Tidak... Tidak... Tidak... Itu tidak boleh terjadi.” sahut Dewa Sastra.


“Orb Jiwa ini milikku, terserah padaku mau menguji dengan ujian apa... Gadis kadal, Kura-kura kecil, pernahkan kalian mendengar kata-kata ini, 'Mereka yang berhasil akan berhasil, Mereka yang gagal akan gagal'... Jadi, ini semua tergantung pada kemampuannya.” imbuh Dewa Sastra dengan senyum ramah di wajahnya.


“Dasar Dewa curang!!.. Apa kamu hanya ingin bermain-main dengan semua kandidat pewarismu? Kamu memang tidak pernah berniat mewariskan pengetahuanmu.. Cih...” Gu Rong mengepakkan sayapnya kencang-kencang sebelum mendarat di pundak kiri Gofan, “Jangan mau mengikuti ujian ini, kedua Slime itu kebal dari segala jenis serangan, mustahil kamu bisa mengalahkan mereka.” bisik Gu Rong dengan nada kesal.


“Apa ujian enam Pilar itu? Apakah itu lebih mudah daripada menghadapi kedua Slime itu?” tanya Gofan berbisik.


“Jelas lebih mudah, keenam Pilar di sekililing Altar itu, akan menguji tujuh hasrat di dalam dirimu, itu mirip dengan ilusi yang mengandung ketujuh dosa... Dengan Samudra Kesadaran dan kekuatan milikmu, tidak akan sulit melewati ujian keenam Pilar.” sahut Gu Rong dengan berbisik.


“Setiap Pilar itu mewakili satu dosa, kecuali Pilar ketiga, itu mewakili dua dosa, sepertinya hanya Pilar ketiga yang akan memakan waktu sedikit lebih lama untuk kamu atasi... tapi itu masih jauh lebih mudah daripada harus menang bertarung dari kedua Slime itu.... Haih... Sayang sekali, dia justru merubah cara ujian kali ini...” bisik Kakek Jo dengan nada kecewa.


Gofan diam, wajahnya terlihat serius setelah mendengarkan penjelasan dari keduanya, “Bukankah ini mudah? daripada menghadapi ketujuh hasrat... melawan kedua Slime itu akan semudah membalik telapak tangan...”


“Mo Fan. Sebagai Dewa yang murah hati, aku akan memberimu pilihan. Jika kamu menyerah di sini. Aku akan membiarkan kamu keluar hidup-hidup dari Menaraku ini. Tapi kedua teman barumu harus mati, bagaimanapun mereka telah melanggar perjanjian mereka kepadaku.... Bagaimana? Menyerah atau bertanding?” tanya Dewa Sastra.


“Haih... Fanfan... Lupakan saja semua tawaran kerjasama sebelumnya. Mustahil kamu akan menang dari kedua Slime itu... Menyerah saja. Kami tidak akan menyalahkanmu atas kematian kami.” Kakek Jo menggeleng pelan, sementara Gu Rong menatap kesal ke arah Dewa Sastra.


Gofan tidak menjawab, dia masih diam, seolah tengah memikirkan dengan serius tawaran Dewa Sastra.


“Apakah ujian ini terlalu sulit?” Dewa Sastra memperhatikan wajah serius Gofan, “Baik... Baik... aku akan memberimu sedikit kemudahan... Jika kamu bisa melukai kedua Slime ini dalam tiga kali serangan, kamu akan lulus ujian ini. Bagaimana? Menyerah atau bertanding?”

__ADS_1


“Hah! Dia bahkan mempermudahnya lagi?... Apa ujian ini hanya sebuah lelucon?”


Bersambung...


__ADS_2