
Hari ke-27 tiba, Gofan yang mendapati dirinya telah tertidur dengan tubuh berlumuran kotoran tubuh, segera beranjak dari dipan dan pergi untuk membasuh diri, tapi sebelum itu, Gofan sedikit terkejut melihat Xionan yang tertidur melayang di sebelahnya sambil memeluk dirinya,
-Jika kamu manusia, mungkin ini akan jadi masalah.....-
Pikir Gofan saat melangkah pergi keluar dari kamar gubuk.
Posisi tidur Gofan dan Xionan telah berubah. Gofan yang sebelumnya tidur dengan tubuh yang duduk bersila, kini terbaring tidur di atas dipan. Sementara Xionan yang tertidur melayang dengan kepala bersandar di bahu Gofan, kini tidur melayang memeluk tubuh Gofan, meskipun pelukannya tidak benar-benar menyentuh tubuh Gofan.
Saat terbangun, Gofan tidak lagi heran dengan bau dari kotoran tubuh yang keluar dari tubuhnya, dia sudah tahu dan sudah terbiasa, lagi pula di masa depan nanti, setiap mengalami kenaikan tingkat, dia akan menemukan dirinya berlumuran kotoran tubuh, jadi Gofan hanya biasa-biasa saja menyikapinya.
Setelah Gofan membasuh diri dan berganti pakaian, dia memulai kegiatan rutinnya. Gofan menuruni bukit untuk menimba air di danau dan mengisi penuh gentong air.
-Ternyata kecepatanku bertambah seiring dengan meningkatnya budidayaku,...Apa yang sebenarnya terjadi kemarin malam?, Aku hanya ingat cairan biru itu berubah warna menjadi ungu-
Gofan tidak bisa mengingat hal-hal yang terjadi setelah dia mendapati saripati energi berubah warna, menjadi berwarna ungu, tetapi Gofan meyakini, pasti hal baik yang telah terjadi pada dirinya.
Jurus Langkah Kilat yang dipergunakan Gofan, mengalami peningkatan kecepatan setelah budidayanya meningkat ke tahap pertengahan. Hal itu membuat Gofan mampu menyelesaikan tugas mengisi penuh gentong air, lebih cepat beberapa puluh hela napas daripada beberapa hari sebelumnya.
"Kemana panci sup yang semalam? Apa mereka meletakkannya di dapur?"
Gofan yang baru saja selesai mengisi air di gentong, kini berencana untuk memasak sup jiwa raga yang baru.
Gofan berencana untuk menambahkan beberapa herbal ekstra untuk meningkatkan cita rasa sup, tetapi dia tidak bisa menemukan panci yang dia gunakan untuk membuat sup semalam. Gofan pergi dan mencari panci itu ke dalam dapur.
"Apa yang kamu cari?"
Tanya Xionan yang menyusul mengikuti Gofan ke arah dapur. Dia melihat Gofan yang sibuk mengacak-acak perabotan di dapur.
"Berisik sekali, aku sampai tidak bisa tidur lagi, Apa sebenarnya yang kamu cari ?"
Imbuh Xionan.
"Apa kamu melihat panci sup yang semalam ?"
Tanya Gofan setelah berhenti berusaha mencari panci sup semalam di antara tumpukan perabotan di dapur.
Xionan tertawa mendengar hal itu, dia mengingat ekspresi rakus dari Bailaohu,
"Gunakan saja panci yang lain, panci yang semalam sudah dibawa pergi si harimau itu"
"Aku heran, Apa yang membuat para siluman itu, sampai tergila-gila pada sup buatanmu?"
"Oh ya... Dari mana kamu mendapat resep obat penawar Yubing dan resep-resep sup ini ?"
Xionan melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya belum sempat dijawab Gofan.
"Semua itu, aku pelajari dari Kitab 100 Kehidupan yang diberikan oleh pamanku"
Sahut Gofan sembari mengambil sebuah panci lain yang berukuran lebih kecil dari panci yang semalam. Panci yang semalam adalah panci terbesar yang ada di antara semua panci-panci yang ada di dapur.
Sebelumnya Gofan sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya, ketika mengetahui panci yang semalam ternyata dibawa pergi oleh Bailaohu. Gofan tidak berkomentar, tetapi memilih sebuah panci lain untuk membuat sup jiwa raga yang baru.
