Pendekar Sembilan Langit

Pendekar Sembilan Langit
Episode 172. Fanjia Hidup


__ADS_3

Tianjong melayang menghadang Qimouzha. Mereka bertatapan. Jelas terlihat kekesalan di mata Qimouzha. Meski Tianjong berkata manis, dia sama sekali tidak menghiraukannya. Qimouzha menerjang menyerang Tianjong. Pertempuran pun terjadi. Qimouzha bertarung dengan segenap hati, dengan sepenuh kekuatan menyerang Tianjong, sementara Tianjong terus menerus menghindar.


Meski tidak terjadi benturan dalam serangan itu, tekanan dari dua basis kekuatan Human God membuat area di bawah mereka merasakan tekanan besar. Bahkan kilat dan petir di langit semakin menjadi. Mereka yang memiliki basis budidaya rendah, segera semakin menjauh.


Melihat bagaimana Raja mengabulkan permohonan kerabat Keluarga Gu, Kedua Kapten Bandit yang tengah disiksa Yuniang, juga mengajukan keluhan mereka.


Mata Zawugi merah berair, bukan marah, tapi kesakitan. Suaranya serak, “Yang Mulia... Banginda. Mohon beri kami juga keadilan. Kami benar-benar tidak tahu menahu tentang perbuatan Dongkho. Kami berani bersumpah dem... Arrgghh ”


Belum selesai berucap, tangan kiri Zawugi terpelintir hingga terdengar suara tulang berderak.


“Yang Mulia....” Imbuh Zawugi memohon, wajahnya merah padam menahan sakit.


Tidak berbeda jauh, Mukene juga mengalami hal yang sama. Mau pergi tidak bisa, tetap di sana dan melawan, juga tidak bisa. Rahangnya bergeser karena ditinju Yuniang, kini dia hanya bisa mengangguk dan menggeleng memohon agar Litaihwang juga membela mereka juga. Menghentikan semua tindakan gila Yuniang.


“Aiya.. Mahaguru Yuniang. Tenanglah sejenak. Jika kamu terus menyiksa mereka, kamu hanya akan mendapati mayat dan bukan jawaban.” Litaihwang sedikit tersenyum saat membela kedua Kapten Bandit itu, mereka merengek seperti bayi kepadanya, “Dari apa yang sudah aku lihat, aku bisa mengerti, bahwa yang kalian inginkan adalah Gumul...siapalah itu dan Kapten Bandit Dongkho. Jadi, kita akan atasi ini bersama.”


Kedua Kapten Bandit itu sedikit menghela napas lega, jika saja Litaihwang tidak menanggapi keluhan mereka. Mukene berencana untuk mengerahkan pasukan Banditnya dan melakukan penyerangan terhadap Yuniang dan Perguruannya.


Litaihwang menoleh ke arah Lixiayo, “Lixiayo, kamu pergilah dan bawa kemari orang yang ingin dicari kedua Senior ini, tangkap si Gumul...siapalah itu.”


Belum sempat Lixiayo menjawab perintah Litaihwang, sebuah suara terdengar dari udara menyela ucapan Lixiayo.


“Tidak perlu Yang Mulia. Dia di sini. Aku sudah menangkap Gumulryong.” Ucap Seorang pria yang terbang melayang membawa sebuah payung, siapa lagi kalau bukan Vasudev.


Saat kemunculan Qimouzha di langit dan perhatian Gumulryong tertuju ke langit, Vasudev membekukan sejenak ruang dan waktu, kemudian mengikat dan mengurung Gumulryong di dalam Payung Tangisan Surga. Gumulryong yang tidak siaga tentu saja tidak bisa melawan saat dirinya ditangkap Vasudev.


Qimouzha mundur. Mendengar ucapan Vasudev, dia berhenti melawan Tianjong dan melesat menghampiri Vasudev yang kini berdiri di atas Ring Tarung.


“Mana dia? Serahkan padaku!” Ucap Qimouzha dengan napas memburu. Dengan usianya dan harus menghadapi orang di ranah yang sama, dia menghabiskan terlalu banyak tenaga dalam.

__ADS_1


Semua yang lain menatap ke arah Ring Tarung, kecuali lima orang yang berada di bagian Selatan Ring Tarung. Itu Gofan, Fanjia, Shiyuxin, Mouhuli, dan Ling Guo.


Gofan menyadari situasi di sekitarnya, meski dia masih berusaha menarik keluar pecahan Jiwa Ling Guo. Gofan telah mengetahui situasi yang sedang terjadi di Turnamen itu, dia tahu bahwa cuaca yang berubah karena perbuatan Qimouzha. Dia tidak beniat ikut campur, sekarang dia sedang berusaha mencegah keberhasilan transformasi Fanjia.


Sementara itu, bibir Ling Guo membentuk lengkungan naik saat dia akhirnya berhasil menyelesaikan proses transformasi Fanjia. Satu tarikan napas sebelum transformasi itu selesai, Ling Guo menanamkan ucapan di dalam otak Fanjia, “Bocah di hadapanmu adalah penirumu. Bunuh dia atau kamu yang akan dibunuhnya.”


Fanjia hidup. Bukan sebagai orang lain, tapi sebagai dirinya sendiri. Pecahan Jiwa Ling Guo hanya menjadi pemicu api kehidupan, setelah proses tranformasi selesai, Fanjia memiliki Jiwanya sendiri, Rohnya sendiri, dia ibarat bayi yang baru lahir. Ucapan yang ditanamkan Ling Guo menjadi dasar ingatan yang melekat erat di kepalanya, itu ibarat perintah utama yang tidak bisa dia abaikan. Harus membunuh orang yang menirunya, harus membunuh Gofan.


Tubuh Fanjia bergetar pelan, darah mengalir di setiap nadinya, jantungnya berdetak, semua organnya mulai berfungsi dan kedua matanya perlahan terbuka, “Bocah di hadapanmu adalah penirumu. Bunuh dia atau kamu yang akan dibunuhnya.” Seketika ucapan Ling Guo langsung berulang-ulang terlintas di benaknya.


Mata Fanjia terlihat seperti terkejut, dia dikerumuni tiga orang. Dua di hadapannya, yaitu Gofan dan Mouhuli di belakang Gofan, serta Shiyuxin di sebelah kanannya. Dia merasa terancam saat melihat tangan Gofan menyentuh pundaknya dan berusaha menarik keluar jiwanya.


“Seribu Cakar Bayangan.”


“Langkah Kilat.”


Fanjia menyerang Gofan. Pergelangan tangan Gofan terluka dan terpukul mundur selangkah. Beruntung Mouhuli berada di belakangnya.


Fanjia melompat mundur menjauh dari Gofan, matanya menatap marah ke arah Gofan, niat membunuh yang besar terlihat di sana.


“Terlambat sudah. Dia sudah hidup. Fanjia hidup.” batin Gofan, “Terima kasih Leluhur. Sepertinya kita tidak bisa berbuat lebih, dia telah memperoleh kehidupan.” Gofan mengucapkan terima kasih atas bantuan Mouhuli. Mouhuli mengangguk pelan.


Mata Mouhuli membelalak, begitu juga dengan Shiyuxin, mereka baru pertama ini melihat boneka manusia tanah bisa hidup dan menjadi manusia seutuhnya, 'Tidak Mungkin!' itu yang mereka pikirkan. Tapi melihat rona wajah Fanjia, mereka tidak bisa tidak percaya. Fanjia memang benar-benar hidup. Mereka memindainya, dan terkejut menemukan ada darah yang mengalir, jantung yang berdetak, dan semua organ dalam yang berfungsi sempurna.


Gofan juga ikut memindai tubuh Fanjia. Secara fisik, di luar itu sama persis dengan Gofan, hanya saja perbedaan di dalam ada beberapa perbedaan Fanjia tidak memiliki Tulang Emas. Meski memiliki sedikit darah keturunan Dewa Naga dan Dewa Pelindung, itu hanya sebagian kecil, hanya setetes di awal pembentukan, tidak semurni dan sebanyak Gofan. Ditambah, Fanjia juga tidak memiliki Mata Ilahi.