-Kitab 100 Kehidupan? kitab apa itu, kenapa aku tidak pernah mendengar nama itu-
"Jadi begitu, tidak percuma pamanmu itu dijuluki Tabib Ajaib, resep supnya saja sudah membuat para siluman menggila seperti kemarin"
Xionan melayang mendekati Gofan, dan mengamati langkah-langkah yang dilakukan Gofan saat membuat sup jiwa raga.
Tentu saja Xionan tidak pernah mendengar nama kitab itu, sebab itu adalah kitab yang ditulis sendiri oleh Lenchan, saat dia mempelajari berbagai hal tentang pengobatan.
Lenchan berkelana, berkeliling Benua Penda, dan mempalajari semua teknik pengobatan dari berbagai tabib, lalu menjadikan pengetahuannya itu menjadi sebuah kitab, yaitu Kitab 100 Kehidupan.
"Nannan, Kenapa kamu terus berdiam di dunia dimensi ini? Bukankah waktu hidupmu akan semakin cepat berlalu, jika kamu berada di sini?"
Gofan ingat kata-kata Xionan, tentang selisih waktu antara dunia luar dan dunia dimensi itu, yaitu 1:10, sehari di dunia luar adalah sepuluh hari di dunia dimensi.
"Tidak, Aku rasa usia seseorang yang berada di dunia ini tidak akan mengikuti waktu di dunia ini, tetapi tetap mengikuti waktu di dunia luar. Aku sudah empat hari di sini, tetapi ternyata, waktu hidupku bahkan belum berkurang sehari pun. Jadi, aku menyimpulkan, setelah sepuluh hari di sini barulah waktu hidupku akan berkurang sehari"
"Dunia dimensi ini sangat berguna untuk menghemat waktu. Usia tidak bertambah tetapi waktu berlatih meningkat sepuluh kali lebih cepat. Aku tidak tahu kenapa, siluman serigala itu selalu menyebut dunia dimensi ini dengan sebutan ruang dimensi ?"
Kata Xionan menjelaskan betapa berharganya dunia dimensi milik Mouhuli itu untuk berlatih bela diri.
__ADS_1
Gofan mengangguk-angguk mendengar penjelasan itu, Gofan terlihat semakin antusias untuk berlatih di dalam dunia dimensi yang disebut Mouhuli sebagai ruang dimensi itu.
*Zyuut*
"Aku tahu jawabannya.... Itu karena ini hanyalah sebagian kecil dari dunia dimensi yang asli, makanya, aku menyebutnya sebagai ruang dimensi"
Tiba-tiba Mouhuli muncul dan menjawab pertanyaan yang dilontarkan Xionan.
"Kamu!?... Kamu bisa melihatku?"
Xionan kaget ketika melihat Mouhuli muncul dan bisa mengetahui keberadaannya.
Suara tawa Bailaohu terdengar mendekat menuju ke arah dapur dan menjawab pertanyaan Xionan yang kaget melihat Mouhuli bisa melihatnya.
"Tentu saja dia bisa melihatmu, semalaman dia mengejar seekor beruang perjaka, hanya demi memaksanya kencing, Hahaha"
Sahut Bailaohu mewakili Mouhuli menjawab pertanyaan Xionan, ketika dia mendadak muncul di dalam dapur.
"Ka-Kalian!?"
-Sial, para siluman ini, bahkan rela memakai air kencing perjaka demi bisa melihatku-
Xionan sedikit agak kesal, kini semua orang bisa melihatnya, dia sudah terbiasa hanya dapat dilihat oleh Gofan.
Menurut kepercayaan kuno di Benua Penda, air kencing perjaka dapat membuat seseorang melihat makhluk tak kasat mata dan sejenisnya. Jika air kencing perjaka diteteskan di kedua bola mata seseorang, maka orang tersebut akan dapat melihat roh dan makhluk tak kasat mata lainnya selama setengah hari. Setelah setengah hari, efeknya akan hilang dan mereka harus meneteskannya lagi untuk mendapatkan efek itu lagi.
"Kenapa kamu tertawa begitu keras?, Bukannya kamu juga meneteskan air kencing beruang itu ke matamu?"
"Lagipula, Kenapa kamu harus mengikuti apa yang aku lakukan?"
"Pulang sana!!, dan katakan kepada Kaisar, bahwa aku pasti akan kembali"
Kata Mouhuli ketus kepada Bailaohu, yang dari semalam mengekorinya dan mengikuti apa yang Mouhuli lakukan.