Ling Guo melompat, mendarat di samping Fanjia, dia tertawa “Bagaimana rasanya hidup...Fanjia?.” Ling Guo membuka tudungnya dan mendekatkan wajahnya ke arah Fanjia.


Saat mendengar nama 'Fanjia', kenangan sebagai boneka manusia tanah terlintas. Dia ingat dirinya bernama Fanjia. Matanya melihat ke sekeliling dan menemukan Gadis yang memberinya nama Fanjia, Gadis cantik berkepang dua itu baru saja melompat tinggi dan mendarat di atas Ring Tarung.

__ADS_1


“Xionan...” Gumam Fanjia. Dia mengabaikan Ling Guo. Fanjia tidak mengenalnya, tapi ada perasaan yang begitu dekat dengan Siluman Anjing itu.


“Kamu!? Siluman Anjing!.” Gofan terkejut saat melihat sosok asli Ling Guo, “Apa maksud semua ini? Kenapa kamu melakukan ini?.” Tanyanya geram.


Ling Guo memutar lehernya dan menoleh ke belakang, dia tidak menjawab pertanyaan Gofan tapi menoleh lagi ke arah Fanjia dan tertawa puas. Meski wajah Fanjia membuatnya gemetar ketakutan, tapi melihat keberhasilannya ini, dia merentangkan kedua tangannya ke atas dan tertawa puas. Hahaha...


Tawa Siluman Anjing itu menarik perhatian semua orang yang sedang berdebat di atas Ring Tarung. Gumulryong yang berlutut, terikat di atas Ring Tarung menoleh ke arag Ling Guo, “Itu dia!.” Batinnya saat menemukan sumber dari Energi Surga yang dia rasakan sebelumnya.


Di area Utara, seorang pendekar dari Benua Cang'An juga melihat ke arah tawa Ling Guo, dia melihat ke arah Fanjia, “Gofan dan duplikatnya... Apa maksud Siluman Anjing itu?.” Dari tadi dia sudah mengamati Fanjia, di awal dia mengira itu Gofan. Ketika melihat ada dua Gofan, dia mengetahui bahwa salah satunya adalah duplikat --tapi dia tidak tahu bagaimana bisa seperti itu.


Pendekar itu adalah Zhao Feng, dia teringat kilasan ingatan ketika berada di Paviliun Bunga Indah saat dia melihat Fanjia.


Di barisan Perguruan Tunjung Putih, Duan Tianlang, masih terlihat bingung, tidak ada yang menjelaskan kepadanya kenapa Tuan Muda Pewaris bisa ada dua? Dia diam di tempat bersama dengan Penatua lain.


Sementar yang lain justru terkejut karena melihat penampilan Ling Guo. Seorang Siluman muncul di hadapan mereka dan secara terang-terangan tertawa terbahak-bahak di tengah banyaknya manusia.


“Siluman!?.”


“I-Itu Siluman Anjing?.”


Beberapa Pendekar mungkin terkejut bukan main, tapi beberapa Pendekar lainnya, yang sering memburu Makhluk Buas dan Siluman, tidak terlalu. Mereka justru tergiur untuk menangkap dan menaklukannya.


Dalam posisi yang sama dengan Gumulryong, Kedua Kapten Bandit juga berlutut di atas Ring Tarung, mata mereka membelalak melihat kemunculan Ling Guo. Tidak seperti yang mereka harapkan, itu bukan Siluman Harimau Putih.


Fanjia menatap Ling Guo yang tertawa di hadapannya, dia hanya menggumamkan satu kata, 'Xionan' sebelum mendelik marah ke arah Gofan. “Jika bukan dia yang mati maka aku yang mati.” pikirnya.


*Zyuut* Fanjia melompati tubuh Ling Guo dan mengayunkan tiruan Tongkat Emas Naga Kembar ke arah Gofan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2