"Aku terpaksa menggunakan tetes mata yang bau pesing ini bukan untuk mengikutimu, tapi... Aku hanya penasaran saja"
"Tanyakan dulu kepada muridmu itu, apakah dia mau ikut bersamamu atau tidak?, Setelah itu... Aku baru bisa pulang dan melapor kepada Kaisar"
Kilah Bailaohu, dia mencari alasan agar bisa lebih lama berada di ruang dimensi Mouhuli dan menikmati sup buatan Gofan.
"Jadi, kamu menggunakan tetes mata itu, hanya untuk melihat roh gadis ini?"
Imbuh Bailaohu dengan tangan yang menunjuk ke arah Xionan.
"Bukan urusanmu!! Kembalikan dulu panci yang kamu ambil kemarin!"
"Lihat, muridku terpaksa memasak dengan panci yang lebih kecil"
Bukannya menjawab pertanyaan Bailaohu, Mouhuli justru membentaknya, agar segera mengembalikan panci yang semalam dibawa si kucing kecil itu pergi.
Mouhuli mencari air kencing perjaka dan menggunakannya, bukan untuk melihat Xionan, tetapi untuk bisa melihat Bianselong. Mouhuli ingin menanyakan, rencana apa yang ingin dilakukan oleh Bianselong.
Mouhuli sempat memanggil-manggil Bianselong ketika dia sampai di kediamannya, tetapi tidak ada jawaban, jadi Mouhuli pergi dan menangkap seekor Beruang Bambu muda dan memaksanya untuk buang air kecil. Namun ternyata, setelah meneteskan air kencing itu ke kedua matanya, dia masih belum bisa melihat Bianselong.
Bailaohu yang pergi mengikuti Mouhuli, merasa penasaran dengan tindakan Mouhuli yang memaksa seekor Beruang Bambu muda untuk menampung air kencingnya ke dalam sebuah botol obat kosong, itu membuatnya penasaran, siapa yang sebenarnya ingin dilihat oleh Mouhuli.
Jadi, Bailaohu juga memaksa Beruang Bambu muda itu untuk kencing, sebab ketika Bailaohu meminta air kencing perjaka itu dari Mouhuli, Mouhuli justru membuang sisa air kencing yang dimilikinya. Mereka sempat bertengkar sejenak demi memperebutkan air kencing itu. Sekarang, ketika melihat roh Xionan, Bailaohu mengira bahwa Xionanlah yang ingin dilihat oleh Mouhuli.
*Zyuut*
Bailaohu mengibaskan lengannya dan sebuah panci berukuran besar muncul di sebelah Gofan.
"Terima kasih, semalam aku tidak tega meninggalkan panci ini di luar, jadi aku membawanya pergi bersamaku"
Kata Bailaohu mencoba membenarkan apa yang dia lakukan. Tentu saja ketiga orang lainnya tidak mempercayai alasan itu, hanya satu alasan yang benar, bahwa Bailaohu sudah kecanduan dengan sup jiwa raga.
"Cih... Tidak tega apanya, aku melihat sendiri bahwa kamu mengambilnya karena ingin menghabiskan sup di dalam panci itu, katakan saja terus terang. Kenapa harus berdalih seperti itu? Cih..."
Xionan membantah alasan Bailaohu dan mengatakan semua yang dilihatnya semalam.
"Kamu... Kamu mau mati ya!!"
__ADS_1
Bailaohu marah mendengar kata-kata Xionan.
"Tidak apa-apa Huhi. Bukan masalah. Tolong jangan berdebat lagi, dan Bisakah kalian memberiku sedikit ruang, dapur ini terlalu sempit, untuk kita semua berada di sini"
Gofan menyela perdebatan yang terjadi di antara para perempuan itu, dia merasa gerah, akibat dapur yang kecil dan dia sedang memasak di hadapan api yang menyala-nyala menanak sup yang kini dibuatnya.
-Mau mati apanya? Aku kan sudah mati....-
Pikir Xionan yang diam saja setelah mendengar perkataan Gofan.
"Baca dulu surat ini, dan berikan jawabanmu"
Mouhuli melemparkan surat balasan dari Kaisar Siluman kepada Gofan dan berharap Gofan akan menolak untuk hal itu.
Mouhuli dan kedua perempuan itu tidak langsung pergi meninggalkan dapur, melainkan menunggu jawaban yang akan diberikan oleh Gofan.
Gofan menerima surat itu dan melihatnya sekilas, dia sudah tahu isi surat itu. Gofan melirik ke arah Xionan, dan melihat Xionan berkedip padanya, Xionan berharap Gofan akan menyetujui ajakan pergi ke Kerajaan Siluman itu.
"Baik, aku akan ikut pergi, hanya saja sebelum itu, aku harus pergi ke Pulau Api dan satu tempat lainnya untuk menyelesaikan urusanku, jika tidak diperbolehkan.... Maka aku tidak akan pergi"
Sahut Gofan mengikuti saran Xionan. Gofan heran, Xionan sangat ingin pergi ke Kerajaan Siluman.
Meskipun Gofan tahu bahwa banyak pertemuan beruntung yang mungkin diperolehnya jika dia pergi ke sana, tetapi tetap saja itu adalah tempat yang berbahaya. Tetapi karena mempercayai Xionan, Gofan akhirnya menyetujui hal itu.
-Bodoh!, Kenapa kamu menyetujuinya? Sudah jelas Kaisar Siluman ingin kamu menyerahkan Tongkat Emas Naga Kembar, jika kamu nanti berhasil menaklukkan tongkat itu-
Mouhuli mengirimkan suaranya melalui pikiran kepada Gofan.
Gofan sedikit terkejut, ketika mendengar suara Mouhuli menggema di pikirannya, selain Xionan belum ada orang lain yang melakukan itu dengannya, jadi, Gofan agak sedikit terkejut.
-Leluhur tenang saja, aku punya rencana-
Sahut Gofan melalui pikirannya, dia berbohong tentang rencana, sebab memang tidak ada rencana apapun, dia hanya mengikuti saran dari Xionan.
-*Rencana apa? Katakan padaku, sekarang*!-
Balas Mouhuli melalui pikirannya.
Gofan diam sebentar dan melirik ke arah Xionan. Xionan hanya tersenyum tipis merasa senang, Gofan mengikuti sarannya. Gofan memutar otaknya mencari alasan, untuk menjawab pertanyaan Mouhuli.
-Rahasia, itu masih rahasia, Leluhur tenang saja, rencana rahasia ini pasti tidak akan membahayakan keselamatanku, dan mengenai tongkat itu, aku sendiri belum bisa memastikan akan berhasil atau tidak untuk mengalahkannya-
Gofan akhirnya memilih untuk mengatakan bahwa rencananya masih rahasia, sebab dia tidak bisa menemukan alasan apapun untuk menyetujui pergi ke Kerajaan Siluman.
Jawaban Gofan membuat Bailaohu tertawa kecil,
"Bagus. Aku setuju. Kamu bisa pergi ke Pulau Api dan ke tempat yang lainnya itu, kemudian baru ke Kerajaan kami, aku akan menemani perjalananmu"
Kata Bailaohu, dia ingin terus mencicipi sup buatan Gofan, jadi dia berencana untuk mengikuti Gofan, sebelum mereka pergi ke Kerajaan Siluman.
"Apa-apaan kau ini?... Pergi sana! Bukankah kau sudah mendengar jawaban muridku, pergi dan laporkan hal ini kepada Kaisar"
Mouhuli yang kesal mendengar jawaban Gofan, kini menjadi lebih kesal lagi melihat tingkah Bailaohu yang ingin mengekor mengikuti Gofan.
-Sepertinya kucing rakus ini, benar-benar sudah kecanduan sup buatan Gofan-
Xionan menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Bailaohu.
*Zyuut*
Bailaohu mengeluarkan sebuah kertas kecil dari dalam cincin dimensinya, lalu mengalirkan tenaga dalam ke dalam kertas kecil itu. Kertas kecil itu berubah bentuk menjadi seekor burung kertas, lalu terbang melesat keluar dari dapur menuju ke dunia luar.
"Beres, aku sudah melaporkan semuanya kepada kakakku, dia akan segera mengabari hal ini kepada Kaisar"
Bailaohu tersenyum setelah mengatakan hal itu. Dia baru saja mengirimkan pesan melalui burung kertas itu kepada kakaknya yang berada di Kerajaan Siluman.
"Ck... Ka...."
"Karena aku sudah memberi jawaban. Bisakah kalian keluar dulu, aku masih harus menyelesaikan masakan ini"
Gofan menyela perkataan Mouhuli yang ingin kembali mendebat tingkah laku Bailaohu. Gofan sudah sangat gerah, sehingga dia dengan terpaksa harus mengusir ketiga perempuan itu pergi keluar dapur.
__ADS_1
Xionan hanya tersenyum dan pergi keluar sebelum disusul oleh Bailaohu dan Mouhuli yang hanya diam saja, setelah mendengar kata-kata Gofan.
Bersambung...